The Owner Of Sealed Sword

The Owner Of Sealed Sword
Shadow Girl?


__ADS_3

Saat aku mencoba membuka mataku, aku melihat seseoang yang


sedang menangis. Kesedihan yang luar biasa dan ketakutakan akan kehilangan


seseorang lagi dari hidupnya.


Saat pandanganku kembali, aku bisa melihat dengan jelas


Ayana menangis.


“Karena itu kumohon jangan tinggalin aku sendiri lagi hiks…


hiks…,” ucap Ayana sambil menangis.


Aku melihat bajunya yang basah oleh tangisan membuatku


seperti pernah merasakannya. Ingatan sekilas yang muncul tiba-tiba mebuatku


merasakan sakit kepala. Di dalam ingatan itu aku melihat seorang gadis kecil


yang menangis sekeras-kerasnya tapi tidak berani bergerak.


Aku tidak terlalu memperdulikan itu, aku mencoba menahan


rasa sakit ini dan berusaha tersenyum lalu berkata,”Siapa yang akan


meninggalkan siapa?”.


Saat aku mengatakan itu Ayana langsung mendekatiku dan


memelukku dengan sangat erat sambil menangis dan berkata,”Kumohon jangan buatku


khawatir seperti ini lagi hiks…,”.


Entah kenapa saat dia berkata seperti itu jantungku tidak


bisa berhenti berdetak kencang.


Aku mencoba mengelus-elus kepalanya dan berkata,”Maaf sudah


membuatmu khawatir,”.


Tiba-tiba saat dia berhenti menangis dia medekatkan bibirnya


kepadaku sambil memejamkan mata, secara reflek aku pun ikut memejamkan mata saat


itu kupikir kami akan benar-benar berciuman. Saat jarak bibir kami tinggal


beberapa inchi tiba-tiba….


Brak…. suara benturan pintu yang sangat keras.


“Arya, apakah kau sudah sadar aku membawakanmu roti


panggang,” teriak seseorang.


“….”


“Maaf menganggu, permisi.” ucap Rina lalu meninggalkan kami.


Kami berdua hanya terdiam malu dan saling menjauh.


Ding… dong… saat nya pelajaran diharap semuanya kembali


kedalam kelas.


“Eh… sudah masuk, yuk kembali ke-kelas,” ajakku dengan


perasaan canggung.


“Eh.. ah.. ya.. ayok,” balas Ayana.


“Kami berdua kembali kekelas dan mencoba memberitahukan yang


sebenarnya terjadi saat itu. Tapi jika Rina saat itu tidak datang apakah aku


dan Ayana akan berciuman?. Eh… apa yang sebenarnya kupikirkan,” ucapku dalam


hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Disaaat itu aku tersadar dan mengetahui kenapa dulu dia


terlihat seperti itu.


“Jika dia terlihat seperti itu saat aku pingsan tadi,


kemungkinan alasannya kemari hanya karena dia masih belum menerima bahwa seseorang


yang dia sayangi mati,” ucapku dalam hati.


Tak lama kemudian guru datang dan menyuruh kami untuk


duduk.  Setelah itu kami kembali duduk dan mendengarkan pelajaran.


Saat bel istirahat kami menghabiskan waktu mengobrol di kelas bertiga.


Tak terasa jam pulang sekolah sudah berbunyi. Karena ini


jadwal piketku aku tetap berada di kelas hanya saja anak-anak yang lain yang seharusnya


juga piket hari ini menyerahkan semuanya padaku. Sedangkan Ayana aku


menyuruhnya pulang karena ini tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat. Untuk


pertama kali dia memaksa untuk untuk tetap menungguku. alhasil aku terus berdebat dengannya,

__ADS_1


setalah beberapa saat kami berdebat akhirnya Ayana mau pulang.


Aku membersihkan setiap sudut kelas sampai bersih lalu saat


ingin membuang sampah aku terkejut kalo Ayana dari tadi duduk di depan kelas


tertidur.


“Dasar keras kepala,” ucapku sambil tersenyum.


Aku berjalan membuang sampah terlebih dahulu lalu mengambil


tas.


Setelah mengambil tas aku berusaha membangun kan Ayana.


Sambil menggoyangkan tubuhnya aku juga memanggilnya,”Ayana,


ayo bangun aku sudah selesai,”.


tapi dia tetap tidak mau bangun pada akhirnya aku memilih menggendongnya.


“Hah menyebalkan,” ucapku dalam hati.


Tanpa berbasa-basi aku menggendong Ayana di punggung sambil


berjalan pulang.


“Tak kusangka rasanya senyaman ini, apalagi aku bisa


merasakan kehangatan dari tubuhnya. Eh apa yang kupikirkan,” ucapku dalam hati


sambil mengegeleng-gelengkan kepala.


Aku terus berjalan pulang dan terkadang sesekali aku memandangi


Ayana yang sedang tertidur.


Tak lama kemudian angin berhembus sangat kencang dan


membuatku merinding.


“Ada apa ini kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk akan


terjadi, kak Ria pun belum kembali sampai sekarang,” ucapku dalam hati


khawatir.


Tak lama setelah itu….


Boom… ledakan yang sangat besar terjadi di bagian barat.


Sektor 4.


“Apa yang terjadi?” ucapku kebingungan.


reflek aku meloncat kebelakang.


Cling… sebuah kilatan cahaya muncul setelah aku melompat


kebelakang.


“Hampir saja,” ucapku.


“Akhirnya ketemu juga, Arya,” ucap seseorang.


Asal suara itu berada pada kilatan cahaya itu, tapi aku


belum bisa memastikannya karena debu.


“Siapa ka..,” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku tiba-tiba


anak panah petir mengarah padaku dengan cepat dan membuatku lompat kebelakang


sekali lagi.


Karena guncangan yang terjadi Ayana terbangun,”Ada apa ini?”.


“Arya bisakah kau turun?” tanyaku.


“Eh, iyh,” balasnya bingung.


Aku menurunkan Ayana lalu memanggil pedangku.


“Sword Of Nightmare,” setelah itu muncul pedang bercorak hitam dengan lapisan


besi berwarna merah darah.


Aku bersiap untuk bertarung, tiba-tiba seseorang muncul dari


debu itu. Seeorang gadis yang memakai penutup wajah.


“Siapa kamu?” tanyaku.


“Bukan siapa-siapa, hanya ingin melihat kemampuan seorang mantan berperingkat


SSS,” balas sosok itu.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi yang jalas apa


alasanmu melakukan semua ini?” tanyaku.


Tiba-tiba seseorang datang lagi dari arah belakang gadis


itu.

__ADS_1


“Kali ini aku akan menangkapmmu,” ucap seseorang.


Betapa terkejutnya aku, sudah sekian lama tidak melihat kak


Ria memakai baju andalannya saat ingin menggunakan kekuatan Artifaction.


“….”


Tiba-tiba Ayana bersemangat dan berteriak,” Wah… ternyata


Shadow Girl !. aku masih tidak percaya bisa bertemu dengannya, seorang Artifaction


perempuan yang memakai dual sword dan juga ber-peringkat SSS,”.


“Ayana, ternyata kamu tau banyak ya,” ucapku.


“Cih,” ucap sosok itu.


Tiba-tiba saja dia bergerak cepat menghampiriku.


“Arya, awas!” teriak kak Ria.


Tapi tak sempat mengayunkan pedang kedepan dia sudah beberapa


inchi denganku, kupikir dia akan membunuhku tapi dia makah membisikkan sesuatu


padaku, “Tenang saja Nakagami, aku akan datang lagi untuk balas dendam kematian,


 senior Aky,”.


Setelah itu dia menghilang.


Aku hanya bisa terdiam saat sosok gadis itu mengatakan nama seseorang.


"Siapa itu aky?, kenapa aku seperti mengenalnya,"ucapku dalam hati bingung.


“Arya, kamu tidak apa-apa?” ucap kak Ria.


“Eh… aku tidak apa-apa kok kak Ria” balasku.


“Eh… Shadow Girl adalah, kak Ria?” ucap Ayana terkejut.


“Iyh,” balasku.


“Gak-gak kamu pasti bohong kan, Arya?” tanya Ayana sekali


lagi tidak percaya.


“Kalo kamu gk percaya, kak Ria buka penutup mulutmu,”


balasku sambil meminta kak Ria membuka penutup mulutnya.


“Eh, iyh,” balas kak Ria kebingungan sambil membuka penutup


mulutnya.


Saat penutup mulutya terbuka.


“Ehhhhhhhh….” teriak Ayana.


“Sudah-sudah kita bisa bahas ini dirumah, lebih baik kita


pulang sekarang. Kalian tunggu di bawah kak Ria akan bawa mobil kesini,” ucap


kak Ria.


Sambil menunggu kak Ria aku sesekali melihat Ayana dengan


wajah yang masih tidak pecaya kalo idolanya adalah kak Ria.


Tak lama kemudian kak Ria datang membawa mobil. Kami berdua


masuk kedalam mobil, saat mobilnya berjalan menuju arah pulang kak Ria


bertanya,”Apa yang kau lakukan Arya?, sampai selarut ini?”.


“Itu…,”


Aku tidak berani mengatakannya, tetapi Ayana tiba tiba menjawab pertanyaan kak


Ria.


“Arya bersukarela menanggung beban piket yang harusnya


dilakukan secara bersama 7 orang,” balas Ayana.


“Eh, benarkah?” tanya kak ria sekali lagi.


“Iyh dia tidak berani berkata tidak,” jawab Ayana.


“Dari dulu emang begitu,” ucap kak Ria.


“Iyh tapi seharusnya dia tau kapan harus berkata tidak," balas


Ayana.


Mereka terus saja mengejekku.


(Catatan kalo wanita nemu lawan bicara yang pas dengannya, mereka tidak akan


berhenti bicara. Bener gk cobak komen yang merasa cewek).


Sepajang perjalan pulang  mereka terus mencari-cari kesalahanku.


“Kelihatannya aku salah masuk mobil,” ucapku dalam hati

__ADS_1


pasrah.


__ADS_2