The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Cinta itu menenangkan


__ADS_3

Kami bertiga terdiam mendengar hasil dari dokter.


“Untuk sementara waktu biarkan pasien beristirahat, karena


pasien kehilangan terlalu banyak darah,” ucap dokter.


Setelah mengatakan itu dokter itu berpamitan pergi sedangkan


aku berajalan pasrah menuju kursi dan duduk termenung, di satu sisi aku


bersyukur bahwa kakak selamat tetapi disisi yang lain aku merasa marah.


“Sebenarnya siapa yang melakukan ini,” ucapku dalam hati


sambil memasang wajah marah.


Ayana yang menyadarinya memberitahu ke kak Kana untuk masuk


melihat keadaan kak Ria sedangkan ia berjalan santai kearahku dan duduk


disebelahku.


“Apakah kamu marah?” tanya Ayana.


Aku hanya diam saja tak menanggapi pertanyaan Ayana. Ayana


mencoba memikirkan beberapa cara untuk menghiburku tetapi hatiku sudah penuh dengan


amarah dan kesedihan yang membuatku menghiraukan perkataan Ayana. Perasaan marah


ini tak lama kemudian menjadi sebuah perasaan dendam dan keinginan untuk membunuh.


Ayana yang menyadari aku memiliki perasaan dendam segera memlukku dan bertanya,


“Arya, apakah kamu tahu kenapa aku memilihmu sebagai pacarku?”


“Kekuatanku dan sebuah perasaan yang muncul karena aku menolongmu dulu,” balasku


pesimis.


Plak….


Ayana menamparku dengan sangat keras.


“Apa yang kamu lakukan!” teriakku.


Tanpa sadar aku berteriak padanya. Aku memandang Ayana yang sedih, tak lama


kemudian tiba-tiba Ayana menarikku keluar dari rumah sakit dan membawaku entah kemana.


“Kamu mau membawaku kemana?” tanyaku.


Ayana tak menjawab satu katapun, dia terus menarikku. Beberapa saat kemudian


aku menyadari jalan yang dilalui ini sama persis seperti waktu itu. Hari dimana aku


menembak Ayana untuk menjadi pacarku, dia berhenti saat sampai ketempat itu


dan melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menjauh dariku.


“Aku ingin jujur padamu, untuk pertama kali aku bertemu


denganmu aku mengira kamu adalah temanku yang sudah mati 3 tahun yang lalu


karena dia tak bisa mengendalikan kekuatannya. Untuk pertama kali aku hanya


memanfaatkanmu sebagai pengganti dari dia sang cinta pertamaku, wajahmu yang


penuh penyesalan itu membuatku merasa bahwa kamu telah mengalami beberapa


kejadian yang mengerikan tetapi matamu memancarkan semangat hidup,” ucap Ayana.

__ADS_1


Dia berhenti berbicara dan memandang langit.


“Semakin aku mengenalmu, aku selalu merasa bahwa kamu adalah


orang yang aku kenal dulu yang membawaku keluar dari lubang yang gelap dan


sunyi. Tanpa sadar aku memiliki perasaan padamu, kamu sama seperti dia yang


menarikku keluar dari rasa penyesalan yang selama ini ada di hatiku. Mungkin


aku tidak bisa membalas perbuatannya dulu, tetapi kali ini biarkan diriku membantumu,”


ucap Ayana.


Saat dia mengatakan itu hatiku terasa tenang, semua beban


yang kurasakan sebelumnyapun perlahan-lahan menghilang. Angin malam berhembus


pelan, suasana dingin ini membuat diriku bisa berpikir dengan tenang.


“Maaf Ayana, aku tidak bisa berpikir dengan jernih,” ucapku


menyesal.


“Tidak apa-apa, yang harus kita pikirkan sekarang adalah kak


Ria. Ayo kita kembali ke rumah sakit sambil menunggu kak Ria sadar,” balas


Ayana.


Kami berdua kembali dengan berjalan kaki sama seperti kami


pergi dari rumah sakit.


“Kesunyian,penyesalan, kehampaan serta kekosongan yang


kurasakan dulu semuanya seakan menghilang, semuanya seakan terisi olehmu. Aku


akan menjadi lebih kuat agar semua orang tak akan berani melukai kalian dan aku


taruhannya,” ucapku dalam hati sesekali memandangi Ayana yang berjalan


didepanku.


Dibawah sinar bulan dan angin malam yang meniup rambut


Ayana, membuat diriku terpesona oleh kecantikannya mulai dari rambut putihnya


yang seindah sutra tertiup angin serta matanya yang biru melengkapi semua


keindahan layaknya keharmonisan lautan biru yang tenang. Tanpa sadar aku


berhenti berjalan karena terpesona oleh kecantikannya.


Ayana yang menyadari aku berhenti, dia berbalik dan bertanya,


“Arya ada apa?, kenapa kamu berhenti berjalan?”


Saat Ayana memanggilku, sekitika aku tersadar dari lamunanku


dan segera membalasnya sambil memalingkan wajahku kearah lain, “Tidak ada,


hanya saja kamu terlihat cantik,”


Saat aku mengatakan itu tanpa sadar wajah Ayana memerah dan


segera berbalik lalu berjalan dengan cepat.


“Cepatlah Arya atau kamu mau aku tinggal,” ucap Ayana sambil


berjalan meninggalkanku.

__ADS_1


Aku yang menyadari wajah Ayana memerah tersenyum dan


berkata, “Tunggu aku,”


Kami berdua berjalan bersama sambil sesekali mengobrol,


peraasan sedih, marah, kesepian, penyesalan, dan kehampaan semuanya menghilang


berkat senyuman Ayana. Aku berjalan dengannya dalam kedamain dan kesunyian


malam membuat hatiku terasa lebih tenang lagi.


Disaat aku sampai di pintu rumah sakit, aku teringat bahwa


Ayana mengetahui siapa sebenarnya Nakagami.


“Ayana tunggu, bisakah kita berbicara sebentar sebelum masuk


kedalam?” tanyaku.


“Iya, ada apa,” balas Ayana.


Aku menggandeng tangannya dan membawanya ke taman yang


berada di sebelah rumah sakit dan duduk diantara bangku taman yang disediakan


disana, Ayana yang bingung dengan tingkah lakuku lebih memilih untuk duduk


terlebih dahulu.


Beberapa saat kami terdiam.


“Ayana, apakah kamu mengetahui soal Nakagami?” tanyaku.


“Eh,” balas Ayana terkejut.


Kemudian kami sekali lagi terdiam dan aku sedikit terkejut


dengan perkataan Ayana setelahnya.


“Aku tahu kok, soal Nakagami. Dia adalah seorang teman yang


sangat-sangat  berharga bagiku, dia selalu saja menyelamatkanku dan


membantuku setiap saat. Tetapi suatu hari dia kehilangan kendali atas


dirinya karena kekuatannya itu, dia hampir membunuh semua orang yang ada


di kota. Dia selalu membantuku entah kesulitan apa yang akan dia lalui, tetapi


disaat dia membutuhkan pertolongan aku tidak bisa melakukan apa-apa.


Tubuhku gemetaran membuatku tak bisa berjalan maupun bergerak, aku


hanya bisa melihatnya tersakiti dan disakiti.” Ucap Ayana.


Tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Ayana menangis.


“Kenangan masa lalu itu pasti menyakitkan baginya,” ucapku


dalam hati.


Aku yang tak tega melihatnya menangis mendekatkan diriku


kepadanya dan berkata, “Jika beban itu terlalu berat untukmu kenapa kita tak


membawanya bersama, apakah kamu lupa aku ini pacarmu. aku tidak akan tega


melihatmu menangis seperti ini jadi kamu harus tersenyum, karena orang yang


kamu carikemungkinan ada di sebelahmu ini,”

__ADS_1


“Eh,” balas Ayana terkejut dan membuatnya berhenti menangis.


“Sebenarnya aku,” ucapku.


__ADS_2