
Hari Minggu yang cerah, aku terpaksa harus bangun pagi-pagi
untuk menemui ayana di pusat perbelanjaan.
“Katanya jam 8, tapi dia tak kunjung datang,” ucapku.
(Curhatan author: kenapa cewek tidak pernah bisa tepat waktu ya).
***BEBERAPA WAKTU YANG LALU***
Kring… kring…
“Siapa sih menelepon pagi-pagi?”tanyaku heran.
Aku mengambil hp ku dan melihat siapa yang menelepon,
ternyata Ayana lah yang menelponku pagi-pagi begini.
“Ada apa?”tanyaku dengan mengantuk.
“Itu… bisakah kau menemaniku berbelanja?”balas Ayana dengan
malu-malu.
“Kenapa harus aku?” tanyaku sekali lagi.
“Karena… kamu adalah rekanku,” balas Ayana dengan percaya
diri.
“Hah… baiklah,”ucapku dengan malas.
**********************************************
“Arya, maaf lama,” teriak Ayana dari kejauhan.
“Yah…”jawabku malas.
Ayana tiba-tiba
menarik tanganku sambil berkata,”kita kesana dulu yuk, Arya.”
“Eh,” ucapku terkejut.
Tak kusangka Ayana akan bersemangat seperti ini. Sudah
beberapa jam kami berkeliling di pusat perbelanjaan, pada akhirnya kami
istirahat di taman yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan.
“Oh iyh, bukannya hari ini ulang tahun Ayana yah. Apakah aku harus membelikannya sesuatu lagipula dia selalu baik padaku. Bagaimana caraku membelinya?,” ucapku dalam hati.
Sembari berpikir aku melihat-lihat sekitar dan melihat
seorang pasangan memberi sebuah minuman.
“Oh begitu,” ucapku dalam hati.
“Ayana aku pergi membeli minum dulu ya,” ucapku.
“Eh, yah…,” balas Ayana.
Aku berlari menuju toko perhiasan, karena saat itu Ayana
melihat kalung berbentuk love berwarna biru lautan itu. Setelah membelinya aku
membeli minuman dan kembali ke tempat Ayana duduk.
“Ayana maaf membuatmu menunggu,” ucapku sambil menyerahkan
minuman.
“Tidak apa-apa,”balasnya sembari menerima minuman yang
kuberikan.
Sesekali aku melihat Ayana yang sedang minum.
“Jika dari dekat begini Ayana terlihat sangat cantik dengan
mata berwarna biru, dan rambut berwarna putih, apalagi postur tubuhnya idaman para lelaki ditambah pakaian yang dia gunakan. Eh, apa yang kupikirkan,”ucapku dalam hati.
“Ada apa?” tanya Ayana
“Ahh… tidak ada apa-apa,” balasku sambil memalingkan wajah.
“Mencurigakan,” ucap Ayana.
Tapi sebelum Ayana menanyakan lebih lanjut.
“Ayana,” teriak seorang.
Terlihat seorang gadis berlari kearah kami.
“Tak kusangka kamu berada disini,” ucapnya
“Ehh… Rina?”balas Ayana kaget.
Aku hanya mengamati mereka berdua yang seakan menganggapku
tidak ada.
“Ada Arya juga ternyata,” ucap Rina terkejut.
“Yah….” jawabku malas.
“Tunggu, apakah kalian kencan?” ucap Rina terkejut.
“Tidak mungkin kan,” balas kami berdua secara bersamaan.
“Lalu?” ucap Rina bingung.
***BEBERAPA MENIT KEMUDIAN***
“Jadi begitu,” ucap Rina.
Kami berdua mengangguk.
“Ngomong-ngomong kamu sendiri kesini untuk apa?” tanya Ayana.
“Hanya jalan-jalan mencari angin,”balas Rina.
“Ah… mereka malah asyik sendiri” ucapku dalam hati.
Karena tak ingin mengganggu mereka aku memilih mengambil
handphone dan headshet. Kubuka handphone dan mencari lagu yang kubut sendiri
dan memainkan music tersebut , sehingga tanpa sadar aku bernyanyi mengikuti
lantunan musik tersebut sembari memejamkan mata.
Disaat aku membuka mata.
“Wah…” teriakku terkejut dan membuatku terjatuh.
“Aduh…,” ucapku
__ADS_1
kesakitan.
“Arya, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Ayana khawatir.
Aku berusaha bangkit sendiri.
“Hahahahaha… kamu sih bengong,” ucap Rina mengejek
Aku membersihkan baju dan celana ku yang kotor tanpa menghiraukan ucapan Rina.
“Arya,” panggil Ayana khawatir.
“Tidak apa-apa,” balasku.
“Ngomong-ngomong lagu apa yang kamu dengarkan itu?” tanya
Rina.
“Iyh, sampai-sampai kamu ikut bernyanyi juga,” ucap Ayana.
“Bukan apa-apa hanya lagu buatan sendiri,” balasku sambil
memegang handphoneku.
“Aku juga mau mendengarkannya,” ucap Ayana antusias.
“Ehh.. suaraku jelek, apalagi aku belum jago bermain musik,”
balasku menjauhinya.
Semakin aku menjauhinya dia malah mendekatiku.
“Aku mau
medengarkannya,” ucap Ayana.
“Aku terlalu malu,” ucapku sambil berjalan mundur dan
mengangkat handphone ku keatas.
Ayana tetap antusias ingin mendengarkannya, sampai-sampai….
“Ehh…,” ucapku terkejut
Bruk…
“Kenapa bibirku terasa lembut,” ucapku dalam hati.
Kuperlahan-lahan membuka mata, betapa terkejutnya aku karena
bibirku menyentuh bibirnya. Saat Ayana membuka mata dia juga terkejut sama
sepertiku, karena hal itu kami hanya bisa diam karena entah kenapa seperti
semua beban yang kami punya menghilang dan juga seakan waktu berhenti.
Cekrek….
“Wah!, aku dapat sesuatu yang bagus,” teriak Rina.
Karena terkejut mendengar suara Rina, kami berdua menjauh
dan merasa malu,
“Hei kalian berdua, lihat foto ini bagus kan,” ucap Rina
sambil menunjukan foto kami yang sedang berciuman.
“Rina kumohon, hapus
foto itu,” ucap Ayana memohon sekaligus menahan malu.
menghapus foto tersebut.
“Tidak mau,” teriak Rina.
“Rina kumohon,” ucap ayana.
Sedangkan diriku hanya bisa bengong dan memegangi bibirku.
“Lembut sekali bibir seorang gadis,” ucapku dalam hati.
Saat aku sadar hari sudah mau menjelang malam, sedangkan
mereka masih bermain kejar-kejaran seperti anak kecil.
“Ayana, ayo kita pulang,” teriakku.
“Eh, Arya tapi…” balas Ayana bingung.
“Ada apa?, Ayo kita pulang sebelum orang tuamu datang,” tegasku.
“Baiklah,” balas Ayana pasrah.
“Kalo begitu aku mau pulang juga,” ucap Rina.
Sebelum Rina pergi dia membisikkan sesuatu pada Ayana.
“Tenang saja, nanti aku kirimkan fotonya untukmu,” bisik
Rina
“Ehh.. apa yang kaukatakan,” balas Ayana malu.
“Hahahha kalo begitu Ayana dan Arya, sampai jumpa disekolah”
ucap Rina.
Setelah itu Rina pergi pulang.
Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi saat kulihat
muka Ayana memerah.
“Ayana kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku.
“Eh… tidak apa-apa kok, kalo begitu yuk pulang” balas Ayana.
“Yah…,” balasku
“Aneh,” ucapku dalam hati
Kami berjalan bersama tanpa sepatah katapun.
“Canggung banget,” ucapku dalam hati sambil menoleh ke Ayana
Disaat mata kami bertemu Ayana memalingkan wajahnya.
“Aku tidak boleh membiarkan suasana yang seperti ini. Apakah
aku harus membuka pembicaraan,” ucapku dalam hati.
Disaat aku kebingungan aku membuka handphoneku. Dan membaca
sebuah artikel yang muncul di notifikasi hpku.
“Diperkirakan akan ada ribuan bintang jatuh hari ini?. Ahh
__ADS_1
ini dia, ” ucapku
“Ayana, apakah kamu mau mampir ke suatu tempat bersamaku?”
tanyaku
“Ehh, baiklah,” balas Ayana.
“Yosh… ayo kita pergi,” ucapku antusias sambil menarik
tangan Ayana.
“Ehh….” balas Ayana terkejut.
Setelah berlari Selama 12 menit kami sampai di tujuan.
“Hosh.. hosh… akhirnya sampai,” ucapku lalu mengambil
handphoneku dan melihat jam.
“Untuk apa kita kesini?” tanya Ayana.
“Coba lihat ke langit,” ucapku menyuruh.
Ayana melihat keatas dan terkejut.
“Indahnya,” ucap Ayana.
Aku hanya tersenyum kepadanya dan melihat bintang jatuh
lagi.
“Bagaimana kalo kita meminta permohonan?” tanya Ayana padaku
antusias.
“Emm… ide yang bagus,” jawabku.
Kami berdua melihat bintang jatuh lalu membuat permohonan.
“Aku ingin bisa selalu berada disisinya, melindunginya dan
membahagiakannya. Aku juga berharap perasaan nyaman seperti ini berlangsung
selamanya,” ucapku dalam hati.
Setelah selesai membuat permohonan aku melihat Ayana yang focus
membuat permohonan. Tak terasa aku melihatnya terus, rambut berwarna putih,
bola mata biru sejernih lautan. Tapi yang kurasakan bukan hanya itu, dibalik
senyumnya terdapat tangung jawab yang besar bahkan bisa dibilang terlalu besar
untuk dia bawa.
“Arya, ada apa?” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.
“Eh tidak apa-apa,” balasku.
“Syukurlah kalo kamu tidak apa-apa,” ucapnya lalu kembali
lagi memandangi bintang jatuh.
Saat bintang jatuh akan berakhir aku baru mengingat sesuatu
dan segera mengambil hadiah yang ingin kuberikan padanya.
“Ayana,” panggilku.
“Ada apa?” tanya ayana.
“Itu…,” ucapku.
Wajah Ayana bingung.
“Bagaimana ini?, kenapa jadi sesulit ini,” ucapku dalam hati.
“Arya?” panggilnya bingung.
“Apa yang harus kulakukan?, ahh bodo amat,” ucapku dalam
hati.
“Maukah kamu jadi pacarku,” ucapku sambil menyerahkan kado
yang kubawa.
“Sebentar, bukannya saat memberikan kado itu ucapannya
selamat ulang tahun ya?” tanyaku dalam hati.
“Itu… sebenarnya…” sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
“Yah aku mau kok…,” ucapnya bersemangat sambil tersenyum
indah
“Eh..” senyumnya membuatku tak bisa berkata apa-apa.
Ahh meskipun hasilnya tak seperti yang kuharapkan, tapi tak
apalah.
(Curhatan author: Semudah itukah kamu mendapatkan pacar TvT.)
Tak lama kemudian kami berjalan pulang bersama tanpa ada
yang memulai percakapan karena malu.
“Canggung banget, oh iya tanpa sadar aku membeli dua apa aku
berikan saja padanya. Toh aku gak butuh juga,” ucapku dalam hati.
“Ayana, sebenarnya aku ingin memberikan hadiah ulang tahun
untukmu,” ucapku sambil memberinya kalung tersebut.
“Terima kasih” balas Ayana.
“Eh, kalungnya sama,” ucapnya heran.
“Sebenarnya aku hanya ingin memberimu hadiah saja, tapi entah
kenapa aku malah menembakmu,” balasku
“Oh, kalo begitu kita pakai bersama saja,” ucap Ayana sambil
mendekat padaku dan memasangkan kalungnya padaku.
“Te.. te.. rima.. kasih,” ucapku.
Ayana tersenyum lalu berkata,“kalo begitu mohon bimbingan
untuk kedepanya, Arya.”
“Yah, aku juga,” ucapku tersenyum.
__ADS_1
Lalu kami pulang kerumah masing-masing.
(Curhatan author: Apalah nasib jomblo TvT.)