
Saat aku mencoba membuka mataku, aku melihat seseoang yang
sedang menangis. Kesedihan yang luar biasa dan ketakutakan akan kehilangan
seseorang lagi dari hidupnya.
Saat pandanganku kembali, aku bisa melihat dengan jelas
Ayana menangis.
“Karena itu kumohon jangan tinggalin aku sendiri lagi hiks…
hiks…,” ucap Ayana sambil menangis.
Aku melihat bajunya yang basah oleh tangisan membuatku
seperti pernah merasakannya. Ingatan sekilas yang muncul tiba-tiba mebuatku
merasakan sakit kepala. Di dalam ingatan itu aku melihat seorang gadis kecil
yang menangis sekeras-kerasnya tapi tidak berani bergerak.
Aku tidak terlalu memperdulikan itu, aku mencoba menahan
rasa sakit ini dan berusaha tersenyum lalu berkata,”Siapa yang akan
meninggalkan siapa?”.
Saat aku mengatakan itu Ayana langsung mendekatiku dan
memelukku dengan sangat erat sambil menangis dan berkata,”Kumohon jangan buatku
khawatir seperti ini lagi hiks…,”.
Entah kenapa saat dia berkata seperti itu jantungku tidak
bisa berhenti berdetak kencang.
Aku mencoba mengelus-elus kepalanya dan berkata,”Maaf sudah
membuatmu khawatir,”.
Tiba-tiba saat dia berhenti menangis dia medekatkan bibirnya
kepadaku sambil memejamkan mata, secara reflek aku pun ikut memejamkan mata saat
itu kupikir kami akan benar-benar berciuman. Saat jarak bibir kami tinggal
beberapa inchi tiba-tiba….
Brak…. suara benturan pintu yang sangat keras.
“Arya, apakah kau sudah sadar aku membawakanmu roti
panggang,” teriak seseorang.
“….”
“Maaf menganggu, permisi.” ucap Rina lalu meninggalkan kami.
Kami berdua hanya terdiam malu dan saling menjauh.
Ding… dong… saat nya pelajaran diharap semuanya kembali
kedalam kelas.
“Eh… sudah masuk, yuk kembali ke-kelas,” ajakku dengan
perasaan canggung.
“Eh.. ah.. ya.. ayok,” balas Ayana.
“Kami berdua kembali kekelas dan mencoba memberitahukan yang
sebenarnya terjadi saat itu. Tapi jika Rina saat itu tidak datang apakah aku
dan Ayana akan berciuman?. Eh… apa yang sebenarnya kupikirkan,” ucapku dalam
hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Disaaat itu aku tersadar dan mengetahui kenapa dulu dia
terlihat seperti itu.
“Jika dia terlihat seperti itu saat aku pingsan tadi,
kemungkinan alasannya kemari hanya karena dia masih belum menerima bahwa seseorang
yang dia sayangi mati,” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian guru datang dan menyuruh kami untuk
duduk. Setelah itu kami kembali duduk dan mendengarkan pelajaran.
Saat bel istirahat kami menghabiskan waktu mengobrol di kelas bertiga.
Tak terasa jam pulang sekolah sudah berbunyi. Karena ini
jadwal piketku aku tetap berada di kelas hanya saja anak-anak yang lain yang seharusnya
juga piket hari ini menyerahkan semuanya padaku. Sedangkan Ayana aku
menyuruhnya pulang karena ini tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat. Untuk
pertama kali dia memaksa untuk untuk tetap menungguku. alhasil aku terus berdebat dengannya,
__ADS_1
setalah beberapa saat kami berdebat akhirnya Ayana mau pulang.
Aku membersihkan setiap sudut kelas sampai bersih lalu saat
ingin membuang sampah aku terkejut kalo Ayana dari tadi duduk di depan kelas
tertidur.
“Dasar keras kepala,” ucapku sambil tersenyum.
Aku berjalan membuang sampah terlebih dahulu lalu mengambil
tas.
Setelah mengambil tas aku berusaha membangun kan Ayana.
Sambil menggoyangkan tubuhnya aku juga memanggilnya,”Ayana,
ayo bangun aku sudah selesai,”.
tapi dia tetap tidak mau bangun pada akhirnya aku memilih menggendongnya.
“Hah menyebalkan,” ucapku dalam hati.
Tanpa berbasa-basi aku menggendong Ayana di punggung sambil
berjalan pulang.
“Tak kusangka rasanya senyaman ini, apalagi aku bisa
merasakan kehangatan dari tubuhnya. Eh apa yang kupikirkan,” ucapku dalam hati
sambil mengegeleng-gelengkan kepala.
Aku terus berjalan pulang dan terkadang sesekali aku memandangi
Ayana yang sedang tertidur.
Tak lama kemudian angin berhembus sangat kencang dan
membuatku merinding.
“Ada apa ini kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk akan
terjadi, kak Ria pun belum kembali sampai sekarang,” ucapku dalam hati
khawatir.
Tak lama setelah itu….
Boom… ledakan yang sangat besar terjadi di bagian barat.
Sektor 4.
“Apa yang terjadi?” ucapku kebingungan.
reflek aku meloncat kebelakang.
Cling… sebuah kilatan cahaya muncul setelah aku melompat
kebelakang.
“Hampir saja,” ucapku.
“Akhirnya ketemu juga, Arya,” ucap seseorang.
Asal suara itu berada pada kilatan cahaya itu, tapi aku
belum bisa memastikannya karena debu.
“Siapa ka..,” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku tiba-tiba
anak panah petir mengarah padaku dengan cepat dan membuatku lompat kebelakang
sekali lagi.
Karena guncangan yang terjadi Ayana terbangun,”Ada apa ini?”.
“Arya bisakah kau turun?” tanyaku.
“Eh, iyh,” balasnya bingung.
Aku menurunkan Ayana lalu memanggil pedangku.
“Sword Of Nightmare,” setelah itu muncul pedang bercorak hitam dengan lapisan
besi berwarna merah darah.
Aku bersiap untuk bertarung, tiba-tiba seseorang muncul dari
debu itu. Seeorang gadis yang memakai penutup wajah.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Bukan siapa-siapa, hanya ingin melihat kemampuan seorang mantan berperingkat
SSS,” balas sosok itu.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi yang jalas apa
alasanmu melakukan semua ini?” tanyaku.
Tiba-tiba seseorang datang lagi dari arah belakang gadis
itu.
__ADS_1
“Kali ini aku akan menangkapmmu,” ucap seseorang.
Betapa terkejutnya aku, sudah sekian lama tidak melihat kak
Ria memakai baju andalannya saat ingin menggunakan kekuatan Artifaction.
“….”
Tiba-tiba Ayana bersemangat dan berteriak,” Wah… ternyata
Shadow Girl !. aku masih tidak percaya bisa bertemu dengannya, seorang Artifaction
perempuan yang memakai dual sword dan juga ber-peringkat SSS,”.
“Ayana, ternyata kamu tau banyak ya,” ucapku.
“Cih,” ucap sosok itu.
Tiba-tiba saja dia bergerak cepat menghampiriku.
“Arya, awas!” teriak kak Ria.
Tapi tak sempat mengayunkan pedang kedepan dia sudah beberapa
inchi denganku, kupikir dia akan membunuhku tapi dia makah membisikkan sesuatu
padaku, “Tenang saja Nakagami, aku akan datang lagi untuk balas dendam kematian,
senior Aky,”.
Setelah itu dia menghilang.
Aku hanya bisa terdiam saat sosok gadis itu mengatakan nama seseorang.
"Siapa itu aky?, kenapa aku seperti mengenalnya,"ucapku dalam hati bingung.
“Arya, kamu tidak apa-apa?” ucap kak Ria.
“Eh… aku tidak apa-apa kok kak Ria” balasku.
“Eh… Shadow Girl adalah, kak Ria?” ucap Ayana terkejut.
“Iyh,” balasku.
“Gak-gak kamu pasti bohong kan, Arya?” tanya Ayana sekali
lagi tidak percaya.
“Kalo kamu gk percaya, kak Ria buka penutup mulutmu,”
balasku sambil meminta kak Ria membuka penutup mulutnya.
“Eh, iyh,” balas kak Ria kebingungan sambil membuka penutup
mulutnya.
Saat penutup mulutya terbuka.
“Ehhhhhhhh….” teriak Ayana.
“Sudah-sudah kita bisa bahas ini dirumah, lebih baik kita
pulang sekarang. Kalian tunggu di bawah kak Ria akan bawa mobil kesini,” ucap
kak Ria.
Sambil menunggu kak Ria aku sesekali melihat Ayana dengan
wajah yang masih tidak pecaya kalo idolanya adalah kak Ria.
Tak lama kemudian kak Ria datang membawa mobil. Kami berdua
masuk kedalam mobil, saat mobilnya berjalan menuju arah pulang kak Ria
bertanya,”Apa yang kau lakukan Arya?, sampai selarut ini?”.
“Itu…,”
Aku tidak berani mengatakannya, tetapi Ayana tiba tiba menjawab pertanyaan kak
Ria.
“Arya bersukarela menanggung beban piket yang harusnya
dilakukan secara bersama 7 orang,” balas Ayana.
“Eh, benarkah?” tanya kak ria sekali lagi.
“Iyh dia tidak berani berkata tidak,” jawab Ayana.
“Dari dulu emang begitu,” ucap kak Ria.
“Iyh tapi seharusnya dia tau kapan harus berkata tidak," balas
Ayana.
Mereka terus saja mengejekku.
(Catatan kalo wanita nemu lawan bicara yang pas dengannya, mereka tidak akan
berhenti bicara. Bener gk cobak komen yang merasa cewek).
Sepajang perjalan pulang mereka terus mencari-cari kesalahanku.
“Kelihatannya aku salah masuk mobil,” ucapku dalam hati
__ADS_1
pasrah.