
Hari ini berjalan seperti biasa, seperti yang kuingin suatu
kedamaian yang tiada tara.
“Hei Arya, kenapa kau tidak menungguku?” tanya Ayana.
Aku berusaha berpura pura tidur, Tapi tiba tiba saja…..
“Ah.. sakit,” ucapku sambil merintih kesakitan.
“Siapa suruh berpura pura tidur,” sindir Ayana.
Tak lama kemudian guru tiba tiba masuk kedalam kelas.
“Ayana, cepat duduk!” tegas guru.
“Eh, baik pak.”ucap Ayana terkejut.
Suasana kelas seperti biasa dan Ayana yang sering
mengangguku disaat tertidur di kelas.
“Baik anak-anak, bapak kemarin dapat info ada murid baru
yang akan bersekolah disini harusnya sekarang dia berada di kantor Kepala Sekolah.”ucap
pak guru.
Suasana kelas seketika ramai, karena kedatangan murid baru
lagi.
Tok… tok….
“Masuk,” ucap guru.
Srek….
Kali ini siswa laki-laki berambut hitam dengan bola mata merah.
Siswa itu menghadap ke anak-anak kelas lalu mengucap salam,”Selamat
pagi”.
Anak-anak sekelas serentak mengatakan,”Pagi”.
“Perkenalkan nama saya Ryusaki Naufal, Hobi saya bermain
sepak bola dan tenis. Kalo soal nomor telpon dan alamat rumah akan kuberitahu nanti
kuharap kita dapat berteman.” ucap Naufal.
“Baik, sekarang Naufal kamu segera cari tempat duduk.” ucap pak
guru.
“Baik pak,”balas Naufal.
“Anak baru lagi ya,” ucapku dalam hati.
Sambil melihat anak baru itu mencari tempat duduk aku
melihat ayana. betapa terkejutnya aku saat tau ayana bermuka marah seperti itu.
“Oi, ada apa?”bisikku ke Ayana.
“Eh, tidak ada apa-apa kok.”balas Ayana.
“Aneh,” ucapku dalam hati.
Ding…. Dong…. Ding.. dong.. saatnya istirahat.
Tak terasa bel istirahat pertama berbunyi. Pak guru sudah
meninggalkan kelas, tapi Ayana sejak kedatangan murid baru itu dia jadi jarang
bicara.
“Ada apa dengan Ayana? tak seperti biasanya.” Ucapku dalam
hati.
Saat Ayana sudah menghabiskan bekalnya anak baru itu
berjalan menuju kami.
“Hai Ayana, lama tak berjumpa ya,”ucap Naufal.
“Untuk apa kamu datang kesini !” balas Ayana kesal.
“Hei, ayolah aku ini tunanganmu lo.” Ucap naufal.
Seisi kelas terkejut termasuk juga dengan diriku.
“Sudah kubilang kan, aku bukan tunanganmu lagipula aku sama
sekali tak mencintaimu.”ucap Ayana sinis.
“Apa yang kau katakan, Ayana.” Ucapnya sambil memegang
tangan Ayana dengan erat.
Terlihat di wajahnya Ayana sangat kesakitan, tetapi dia
__ADS_1
tidak berani melawan.
Dan tanpa sadar aku.
Plak….. aku manjauhkan tangan Naufal dari Ayana.
Seisi kelas terkejut begitupun mereka berdua.
“Jangan ganggu tidurku, kalian berdua terlalu berisik membuatku
tak bisa tidur.”ucapku mengancam.
“Memangnya siapa dirimu?” Tanya Naufal kesal.
“Kau tidak tau siapa diriku, aku adalah seorang artifaction
laki-laki pengguna pedang yang hebat.” Ucap
Naufal sombong.
“Lalu?” balasku.
“Kamu…. Benar-benar membuatku marah,” dia mengatakan itu dan
memanggil artifactionya dan mengarahkannya pada leherku.
“Kalian berdua hentikan!!!” teriak Ayana.
“Untuk Arya kumohon tenang dan Naufal sebaiknya kamu kembali
ketempat dudukmu pelajaran mau dimulai,”ucap Ayana.
Naufal menghilangkan pedangnya dan beranjak pergi, tetapi
sebelum dia pergi dia berkata,”Aku tunggu kamu pulang sekolah di klub tendo,
kita buktikan apakah kesombonganmu itu bukan bualan semata.”
Aku tak begitu mempedulikannya dan kembali duduk.
“Arya, terima kasih.” ucap Ayana.
“Tidak perlu terima kasih, lagipula kalian terlalu berisik
membuatku tidak bisa tidur.” Balasku.
“Iyh, jadi apakah kau akan menanggapi tantangan dari Naufal?”Tanya
Ayana.
“Tidak, aku akan langsung pulang lagipula tidak ada gunanya
bertanding dengannya.” balasku.
Centing…..
“Siapa yang mengirim SMS?” ucapku dalam hati bingung.
(Datanglah pulang sekolah nanti jika kau menang aku akan
berjanji akan membatalkan pertunangannya dan tidak menganggunya, kita
selesaikan pada pertarungan pedang KEO. Dari Naufal).
Ding…. Dong…… ding….. dong…. Kring….
Bel pulang sekolah berbunyi, Aku dan ayana sedang memasukkan
buku dan alat tulis kedalam tas.
“Arya, kita pulang bareng lagi kan?” Tanya Ayana.
“Eh, aku masih ada urusan di ruang guru kamu pulang saja.” Balasku.
“Tidak apa-apa, aku tunggu kok.” Ucap Ayana.
“Bakalan lama, lebih baik kam pulang saja” balasku.
Dia tak lagi menjawab kupikir aku berhsil membohonginya tapi
saat akan keluar dari kelas.
“Arya, kamu tidak beniat melawan naufal kan?” Tanya Ayana.
Aku tidak bisa menyangkal apa yang dia katakan.
“Sudah kuduga, kumohon jangan terima tantangan dia.” Ucap Ayana
khawatir.
“Maaf, tapi aku sudah memutuskannya.”balasku.
“Jangan bercanda Arya, dia adalah artifaction pengguna
pedang terkuat kamu tidak mungkin bisa menang.” ucap Ayana.
“Aku tau, tapi apakah kau tidak percaya padaku?” balasku
kesal.
“Aku juga tau, aku belum terlalu pandai memakai pedang
apalagi aku tidak bisa menggunakan artifactku di sembarang tempat,”ucapku.
__ADS_1
“Tapi, aku akan tetap melakukannya jika kamu memang tidak
ingin bertunangan dengannya,”ucapku dengan percaya diri.
Tanpa sadar aku mengelus rambut Ayana dan berkata,”Aku pasti
akan menang,”.
Wajah Ayana memerah dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Kalo begitu aku pergi dulu.” ucapku sambil berlari
“Meskipun sikapnya yang pendiam, tapi dia bisa sebaik itu
juga.” Ucap Ayana dalam hati.
“Sebaiknya aku pergi melihatnya juga” ucap Ayana.
Sementara itu klub tendo sudah penuh dengan penonton, para
murid dari kelas 1-3 hadir begitu juga para guru dan Kepala Sekolah yang duduk
di kursi.
“Apa-apaan ini, seperti mau turnamen aja.” Ucapku terkejut
dalam hati.
Dibalik keramaian itu, seseorang memanggilku…
“Kau datang juga, Kazekaki Arya.” Ucap Naufal.
“Padahal kukira kau tidak akan datang karena takut.” Ucap Naufal
mengejek.
“Cukup basa-basinya, aku terburu buru.” Ucapku.
“Jangan menyesal saat kukalahkan nanti hahahaha…”ucap Naufal
tertawa.
“Kita lihat saja nanti.” Ucapku.
Semua orang kebanyakan lebih mendukung Naufal, karena mereka
tau Naufal lebih ahli menggunakan pedang bahkan saat dia berumur 9 tahun dia
sudah bisa mengalahkan seorang pro.
“Lahir dengan bakat alami ya, kurasa aku sedikit iri dengannya”
ucapku dalam hati.
“Baiklah bapak akan menjelaskan peraturannya pertandingan
pedang KEO, pertama kedua belah pihak boleh memakai pedang masing-masing
termasuk artifact, kedua jangan sampai pedang itu mengenai atau sampai melukai
pemain, jika sampai melanggar maka di disfikualisasi.” Tegas guru tendo.
Sorak-sorai penonton yang mendukung Naufal semakin banyak. Tapi
dibalik itu semua.
“Ayo Arya, kamu pasti bisa.” Teriak seseorang.
Aku terkejut dan menoleh kearah penonton, diantara sebegitu
banyaknya penonton aku melihat ayana.
“Arya, berjuanglah.” teriak Ayana.
Tak kusangka kukira tak akan ada yang menyorakiku.
“Yah, aku pasti akan menang janji !”teriakku.
Naufal tiba-tiba menyela,”Jangan percaya diri dulu, kau
pasti akan kukalahkan.”
“Mari kita lihat, siapakah pemenang sebenarnya” ucapku penuh
percaya diri.
Lalu Aku dan Naufal pergi ke start kami masing-masing.
“Arya, apakah kamu siap?” tanya guru tendo.
“Aku sangat siap !” balasku dengan tegas.
“Naufal, apakah kamu siap?”tanya guru.
“Setiap saat,”balas Naufal.
sambil melihat kami berdua guru tendo memberi aba-aba,"semuanya bersiap."
“Hitungan mundur dimulai, 3, 2, 1, go,” ucap guru.
Aku mengayunkan pedangku kearah kedepan dan mengenai pedang
milik naufal dengan sangat keras.
__ADS_1
Tang….