The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Kenangan masa lalu


__ADS_3

“Sebenarnya aku…,” ucapku dengan penuh keraguan.


Suasana menjadi hening di malam hari dengan bulan yang indah menyinari kami berdua serta hembusan angin malam yang menyejukkan hati, kami berdua terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.


Setelah beberapa saat kami berdua terdiam, aku mulai berbicara, “Apakah kamu ingin tahu siapa diriku?”


Sejenak Ayana terdiam mendengar pertanyaanku lalu perlahan mulai menjawab pertanyaanku.


“Jika kamu tidak masalah dengan itu, aku akan mengatakan bahwa aku sangat ingin mengetahuinya,” ucap Ayana.


***Flashback On***


3 tahun yang lalu aku terbangun di sebuah gua yang aku sendiri tidak tahu berada dimana, saat itu aku hanya seorang diri di gua itu dan tidak memiliki ingatan lain selain nama dan tanggal kelahiranku dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku berjalan keluar dari gua itu tak peduli seberapa jauh aku berjalan, aku tak pernah bertemu siapapun. Pada saat itu aku sudah sangat pasrah terhadap hidupku dan tanpa sadar seorang Nakama muncul, aku berpikir sebentar lagi aku akan mati. Pada saat itulah kak Ria datang, dia membunuh Nakama itu hanya dengan sekali serang.


“Hei, apakah kamu baik-baik saja?” tanya kak Ria.


Pada saat itu aku tak memiliki tenaga untuk berdiri ataupun berbicara, semua badanku lemas dan semua bagian tubuhku merasakan sakit yang luar biasa, perlahan-lahan pandanganku mulai buram dan pada saat itu pula aku melihat wajahnya yang sangat mengkhawatirkanku.


Tak lama kemudian aku terbangun di sebuah tenda, orang yang pertama kali aku lihat saat aku terbangun adalah Kazekaki Ria. Dia menungguku untuk siuman dan dia selalu berada disampingku saat aku tidak sadar.


Perlahan kak Ria menyadari aku sudah sadar dari pingsanku yang lama, dia membuka matanya dan kata-kata yang pertama kali dia katakan, “Apakah kamu sudah baikan?”.


“Iya,” jawabku pelan.


“Namamu siapa?” tanya kak Ria.


“Arya,” balasku.


“Nama yang bagus,” ucap kak Ria.


Aku terus berpikir kenapa dia selalu baik padaku, saat aku terbangun saat itu dia selalu menanyaiku. Perlahan-lahan tubuhku membaik, pada saat itu kupikir saat aku sudah pulih kak Ria akan pergi jadi aku berpura-pura masih sakit.


2 minggu telah berlalu, pada akhirnya kak Ria akan tetap pergi, aku merasakan rasa sedih yang luar biasa. Saat diriku akan menangis, dia tiba-tiba berjalan mendekatiku.


“Apakah kamu mau menjadi adikku?” tanya kak Ria.


Saat dia mengatakan itu rasa bahagia yang luar biasa membuatku menangis sembari gembira, aku mengatakannya dengan keras, “Ya, aku ingin jadi adik dari kak Ria!"


***Flashback Of***


“Sejak saat itu, aku menjalani hari-hariku dengan sangat ceria sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa kak Ria sebegitu baiknya terhadapku. Pada orang yang hanya memiliki ingatan tentang nama dan kapan dia

__ADS_1


lahir, sejak saat itu juga aku menganggap kak Ria adalah sosok yang paling penting dalam kehidupanku.” ucapku dan tanpa sadar air mata menetes satu-persatu membasahi bajuku.


Ayana yang melihatku menangis segera memelukku dengan sangat erat.


“Tenang saja, kita berdua akan mencari cara untuk bisa menyembuhkan kak Ria,” ucap Ayana.


Sekali lagi aku merasakan kehangatan itu, kegelisan, kesedihan,penyesalan dan kemarahan semua menghilang oleh kehangatan pelukannya. Tanpa sadar aku menangis sangat keras, air mataku mengalir membasahi baju. aku tak pernah menyadari bahwa sekali lagi aku akan menangis bahagia seperti ini lagi. Disaat itu hujan turun derasa bersamaan dengan tangisan dan kehangatan


pelukan dari Ayana, kami tak menghiraukan  hujan yang turun dengan sangat deras seakan hujan ini tak pernah ada melainkan kehangatan diantara kami berdua.


Beberapa saat kemudian….


“Kalian ini bodoh ya, sudah tahu hujan deras malah berdiam diri di luar,” ucap kak Kana marah pada kami.


“Maaf,” ucap kami berdua bersamaan.


“Baiklah aku memaafkan kalian, kalian lebih baik pulang kerumah dan soal perpindahannya sementara ditunda sampai Ria sadar,” ucap kak Kana.


“Baik,” balas kami bersamaan.


Kami berdua pulang bersama diantar oleh kak Kana, untuk pertama kali aku cemas dengan keadaan kak Ria tetapi kak Kana bilang dia akan menjaga kak Ria.


“Ini payung untuk kalian, Ayana untuk sementara kamu tinggallah bersama Arya. Aku sudah bilang ke kakak kalau kamu tinggal bersama Arya,” ucap kak Kana.


Kami berdua menerima payung tersebut dan keluar dari mobil.


“Kalian hati-hati di rumah,” ucap kak Kana.


Setelah mengucapkan itu kak Kana pergi menuju rumah sakit, sedangkan aku dan Ayana bergegas masuk kedalam. Kami bergantian memakai kamar mandi, setelah mandi aku pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam untuk kami berdua.


Setelah selesai Ayana membantuku membawa makanan tersebut ke


meja makan.


“Selamat makan,” ucap kami berdua bersamaan.


Kami makan malam bersama, setelah selesai kami menuju kamar kami masing-masing.


Brak….


Suara pintu kamarku yang tertutup, aku berjalan menuju kasurku dan membantingkan diriku ke kasur.

__ADS_1


“Meskipun kak Ria sudah melewati masa kritisnya, tetapi kenapa aku masih saja khawatir seperti ini?” tanyaku dalam hati.


“Lebih baik aku tidur,” ucapku.


Disisi yang lain….


“Hosh… hosh… hosh… aku tidak bisa berhenti sekarang, aku


harus menemukan pemilik pecahan ini,” ucap seseorang gadis misterius.


“Berhenti kau pencuri!” teriak laki-laki yang mengejar gadis tersebut.


Dibalik hujan deras dan menyeramkan, seorang gadis berlari melawan hujan sampai dia berhenti di jurang pemisah daratan dan lautan.


“Kamu tidak bisa kemana-mana lagi,” ucap laki-laki itu.


Krak….


Serpihan batu berjatuhan, gadis itu terpojok di jurang tersebut tidak ada tempat baginya untuk lari.


“Bagaimana ini?” tanya gadis itu dalam hati.


Pria itu mendekati gadis tersebut, “Berikan serpihan itu dan temani kami semua semalam saja dan kami berjanji akan membiarkanmu hidup,”


“Tidak ada pilihan lain!” tegas gadis itu dalam hati.


Saat pria itu semakin dekat dengannya, gadis itu memilih memblakangi pria tersebut dan melompat ke jurang.


“Tunggu!” teriak pria itu.


Wush….


“Kumohon, aku berharap aku bisa menemukan orang itu,” ucap gadis itu.


Byur….


Gadis itu menghantam air dengan sangat keras, membuat tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa dan perlahan pandangannya mulai memudar.


“Apakah aku akan mati?” ucap gadis itu dalam hati.


Sring….

__ADS_1


Sebuah cahaya muncul disaat gadis itu sudah mulai kehilangan kesadaran.


__ADS_2