The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Kenangan yang indah


__ADS_3

Tut…. tut.. tut….


Suara dari detektor detak jantung.


“Kepalaku pusing sekali,” ucapku dalam hati.


Kuperlahan-lahan membuka mata, aku melihat atap yang


berwarna putih kulihat samping kanan dan samping kiriku tidak ada siapa-siapa.


“Ini dimana? Apa aku berada di rumah sakit?” ucapku pelan.


Karena kepalaku yang masih pusing, aku berusaha untuk tiak terlalu memaksakannya jadi untuk sementar aku hanya ingin duduk bersandar.


“Kejadian kemaren membuatku memaksakan kekuatanku yang


seharusnya tidak kugunakan, terlebih lagi kontrol dari angin kemarin sangatlah


sulit sampai-sampai banyak udara yang menyayat paru-paruku. Syukurlah aku masih


hidup,” ucapku dalam hati.


Krek….


Suara pintu digeser, setelah pintu itu terbuka tampak sosok wanita berambut putih dan ternyata dia memang


Ayana.


“Hai, Ayana,” sapaku dengan senyuman.


Ayana yang terkejut melihatku bangun dari koma selama 3 hari membuat Ayana sampai-sampai menjatuhkan


belanjaan yang ia bawa dan segera berlari menuju diriku dan memelukku dengan


sangat erat seperti orang yang tidak akan membiarkan pergi lagi.


Sambil menangis dia berkata, “Syukurlah…. Kamu selamat,


dokter bilang kesempatan kamu bisa hidup hanya 2%. Aku tidak tahu bagaimana


caraku membalasnya jika kamu tidak ada di dunia ini, siapa yang akan


melindungiku lagi?”.


Aku melepaskan pelukannya dan mengelus rambutnya sambil


berkata, “Aku tidak akan mati, bukan kah aku sudah berjanji padamu,”


Setelah itu aku tersenyum padanya, setelah melihatku


tersenyum. Ayana malah semakin keras menangisnya. Aku kebingungan tujuh


keliling.


“Kehidupan seperti ini tidak buruk juga,” ucapku pelan


sambil tersenyum melihat Ayana menangis.


Setelah berhenti menangis dia mengambil belanjaannya dan


menyiapkan makanan untuk aku makan. Aku melihat handphoneku yang diberikan oleh


Ayana, aku membuka sebuah video trending di youlue.


Aku membaca judul video yang trending itu, “Belilah peluru anti


seorang Artifaction,”.

__ADS_1


Setelah mebaca penjelasan yang ada di video itu, aku mengkerutkan


dahiku. Satu peluru yang bisa menghapus kekuatan seseorang Artifaction, jika


seseorang Artifaction memaksa menggunakan kekuatannya akan terjadi kerusakan pada


pembuluh nadi dan akan meledak.


“Apa-apaan ini, polisi sudah mencoba melacak dimana


keberadaan markas itu berada, sampai-sampai seseorang artifaction tingkat SS


dikirim untuk mencari markas mereka, jika begini terus akan terjadi sebuah


perang yang tidak bisa dihindari. Kebanyakan orang-orang sangat iri kepada para


perempuan karena memiliki kekuatan artifaction. jika misal terjadi perang, Apa yang


harus kulakukan?” tanyaku dalam hati kebingungan.


Ayana yang melihatku melamun segera menghampiriku sambil


membawa irisan-irisan apel yang sangat rapi.


“Arya,” panggil pelan Ayana.


Aku yang sedari tadi melamun saat mendengar Ayana


memanggilku membuatku tersadar.


“Ada apa?” tanyaku.


“Kamu sedang memikirkan apa?” balas Ayana bertanya.


“TIdak ada kok hehe….” Ucapku.


Ayana masih tidak percaya dengan ucapanku, aku tergesa-gesa


“Ayana bisa kamu suapi aku apel itu?” tanyaku.


“Eh… apa yang kamu katakan!” ucapnya terkejut dengan wajah


yang memerah.


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya, sedangkan dia


malu-malu.


“Aaaa….” Ucap Ayana sambil menyuapiku dengan wajah yang masih malu.


Tak kusangka dia menganggap serius perkataanku, aku hanya


mengikuti alurnya dan membuka mulutku untuk memakan irisan apel itu.


Setelah seminggu lebih aku berada di rumah sakit milik


keluarga Kazekaki, akhirnya aku diperbolehkan pulang hari ini yaitu hari


selasa. Aku berisap-siap meninggalkan ruangan dibantu oleh kak Ria untuk


mengemasi semua barang-barangku yang ada di kamar rumah sakit ini.


Saat sudah selesai berkemas kami turun dan berpamitan pada


pemilik rumah sakit lalu pulang menaiki taxi. Disaat sampai depan rumah Ayana


dan keluargaya sedang menunggu di depan rumah kami, disaat aku turun aku

__ADS_1


disambut oleh orang tua Ayana mereka mengajakku untuk mampir ke rumah mereka.


“Nak Arya terima kasih telah menyelamatkan tante,” ucap ibu


Ayana sembari berbungkuk.


Aku yang melihat ibu Ayana membungkuk spontan menahannya


agar tidak membungkuk sambil berkata, “Tidak apa-apa kok tante, bagimanapun


Ayana adalah teman saya. Jadi sudah kewajiban saya membantunya jika dia sedang


berada pada kesulitan,” ucapku.


Pada akhirnya aku dan kak Ria makan malam bersama di


kediaman keluarga sakurane, setelah makan malam selesai kak Ria asik ngobrol


bersama keluarga Ayana. Aku berjalan menuju teras dan duduk disana melihat


bintang.


“Bintang-bintang malam ini sangat indah,” ucapku.


Seseorang muncul dari belakangku dan berkata, “Iyh sangat


indah,”.


Aku menoleh kebelakang, ada Ayana yang yang berjalan menghampiriku lalu berdiri di sebelahku


sambil melihat bintang-bintang yang ada di langit. Ayana berjalan menuju pohon


yang ada di halaman rumahnya sambil menari-nari, aku yang melihat itu terpesona


oleh rambut dan kecantikannya yang terkena sinar bulan.


“Hei Arya, kamu mau main kembang api?” tanya Ayana senang.


Ayana yang memanggilku membuatku tersadar dari lamunanku.


“Yah,” balasku.


Malam itu aku mengakhiri waktuku bersama keluarga Ayana,


kegembiraan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa senang, sedih, marah


semuanya kurasakan hanya dalam beberapa hari ini dan semua itu berkat Ayana.


“Aku sangat berharap jika hari-hari ini akan terus selalu


ada, aku sangat berharap.” ucapku dalam hati


Setelah selesai bermain kembang api aku dan kak Ria pulang kerumah, aku segera menuju ke kamar dan menuju teras untuk melihat bintang-bintang. Tapi dibalik keindahan itu ada seseorang mengawasi Arya dari atas rumah seseorang tanpa disadari oleh Arya. seseorang itu terlihat terluka mengenakan pakaian serba


hitam.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa, tetapi jangan kamu harus


tetap berhati-hati. Peperangan akan segera datang, kamu harus lebih bersiaga.


Sampai jumpa Nakagami Arya,” ucap seseorang.


Setelah mengatakan itu kepada Arya, dia menghilang dalam kegelapan. saat dia menghilang aku menyadari sesuatu dan melihat kearah atas rumah yang berada pada sebelah rumahku, tetapi aku terlambat dan tidak megetahui apakah tadi disana ada orang atau tidak.


“Siapa disana ya?, kenapa aku tadi merasakan seseorang sedang


mengawasiku. Tetapi mungki itu hanya perasaanku saja, lebih baik aku

__ADS_1


cepat-cepat tidur untuk memulihkan staminaku,” ucapku dalam hati kebingungan sambil


berjalan ke tempat tidur.


__ADS_2