The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Apa yang terjadi?


__ADS_3

“Kesampingkan soal pertunangan itu terlebih dahulu, kapan kita akan berangkat?” tanyaku.


“Hari ini,” jawab kak Kana.


“Eh,” ucapku terkejut


Aku sangat terkejut dengan perkataan kak Kana, aku yang sedang mencerna omongannya tidak bisa menemukan jawabannya.


“Kak Kana, apakah kita akan berangkat hari ini?” tanyaku.


“Iya hari ini,” balas kak Kana.


Aku yang tidak paham, menoleh kearah Ayana karena kupikir Ayana paham akan situasi ini. Karena kak Kana melihat kami kebingungan dia menghela nafas dan melanjutkan berbicara, “Kalian akan dijemput disini oleh seseorang, kurasa wanita idola sekolah itu tak memberitahukannya kepada kalian entah dia yang lupa atau dia memang sengaja.


Soal keamanan kalian tenang saja,karena kalian nanti akan didampingi seseorang,”


“Jadi begitu,” balasku.


"Tapi siapakah yang dimaksud wanita idola sekolah jangan bilang yang dimaksud kak Ria?, apakah  itu kak Ria?, jadi begitu setidaknya rahasiaku terbongkar, tunggu aku seharusnya tetap menjaga privasiku soal aku memiliki kekuata Artifact,” ucapku dalam hati.


Aku menghela nafas dan segera berbicara pada kak Kana, “Aku ingin bertanya kak,”


“Apa yang ingin kamu tanyakan,” balas kak Kana kebingungan.


“Apakah kakak bisa tetap menjaga privasiku sebagai seorang Artifaction?” tanyaku dengan wajah serius.


Kak Kana sejenak diam mendengar perkataanku dan berjalan menuju jendela, menatap kearah lapangan melihat murid-murid yang sedangbberolahraga.


“Mungkin aku bisa melakukannya, tetapi kenapa kamu sangat ingin menyembunyikan kekuatanmu itu?” tanya kak Kana sembari menoleh kearaahku dengan hawa membunuh.


“Cih, kalau begitu apa kak Kana tahu soal Nakagami. jawab itu saja, sebagai gantinya,” balasku.


“Nakagami ya, bagaimana kamu bisa tahu persoalan ini?. Nakagami adalah salah satu rahasia milik Negara, bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanya kak Kana.


“Ini akan menjadi sulit, aku tidak tahu kalau persoalan Nakagami adalah rahasia milik Negara.” Ucapku dalam hati.

__ADS_1


Sejenak aku berpikir untuk membuat alasan yang tepat sedangkan kak Kana mulai mendekatiku dan berdiri dihadapanku sambil menatapku dengan aura membunuhnya. Suasana mencekam membuatku berkeringat dingin, satu menit terlewati dengan keheningan yang mencekam. Ayana yang sedari tadi diam saja tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan kami berdua.


“Jika aku mengatakan kalau aku diberitahu oleh seseorang apakah kak Kana akan percaya?” tanyaku.


Demi melepas suasana ini aku mengajukan satu pertanyaan dengan harapan bisa terlepas dari suasana yang mencekam, beberapa menit terlewati kak Kana terdiam sebentar dan mundur perlahan.


“Baiklah aku tidak mempertanyakan soal ini, berdasarkan penglihatanku kamu memang mirip dengan Nakagami tetapi dalam segi kekuatan kamu sama sekali tidak sebanding dengannya,” ucap kak Kana.


“Apa maksud bibi kemungkinan dia adalah Nakagami?” tanya Ayana antusias.


Aku terkejut bahwa Ayana mengetahui soal Nakagami tetapi aku mengabaikannya terlebih dahulu.


“Jadi kapan kita akan berangkat?” tanyaku.


“Setelah kalian pulang sekolah, karena aku sudah mengatakannya kalian lebih baik kembali dan melanjutkan proses belajar kalian,” balas kak Kana.


“Baik,” ucap kami berdua lalu meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, kami berdua berjalan kembali ke kelas tanpa ada yang berbicara. Waktu demi waktu berlalu


“Sebenarnya siapa diriku ini?” tanyaku dalam hati.


Aku menghela nafas dan kembali menghabiskan jam-jam terakhir dengan mendengar penjelasan dari pak guru, suasana hati yang tak tenang menganggu konsentrasi Arya.


Ayana yang menyadari bahwa Arya termenung berbisik memanggil,


“Ssst… ada apa Arya?”.


Arya yang sedang melamun tersadar karena panggilan Ayana.


“Tidak apa-apa, hanya memikirkan kejadian tadi,” balasku.


“Jadi begitu,” bisik Ayana kecewa dengan perkataan Arya.


Kami yang tengah berbisik tak menyadari bahwa pak guru sudah mengawasi kami sejak kami pertama kali mengobrol.

__ADS_1


“Kalian berdua yang sedang berbicara di belakang!” teriak pak guru.


Kami yang terkejut segera menjawab,


“Iya pak,”.


“Ini saatnya pelajaran, jika kalian ingin mengobrol atau berpacaran kalian bisa lakukan sepulang sekolah," tegas pak guru.


Kami yang malu hanya bisa menunduk dan berkata, “Baik pak,”


Ditengah kami malu karena tertangkap basah mengobrol di kelas, teman-teman di kelas tertawa terbahak-bahak.


“Sudah-sudah, kita lanjut pembelajarannya,” tegas pak guru.


“Baik pak,” balas kami sekelas dengan serentak.


Beberapa menit berlalu bel pulang sekolahpun berbunyi.


Ding… dong… ding…. dong....


“Kita sudahi pembelajaraan kali ini, kalian harus segera pulang jangan pergi kemana-mana,” tegas pak guru.


“Baik pak,” ucap kami serentak.


Pak guru meninggalkan ruangan kelas dan semua tengah merapikan barang untuk pulang, aku dan Ayana juga merapikan barang-barang kami. Setelah kami selesai merapikan, aku menyuruh Ayana untuk menunggu di depan ruang kantor kepala sekolah dikarenakan hari ini aku bertugas piket untuk membersihkan kelas.


Disaat aku selesai membersihkan kelas dan membuang sampah yang tersisa, tiba-tiba saja handphoneku berdering.


Kring… kring….


“Eh siapa yang menelponku?” tanyaku.


Aku mengangkat telepon tersebut dan mendengarkan apa yang mereka katakan.


Tak… tak….

__ADS_1


Handphoneku terjatuh saat mendengar apa yang mereka katakan.


__ADS_2