
Tut…. tut.. tut….
Suara dari detektor detak jantung.
“Kepalaku pusing sekali,” ucapku dalam hati.
Kuperlahan-lahan membuka mata, aku melihat atap yang
berwarna putih kulihat samping kanan dan samping kiriku tidak ada siapa-siapa.
“Ini dimana? Apa aku berada di rumah sakit?” ucapku pelan.
Karena kepalaku yang masih pusing, aku berusaha untuk tiak terlalu memaksakannya jadi untuk sementar aku hanya ingin duduk bersandar.
“Kejadian kemaren membuatku memaksakan kekuatanku yang
seharusnya tidak kugunakan, terlebih lagi kontrol dari angin kemarin sangatlah
sulit sampai-sampai banyak udara yang menyayat paru-paruku. Syukurlah aku masih
hidup,” ucapku dalam hati.
Krek….
Suara pintu digeser, setelah pintu itu terbuka tampak sosok wanita berambut putih dan ternyata dia memang
Ayana.
“Hai, Ayana,” sapaku dengan senyuman.
Ayana yang terkejut melihatku bangun dari koma selama 3 hari membuat Ayana sampai-sampai menjatuhkan
belanjaan yang ia bawa dan segera berlari menuju diriku dan memelukku dengan
sangat erat seperti orang yang tidak akan membiarkan pergi lagi.
Sambil menangis dia berkata, “Syukurlah…. Kamu selamat,
dokter bilang kesempatan kamu bisa hidup hanya 2%. Aku tidak tahu bagaimana
caraku membalasnya jika kamu tidak ada di dunia ini, siapa yang akan
melindungiku lagi?”.
Aku melepaskan pelukannya dan mengelus rambutnya sambil
berkata, “Aku tidak akan mati, bukan kah aku sudah berjanji padamu,”
Setelah itu aku tersenyum padanya, setelah melihatku
tersenyum. Ayana malah semakin keras menangisnya. Aku kebingungan tujuh
keliling.
“Kehidupan seperti ini tidak buruk juga,” ucapku pelan
sambil tersenyum melihat Ayana menangis.
Setelah berhenti menangis dia mengambil belanjaannya dan
menyiapkan makanan untuk aku makan. Aku melihat handphoneku yang diberikan oleh
Ayana, aku membuka sebuah video trending di youlue.
Aku membaca judul video yang trending itu, “Belilah peluru anti
seorang Artifaction,”.
__ADS_1
Setelah mebaca penjelasan yang ada di video itu, aku mengkerutkan
dahiku. Satu peluru yang bisa menghapus kekuatan seseorang Artifaction, jika
seseorang Artifaction memaksa menggunakan kekuatannya akan terjadi kerusakan pada
pembuluh nadi dan akan meledak.
“Apa-apaan ini, polisi sudah mencoba melacak dimana
keberadaan markas itu berada, sampai-sampai seseorang artifaction tingkat SS
dikirim untuk mencari markas mereka, jika begini terus akan terjadi sebuah
perang yang tidak bisa dihindari. Kebanyakan orang-orang sangat iri kepada para
perempuan karena memiliki kekuatan artifaction. jika misal terjadi perang, Apa yang
harus kulakukan?” tanyaku dalam hati kebingungan.
Ayana yang melihatku melamun segera menghampiriku sambil
membawa irisan-irisan apel yang sangat rapi.
“Arya,” panggil pelan Ayana.
Aku yang sedari tadi melamun saat mendengar Ayana
memanggilku membuatku tersadar.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kamu sedang memikirkan apa?” balas Ayana bertanya.
“TIdak ada kok hehe….” Ucapku.
Ayana masih tidak percaya dengan ucapanku, aku tergesa-gesa
“Ayana bisa kamu suapi aku apel itu?” tanyaku.
“Eh… apa yang kamu katakan!” ucapnya terkejut dengan wajah
yang memerah.
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya, sedangkan dia
malu-malu.
“Aaaa….” Ucap Ayana sambil menyuapiku dengan wajah yang masih malu.
Tak kusangka dia menganggap serius perkataanku, aku hanya
mengikuti alurnya dan membuka mulutku untuk memakan irisan apel itu.
Setelah seminggu lebih aku berada di rumah sakit milik
keluarga Kazekaki, akhirnya aku diperbolehkan pulang hari ini yaitu hari
selasa. Aku berisap-siap meninggalkan ruangan dibantu oleh kak Ria untuk
mengemasi semua barang-barangku yang ada di kamar rumah sakit ini.
Saat sudah selesai berkemas kami turun dan berpamitan pada
pemilik rumah sakit lalu pulang menaiki taxi. Disaat sampai depan rumah Ayana
dan keluargaya sedang menunggu di depan rumah kami, disaat aku turun aku
__ADS_1
disambut oleh orang tua Ayana mereka mengajakku untuk mampir ke rumah mereka.
“Nak Arya terima kasih telah menyelamatkan tante,” ucap ibu
Ayana sembari berbungkuk.
Aku yang melihat ibu Ayana membungkuk spontan menahannya
agar tidak membungkuk sambil berkata, “Tidak apa-apa kok tante, bagimanapun
Ayana adalah teman saya. Jadi sudah kewajiban saya membantunya jika dia sedang
berada pada kesulitan,” ucapku.
Pada akhirnya aku dan kak Ria makan malam bersama di
kediaman keluarga sakurane, setelah makan malam selesai kak Ria asik ngobrol
bersama keluarga Ayana. Aku berjalan menuju teras dan duduk disana melihat
bintang.
“Bintang-bintang malam ini sangat indah,” ucapku.
Seseorang muncul dari belakangku dan berkata, “Iyh sangat
indah,”.
Aku menoleh kebelakang, ada Ayana yang yang berjalan menghampiriku lalu berdiri di sebelahku
sambil melihat bintang-bintang yang ada di langit. Ayana berjalan menuju pohon
yang ada di halaman rumahnya sambil menari-nari, aku yang melihat itu terpesona
oleh rambut dan kecantikannya yang terkena sinar bulan.
“Hei Arya, kamu mau main kembang api?” tanya Ayana senang.
Ayana yang memanggilku membuatku tersadar dari lamunanku.
“Yah,” balasku.
Malam itu aku mengakhiri waktuku bersama keluarga Ayana,
kegembiraan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa senang, sedih, marah
semuanya kurasakan hanya dalam beberapa hari ini dan semua itu berkat Ayana.
“Aku sangat berharap jika hari-hari ini akan terus selalu
ada, aku sangat berharap.” ucapku dalam hati
Setelah selesai bermain kembang api aku dan kak Ria pulang kerumah, aku segera menuju ke kamar dan menuju teras untuk melihat bintang-bintang. Tapi dibalik keindahan itu ada seseorang mengawasi Arya dari atas rumah seseorang tanpa disadari oleh Arya. seseorang itu terlihat terluka mengenakan pakaian serba
hitam.
“Syukurlah kamu tidak apa-apa, tetapi jangan kamu harus
tetap berhati-hati. Peperangan akan segera datang, kamu harus lebih bersiaga.
Sampai jumpa Nakagami Arya,” ucap seseorang.
Setelah mengatakan itu kepada Arya, dia menghilang dalam kegelapan. saat dia menghilang aku menyadari sesuatu dan melihat kearah atas rumah yang berada pada sebelah rumahku, tetapi aku terlambat dan tidak megetahui apakah tadi disana ada orang atau tidak.
“Siapa disana ya?, kenapa aku tadi merasakan seseorang sedang
mengawasiku. Tetapi mungki itu hanya perasaanku saja, lebih baik aku
__ADS_1
cepat-cepat tidur untuk memulihkan staminaku,” ucapku dalam hati kebingungan sambil
berjalan ke tempat tidur.