The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Kencan di hari Minggu


__ADS_3

Hari Minggu yang cerah, aku terpaksa harus bangun pagi-pagi


untuk menemui ayana di pusat perbelanjaan.


“Katanya jam 8, tapi dia tak kunjung datang,” ucapku.


(Curhatan author: kenapa cewek tidak pernah bisa tepat waktu ya).


***BEBERAPA WAKTU YANG LALU***


Kring… kring…


“Siapa sih menelepon pagi-pagi?”tanyaku heran.


Aku mengambil hp ku dan melihat siapa yang menelepon,


ternyata Ayana lah yang menelponku pagi-pagi begini.


“Ada apa?”tanyaku  dengan mengantuk.


“Itu… bisakah kau menemaniku berbelanja?”balas Ayana dengan


malu-malu.


“Kenapa harus aku?” tanyaku sekali lagi.


“Karena… kamu adalah rekanku,” balas Ayana dengan percaya


diri.


“Hah… baiklah,”ucapku dengan malas.


**********************************************


“Arya, maaf lama,” teriak  Ayana dari kejauhan.


“Yah…”jawabku malas.


Ayana  tiba-tiba


menarik tanganku sambil berkata,”kita kesana dulu yuk, Arya.”


“Eh,” ucapku terkejut.


Tak kusangka Ayana akan bersemangat seperti ini. Sudah


beberapa jam kami berkeliling di pusat perbelanjaan, pada akhirnya kami


istirahat di taman yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan.


“Oh iyh, bukannya hari ini ulang tahun Ayana yah. Apakah aku harus membelikannya sesuatu lagipula dia selalu baik padaku.  Bagaimana caraku membelinya?,” ucapku dalam hati.


Sembari berpikir aku melihat-lihat sekitar dan melihat


seorang pasangan memberi sebuah minuman.


“Oh begitu,” ucapku dalam hati.


“Ayana aku pergi membeli minum dulu ya,” ucapku.


“Eh, yah…,” balas Ayana.


Aku berlari menuju toko perhiasan, karena saat itu Ayana


melihat kalung berbentuk love berwarna biru lautan itu. Setelah membelinya aku


membeli minuman dan kembali ke tempat Ayana duduk.


“Ayana maaf membuatmu menunggu,” ucapku sambil menyerahkan


minuman.


“Tidak apa-apa,”balasnya sembari menerima minuman yang


kuberikan.


Sesekali aku melihat Ayana yang sedang minum.


“Jika dari dekat begini Ayana terlihat sangat cantik dengan


mata berwarna biru, dan rambut berwarna putih, apalagi postur tubuhnya  idaman para lelaki ditambah pakaian yang dia gunakan. Eh, apa yang kupikirkan,”ucapku dalam hati.


“Ada apa?” tanya Ayana


“Ahh… tidak ada apa-apa,” balasku sambil memalingkan wajah.


“Mencurigakan,” ucap Ayana.


Tapi sebelum Ayana menanyakan lebih lanjut.


“Ayana,” teriak seorang.


Terlihat seorang gadis berlari kearah kami.


“Tak kusangka kamu berada disini,” ucapnya


“Ehh… Rina?”balas Ayana kaget.


Aku hanya mengamati mereka berdua yang seakan menganggapku


tidak ada.


“Ada Arya juga ternyata,” ucap Rina terkejut.


“Yah….” jawabku malas.


“Tunggu,  apakah  kalian kencan?” ucap Rina terkejut.


“Tidak mungkin kan,” balas kami berdua secara bersamaan.


“Lalu?” ucap Rina bingung.


***BEBERAPA MENIT KEMUDIAN***


“Jadi begitu,” ucap Rina.


Kami berdua mengangguk.


“Ngomong-ngomong kamu sendiri kesini untuk apa?” tanya Ayana.


“Hanya jalan-jalan mencari angin,”balas Rina.


“Ah… mereka malah asyik sendiri” ucapku dalam hati.


Karena tak ingin mengganggu mereka aku memilih mengambil


handphone dan headshet. Kubuka handphone dan mencari lagu yang kubut sendiri


dan memainkan music tersebut , sehingga tanpa sadar aku bernyanyi mengikuti


lantunan musik tersebut sembari memejamkan mata.


Disaat aku membuka mata.


“Wah…” teriakku terkejut dan membuatku terjatuh.


“Aduh…,” ucapku

__ADS_1


kesakitan.


“Arya, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Ayana khawatir.


Aku berusaha bangkit sendiri.


“Hahahahaha… kamu sih bengong,” ucap Rina mengejek


Aku membersihkan baju dan celana ku yang kotor tanpa menghiraukan ucapan Rina.


“Arya,” panggil Ayana khawatir.


“Tidak apa-apa,” balasku.


“Ngomong-ngomong lagu apa yang kamu dengarkan itu?” tanya


Rina.


“Iyh, sampai-sampai kamu ikut bernyanyi juga,” ucap Ayana.


“Bukan apa-apa hanya lagu buatan sendiri,” balasku sambil


memegang handphoneku.


“Aku juga mau mendengarkannya,” ucap Ayana antusias.


“Ehh.. suaraku jelek, apalagi aku belum jago bermain musik,”


balasku menjauhinya.


Semakin aku menjauhinya dia malah mendekatiku.


“Aku  mau


medengarkannya,” ucap Ayana.


“Aku terlalu malu,” ucapku sambil berjalan mundur dan


mengangkat handphone ku keatas.


Ayana tetap antusias ingin mendengarkannya, sampai-sampai….


“Ehh…,” ucapku terkejut


Bruk…


“Kenapa bibirku terasa lembut,” ucapku dalam hati.


Kuperlahan-lahan membuka mata, betapa terkejutnya aku karena


bibirku menyentuh bibirnya. Saat Ayana membuka mata dia juga terkejut sama


sepertiku, karena hal itu kami hanya bisa diam karena entah kenapa seperti


semua beban yang kami punya menghilang  dan juga seakan waktu berhenti.


Cekrek….


“Wah!, aku dapat sesuatu yang bagus,” teriak Rina.


Karena terkejut mendengar suara Rina, kami berdua menjauh


dan merasa malu,


“Hei kalian berdua, lihat foto ini bagus kan,” ucap Rina


sambil menunjukan foto kami yang sedang berciuman.


“Rina kumohon, hapus


foto itu,” ucap Ayana memohon sekaligus menahan malu.


menghapus foto tersebut.


“Tidak mau,” teriak Rina.


“Rina kumohon,” ucap ayana.


Sedangkan diriku hanya bisa bengong dan memegangi bibirku.


“Lembut sekali bibir seorang gadis,” ucapku dalam hati.


Saat aku sadar hari sudah mau menjelang malam, sedangkan


mereka masih bermain kejar-kejaran seperti anak kecil.


“Ayana, ayo kita pulang,” teriakku.


“Eh, Arya tapi…” balas Ayana bingung.


“Ada apa?, Ayo kita pulang sebelum  orang tuamu datang,” tegasku.


“Baiklah,” balas Ayana pasrah.


“Kalo begitu aku mau pulang juga,” ucap Rina.


Sebelum Rina pergi dia membisikkan sesuatu pada Ayana.


“Tenang saja, nanti aku kirimkan fotonya untukmu,” bisik


Rina


“Ehh.. apa yang kaukatakan,” balas Ayana malu.


“Hahahha kalo begitu Ayana dan Arya, sampai jumpa disekolah”


ucap Rina.


Setelah itu Rina pergi pulang.


Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi saat kulihat


muka Ayana memerah.


“Ayana kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku.


“Eh… tidak apa-apa kok, kalo begitu yuk pulang” balas Ayana.


“Yah…,” balasku


“Aneh,” ucapku dalam hati


Kami berjalan bersama tanpa sepatah katapun.


“Canggung banget,” ucapku dalam hati sambil menoleh ke Ayana


Disaat mata kami bertemu Ayana memalingkan wajahnya.


“Aku tidak boleh membiarkan suasana yang seperti ini. Apakah


aku harus membuka pembicaraan,” ucapku dalam hati.


Disaat aku kebingungan aku membuka handphoneku. Dan membaca


sebuah artikel yang muncul di notifikasi hpku.


“Diperkirakan akan ada ribuan bintang jatuh hari ini?. Ahh

__ADS_1


ini dia, ” ucapku


“Ayana, apakah kamu mau mampir ke suatu tempat bersamaku?”


tanyaku


“Ehh, baiklah,” balas Ayana.


“Yosh… ayo kita pergi,” ucapku antusias sambil menarik


tangan Ayana.


“Ehh….” balas Ayana terkejut.


Setelah berlari Selama 12 menit  kami sampai di tujuan.


“Hosh.. hosh… akhirnya sampai,” ucapku lalu mengambil


handphoneku dan melihat jam.


“Untuk apa kita kesini?” tanya Ayana.


“Coba lihat ke langit,” ucapku menyuruh.


Ayana melihat keatas dan terkejut.


“Indahnya,” ucap Ayana.


Aku hanya tersenyum kepadanya dan melihat bintang jatuh


lagi.


“Bagaimana kalo kita meminta permohonan?” tanya Ayana padaku


antusias.


“Emm… ide yang bagus,” jawabku.


Kami berdua melihat bintang jatuh lalu membuat permohonan.


“Aku ingin bisa selalu berada disisinya, melindunginya dan


membahagiakannya. Aku juga berharap perasaan nyaman seperti ini berlangsung


selamanya,” ucapku dalam hati.


Setelah selesai membuat permohonan aku melihat Ayana yang focus


membuat permohonan. Tak terasa aku melihatnya terus, rambut berwarna putih,


bola mata biru sejernih lautan. Tapi yang kurasakan bukan hanya itu, dibalik


senyumnya terdapat tangung jawab yang besar bahkan bisa dibilang terlalu besar


untuk dia bawa.


“Arya, ada apa?” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.


“Eh tidak apa-apa,” balasku.


“Syukurlah kalo kamu tidak apa-apa,” ucapnya lalu kembali


lagi memandangi bintang jatuh.


Saat bintang jatuh akan berakhir aku baru mengingat sesuatu


dan segera mengambil hadiah yang ingin kuberikan padanya.


“Ayana,” panggilku.


“Ada apa?” tanya ayana.


“Itu…,” ucapku.


Wajah Ayana bingung.


“Bagaimana ini?, kenapa jadi sesulit ini,” ucapku dalam hati.


“Arya?” panggilnya bingung.


“Apa yang harus kulakukan?, ahh bodo amat,” ucapku dalam


hati.


“Maukah kamu jadi pacarku,” ucapku sambil menyerahkan kado


yang kubawa.


“Sebentar, bukannya saat memberikan kado itu ucapannya


selamat ulang tahun ya?” tanyaku dalam hati.


“Itu… sebenarnya…” sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


“Yah aku mau kok…,” ucapnya bersemangat sambil tersenyum


indah


“Eh..” senyumnya membuatku tak bisa berkata apa-apa.


Ahh meskipun hasilnya tak seperti yang kuharapkan, tapi tak


apalah.


(Curhatan author: Semudah itukah kamu mendapatkan pacar TvT.)


Tak lama kemudian kami berjalan pulang bersama tanpa ada


yang memulai percakapan karena malu.


“Canggung banget, oh iya tanpa sadar aku membeli dua apa aku


berikan saja padanya. Toh aku gak butuh juga,”  ucapku dalam hati.


“Ayana, sebenarnya aku ingin memberikan hadiah ulang tahun


untukmu,” ucapku sambil memberinya kalung tersebut.


“Terima kasih” balas Ayana.


“Eh, kalungnya sama,” ucapnya heran.


“Sebenarnya aku hanya ingin memberimu hadiah saja, tapi entah


kenapa aku malah menembakmu,” balasku


“Oh, kalo begitu kita pakai bersama saja,” ucap Ayana sambil


mendekat padaku dan memasangkan kalungnya padaku.


“Te.. te.. rima.. kasih,” ucapku.


Ayana tersenyum lalu berkata,“kalo begitu mohon bimbingan


untuk kedepanya, Arya.”


“Yah, aku juga,” ucapku tersenyum.

__ADS_1


Lalu kami pulang kerumah masing-masing.


(Curhatan author: Apalah nasib jomblo TvT.)


__ADS_2