
”Emm….. namamu siapa?” tanya Ayana.
“Hah… apa?,” aku yang saat itu setengah tertidur sambil menatap jedela.
“Waahhhh!” teriakku disaat aku menoleh, betapa terkejutnya aku saat wajahnya dengan wajahku hanya beberapa inchi saja sampai-sampai aku tanpa sengaja membenturkan kepalaku ke jendela.
“Ahhh.. sakit…,” ucapku sambil mengelus-elus kepalaku yang terbentur.
“Hahahah… kamu kenapa?” tanya Ayana sambil tertawa terbahak bahak.
“………….” aku hanya diam dan menatapnya dengan tatapan sinis.
”Jadi namamu siapa?” tanya Ayana.
”Kazekaki Arya,” balasku.
”Namamu keren juga, panggil saja aku Ayana heheheh….” ucap Ayana.
”Tidak akan, lebih baik kamu diam!” perintahku.
”Eh kenapa?,” tanya Ayana sambil memasang wajah cemberut.
”Berisik, aku ingin tidur!” aku mengatakannya dengan tegas kepadanya dan kembali menatap jendela sambil menyandarkan kepala ke meja.
”Hei.. hei Arya kamu gk makan?” tanya Ayana.
”Sejak kapan kamu seakrap itu denganku,” balasku.
”Sejak tadi,” ucap Ayana.
”Uhh… berhentilah sok akrab denganku,” ucapku dengan sedikit membentak.
”Hmm… Apa aku berbuat salah hiks...,” ucap Ayana sambil memasang wajah seperti seseorang yang akan menangis.
”Eh.. gak apa-apa kamu boleh panggil aku dengan sebutan yang kamu mau,” ucapku dengan spontan karena melihatnya hampir menangis.
__ADS_1
Saat aku mengatakan itu dia langsung tersenyum dan saat itulah aku baru menyadari bahwa aku sedang dikerjaiin.
”Uh... menyebalkan,” ucapku dengan nada suara pelan.
”Hehehehe… maaf,” ucap Ayana.
Dan baru kali ini aku merasakan kebahagian dan tanpa sengaja aku tersenyum.
”Ehh kamu tersenyum,” ucap nya sambil tersenyum.
”Kamu pasti salah lihat!” teriakku dengan spontan sambil memalingkan wajahku menuju keluar jendela.
Sampai pulang sekolah pun dia terus berbicara, tetapi entah kenapa aku menyukainya seperti mendapatkan sesuatu yang hilang dariku dan entah kenapa ini semua membuatku merasa nyaman.
"Ini pertemuan pertamaku dengannya, tapi kenapa aku seperti bernostalgia. Kenapa aku merasa dia bukan sekedar seseorang yang sok akrab denganku, melainkan dia seperti orang yang sangat berharga bagiku?" tanyaku dalam hati.
Tak lama kemudian kelas kembali dimulai, semuanya duduk dan mendengarkan penjelasan sampai selesai.
Ding… dong… Ding… dong…Kringg….
”Baik pak..,” ucap seluruh anak kelas serentak.
”Kalo gitu sampai bertemu minggu depan,” ucap pak guru lalu berjalan meninggalkan kelas.
Semua merapikan barang-barang mereka dan segera pulang. Tapi seperti biasa aku tertidur di kelas, tetapi kali ini….
”Hei… heii… Arya bangun sudah waktunya pulang,” ucap Ayana sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
”kenapa gadis ini selalu mengangguku!” ucapku dalam hati**.
”Arya… bangun,” panggilnya sekali lagi.
”Berisik aku mencoba untuk tidur,” jawabku.
”Tapi ini sudah waktunya pulang,” ucap Ayana sambil memasang wajah cemberut.
__ADS_1
”Diamlah dan berikan aku waktu 5 menit untuk tidur kamu pulang aja sana.” balasku.
”Hemm....” ucap Ayana sambil menatapku.
Ayana yang tidak bisa membujukku untuk pulang pada akhirnya dia memilih untuk kembali duduk dan terus menatapiku yang tengah tertidur.
"5 menit berjalan tetapi saat aku bersamamu entah kenapa waktu terasa lebih lama. Sebenarnya kenapa jantungku berdebar-debar mulai dari pertama kali melihatmu Arya. Kamu mirip seperti dia, orang yang aku suka saat aku berumur 10 tahun. apakah kamu adalah dia yang selama ini aku cari," ucap Ayana dalam hati.
2 jam terlewati dan menandakan pukul 05.35
”Hoamm... Eh kenapa dia malah ikut tertidur, apa aku harus membangunkannya?” ucapku terkejut sekaligus kebingungan.
”Tapi bagaimana?” tanyaku kebingungan.
Entah kenapa diriku terpesona melihat kecantikannya yang terkena sinar matahari yang akan terbenam. Tak sadar aku mendekatkan wajahku padanya, tiba-tiba saja Ayana membuka matanya dan melihat diriku yang berjarak beberapa inchi saja.
”Eh, wah!” spontan Ayana berteriak padaku.
”Hei jangan berteriak kamu salah paham,” ucapku yang kaget sambil memundurkan wajahku.
”Huuuu Arya mesum, salah paham bagaimana jelas-jelas kamu mendekatkan wajahmu ke padaku saat aku tertidur.” balas Ayana marah.
”Ini gak seperti yang kamu bayangkan, aku hanya ingin membangunkanmu tapi….” ucapku dengan wajah kebingungan.
“Hmmm kali ini aku percaya,” ucap Ayana sambil memasang wajah waspada.
“Syukurlah kalo begitu,” balasku sambil bernafas lega.
Tak lama kemudian dia tersenyum indah.
”Kalo gitu yuk pulang udah mau malem,” ucap Ayana.
”iya…,” ucapku sambil mengangguk.
Kami berjalan bersama tanpa ada yang memulai percakapan. Kami sampai ke halte bus dengan suasana canggung, dikarenakan kejadian di kelas tadi membuat kami malu untuk memulai percakapan apalagi saling bertatap muka. Dikarenakan aku muak menunggu bus dengan suasana canggung seperti ini akhirnya aku berinisiatif untuk membuka pembicaran, tapi tak disangka….
__ADS_1