
Sesampainya dirumah aku langsung pergi ke kamar.
“Bagaimana mereka berdua bisa betah membicarakan soal kejelekanku, dasar wanita,” ucapku dalam hati.
“Yah begitulah,” ucap seseorang.
“Siapa disana?” tanyaku bingung.
“Tenang saja, ini aku kaze,” balas Kaze.
“Kau membuatku kaget, tunggu kamu sekarang bisa muncul dihadapanku?” tanyaku terkejut.
“Hahaha… yah begitulah, tapi hanya kamu yang bisa melihatku,” balas Kaze.
Untuk beberapa saat kami hanya diam.
“Hei Kaze,” panggilku.
“Ada apa?” jawab Kaze.
“Bukannya kamu adalah ingatanku sebelum berumur 13 tahun?” tanyaku.
“Kalo memang iyh, kenapa?” balas Kaze bertanya.
“Kenapa kau tidak langsung memberitahuku soal ingatanku itu,” jawabku.
Utuk beberapa saat lagi kami terdiam, lalu akhirnya Kaze memulai pembicaraan.
“Jika aku memberitahumu sama saja melanggar aturan yang ada didunia ini,” ucap
Kaze.
“Jadi begitu,” jawabku lesu.
Setelah mendengar diriku yang lesu dia menghela nafas dan berkata,
“Hah... merepotkan, mungkin aku tidak bisa memberi tahumu tentang masa lalu tapi aku bisa mengajarimu cara penggunaan kekuatanmu. Mungkin kamu merasa bisa mengendalikannya tapi tubuhmu masih belum bisa menerimanya, jadi hari minggu kita mulai latihan,” ucap Kaze.
“Eh… benarkah, yosh aku akan berusaha,” balasku dengan percaya diri.
Hari minggu yang cerah.
Pada hari minggu ini aku akan dilatih oleh diriku, emm gimana ya?, pokoknya hari ini aku akan berlatih menjadi yang terkuat.
“Apa kau sudah siap, Arya?” tanya Kaze.
“Siap sensei,” balasku dengan semangat.
“Bagus,” ucap Kaze.
“Tapi Kaze, kenapa kita pergi ke lapangan sekolah?” tanyaku.
“Itu bukan urusanmu, sekarang kau lari mengitari lapangan sebanyak 300 putaran!” balas Kaze memerintah.
“Baik,” jawabku.
Setelah berhasil mencapai 300 putaran.
“Hosh… hosh… hosh… aku.. sudah berhasil hosh… hosh…,” ucapku sambil terengah-engah.
Ditengah aku seperti orang yang sudah kehabisan oksigen, Kaze tertidur dengan lelapnya.
“Dia yang menyuruhku lari keliling lapangan sebanyak 300 putaran dia malah enak-enakan tidur!” ucapku dalam hati marah.
“Hoi tukang tidur bangun!” perintahku sambil menjulurkan tangan.
Tapi saat tanganku hampir menyentuhnya, tiba-tiba saja dia menghilang dan sudah berada dibelakangku.
“Hoaamm… mungkin aku terlihat tertidur bagimu, tetapi sebenarnya aku sama sekali tidak tidur,” ucap Kaze.
“Apa maksudmu,Kaze?” tanyaku.
“Begini, sebagai contoh apakah kamu tau tentang hawa pembunuh?” balas Kaze balik bertanya.
“Iyh, seseorang yang memiliki keinginan membunuh yang kuat,” balasku.
“Betul, tapi yang kuganakan ini lain cerita,” ucap Kaze.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Aku lebih mendasari pada indra yang dimiliki manusia, aku mencoba memaksimalkan indra sama halnya dengan serigala yang menggunakan hidungnya untuk mencari mangsa, lalu kelelawar yang menggunakan telinganya untuk mendengar dan sebagai penentu untuk mencari makanan.” Balas Kaze.
“Jadi maksud darimu adalah dengan meningkatkan indra kita, kita jadi lebih mudah merasakan hawa disekitar kita?” tanyaku.
“Betul sekali,” balas Kaze.
__ADS_1
“Lalu kenapa aku harus lari keliling lapangan 300 kali?” tanyaku.
“Hanya iseng hahahha…,” balas Kaze.
“Andaikan aku tidak membutuhkanmu, akan aku bunuh sekarang juga,” ucapku dalam hati kesal.
“Bercanda, aku menyuruhmu melakukan itu karena ingin mengetes seberapa besar staminamu.” Ucap Kaze.
“Eh,” balasku terkejut.
“Dengan staminamu yang seperti itu setidaknya kamu hanya bisa bertahan selama 3 jam,” ucap Kaze serius.
“Lalu?” balasku bertanya.
“Untuk sekarang kita latih staminamu sampai sore ini,” balas Kaze.
“Eh.. baik sensei” jawabku.
Hari tak terasa sudah sore, akhirnya aku dan Kaze pulang kerumah.
“Arya kamu dari mana saja?” tanya kak Ria.
“Hanya melatih diriku saja,” balasku.
“Oh begitu, kalo begitu kamu cepat mandi sebentar lagi kita makan malam bersama,” ucap kak Ria.
“Iyh,” jawabku.
Setelah itu aku mengambil baju ganti dikamar dan menuju kamar mandi.
Byurr… aku masuk kedalam bak mandi.
“Melelahkan sekali, setelah saat itu Kaze langsung menghilang begitu saja. Tapi
ngomong-ngomong beberapa hari ini terasa sangat damai sekali, bahkan satu
Nakama pun tidak muncul, toh bukannya aku tidak suka tapi ini terlalu aneh saja,”
ucapku dalam hati bingung.
“Betul seperti katamu, ini sangat aneh,” balas seseorang.
“Eh, siapa disana?” tanyaku sambil melihat lihat sekitar.
“Ini aku Kaze, aku sekarang berada pada dirimu. Kamu bisa berbicara lewat hati saja,” balas Kaze.
“Yah begitulah, setelah makan malam kita akan pergi kesuatu tempat,” balas Kaze.
“Kemana?” tanyaku dalam hati.
“Sudah kamu menurut saja,” jawab Kaze.
“Baiklah,” ucapku dalam hati.
Setelah mandi aku berganti pakaian dan menuju meja makan.
Lalu kami berdua segera makan.
“Arya, apakah kamu gak merasakan kedatangan Nakama?, tapi bukannya
aku mengharap juga.” tanya kak Ria.
Sambil mengunyah makanan aku menjawab pertanyaan kak Ria,”Emm, akhir-akhir ini aku tak merasakanya,”.
“Tapi apakah kamu tidak merasa aneh,” ucap kak Ria.
“Ternyata kak Ria juga merasa aneh,” ucapku dalam hati terkejut.
“Arya?” panggil kak Ria.
“Eh… untuk pertama kali aku merasa aneh, tapi bukannya bagus Nakama tidak muncul,” ucapku.
“Betul juga, mungkin kakakmu ini terlalu khawatir hahahaha...,” balas kak Ria.
Setelah selesai makan aku pergi ke kamar. Aku membuka pintu kamar dan masuk.
“Kamu sudah selesai makannya?” tanya Kaze dari balik pintu.
“Wahh!” teriakku terkejut.
“Arya ada apa?” teriak kak Ria bertanya.
“Tidak apa-apa kok kak, hanya ada kecoak lewat,” balasku.
“Kamu hanya membuat orang khawatir aja,” ucap kak Ria kesal.
__ADS_1
“Maaf,” balasku.
“Hahahaha… aduh perutku sakit,” ucap Kaze mengejek.
“….”
Setelah beberapa saat akhirnya Kaze berhenti tertawa.
“Aduh perutku ingin meledak rasanya,” ucap Kaze mengejek.
“Sudah berhenti mengejek, jadi kita harus kemana?” tanyaku.
“Lebih baik kamu bersiap dulu, aku akan memandu jalannya,” balas Kaze.
"Baiklah," ucapku pasah
Setelah bersiap-siap aku segera keluar lewat balkon dan melompat keatap rumah.
“Lama sekali,” ucap Kaze.
“Maaf, ayo kita pergi sekarang,” balasku mengajak.
Setelah itu aku mengikuti Kaze melompat ke atap rumah orang.
“Ehh bukannya itu Arya, dia mau kemana malam-malam begini dan lagi kenapa harus lewat atap?” ucap Ayana bingung.
Sambil terus melompati rumah dan berusaha tak terlihat seseorang aku bertanya,”Kita akan kemana?”
“Apakah kamu tau pabrik tua yang berada di sektor 7?” tanya Kaze.
“Maksudmu kota Nagalora, iyh aku tau,” balasku.
“Kita akan kesana, karena penyelidikanku saat kamu tertidur aku merasakan aura aneh disana,” ucap Kaze.
“Aura aneh?” balasku bingung.
“Yah… seperti aura Nakama hanya saja seperti dua Nakama yang menjadi satu,” ucap Kaze.
“Ehh… berarti kemungkian yang bisa disimpulkan, bahwa pabrik itu digunakan sebagai penelitian Nakama?” balasku.
“Yah seperti itulah kemungkinannya,” ucap Kaze.
Setelah beberapa menit kami akhirnya tiba di kota Nagalora atau sektor 7.
“Kita amati dari sini,” ucap Kaze.
“Eh, yah,” balasku.
Setelah beberapa saat kami menuggu terlihat seseorang keluar dari pabrik tersebut.
“Apakah sebegitu waspadanya mereka, aku rasa penelitian ini adalah penelitian illegal,”
ucapku.
“Kenapa kamu bisa menyimpulkannya seperti itu,” tanya Kaze.
“Bukakah sudah terlihat jelas, di pintu pabrik itu tidak ada penjagaan apa lagi orang itu keluar dengan hati-hati,” balasku.
“Kesimpulanmu ada benarnya juga, tapi lebih baik kita sekarang bergerak menuju belakang pabrik itu dan masuk secara diam-diam,” ucap Kaze memerintah.
“Baiklah,” balasku.
Aku dan Kaze mengitari pabrik tersebut dan masuk ke dalam area pabrik.
“Apa rencana kita?” bisikku.
“Untuk sementara kita berdiam diri disini dulu,” balas Kaze.
“Baiklah,” ucapku.
Tak lama kemudian tiba tiba sseorang memegang bahuku. Aku spontan
dan menoleh…
“Wahh!” teriakku.
*Siapakah yang memegang bahu Arya?*
A. Musuh.
B. Kaze.
C. Naufal
D.Topeng rubah
__ADS_1
E. Rina
F. Tulis di kolom komentar.