
aku tidak tahu siapa yang menelponnya, tetapi aku
berinisiatif mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, siapa ya?” tanyaku kebingungan.
“Apakah anda mengenal seorang gadis bernama Kazekaki Ria?”
tanya seseorang itu memastikan.
“Iya, saya mengenalnya,” balasku khawatir.
“Kalau boleh tahu, anda termasuk keluarganya?” tanya
seseorang itu sekali lagi.
“Iya, saya adalah adik dari seseorang yang anda katakan,”
balasku dengan perasaan khawatir.
“Jadi begitu, kakak anda sekarang berada di rumah sakit dan
dia terkena serangan tusukan dari seseorang. Keadaannya sekarang kritis, luka
yang dialaminya terlalu dalam kami tidak yakin bisa menyelamatkannya. Apakah
anda bisa memberi kabar ke keluarga anda soal ini, karena kami tidak bisa
menghubungi keluarga anda yang lain,” ucap dokter.
“Kakak terkena tusukan dan di larikan ke rumah sakit? Ini bohongan
bukan? Dia adalah Artifaction peringkat SSS apakah anda tidak salah orang?”
tanyaku tak percaya.
“Anda bisa mengeceknya di rumah sakit, dia memiliki tanda
hitam berbentuk pedang kecil di bagian tangan kanannya,” balas dokter.
Aku yang terkejut saat mendengar itu, sampai-sampai melepas
genggaman handphoneku.
Krak....
Handphoneku terjatuh ketanah dan membuatnya retak serta layarnya pecah.
“Kakak,” ucapku pelan.
Tak… tak….
Aku berlari menuruni anak tangga, hatiku khawatir dan bimbang membuat pikiranku
kacau.
Tanpa berpikir panjang aku terus berlari meninggalkan
sekolah dan berlari mencari di rumah sakit yang ada di kota ini satu persatu,
disaat seperti ini aku tidak bisa berpikir jernih. Aku terus berlari menyusuri
jalan.
“Kumohon kak Ria, aku yakin kamu bisa bertahan dari rasa
sakit ini. Karena aku sudah tak memiliki keluargaku lagi, tetapi kamu
menganggapku seperti adikmu sendiri. Padahal kamu sama sekali tidak mengenalku,
kenapa kamu selalu baik padaku,” ucapku dalam hati dengan perasaan khawatir,
bimbang dan sedih menjadi satu.
Aku sudah mendatangi 12 rumah sakit hanya dengan berlari,
kota ini memiliki 15 rumah sakit. Tersisa 3 rumah sakit lagi tetapi staminaku
terkuras sangat banyak.
“Aku terus mencari di rumah sakit yang ada di kota ini satu
persatu, kenapa tadi aku melupakan untuk menanyakan rumah sakitnya. Tidak
sekarang itu tidak penting, aku harus bertemu dengan kakak. Semoga dia
baik-baik saja,” ucapku dalam hati sambil terus berlari.
Aku terus berlari tanpa memikirkan bahwa aku sudah kehabisan
__ADS_1
stamina, rasa khawatir yang ada membuatku melupakan stamina dan rasa sakit yang
ada di kakiku menghilang.
“2 rumah sakit lagi,” ucapku.
Sementara itu….
“Hei keponakanku, dimana Arya?. Kenapa dia bisa selama ini
hanya karena membersihkan kelas,” ucap kak Kana.
“Aku juga tidak tahu, apa aku harus mengeceknya ya?,” tanya
Ayana pada dirinya sendiri.
Suasana hati Ayana tiba-tiba merasa tidak enak, karena Ayana
menyadari perasaannya itu dia bergegas mengecek Arya dan berlari menuju ke
kelas tanpa bilang apapun pada kak Kana. Sedangkan kak Kana hanya diam saja tak
mempedulikannya.
“Eh, kelasnya terbuka,” ucap Ayana terkejut.
Ayana perlahan masuk ke dalam kelas, menoleh kesamping
mencari keberadaan Arya.
“Kenapa dia tidak ada disini? mungkinkah dia masih membuang sampah?”
tanya Ayana dalam hati.
Sebelum Ayana hendak kembali ke ruang kepala sekolah, dia
tanpa sengaja menemukan handphone Arya yang tergeletak disana.
“Eh, kenapa handphone Arya disini sedangkan dia sendiri
tidak ada disini,” ucap Ayana heran.
Tak lama setelah itu….
Kring… kring….
tersebut.
“Akhirnnya anda mengangkat telfonnya, kakak anda sekarang
dirawat di rumah sakit Hienti,” ucap dokter itu.
Setelah mengatakan itu dokter itu menutup telfon tersebut,
Ayana berdiam diri sejenak.
“Apakah yang dimaksud adalah bahwa kak Ria sekarang sedang terluka?” ucap Ayana
kebingungan sekaligus terkejut.
Dia yang tak percaya memilih berlari dari lorong ke lorong
menuju kantor kepala sekolah.
Brak….
Suara pintu yang di dorong dengan sangat keras.
"Pelan-pelan dong, apa kamu mau merusak properti sekolah!" teriak kak Kana.
“Bibi, kak Ria berada di rumah sakit,” ucap Ayana.
“Apa?, Ayana sekarang kamu bersiap untuk pergi tunggu bibi
di bawah,” balas kak Kana terkejut.
Tanpa pikir panjang kak Kana dan Ayana segera naik mobil dan
berangkat menuju rumah sakit untuk melihat kepastiannya.
Disaat seperti ini, di lain sisi….
“Hosh… hosh… apakah kamu tahu pasien bernama Kazekaki Ria
sekarang berada dimana?” tanyaku pada resepsionis.
“Apakah tuan tidak apa-apa,” balas mbak resepsionis.
“Tidak usah pedulikan aku, katakan dimana dia berada!”
__ADS_1
ucapku sedikit membentak.
“Eh, dia ada di UGD. Anda bisa mengikuti lorong tersbut lalu
belok kanan berada di pojok sebelah kiri,” ucap mbak resepsionis tersebut.
Aku tanpa berterima kasih, segera pergi menuju ruang UGD.
Aku mencoba menerobos masuk kedalam, tetapi aku dihalangi oleh suster-suster.
“Biarkan saya masuk!” bentakku.
“Kami tidak bisa membiarkannya, sekarang pasien sedang di
operasi. Kami harap anda bisa menunggu disitu serahkan saja pada dokter.” balas
suster tersebut.
Aku mengamuk dan memaksa untuk masuk kedalam ruangan
operasi, sampai seseorang memanggilku.
“Arya sudah cukup! Berhenti!” teriak seseorang berlari
mendekatiku.
Aku menoleh dan menyadari bahwa Ayana menghampiriku.
“Tapi kak Ria,” ucapku.
“Kamu harus percayakan semuanya kepada dokter,” balas Ayana dengan
tersenyum.
Senyumnya membuat hatiku tenang dan membuatku bisa berpikir
jernih. Aku melepaskan pegangan kedua suster yang menahanku dan segera duduk di
kursi yang ada di dipan pintu ruang UGD dengan perasaan khawatir yang tinggi.
Ayana yang melihatku termenung menghampiriku dan duduk di
sebelahku dan mengatakn, “Tenang saja, kak Ria adalah seseorang yang kuat,”.
Meskipun ucapan Ayana membuat hatiku tenang tetapi rasa
khawatir dan ketakutan akan kehilangan seseorang terus terngiang di kepalaku.
Kak Kana yang melihatku seperti itu, hanya bisa diam. Aku,
Ayana, dan kak Kana hanya bisa menunggu dokter selesai operasi.
2 JAM KEMUDIAN.
Setelah lama kami menunggu, dokter keluar dari ruang
operasi.
Aku yang menyadarinya segera berdiri diikitu Ayana dan kak
Kana dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana dok, keadaan kakak saya?” tanyaku.
“Kalian beruntung meskipun pembuluh darahnya terluka sangat
parah dia berhasil bertahan hidup, hanya saja,” balas dokter tersebut dan ragu
untuk mengatakan kebenarannya.
“Hanya saja?” tanyaku khawatir.
“Dia akan mengalami kelumpuhan meskipun dia bisa
menggerakkan badannya dan yang tidak bisa dia gerakan adalah tangan kirinya
serta kedua kakinya,” ucap dokter.
“Apakah tidak akan bisa sembuh dok?” tanyaku.
“Saya tidak tahu, tetapi karena dia adalah seorang
Artifaction masih ada kemungkinan dia bisa sembuh. Kalau begitu saya permisi
dulu,” balas dokter tersebut.
“Kakak, siapa sebenarnya yang berani melukaimu seperti ini?”
ucapku dalam hati.
__ADS_1