
Kami bertiga terdiam mendengar hasil dari dokter.
“Untuk sementara waktu biarkan pasien beristirahat, karena
pasien kehilangan terlalu banyak darah,” ucap dokter.
Setelah mengatakan itu dokter itu berpamitan pergi sedangkan
aku berajalan pasrah menuju kursi dan duduk termenung, di satu sisi aku
bersyukur bahwa kakak selamat tetapi disisi yang lain aku merasa marah.
“Sebenarnya siapa yang melakukan ini,” ucapku dalam hati
sambil memasang wajah marah.
Ayana yang menyadarinya memberitahu ke kak Kana untuk masuk
melihat keadaan kak Ria sedangkan ia berjalan santai kearahku dan duduk
disebelahku.
“Apakah kamu marah?” tanya Ayana.
Aku hanya diam saja tak menanggapi pertanyaan Ayana. Ayana
mencoba memikirkan beberapa cara untuk menghiburku tetapi hatiku sudah penuh dengan
amarah dan kesedihan yang membuatku menghiraukan perkataan Ayana. Perasaan marah
ini tak lama kemudian menjadi sebuah perasaan dendam dan keinginan untuk membunuh.
Ayana yang menyadari aku memiliki perasaan dendam segera memlukku dan bertanya,
“Arya, apakah kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai pacarku?”
“Kekuatanku dan sebuah perasaan yang muncul karena aku menolongmu dulu,” balasku
pesimis.
Plak….
Ayana menamparku dengan sangat keras.
“Apa yang kamu lakukan!” teriakku.
Tanpa sadar aku berteriak padanya. Aku memandang Ayana yang sedih, tak lama
kemudian tiba-tiba Ayana menarikku keluar dari rumah sakit dan membawaku entah kemana.
“Kamu mau membawaku kemana?” tanyaku.
Ayana tak menjawab satu katapun, dia terus menarikku. Beberapa saat kemudian
aku menyadari jalan yang dilalui ini sama persis seperti waktu itu. Hari dimana aku
menembak Ayana untuk menjadi pacarku, dia berhenti saat sampai ketempat itu
dan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menjauh dariku.
“Aku ingin jujur padamu, untuk pertama kali aku bertemu
denganmu aku mengira kamu adalah temanku yang sudah mati 3 tahun yang lalu
karena dia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Untuk pertama kali aku hanya
memanfaatkanmu sebagai pengganti dari dia sang cinta pertamaku, wajahmu yang
penuh penyesalan itu membuatku merasa bahwa kamu telah mengalami beberapa
kejadian yang mengerikan tetapi matamu memancarkan semangat hidup,” ucap Ayana.
__ADS_1
Dia berhenti berbicara dan memandang langit.
“Semakin aku mengenalmu, aku selalu merasa bahwa kamu adalah
orang yang aku kenal dulu yang membawaku keluar dari lubang yang gelap dan
sunyi. Tanpa sadar aku memiliki perasaan padamu, kamu sama seperti dia yang
menarikku keluar dari rasa penyesalan yang selama ini ada di hatiku. Mungkin
aku tidak bisa membalas perbuatannya dulu, tetapi kali ini biarkan diriku membantumu,”
ucap Ayana.
Saat dia mengatakan itu hatiku terasa tenang, semua beban
yang kurasakan sebelumnyapun perlahan-lahan menghilang. Angin malam berhembus
pelan, suasana dingin ini membuat diriku bisa berpikir dengan tenang.
“Maaf Ayana, aku tidak bisa berpikir dengan jernih,” ucapku
menyesal.
“Tidak apa-apa, yang harus kita pikirkan sekarang adalah kak
Ria. Ayo kita kembali ke rumah sakit sambil menunggu kak Ria sadar,” balas
Ayana.
Kami berdua kembali dengan berjalan kaki sama seperti kami
pergi dari rumah sakit.
“Kesunyian,penyesalan, kehampaan serta kekosongan yang
kurasakan dulu semuanya seakan menghilang, semuanya seakan terisi olehmu. Aku
akan menjadi lebih kuat agar semua orang tak akan berani melukai kalian dan aku
taruhannya,” ucapku dalam hati sesekali memandangi Ayana yang berjalan
didepanku.
Dibawah sinar bulan dan angin malam yang meniup rambut
Ayana, membuat diriku terpesona oleh kecantikannya mulai dari rambut putihnya
yang seindah sutra tertiup angin serta matanya yang biru melengkapi semua
keindahan layaknya keharmonisan lautan biru yang tenang. Tanpa sadar aku
berhenti berjalan karena terpesona oleh kecantikannya.
Ayana yang menyadari aku berhenti, dia berbalik dan bertanya,
“Arya ada apa?, kenapa kamu berhenti berjalan?”
Saat Ayana memanggilku, sekitika aku tersadar dari lamunanku
dan segera membalasnya sambil memalingkan wajahku kearah lain, “Tidak ada,
hanya saja kamu terlihat cantik,”
Saat aku mengatakan itu tanpa sadar wajah Ayana memerah dan
segera berbalik lalu berjalan dengan cepat.
“Cepatlah Arya atau kamu mau aku tinggal,” ucap Ayana sambil
berjalan meninggalkanku.
__ADS_1
Aku yang menyadari wajah Ayana memerah tersenyum dan
berkata, “Tunggu aku,”
Kami berdua berjalan bersama sambil sesekali mengobrol,
peraasan sedih, marah, kesepian, penyesalan, dan kehampaan semuanya menghilang
berkat senyuman Ayana. Aku berjalan dengannya dalam kedamain dan kesunyian
malam membuat hatiku terasa lebih tenang lagi.
Disaat aku sampai di pintu rumah sakit, aku teringat bahwa
Ayana mengetahui siapa sebenarnya Nakagami.
“Ayana tunggu, bisakah kita berbicara sebentar sebelum masuk
kedalam?” tanyaku.
“Iya, ada apa,” balas Ayana.
Aku menggandeng tangannya dan membawanya ke taman yang
berada di sebelah rumah sakit dan duduk diantara bangku taman yang disediakan
disana, Ayana yang bingung dengan tingkah lakuku lebih memilih untuk duduk
terlebih dahulu.
Beberapa saat kami terdiam.
“Ayana, apakah kamu mengetahui soal Nakagami?” tanyaku.
“Eh,” balas Ayana terkejut.
Kemudian kami sekali lagi terdiam dan aku sedikit terkejut
dengan perkataan Ayana setelahnya.
“Aku tahu kok, soal Nakagami. Dia adalah seorang teman yang
sangat-sangat berharga bagiku, dia selalu saja menyelamatkanku dan
membantuku setiap saat. Tetapi suatu hari dia kehilangan kendali atas
dirinya karena kekuatannya itu, dia hampir membunuh semua orang yang ada
di kota. Dia selalu membantuku entah kesulitan apa yang akan dia lalui, tetapi
disaat dia membutuhkan pertolongan aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Tubuhku gemetaran membuatku tak bisa berjalan maupun bergerak, aku
hanya bisa melihatnya tersakiti dan disakiti.” Ucap Ayana.
Tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Ayana menangis.
“Kenangan masa lalu itu pasti menyakitkan baginya,” ucapku
dalam hati.
Aku yang tak tega melihatnya menangis mendekatkan diriku
kepadanya dan berkata, “Jika beban itu terlalu berat untukmu kenapa kita tak
membawanya bersama, apakah kamu lupa aku ini pacarmu. aku tidak akan tega
melihatmu menangis seperti ini jadi kamu harus tersenyum, karena orang yang
kamu carikemungkinan ada di sebelahmu ini,”
__ADS_1
“Eh,” balas Ayana terkejut dan membuatnya berhenti menangis.
“Sebenarnya aku,” ucapku.