
Ditengah-tengah aku berlari menemui kak Ria, aku mencoba
untuk bertanya pada Kaze,
“Oi Kaze, boleh kutanya sesuatu?” tanyaku
“Soal apa,” balas Kaze.
“Jika musuh sebesar itu dan kecepatannya serangan serta daya
hancur yang luar biasa bukankah Artifactku tidak cocok unutuk pertarungan ini
bukan?” tanyaku.
“ada benarnya juga,” balas Kaze.
“Jadi apa tidak ada cara lain untuk mengalahkannya dengan
mudah?” tanyaku.
“Hanya ada satu cara,” balas kaze.
“Apa itu?” tanyaku.
Tanpa kusadari Ayana terus melihatku dengan tatapan bingung.
“Hei Arya, kamu bicara dengan siapa?” tanya Ayana.
“Eh, aku hanya berbicara sendiri kok,” balasku.
Ayana masih kebingugan tapi dia berusaha mengabaikannya dan
lebih fokus tentang bagaimana menyelamatkan ibunya. Selang beberapa saat kami
sampai ketempat kak Ria yang sedang memimpin pasukan dan jalannya formasi.
“Kak,” panggilku.
“Oh, kalian sudah sampai,” jawab kak Ria.
Aku melihat-lihat sekitar, banyak orang yang sedang
bersiap-siap untuk penyerangan. Saat aku terfoks melihat-lihat sekitar
tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang.
“Tolong aku,” teriak seseorang.
“Siapa?” tanyaku terkejut.
“Tolong aku,” teriak seseorang.
Aku berusaha mencari sumber suara tersebut, tapi meskipun
aku mencarinya aku belum menemukannya sama sekali lalu tak lama kemudian ada
seseorang memanggilku.
“Oi.. Arya, sadarlah ini hanya ilusi,” teriak seseorang.
“Hah?” tanyaku bingung.
“Ini hanyalah ilusi!” teriak Kaze.
Kemudian setelah Kaze meneriakiku seperti itu, aku dapat
kembali sadar. Aku segera melihat-lihat sekitar dan seperti dugaanku kami semua
terkena ilusi,
“Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Kemampuan dari Nakama itu juga bisa menciptakan ilusi,”
balas Kaze.
“Eh…!” balasku terkejut.
__ADS_1
“Jadi siapa saja yang berhasil keluar dari ilusi itu?”
tanyaku.
“Hanya kamu dan bocah disana,” balas kaze sambil menunjuk ke
salah satu orang yang menggunakan artifact pedang.
“Dia Naufal!” teriakku terkejut.
Karena teriakanku dia menoleh kearaahku, unutk pertama
kalinya dia terkejut tapi dia berusaha untuk menemuiku.
“Hei kenapa kamu disini?, kamu bukan seorang artifact kan?”
tanya Naufal.
“Gawat bagaimana ini!, aku harus mejawab apa?” tanyaku dalam
hati bingung.
“Tenang saja, aku pinjam tubuhmu sebentar,” balas Kaze.
Tak lama setelah Kaze mengatakan itu aku berada ditempat
gelap dan terdapat layar yang sangat besar menampilkan Naufal. Untuk pertama
kali aku bingung, tapi saat aku menyadari perkataan Kaze kemungkinan aku berada di alam bawah sadar.
“Jadi selama ini Kaze
mengawasiku melalui sini?” ucapku kebingungan.
Sementara itu….
“Oi Arya, kenapa diam?” tanya Naufal.
“Eh maaf-maaf, kamu menyakan ku kenapa ada disini?,
alasannya hanya satu aku adalah adek dari keluarga Kazekaki jadi sudah jelas
“Oh begitu,” ucap Naufal datar.
Naufal berbalik dan pergi, setelah beberapa langkah dia
berhenti dan tiba-tiba saja dia menyerang menggunakan pedangnya.
Wush…
Angin yang diciptakan karena ayunan pedang Naufal.
“Hoi apa yang kaulakukan?” tanya Kaze.
“Sudah jelas bukan, kamu bukanlah Arya,” balas Naufal.
“Apa maksudmu?” tanya Kaze.
“Jika itu Arya, seharusnya dia menggunakan kata-kata singkat
dengan jelas. Kesalahan yang kamu lakukan adalah terlalu banyak menggunakan
kata-kata yang terlalu banyak,” balas Naufal.
“Cih dia menyadarinya, seharusnya aku menyuruh Arya saja,”
ucap kaze dalam hati.
“Lebih baik kita bertukar tubuh,” ucapku.
Tapi sebelum Kaze menyetujuinya tiba-tiba Nakama itu melepas
anak panahnya kearah kami.
“Cih, nanti akan aku menukarnya. Untuk sekarang biar aku gunakan tubuhmu untuk
menangkis anak panah itu,” ucap Kaze dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Kaze melompat dan langsung menerjang keearah
anak panah itu.
“Aliran pedang 9 tameng baja”
TATENOKI
(Sebuah tangkisan pedang dengan cara mengubah arah serangan musuh)
Tang….
Setelah anak panah itu berubah arah ke barat terjadi ledakan besar.
“Hampir saja,” ucap Kaze lega.
Tanpa menyadarinya Kaze membongkar bahwa diriku adalah
seorang Artifaction.
“Gawat aku tanpa sengaja menggunakan nya,” ucap Kaze dalam hati gelisah.
“Apa itu tadi?, itu pasti pedang seorang Artifaction.” tegas Naufal.
“Bagaimana ini?” tanya Kaze dalam hati bingung.
Kaze hanya bisa berdiam diri.
“Kaze serahkan padaku,” ucapku.
“Eh,” balas Kaze terkejut.
Kaze menutup mata dan bertukar kesadaran denganku.
“Ah maaf, sepertinya kamu salah lihat,” ucapku sambil
mendekatinya.
“Tidak mungkin, aku jelas-jelas melihatmu,” balas Naufal.
“Benarkah,” ucapku.
Saat aku sudah mendekatinya aku memegang pundak dan
menyerang bagian perut untuk membuatya pingsan.
“Ughuk, apa yang kaulakukan,” ucap Naufal.
Bruk….
Setelah naufal terjatuh dan kehilangan kesadaran, aku mencoba cara yang diajarkan
kak Ria untuk menghapus ingatan. Kak Ria mengajariku karena dia tau suatu hari
pasti aka nada orang yang menyadari tentang kekuatanku.
“Untung saja aku berhasil,” ucapku lega.
Tak lama setelah itu Nakama mulai bergerak lagi.
“Kekuatanku yang sekarang pasti tidak bisa menandinginya,” ucapku.
Tiba-tina kaze muncul didepanku dan mengatakan,”Gunakan
kekuatan itu aku akan berusaha menahan iblis itu,”
“Apa maksudmu kekuatan itu,” balasku terkejut sekaligus
bingung.
“Bangkitkan Nakagami dan buatlah kontrak dengan darahmu,
tapi jika iblis itu menolak maka kamu akan mati!” tegas Kaze.
“Eh…,” ucapku terkejut.
Kami hanya bisa terdiam dan Nakama itu terus bergerak,
__ADS_1
melepaskan satu persatu anak panah dan menghancurkan kota. Aku tidak tau harus
menanggapi perkataan Kaze dan hanya bisa terdiam.