
Aku dan Kaze hanya berdiam diri tanpa ada yang mulai percakapan atau pun bertanya lagi. Entah berapa lama kami berdiam, Nakama itu sudah hampir menghancurkan setengah kota. Aku masih tidak bisa mengambil keputusan sama sekali. Suasana yang hening, canggung dan menakutkan ini terus berlanjut, sampai keheningan yang lama itu akhirnya Kaze memecah keheningan.
“Jika kamu ingin mengambil keputusan, kamu harus secepat mungkin sebelum Nakama itu menghancurkan seluruh kota,” ucap Kaze.
Aku hanya bisa berkeringat dingin, keputusan yang dimana bisa menyelamatkan kota dan mengalahkan Nakama tapi juga mempertaruhkan nyawa. Keputusan yang tidak menentu ini membuat suasana hening.
Tak lama setelah suasana hening dan mencekam ini kak Ria dan Ayana telah terbebas dari ilusi Nakama.
“Apa yag terjadi?” tanya Ayana bingung.
“Iyh sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kepalaku pusing,” balas kak Ria.
Aku yang terkejut segera menghampiri mereka dan memanggil mereka,
“Kak Ria, Ayana,”
“Eh… Arya, apa yang sedang terjadi?” tanya kak Ria sambil berusaha untuk berdiri.
“Kesimpulannya Nakama
itu memiliki kemampuan ilusi,” balasku.
“Jadi begitu, dimana Nakama itu,” tanya Ayana.
“Dia berjalan kearah pusat kota,” balasku.
Setelah itu kami terdiam tanpa ada yang berani memulai percakapan.
“Kak Ria, Ayana bisakah kalian mengulur waktu untukku?” tanyaku.
“Untuk apa?” balas kak Ria berbalik bertanya.
“Aku akan mencoba memakai kekuatan itu,” ucapku.
“Apa kau bodoh! Jika sampai gagal kamu akan mati!” balas kak
Ria berteriak.
Aku memalingkan wajahku dari kak Ria,
“Semua perkataan kakak benar tapi tanpa kekuatan ini juga tidak akan bisa
mengalahkannya,” ucapku dalam hati sambil mengepalkan tangan.
Ayana yang melihatku mengepalkan tangan, dia menghela nafas lalu berkata,”Kita percayakan semuanya pada, Arya,”
“Apa kamu serius Ayana, kemungkinan besarnya dia akan mati!” bentak kak Ria.
Ayana tak menanggapi perkataan kak Ria dan menghampirinya memegang pundak kak Ria.
“Baiklah, terserah kamu!, ayo kita pergi!” tegas kak Ria berwajah kesal sambil menarik tangan Ayana.
Aku duduk bersila dan memfokuskan kekuatanku dan kesadaranku lalu menyalurkannya pada Artifactku. Proses ini memakan waktu yang lama dan semakin lama prosesnya semakin besar rasa sakit yang dirasakan.
Setelah 15 menit berlalu, Artifact itu masih menolak kehadiranku. Rasa sakit yang semakin besar ini membuatku ingin meyerah tetapi saat detik-detik terakhir aku kehilangan kesadaran, aku mengingat kenangan-kenanganku bersama Ayana, kak Ria, meskipun singkat kenangan itu terus membekas.
“Tidak aku akan terus berusaha, setidaknya aku tidak akan mati sebelum mengatakan perpisahan,” ucapku dalam hati percaya diri.
__ADS_1
Aku tak lagi mempedulikan rasa sakit ini dan fokus pada penyaluran kekuatan dan kesadaranku pada Artifact. Setelah 15 menit kemudian aku berhasil masuk ke dalam kesadaran Artifact, saat pertama kali masuk kepalaku merasakan pusing yang berat kemungkinan karena kekuatanku yang melemah.
Tempat yang luas dan aura pembunuh yang mencekam ini membuatku sedikit takut, aku berusaha berjalan mencari roh Artifact. Aku terus berjalan lurus dan tidak tahu kapan aku sampai ketempat roh itu, sepanjang
perjalanan yang kulalui hanyalah hamparan luas dengan warna hitam dan gelap.
“Bagaimana aku mencarinya jika seperti ini,” ucapku.
Aku berhenti sejenak dan mengamati sekitar, aku berusaha berpikir keras untuk menemukan jawaban agar aku bisa cepat bertemu roh Artifact. Tapi entah berapa lama aku berpikir, aku belum bisa menemukan jawabannya.
“Untuk sekarang lebih baik aku pergi berjalan lagi dari pada harus berdiam diri disini tanpa menemukan hasil apa-apa, aku harus mencari roh pedang ini,” ucapku dalam hati sambil berjalan tanpa mengatahui arah.
Sementara itu.
Wush… Boom…
Wush… boom....
Suara anak panah dan ledakan yang dibuat Nakama itu terus berulang-ulang. Sedangkan
stamina Ayana dan kak Ria sangat terbatas apalagi dengan serangannya yang cepat
dan memiliki daya ledak yang besar itu sangat sulit untuk menghindarinya dan
membuat stamina mereka berdua terkuras banyak.
“Jika terus seperti ini kita akan terkena serangan itu, Ayana,” ucap kak Ria.
“Aku tau, tapi kita harus bagaimana kak?” tanya Ayana.
Wushh… boom….
kamu punya ide?” tanya kak Ria.
“Hanya ada satu cara, tapi kemungkinan gagalnya 75%,” balas Ayana.
“Tak ada pilihan lain, lebih baik kita mencoba saja terlebih dahulu,” ucap kak Ria.
Wush… boom….
“Sekarang, kak Ria!” teriak Ayana.
“Sword Of Shadow,” ucap kak Ria sambil mengarahkan kedua tangannya kedepan.
(Sword Of Shadow adalah Artifact yang memungkinkan menghilangkan aura dan
keberadaan pengguna atau menghilang. Artifact ini juga bisa mengendalikan
bayangan untuk berpindah tempat tetapi menguras banyak sekali stamina. Artifact
ini berwujud dua pasang pedang dengan warna gelap yang dicampur dengan warna
ungu. Julukan dari Artifact ini adalah Hunter in the darkness).
Setelah memanggil Artifact, kak ria menerjang Nakama dan menuju pada bayangan dari Nakama itu.
NAKATONIGAMI
__ADS_1
(Jurus gabungan yang berasal dari NAKATONI dan GAMI. NAKATONI adalah jurus untuk menghentikan pergerakan lawan melalui bayangan dari musuh tersebut dengan cara menancapkan pedangnya pada bayangan tersebut. GAMI adalah jurus untuk
berpindah tempat dengan memanfaatkan bayangan untuk membuat lubang seperti
pintu untuk berpindah tempat kebayangan yang sudah diinginkan. NAKATONIGAMI
adalah jurus gabungan dari dua jurus tersebut, jurus ini memerlukan tenaga yang
besar dengan syarat memiliki bayangan yang besar untuk membuat lubang).
Roarghh….
Nakama itu terjatuh kedalam lubang yang dibuat oleh kak Ria dan membuatnya
mengaum sangat keras.
“Fiuh… setidaknya dia tak akan membahayakan seseorang, sekarang
kita harus secepatnya pergi kesana,” ucap kak Ria.
Di lain sisi.
“Sudah berapa lama aku berjalan di tempat ini, aku masih belum menemukannya
andikan ada Kaze yang membantuku. Aku merasa aku berjalan ditempat yang sama,
meskipun aku berjalan lurus pun aku merasa hanya berjalan ditempat yang sama,”
ucapku dalam hati bingung.
Aku terus berpikir bagaimana cara bertemu roh itu, setelah sekian lama aku mengingat sesuatu yang sangat penting.
“Cih… kenapa aku baru menyadarinya sekarang, jika ingin membuat kontrak hanya tinggal meneteskan darah saja,” ucapku kesal.
Slash….
Aku menyayat kecil tanganku sendiri agar darahku keluar.
Tes… tes… tes….
Darah ku terus menetes ke bawah kakiku.
“Dengan begini aku hanya tinggal menunggu,” ucapku.
Saat tetesan darah yang kedelapan, tiba-tiba muncul serangan dari belakangku dan membuatku spontan menghindar. Meskipun aku berhasil menghindar tangan kananku tetap tergores.
“Siapa disana!” teriakku.
Tak… tak….
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
“Dasar manusia yang tak memiliki sopan santun, datang-datang mengotori rumahku dengan darah,” ucap seseorang.
Aku hanya bisa waspada dan terus memandangi sekitar.
“Cih… dasar manusia sombong, memang tak memiliki yang namanya sopan
__ADS_1
santun diajak bicara malah hanya bisa berdiam diri saja,” ucap seseorang.