
Tang….
Tang… sudah 30 menit sejak pertarungan ini dimulai.
“Tidak
buruk juga, aku akui kemampuanmu” ucap Naufal.
Aku tidak
memperdulikan apa yang dia katakan, tapi yang jelas aku sudah kelelahan.
“Gawat, jika begini terus lama-kelamaan aku yang akan kalah,” ucapku dalam hati.
“Ada apa Arya, kenapa kau menghindar terus?” ucap Naufal.
“Aku harus mencari kelemahannya, tapi kecepatannya sulit untuk aku imbangi,”ucapku dalam
hati.
Aku
terus-menerus menghindari serangannya itu..
Tang… bruk…
Aku sudah
mulai kehabisan stamina dan membuatku ambruk.
“Ehh, mana
kesombonganmu yang tadi?” tanya naufal.
Aku berusaha
untuk bangkit lagi.
“Memangnya
dia bisa apa melawan, Naufal.”
“Betul,
dia hanyalah maniak penyendiri.”
Saat aku
mendengar kalimat mereka membuatku hilang semangat. Tapi….
“Itu semua
tidak benar,” teriak seseorang.
Seketika suasana
menjadi hening. Aku mencoba untuk bangkit perlahan dan memalingkan wajahku
menuju sumber suara,
“Ayana?”
ucapku pelan
“Bukankah kau
sudah janji Arya, jadi kumoho berjuanglah.” teriak Ayana
“Benar,
aku sudah berjanji padanya,” ucapku sambil berusaha menyeimbangkan badan
“Bersiaplah
Naufal, kali ini aku akan serius dan akan mengalahkanmu,” ucapku penuh percaya
diri
“Kau mau
bilang selama ini kau tidak serius!” gertak Naufal
“Akan aku
tunjukan kekuatanku sebenarnya,” ucap Naufal
HAKAKEN
RYUSEN
** (Serangan yang dimana memfokuskan ujung pedang**
pada satu titik dan menusuk targetnya).
“Akhirnya,”
ucapku dalam hati sambil tersenyum.
Aku memegang
pedangku dengan kedua tangan kearah depan dengan posisi horizontal sembari
berkata,“Aliran pedang kedua tangkisan kematian.”
KATANOMIGAMI.
(Serangan
yang dimana pedang berada di depan dengan posisi horizontal dan mengincar leher
lawan).
__ADS_1
Cling…
pedangku mendarat pada leher Naufal. Sedangkan semua penonton terdiam tak
percaya.
“pemenangnya
adalah, Arya” ucap guru tendo sambil mengangkat tanganku.
Disaat itu
tiba-tiba saja Ayana berlari kearahku dan memelukku.
“Eh?”
ucapku terkejut.
“Syukurlah kamu menang duel, kupikir tadi kamu akan kalah,” ucap Ayana.
“Tidak akan, karena aku sudah berjanji padamu kan…”balasku.
“Benar
juga, karena Arya adalah orang yang akan menepati janjinya,” ucap Ayana sambil
tersenyum.
Saat itu
juga aku terpukau oleh senyumannya.
Setelah itu
Aku dan Ayana seperti biasa menunggu bus di halte. Selagi menunggu bus aku
mencoba membuka pembicaraan.
“Ayana,
kenapa kau bertunangan dengan Naufal?” tanyaku.
“Eh, em…
bisa dibilang kami dijodohkan oleh orang tua kami. Perjodohan ini sudah menjadi
tradisi di keluargaku bahkan sudah ada sejak nenek belum lahir didunia ini.” Balas
Ayana.
Tak lama
kemudian bus yang mengarah ke halte dekat rumah kami sampai. Aku dan ayana masuk
dan bergegas mencari tempat duduk. Saat perjalanan tak disangka sangka.
Boom…..
mengendalikan kemudi.
Cit…. ciet....
braak… Tak lama kemudian bus kami menabrak gedung.
Saat aku
mencoba membuka mataku. Betapa terkejutnya diriku, disini hanya ada hamparan
hijau yang luas sekali.
“Dimana aku?”
ucapku bingung.
Aku mencoba
menyusuri tempat itu sampai-sampai aku menabrak sesuatu.
Brak…
“Ahh… sakit,” ucapku.
Saat melihat
kedepan betapa terkejutnya aku.
“Sebuah
pintu, kenapa harus ada sebuah pintu raksasa di hamparan hijau seperti ini?”tanyaku.
Aku mencoba
melihat lihat pintu raksasa itu dan menemukan sebuah tulisan.
“apa ini?”
ucapku penasaran.
Apakah kau ingin mengetahui kebenaran dunia ini. Tetapi sekalinya kamu membuka pintu ini
kamu tidak akan bisa kembali.
“Memangnya
apa isi di dalamnya?, Apa lebih baik aku buka saja ya?” ucapku penasaran.
Karena penasaran
aku mencoba memegang gagang pintu tersebut, tapi saat aku ingin membukanya ada
seseorang yang menahanku.
__ADS_1
“Kamu!”
ucapku terkejut.
“Apapun
situasinya jangan pernah membuka pintu ini !” sentak dia
“Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya seserius dan setakut ini, berarti pintu
ini benar benar berbahaya. Mumpung dia disini lebih baik aku Tanya jalan keluar
dari sini,” ucapku dalam hati.
“Eee… gitu
ya, kalo begitu jalan keluar dari tempat ini dimana?”tanyaku padanya.
Dia memelototiku
dengan tajam dan berkata,” matamu minus atau gimana, coba kamu lihat
kebelakangmu.”
Aku membalikkan
badanku.
“Exit”
ejaku
“eh, sejak
kapan berada disitu,” ucapku terkejut
“sudah
cepat kamu keluar dari tempat ini dan segera bangun, aku merasakan suatu hal
yang buruk akan terjadi jika ka telat bangun,” tegasnya
Untuk pertama kali aku tidak begitu mengerti suatu hal buruk
itu apa. Tapi aku baru mengingat sesuatu kalau aku terlibat insiden kecelakaan
bus. Saat aku berhasil mengingat itu aku berlari meuju pintu exit.
Aku berusaha
membuka mataku, dan mencoba bangkit. Setelah itu aku mulai membangunkan
penupang-penumpang lain dan menggendong Ayana keluar dari mobil. Beruntungnya bus
itu tidak meledak dan dapat dipadamkan api yang menyala pada dekat dekat mesin
bus.
Setelah itu
aku pamit undur diri pada pihak polisi,
Aku menggendong
Ayana pulang, saat pertama kali masuk rumahnya aku langsung diintrogasi oleh
orang tuanya. Beruntungnya diriku tak lama kemudian Ayana sadar dan menjelaskan apa yang terjadi, lalu akupun
pulang kerumah.
Krek…
“Aku pulang,”
ucatpku.
“Eh. Tidak
ada orang?” ucapku dalam hati sambil menuju dapur.
Saat melihat
lihat dapur aku menemukan selembar kertas yang menuliskan.
Untuk beberapa
hari ini kakak tidak bisa pulang, jadi kamu jaga rumah baik-baik ya.
salam dari kakak.
“Eh,
tumben sekali berarti ini adalah sebuah misi penting” ucapku.
Aku berjalan
menuju kamar, mengambil pakaian dan pergi ke kamar mandi.
“Ahh,
paling enak berendam di air panas” ucapku.
“Untuk
kali ini aku berhasil selamat ya, sebenarnya siapa yang menembakan rudal
seperti itu.” Ucapku dalam hati
“Jangan
bersantai dulu Arya, berikutnya aku pasti akan membunuhmu”
__ADS_1