
Beberapa menit yang lalu.
Gadis roh itu mengangkat tangannya keatas dan berkata, “Baiklah,
aku menyerah.”
Sring…
Aku menarik kembali pedangku dan memasukkannya kedalam sarung pedang. Disaat aku
memasukkan sarung pedang itu, seketika pedang itu menghilang.
“Em… bagaimana cara menjalin kotrak denganmu?” tanyaku.
“Sangat mudah, kamu hanya perlu memberiku sebuah nama,”
jawab gadis roh.
Aku sempat bingung, tak lama kemudian aku mengerti apa yang
dia maksudkan dan segera memikirkan nama. Untuk beberapa menit aku tidak bisa
menemukan nama yang cocok untukmu.
“Aku bodoh dalam memikirkan nama, nama untuk perempuan kah?”
ucapku dalam hati bingung.
Aku memandang gadis roh itu untuk beberapa saat, setelah
berdiam diri beberapa lama akhirnya aku mempunyai nama yang mungkin cocok.
“Hei, atas nama Kazeka Arya aku memerintahmu gadis roh
bernama Ayra untuk memtahui semua perkataanku. Apakah kamu bersedia?” tanyaku.
Gadis roh itu membungkuk dan menjawab pertanyaanku, “Aku
gadis roh Artifactk nightmare bernama Ayra, dengan mempertaruhkan darah saya
sendiri bersedia menerima permintaan tuan.”
"Tuan, anda bodoh dalam memilih nama ya, sampai-sampai kamu memakai namamu yang dibalik," sindir Ayra.
"Diamlah!" teriakku.
Setelah gadis roh itu menerimanya, aku dipaksa untuk keluar.Aku melihat-lihat jam, tak lama kemudian aku mendengar suara ledakan yang terus-menerus. Karena khawatir aku bergegas menuju sumber suara itu dan melihat kak Ria dan Ayana terpojok, aku bisa melihat suatu dinding menghalangi mereka dan menganalisa ledakan itu da dapat disimpulkan kalau sekali terkena maka tubuhpun akan hancur tak tersisa. Karena aku tidak tahu harus berbuat apa, Pada akhirnya aku memanggil Ayra keluar dari tubuhku.
“Ada apa tuan memanggilku,” ucap Ayra dari belakangku.
“Wah… aku kira kamu siapa, aku mau bertanya apakah aku bisa
menghentikan serangan itu?” tanyaku.
“Jika dianalisa tuan hanya perlu setidaknya menggunakan
kekuatan angin untuk menghalau ledakan itu,” jawab Ayra.
“Eh… tapi aku belum tau cara menggunakan kekuatan angin,”
ucapku.
Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang dan berkata, “Aku bisa membantumu,”
Aku yang terkejut segera menoleh kebelakang.
“Kamu topeng rubah, apa yang kamu lakukan disini!” bentakku.
“Tidak ada waktu untuk mengkhawatirkan itu karena temanmu
sudah terpojok,” balas topeng rubah.
Aku melihat kak Ria dan Ayana lalu aku berkata dengan nada
tinggi, “Cih… baiklah beritahu aku caranya!”.
“Sabar-sabar,” balas topeng rubah.
Aku sebenarnya tak pernah mempercainya tapi karena keadaan
terdesak aku mulai memilih untuk mempercaiyanya. Dia berjalan perlahan
mendekatiku, saat sudah dekat denganku tiba-tiba saja dia memukul bagian perutku
dengan sangat keras.
“Tuan!”teriak Ayra sambil bersiap untuk bertarung.
“Tidak perlu Ayra,” ucapku.
“Kamu hebat sudah bisa mengendalikan angin itu dengan halus,
tetapi kontrol dari anginmu masih lemah. Aku sudah membantu melancarkannya, sampai
jumpa….” Ucap topeng rubah sambil melabai dan menghilang saat angin berhembus.
“Kupikir dia akan membunuhku, ternyata dia melancarkan
serangan angin pada bagian perutku karena tanpa sengaja aku memusatkan angin ke
bagian itu. Dia hebat sekali, tapi tidak ada waktu untuk itu.” ucapku dalam
hati.
Aku melompat dari gedung itu dan memusatkan angin pada
kakiku untuk menambah kecepatan. Dengan cepat aku dapat sampai disana dan juga
tepat waktu untuk melindungi mereka.
“Ternyata tepat waktu, maaf aku terlambat Ayana, kak Ria.” ucapku.
“Arya,” panggil mereka serentak.
“Tidak ada waktu, aku selesaikan ini secepatanya dan menyelamatkan ibu Ayana. Kak Ria
__ADS_1
kamu bawa topeng serigala itu kan?” tanyaku.
”Iyh, aku membawanya,” balas kak Ria melemparkanku topeng
serigala.
Aku memakai topeng itu dan segera memasang kuda-kuda untuk
pergi menerjang musuh. Tapi sebelum itu Ayra baru sampai dan berada di
belakangku.
“Ayra bantu Ayana dan kak Ria melawan Tangger, biarkan yang
disini aku urus.” Perintahku.
“Baik,” balas Ayra.
Untuk pertama kali Ayana dan kak Ria kebingungan, tapi mereka
lebih memilih untuk percaya. Segera setelah mereka mempersiapkan diri, mereka
pergi tetapi Ayana masih ragu untuk meninggalkanku sendiri. Aku yang menyadari
itu segera menoleh kebelakang.
“Percayalah padaku,” ucapku sambil tesenyum.
“Iya aku percaya, kamu harus berjanji bahwa akan tetap
hidup,” balas Ayana.
“Baiklah, aku berjanji,” ucapku sambil menghampirinya dan
mengelus rambutnya yang halus dan indah itu.
“Tapi sebelum kamu pergi buat Tangger itu sibuk lalu saat
kalian menyadari aku sudah di dekat kalian hentikan pergerakannya, aku akan
mencari cara untuk menyelamatkan ibumu,” ucapku.
“Baiklah,” balas Ayana sedikit tersenyum.
Setelah berhasil membujuk Ayana, dia pergi meyusul kak Ria
dan Ayra. Sedangkan aku berdiri disana tanpa bergerak sedikitpun menunggu asap
ini meghilang.
“Siapa kamu,” tanya gadis misterius itu.
Tanpa pikir panjang aku menerjang kedepan dan berteriak, “Namaku
tidaklah penting, aku akan membayar dua kali lipat perbuatan yang kalian lakukan!”
Musuh menyadari kalo ada seseorang menerobos dari kepulan
asab dengan kecepatan tinggi.
Boom… duar….
akibat seranganku tanahnya hancur dan melubangi tanah tersebut sedalam 20 meter.
“Apa-apaan kekuatannya itu,” ucap pria itu dengan wajah yang
sedang ketakutan.
Mereka mulai waspada dan menyiapkan jurus-jurus mereka untuk
digunakan saat aku keluar dari lubang yang kubuat.
“Hebat sekali kalian bisa menghindarinya,” ucapku membelakangi mereka.
Mereka berdua terkejut dan melompat menjauh sambil menggunakan
jurus mereka untuk melukaiku.
“Hahhaha… dengan daya hancur seperti itu apalagi dengan
jarak yang sedekat ini kamu ak…” kata pria itu terputus karena melihatku masih
berdiri tanpa terluka sedikitpun.
Mereka diam tak bicara sedikitpun, keringat dingin terus
menetes dari wajah mereka. Ketakutan yang mereka rasakan seperti membuat
seorang naga mengamuk.
“Kalian tidak tau cara untuk mengalah pada seorang remaja
sepertiku,” ucapku.
Aku bergerak sangat cepat dan berada di belakang mereka lalu
berkata, “Jadi jangan harap aku akan mengampuni kalian,”.
Aku megepalkan tanganku dan memusatkan angin pada kepalan
tanganku, mereka yang masih terkejut tidak bisa lari dari cengkramanku.
“Kalian matilah,” ucapku setelah itu aku memukul mereka
dengan sangat keras.
Wush… boom…
Benturun keras pada dinding hotel membuat mereka tak sadarkan diri, untuk
jaga-jaga aku menelepon polisi untuk menangkap mereka dan segera menyusul Ayana, kak Ria,
dan Ayra.
Setelah beberapa menit.
__ADS_1
Roarrghhh....
Nakama itu berteriak dengan sangat keras.
“Ayana, kak Ria, dan Ayra apakah kalian berhasil
menghentikan pergerakannya?” tanyaku.
“Sudah, tetapi kami tidak bisa menahannya terlalu lama
mungkin hanya sekitar 3 menit saja kami bisa menahannya.
“Baiklah itu sudah cukup,” ucapku sambil membuka topeng.
Aku mengaktifkan mata merahku untuk mencari keberadaan ibu
Ayana, tak terduga dia berada pada jantung monster itu yang dimana kulit yang
berada di sekitar jantung itu memiliki pertahanan yang luar biasa.
“Ibu Ayana berada di dalam jantung itu, aku hanya bisa
bertaruh pada keberuntungan. Apabila aku gagal maka ibu Ayana akan meninggal,”
ucapku dalam hati bimbang.
Ayana yang melihatku bimbang berteriak padaku, “Aku percaya
padamu, jadi kumohon selamatkan ibuku,”
Teriakan Ayana menyadarkanku dari lamunanku
“Hmph… kenapa aku harus takut, mereka semua percaya padaku. Aku
akan mempertaruhkannya,” ucapku percaya diri.
“Sword of Nightmare,” ucapku.
Aku mengumpulkan angin yang ada dan memusatkannya pada bilah
pedangku untuk menambah serangannya dan juga memusatkan angin pada kakiku untuk
menerjang kearah nya dengan sangat cepat.
“Aku mulai,” ucapku percaya diri.
Krak….
Tanah retak karena lompatanku.
Wush….
Dengan kecepata yang luar biasa aku menerjang menuju tempat jantung Tangger itu berada.
“Aku akan bertaruh padamu, kali ini aku harus bisa menyelamatkan seseorang. Tidak
melainkan aku pasti bisa menyelamatkan seseorang, aku tidak akan menjadi
seperti dulu lagi.” teriakku.
“Aku harus menentukan seberapa kuat serangan ini, kumohon
berhasillah.” ucapku dalam hati.
KAMAITACHI
Roarghh….
Jerit monster itu kesakitan dan membuatnya hilang
keseimbangan.
“Kumohon mencapai lah,” ucapku sambil mejulurkan tanganku
untuk meraih tangan ibu Ayana.
Prok….
Tanganku berhasil menggapai tangan ibu Ayana.
“Berhasil,” ucapku sambil menarik ibu Ayana menjauh.
“Kak Ria buat pelindung di sekitar Tangger!” teriakku memerintah.
Tanpa berpikir panjang kak Ria membuat pelindung di sekitar
Tangger.
Duar….
Suara ledakan yang sangat besar tetapi segera meredup.
Aku berjalan mendekati mereka dan membaringkan ibu Ayana di
tanah.
Ayana berlari menuju ibunya sambil menangis.
“Ibu… ibu… tidak apa-apa? hiks…,” tanya Ayana.
Tak lama kemudian ibu Ayana membuka mata dan melihat anaknya
menangis dan segera mengusap air matanya sambil berkata, “Anak ibu yang cantik,
tidak cocok untuk menangis lebih cocok jika terseyum.
Ayana yang mengetahui ibunya sadar segera memeluknya sambl
menangis sekencang-kencangnya, sedangkan ibu Ayana berusaha untuk
menenangkannya.
Aku yang sudah mencapai batas tanpa sada aku terjatuh.
Bruk….
__ADS_1