
Hari selasa, 12 juni 2120
Tok… tok….
Sambil mengetuk pintu kamar berulang kali, Ayana memanggilku sesekali, “Arya,
cepat bangun!”.
“Hoam… baiklah, aku akan segera kebawah,” balasku.
Aku segera bangun merapikan kasurku dan segera mandi serta
bersiap-siap, setelah selesai aku berjalan kebawah dan melihat Ayana yang
sedang memasak sarapan. Aku berjalan ketempat duduk dan segera duduk di kursi
sambil sesekali melihat Ayana.
“Ayana, kamu sudah dapat kabar soal kak Ria?” tanyaku.
“Belum, tapi tadi pagi aku mendapat pesan dari bibi katanya nanti ada seseorang yang akan menjemput kita untuk pergi ke rumah sakit,” balas
Ayana.
“Oh begitu,” ucapku.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi, aku hanya bisa
melihat Ayana memasak sambil sesekali mengecek handphone. Tak lama Ayana
selesai memasak, aku segera berdiri dan membantunya menata piring-piring di
meja makan setelah itu kami duduk.
“Selamat makan,” ucap kami berdua.
Aku mencicipi masakan-masakan yang di masak oleh Ayana satu-persatu.
“Ini enak sekali, tidak ku sangka Ayana juga jago dalam hal memasak.
Kupikir yang dikatakannya waktu itu hanya hobi biasa, tidak ku sangka dia bisa
membuat masakan dengan resepnya sendiri dan rasanya sangat enak sekali,”
ucapku dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Ayana yang sedang makan.
Setelah selesai makan, aku membantu Ayana membereskan
piring-piring di meja serta membantu Ayana mencucinya.
“Entah kenapa aku merasa suami istri yang baru nikah saja, tetapi
jika aku berpikiran seperti itu lalu apa yang dipikirkan Ayana saat ini?”
tanyaku dalam hati penasaran.
Karena pikiranku itu membuatku penasaran dan sesekali melirik
ke arah Ayana yang sedang membilas piring , tanpa sadar aku sudah menatapnya
terlalu lama.
Ayana yang menyadarinya segera memanggilku, “ Arya?”.
“Ah.. apa?” jawabku.
“Kamu lagi mikirin apa? Kok sampai-sampai kamu menatapku
begitu lama? Apakah ada sesuatu di wajahku?” tanya Ayana penasaran.
“Itu… tidak kok, hanya saja kamu hari ini terlihat sangat
cantik. Entah kamu sadar apa tidak, kita serasa suami istri yang sedang saling
membantu mencuci piring sehabis makan. Eh… maaf aku bicara ngasal ya, lupain
aja hehehe…” balasku sambil berusaha tertawa.
Aku menunggu jawaban dari Ayana, tetapi tak ada jawaban sama
sekali. Karena penasaran aku segera melirik kearah Ayana dan sesuatu yang
mengejutkan terjadi.
“Topeng rubah! Apa yang kamu lakukan disini dan kenapa kamu mengarahkan
__ADS_1
pisau itu ke leher Ayana!” teriakku.
“Tenang saja aku tidak akan membunuh ataupun melukai pacarmu
setidaknya untuk saat ini, asalkan kamu mau mendengarkan perkataan ku,” balas
topeng rubah.
“Apa yang kamu inginkan?” tanyaku.
“Mudah saja,” balas topeng rubah.
Tangan kirinya meraba kearah saku celananya dan melemparkan
sebuah foto ke arahku, aku segera mengambil foto tersebut dan melihatnya.
“Siapa dia?” tanyaku.
“Kurasa aku tak perlu mengatakannya, yang jelas dialah yang
melukai seorang gadis yang bernama Kazekaki Ria,” balas topeng rubah.
Aku seketika tersentak kaget saat si topeng rubah itu
mengatakan bahwa yang melukai kak Ria begitu parah adalah orang yang ada di
foto ini.
“Dari mana kamu tahu bahwa dialah pelakunya?” tanyaku.
Tidak ada respon dari topeng rubah soal pertanyaanku, dia
hanya terdiam ditempat tidak berbicara ataupun bergerak sama sekali, tetapi
pisau itu masih berada di leher Ayana.
Karena menunggunya terlalu lama dan tidak ada respon, aku
mencoba bertanya sekali lagi tapi dengan pertanyaan yang berbeda, “Apa yang
harus kulakukan?”.
“Itu mudah saja, temukan dia dan antarkan dia kepadaku. Aku akan
dan mengirimnya kepadaku dalam keadaan hidup jika tidak kamu tidak akan bisa melihat
orang-orang terdekatmu lagi,” balasnya lalu menghilang tanpa jejak lagi.
"Dia menghilang tanpa jejak lagi, sebenarnya siapa dia itu," ucapku dalam hati.
Bruk….
Ayana terjatuh kelantai dengan pernafasan yang tidak lancar karena syok yang
dialaminya tadi.
“Ayana,” panggilku.
Aku segera berjalan ke arahnya dan segera membawanya untuk
duduk di kursi dan segera membawakan air minum untuknya, setelah melihat Ayana
sedikit tenang aku melihat foto yang diberikan oleh si topeng rubah itu lagi.
“Jadi jika topeng rubah tak berbohong, orang ini adalah
orang yang melukai kak Ria. tetapi bagaimana caraku menemukannya, jika aku
mencarinya di seluruh negeri ini seorang diri sama halnya aku mencari jarum
ditumpukkan jerami,” Ucapku.
Ayana berusaha berdiri dan membalas apa yang ku katakan, “Kenapa
tidak meminta bibi saja untuk mencarinya,”.
“Eh… Ayana apa kamu sudah baik-baik saja?” tanyaku khawatir.
“Tidak apa-apa kok,” balas Ayana sambil berusaha tersenyum.
Aku melihat ke arahnya dan melihat bahwa kaki dan tangannya
masih gemetaran karena kejadian tadi.
“Kita pikirkan itu nanti, lalu kapan jemputan kita akan
__ADS_1
datang?” tanyaku.
“Aku sendiri tidak tahu, seharusnya dia sudah datang dari tadi,” balas Ayana.
“Kalau begitu kita tunggu setengah jam lagi, jika sudah setengah
jam dan penjemput itu belum datang kita akan menelfon kak Kana dan bertanya
padanya.” ucapku.
Setengah jam telah berlalu.
“Kenapa penjemput itu masih belum sampai dan juga kenapa nomer kak Kana
tidak bisa di hubungi, ada yang aneh disini,” ucapku dalam hati khawatir.
Ayana yang melihatku khawatir segera menghampiriku dan
bertanya padaku, “Arya, ada apa?”.
“Eh.. tidak ada apa-apa, aku hanya khawatir nomer kak Kana
tidak aktif dan penjemput itu juga masih belum sampai juga. Aku merasa ada yang
aneh, karena itulah aku merasa khawatir,” balasku.
“Benar juga dan seharusnya penjemput itu sudah ada di depan
pintu saat ini meskipun agak terlambat, memang ada yang aneh disini. Tetapi kak
Kana kan berada di rumah sakit dan penjagaan di sana sangat ketat Artifaction rank
SSS pun kesulitan untuk menyakiti kak Kana di sana, belum lagi kak Kana
termasuk Artifaction rank SS+,” ucap Ayana.
Setelah itu kami berdua terdiam dan memikirkan sesuatu yang
dapat menjawab pertanyaan kami berdua. Karena kebingungan aku sekali lagi melihat
foto yang diberikan topeng rubah itu lagi dan terkejut akan sesuatu karena aku
mendapatkan jawaban yang pasti tentang kejadian yang kami alami.
“Kurasa pemikiran mu salah soal tidak ada orang yang bisa menerobos rumah sakit itu pasti mungkin apabila yang menerobos rumah sakit itu adalah dia,” ucapku.
“Dia? Siapa yang kamu maksud?” tanya Ayana.
Aku menunjukan foto yang kudapatkan dari topeng rubah itu
kepada Ayana, “Dia adalah orang yang berkemungkinan bisa menerobos rumah sakit
itu, sekaligus dia adalah orang yang melukai kak Ria sebelumnya,”.
“Dia!” ucap Ayana terkejut.
Aku terdiam dan berjalan menuju kamar dan mengambil Artifactku,
lalu kembali lagi ke ruang makan.
“Ayana tidak ada gunanya berpikir, lebih baik kita pergi
kesana,” ucapku.
Tanpa pikir panjang Ayana yang melihatku membawa pedangku
segera mengambil Artifactnya dan kami segera pergi ke arah rumah sakit untuk
mencari tahu. apa yang akan terjadi selanjutnya?.
***AUTHOR BERBICARA***
Halo semuanya,
Ada yang kangen aku gk?
Maaf ya teman-teman, aku lama gak online dan gk pernah update novel ini lama banget. Yah alasannya sih masih sama tugas ku yang belum selesai masih banyak!
Seharusnya aku udah bisa up hari jum'at kemarin, tapi tiba-tiba ada urusan mendadak dan baru bisa sekarang, jadi maaf yaa....
Kedepannya sih gk tau, tapi yang jelas aku bakal usahakan up ok.
Takut kebanyakan, yasudah.
Bye-Bye....
__ADS_1