
"Ha... ha... ha... sampai juga," ucapku.
"Wah! Arya apa yang kamu lakukan disi...." ucap Ayana dengan kalimat terputus.
"Pedang itu? jangan-jangan kamu seorang Artifaction?" ucap Ayana terkejut.
"Tak ada waktu untuk menjawab itu," balasku.
Aku sedikit berlari kecil kearah pasukan yang bersiap dengan senjata ringan.
"Eghem... eghem.. pasukan T. Army Nakama aku sebagai adik dari Kazekaki Ria memerintahkan kalian memanggil bala bantuan dan penambahan persenjataan robot CODE B-273, karena kali ini bukan lah nakama S+ rank yang biasa kita jumpai," ucapku.
"Hei adik kecil kamu pasti berbohong, atasan sendiri yang mengatakan kalau yang akan muncul adalah morgan," balas seseorang dari banyaknya pasukan.
"Benar atasan tak mungkin berbohong," balas seseorang.
Mereka saling balas membalas, berusaha menyangkal apa yang aku katakan tapi kepercayaan mereka terhadap atasan mereka wajib untuk diacungi jempol tapi....
"Kumohon, aku tak ingin rencana kali ini akan gagal dan membuat warga sekitar menderita," ucapku sambi membungkuk memohon kepada mereka.
Suasana seketika menjadi hening sampai suara kak Ria muncul.
"Untuk apa kamu membungkuk kepada bawahanmu, Arya" ucap kak Ria.
Aku segera mengangkat kepalaku dan menoleh ke sumber suara itu.
"Eh, kak Ria bukannya kakak di bebas tugaskan oleh kakek," ucapku.
"Mana bisa aku meninggalkan adikku yang imut ini membungkuk kepada bawahan," balas kak Ria mengelus-elus rambutku layaknnya kucing kecil.
"Aku ingin muntah rasanya," ucapku dalam hati.
"Untuk kali ini apa yang dikatakan adikku ini benar, telah terjadi pemalsuan dokumen tentang Nakama yang akan muncul kali ini. Jadi cepat panggil robot CODE B-273 kesini secepatnnya!" tegas kak Ria ke pasukan.
Mereka serentak mengatakan, "Siap komandan!"
Aku yang masih berdiri terdiam melihat kak Ria yang sedang mengatur pasukannya.
"Kamu baik sekali ya, Arya," ucap seseorang sambil memegang pundakku.
"Eh," ucapku terkejut dan menoleh kearah sumber suara yang tak lain adalah Ayana.
"Tidak, aku hanya tidak ingin ada korban yang berjatuhan begitu banyak," balasku.
"Terserah kamu mau mengatakan apa saja, pokoknya terima kasih," ucap Ayana sembari Tersenyum.
Jantungku seakan berhenti berdetak melihat senyumannya itu, tetapi selalu saja ada yang merusak momen bahagia ini.
Roaaaarrrrrghhhh....
"Dikonfirmasi, target sudah terlihat! komandan dia berada di 3323 meter dari tempat kita, apa perintah yang harus di sampaikan," ucap pasukan Informan.
Pasukan T. Army Nakama terdiri dari Informan, mecha, sniper. Informan sendiri adalah seseorang yang menerima informasi soal apa yang terjadi di medan pertempuran dan menyalurkannya kepada komandan atau sebaliknya memberi informasi untuk pasukan untuk merubahan strategi bertempurnya. Mecha sendiri terdiri dari pasukan robot khusus yang dikendarai oleh manusia untuk melawan Nakama. Sniper bertugas sebagai pengamat, mereka mengamati dari kejauhan dangan senjata yang sudah dimodifikasi khusus untuk melenyapkan Nakama, tugas sniper yang kedua adalah sebagai pengamat medan pertempuran untuk dilaporkan pada pihak informan.
"Semuanya bersiap!" teriak kak Ria.
"Baik komandan," balas seluruh pasukan.
"Aku mengandalkan kalian berdua," ucap kak Ria.
Aku dan Ayana hanya mengangguk dan berlari mendekati Nakama itu yang diberi nama oleh atasan, Tekama.
"Ayana aku akan menyerangnya dari kanan dan kamu akan menyerangnya dari kiri, fokuskan serangan pada kakinya agar ia terjatuh," ucapku.
"Baik, kapten," balas Ayana sembari mengejek.
"Berhenti mengejek, awas!" teriakku.
.
Wushh... boooomm....
__ADS_1
"Wah!, tadi hampir saja," ucapku sambil menghela nafas.
"Ini bukan waktunnya bercanda! sekarang aku harus fokus, aku harus mendekatinya lagi," ucapku dalam hati
Untuk pertama kali kami berdua kesulitan untuk mendekatinya,tetapi karena bantuan dari T. Army Nakama kami berhasil menerobos.
"Sekarang saatnya kita serang bersama," ucapku.
"Baik," balas Ayana.
Aku menarik nafas panjang dan menghembusakannya, "Aliran pedang pertama, tebasan seribu,".
RYUSEN HENKEN
Aku berhasil memotong kakinya kirinya dan Ayana berhasil mendorong kaki kanannya, membuat Nakama itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Yey kita berhasil," ucap Ayana gembira.
"Iya," ucapku.
"Aghh.. mataku sakit!" teriakku sambil merintih kesakitan.
"Arya apa kamu tidak apa-apa?" tanya Ayana kebingungan.
Aku mencoba menahan rasa sakit ini tapi rasa sakit ini seperti menjalar ke seluruh tubuhku dan membuatku tak bisa bergerak.
"Kalian berdua segera lari dari sana!" teriak kak Ria.
"Eh, ada apa?" tanya Ayana.
"Kita harus mengalahkannya sebelum dia beregenerasi kembali, jadi kami akan menembakkan meriam valoran," balas kak Ria.
"Arya apa kamu bisa berjalan?" tanya Ayana khawatir.
"Aku tidak tahu, tubuhku... tidak... bisa ... kugerakkan," balasku
"Ah... kamu menyusahkan juga," ucapnya sembari tersenyum.
"Arya kamu tak apa-apa kan?" tanya kak Ria cemas.
"Iya aku tidak apa-apa, hanya tiba-tiba badanku terasa mati rasa tadi," ucapku sambil membuka mata kananku.
Mereka berdua terkejut seperti melihat sesuatu yang aneh.
"Kenapa kalian melihatku begitu?" tanyaku kebingungan.
"Matamu seperti jam dengan warna merah pekat," balas Ayana.
"Mana ada yang seperti itu kan," ucapku tak percaya.
Aku berlari menuju gedung yang ada dibelakang kamp pasukan informan dan segera menatap kaca gedung.
"Eh, ada apa dengan mataku?" tanyaku heran.
"Itu adalah mata iblis, tetapi tidak sepenuhnya mata iblis melainkan mata sang pengendali waktu. Mata yang bisa mengehentikan pergerakan di sekitar, juga bisa mengembalikan waktu, tetapi hal itu melanggar hukum yang sudah ada di dunia ini. Jadi jangan pernah gunakan kekuatan dari mata kananmu itu terlalu sering," ucap seseorang.
"Siapa yang mengatakannya!" teriakku sembari menoleh ke kanan dan ke kiri tapi saat kulihat keatas.
"Yo Nakagami, baru semalam yah kita bertemu," ucap topeng rubah.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang kekuatan ini? apakah informasi yang kamu berikan dapat dipercaya?" tanyaku mengacuhkan salamnya itu.
"Yah itu tergantung dirimu, tetapi yang ingin kukatakan adalah apakah Nakama itu benar-benar bisa kamu bunuh? tidak perlu kamu katakan sekarang, karena aku akan menontonnya. Sampai jumpa Nakagami," ucap topeng rubah dan menghilang bersamaan dengan hembusan angin.
"Tunggu," ucapku.
Aku tergegasa menuju kamp informan dan mencoba Detection Nakama yang dirancang untuk mendeteksi pergerakan Nakama serta pengecekan status Nakama itu.
"Ada apa Arya?" tanya kak Ria khawatir.
Aku menghiraukan pertannyaan kak Ria dan lebih memilih berfokus pada Detection Nakama.
__ADS_1
"Tidak mungkin, dia berevolusi," ucapku terkejut.
Kami semua segera keluar dan benar apa adanya asap debu yang berada disana tiba-tiba terhempas oleh angin yang sangat kencang.
Roaarrrrggggghhh....
"Dia... berevolusi menjadi... na... ga," ucapku terpatah-patah.
Cling.. boom....
"Wahhh!" jeritan pasukan yang terkena oleh serangan naga itu seperti saling balas-membalas teriakkan satu sama lain.
"Tidak mungkin, jika begini berakhir sudah," ucap Ayana pasrah.
"Cih"ucapku
"Aku benci mengakui ini, kak aku akan membuka segel pertamaku," ucapku yang sudah memikirkannya matang-matang.
"Eh, hmm iya aku ijinkan tetapi kamu harus mengalahkannya dengan sekali serang," balas kak Ria sambil tersenyum.
"Segel pertama buka," ucapku.
Krek....
Pedangku bersinar dan terdangar suara mesin dari dalam pedangku. Pedangku yang semula hanya setinggi pinggangku kali ini hampir setinggi diriku.
PENGUMPULAN ENERGI
5%
10%
15%
20%
"Terlalu lama, bagaimana ini!" ucapku panik.
Tangan Ayana tiba-tiba menyentuhku.
"Eh, aaaa pa.... yang kamu lakukan?" tannyaku grogi.
"Hahha kamu lucu deh, makasih telah menyadarkanku bahwa menyesal tidak akan membuahkan hasil apa-apa," ucap Ayana.
"Aku akan membantumu," ucapnya sembari tersenyum indah.
"Yah!" balasku
40%
60%
80%
100%
PENGISIAN SELESAI
"Akhiri dia Arya," ucap Ayana.
"Yah!" teriakku.
"Aliran pedang ketujuh," ucapku.
KAMAITACHI
Sring...
Aku membelah tubuh naga itu menjadi dua bagian.
"Apakah berha..." sebelum aku menyelesaikan kalimatku,
__ADS_1
Bruk......