
”Hei….” kami berdua mengucapkannya secara bersamaan.
Kami berdua terkejut dan saling mengatakan, “Apa?”.
Sejenak kami diam beberapa saat lalu sekali lagi aku membuka pembicaraan.
”Eh tidak apa-apa, kamu mau ngomong apa?” tanyaku dengan wajah malu.
”Eh.. gak, kamu aja ngomong duluan,” balas Ayana.
”Em heheheh....” aku menjawab sambil
memaksakan tertawa.
”Hahah....” ucap Ayana.
Dan kami berdua tertawa bersama dengan terbahak-bahak dan tak terasa hari sudah mau gelap, tetapi busnya belum datang juga. Karena daripada menunggu terlalu lama aku mengajaknya pulang bersama tapi aku malu untuk mengatakannya.
Tapi akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.
”Itu… rumah kamu berada dimana?” tanyaku sambil malu-malu.
”Eh….” balas Ayana sambil sedikit
terkejut.
”Jangan berpikir yang tidak tidak, aku pikir busnya tidak akan datang jadi….” ucapku sambil terpatah-patah.
”Jalan Ronhold nomor 14,” balas Ayana
”Eh… Ronhold” ucapku sedikit terkejut.
”Apa ada yang salah?” tanya Ayana kebingungan.
”Tidak hanya saja aku terkejut kalau kita bertetangga,” balasku.
”Wahh kebetulan sekali memangnya rumah kamu nomer berapa?” tanya Ayana sambil tersenyum.
”Enam… belas” balasku.
“Wah kebetulan sekali kita searah apalagi rumah kita bersebelahan,” ucap Ayana sambil tersenyum ceria.
”Iyh... jadi apakah kamu mau berjalan pulang bersamaku?” tanyaku.
”Iyh,” balas Ayana.
Dia mengatakannya sembari tersenyum, senyumannya itu yang membuat diriku tak bisa memalingkan wajahku darinya.
__ADS_1
“Ada apa Arya?” tanya Ayana bingung.
“Eh gak kok hehehehe,” balasku.
Dia tanpa berpikir panjang menerimanya dan aku pada saat itu terkejut sekalipun merasa senang karena setidaknya aku bisa bersamanya lebih lama.
Kami berjalan berdua sambil melihat keramain pertokoan yang ada di tengah kota ini mulai dari maid kafe, toko figure, dan lain-lain. Disini adalah pusat perbelanjaan yang paling besar di kota ini dan juga termasuk yang paling ramai, rumah kami sedikit jauh dari sekolah. Karena itulah kami berangkat naik bus dan aku selalu melewati pusat perbelanjaan ini. Suasana hening dan sepi ketika kami melewati pusat perbelanjaan membuat suasana sunyi dan canggung diantara kami. Karena tidak ada yang membuka percakapan suasana canggung inilah yang dihasilkan dari kesenyuian antara kami berdua, karena tak ada yang memulai percakapan aku berinisiatif menanyakan sesuatu untuk membuat topik agar suasana canggung yang kami rasakan menghilang.
"Itu… kenapa kamu pindah sekolah?” tanyaku.
”Apakah kamu penasaran?, Hihi.. kamu harus menciumku terlebih dahulu baru setelah itu kuberi tahu,” ucapnya sambil tertawa usil.
“Tidak akan pernah!” teriakku tegas.
”Hahahahha… aku hanya bercanda,
lagipula aku tidak mau orang yang menciumku adalah orang yang jomblo akut
sepertimu ahahahhahahhha....” ucap Ayana.
“sabar Arya sabar, tapi kenapa dia terlihat murung jika yang dikatakannya seperti itu?” ucapku dalam hati.
”Ayana kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku khawatir.
”Eh gk apa-apa kok, alasanku pindah sekolah karena ibu dan ayahku harus bekerja di kota ini,” ucapnya.
”Sebenarnya….” jawab Ayana.
Aku tidak tau apa yang mau dikatakannya, dan disaat dia ingin mengatakannya
“Ayana awas!” teriakku sembari menarik tangannya mengarah kepadaku
Tang….
“Ternyata kamu dapat mengetahui seranganku, Kazekaki Arya. Tidak itu bukan nama aslimu, yang benar adalah Nakagami,”
“Siapa disana!” teriakku
Wusss….
sosok kegelapan yang tiba-tiba muncul dihadapan kami dengan mememakai baju serba hitam dan menutupi wajanya dengan topeng rubah.
“Siapa dirimu?, dan apa maksudmu
Nakagami?, siapa Nakagami?” tanyaku dengan sedikit kebingungan.
“Kau tidak perlu mengetahui siapa diriku, tapi kau tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa kamu seorang Artifaction laki-laki pertama yang memiliki kekuatan yang setara dengan Nakagami. Apabila kamu tak membangkitkannya waktu itu mungkin saja tidak ada artifaction laki-laki,” ucap sosok misterius
__ADS_1
"......." aku diam tak menjawabnnya.
“Hah….. mungkin sekarang kau tak mengerti, tapi suatu saat kau akan terpaksa menggunakan itu dan sekali lagi membawa kehancuran. Jika kau tanya ada urusan apa aku datang kesini hanya untuk mengetes kemamampuanmu dan melihat wajahmu,” ucap sosok misterius.
Aku mewaspadainya dan melihat Ayana sembari memastikan keadaannya.
"Sepertinya dia masih terkejut dari serangan itu dan membuatnya ketakutan seperti ini, kuharap dia tidak mendengar perkataan yang orang ini katakan," ucapku dalam hati.
Aku hanya bisa berdiam diri melihatnya.
“Kalo begitu sampai jumpa,” ucap
sosok misterius.
Aku sangat terkejut, tetapi aku tetap tak menurunkan kewaspadaanku.
Dia pergi dengan hembusan angin,
tapi sebelum dia benar-benar menghilang dia membisikkan sesuatu padaku,
“Tenang saja aku akan selalu mengawasimu dek,”ucap sosok misterius.
Aku hanya bisa menelan ludah dan
terkejut bagaimana bisa dia tau soal Nakagami. setelah itu kami pulang dengan
keadaan diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Saat sampai
rumah seperti biasa aku selalu dimarahi karena selalu pulang larut malam.
Setelah mendengarkan ceramahnya aku mandi dan masuk kamar.
"Tapi apa sebaiknya seperti ini?, dari tadi aku tak mengucapkan sepatah katapun pada Ayana,” ucapku dalam hati.
“tidak-tidak itu tidak penting yang lebih penting adalah kenapa dia bisa tahu tentang Nakagami dan yang lebih mencurigakan dia tahu namaku," ucaplu dalam hati.
“Topeng rubah ya, kira-kira siapa dia?” tanyaku penasaran.
Aku sejenak berpikir sambil mengingat, apakah aku pernah bertemu dengannya.
“Ahh lebih baik aku tidur,” ucapku.
Disisi lain dalam gelap malam berdiri seseorang yang menggunakan topeng rubah yang dimandikan oleh sinar bulan.
"Kamu harus bisa menggunakan kekuatan itu karena kau adalah adikku. Kekuatan itu bisa menjadi kehancuran jika kamu tidak bisa mengendalikannya, tapi aku percaya kamu bisa memakainya. Aku akan mengawasimu adikku meskipun dari bayangan," ucap topeng rubah dan menghilang dalam hembusan angin malam.
Wush....
__ADS_1