
“Dimana ini?” ucapku.
“Selamat datang di dunia mimpi, Kazekaki Arya,” ucap sosok misterius.
sambil melihat-lihat sekitar, aku menjawab panggilan orang itu, "Siapa disana?"
“Sudah berapa tahun ya sampai-sampai kau bisa melupakanku,”ucap sosok itu.
Tiba-tiba saja hawa di sekitar menjadi dingin dan angin berhembus kencang berkumpul pada satu titik dengan membawa asap gelap lalu memudar begitu saja. Muncul seseorang dari asap gelap itu.
“Kamu!, tidak mungkin,” ucapku terheran-heran dengan sedikit gemetaran.
Semua kakiku terasa kaku dan tidak bisa bergerak.
“Lama tak berjumpa, biar kuperkenalkan diriku sekali lagi aku Arya sebelum kamu kehilangan ingatanmu sepenuhnya,”ucap sosok itu.
“Bukannya kamu hancur saat itu?” tanyaku.
“Kamu pikir aku akan mati begitu saja,” balas sosok itu dengan senyumannya.
**FLASHBACK 3 TAHUN YANG LALU**
3 tahun yang lalu aku berhasil membangkitkan kekuatanku, dan sering menggunakannya sampai-sampai aku terlalu sombong karena pujian-pujian yang diberikan teman-temanku. Suatu hari muncul Nakama yang berinisial S+ rank dengan cerobohnya saat itu aku mengajak teman-temanku untuk mencoba mengalahkan Nakama itu.
“Lihatlah kehebatanku mengalahkan Nakama itu,” ucapku dengan percaya diri.
“Arya, kamu jangan bercanda Nakama itu berperingkat S+ lo..!” tegas teman A.
“Iyh, tidak mungkin kamu akan menang,” balas teman B.
“Ayolah kalian terlalu penakut aku bisa mengatasinya,” balasku.
“Iyh, betul itu Arya pasti bisa mengalahkannya,” ucap teman C.
“Betul, Arya tidak mungkin kalah,”
ucap teman D.
“Hahahahah udah santai aja,” ucapku.
Dari belakang seseorang memegang kerah lengan bajuku sambil menarik nya pelan, aku menoleh ternyata seorang gadis yang aku sukai dia Sakakino Amane.
“Ada apa Amane?” tanyaku.
“Kamu akan melidungi kami kan?” balas Amane bertanya.
“Tentu saja, aku berjanji !” jawabku dengan tegas.
Tapi tak seperti yang kubayangkan aku kalah dalam pertarungan dan semua teman-temanku mati. aku berusaha bangkit dan mencari keberadaan Amane, setidaknya aku ingin dia tetap hidup.
“Amane! Amane! kamu dimana!” teriakku memanggil-manggil.
Roaaarrrrgrgggghhhhh.
Teriakan raksasa itu membuat kakiku gemetaran dan membuatku tidak bisa bergerak sama sekali. Di lain sisi Nakama itu tengah mengumpulkan tenaga dan akan segera menembakkan laser keduanya.
"*A*pakah ini akhir dari hidupku? betapa bodohnya aku terlalu percaya diri dan sombong seperti ini, mereka semua mati gara-gara diriku. Mungkin ini yang terbaik aku akan ikut mati bersama mereka” ucapku dalam hati.
Cling….
Laser itu ditembakkan oleh Nakama itu, disaat aku sudah pasrah dengan kematianku.
“Berakhir sudah,” ucapku dalam hati.
Brak....
Seseorang mendorongku membuatku menjauh dari serangan itu.
Bruk...
Aku terjatuh sangat keras. Tetapi aku mencoba untuk bangkit, pandanganku buram dan selang beberapa saat pandanganku mulai kembali betapa terkejutnya diriku...
“Apa yang kau lakukan, Amane..!” teriakku.
Tak lama setelah itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Amane menyelematkanku dengan mengorbankan dirinya sendiri, sedangkan dia dengan gampangnya tersenyum seperti menerima takdirnya.
Cling....
Laser itu menembus perut Amane, darahnya keluar kemana-mana.
“A… ma… ne…,” ucapku terkejut setengah tidak percaya.
Aku berusaha mendekat dangan mata
yang buram, tubuhku rasanya seperti mau hancur saja tapi aku berusaha untuk menggapainya.
“Amane bangunlah,” ucapku sambil memegangnya.
“Amane… bangun,” ucapku.
“Ahhhh… ini semua salahku andai saja aku tidak seceroboh ini, hiks... hiks....” ucapku sambil meneteskan air mata dan menangis dengan sangat keras.
Disaat aku tengah menangis seperti ini Nakama itu kembali mencharge lagi serangannya dan ingin membunuh kami berdua tanpa tersisa.
Deg… deg….
Jantungku tiba-tiba berdetak sangat cepat.
__ADS_1
Deg… deg....
Rasanya aku sulit bernafas dan merasa ingin mati, sampai tiba-tiba seseorang memanggilku.
“Oi… sadarlah,”ucap seseorang.
“Apa yang kaulakukan, cepat sadarlah!” teriak seseorang
Mataku yang buram seketika memulih
pernafasanku yang mulai kembali normal membuatku dapat melihat seseorang yang mirip dengan diriku.
“Sia… pa ka…. mu,” ucapku terpatah-patah.
“Tidak penting soal itu kita harus mengalahkannya,” ucap sosok itu.
“Itu mustahil dia terlalu kuat apa kamu gila,” ucapku.
“Lalu apa kamu akan menyesalinya dan tidak membalaskan kematian mereka!” tegas sosok itu.
Saat dia mengatakan itu mulutku ingin sekali menyangkalnya tapi aku tidak bisa.
Roarghhhhhhhhhh…
Sebuah serangan bola besar yang diluncurkan mengarah pada kami.
“Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi, kita harus melangkah maju seberat apapun Itu. Sekarang kau yang memilih membalaskannya atau diam menunggu ajal seperti seorang pengecut,” ucap sosok itu.
Saat dia mengatakan itu aku membaringkan Amane dan memaksa diriku untuk berdiri meskipun rasa sakit yang luar biasa ini.
“Jadi kamu sudah memutuskannya?” tanya
sosok itu sambil tersenyum.
“Yah… aku akan mengalahkannya,” balasku sambil berjalan mengarah ke sampingnya dengan percaya diri.
“Sword Of Nightmare,” kami berdua
mengatakannya bersamaan.
Dan seketika muncul sebuah pedang
dari tangan kami.
“Aliran pedang pertama, tebasan seribu,”.
RYUSEN HENKEN
(Tebasan beruntun yang teratur dan rapi yang tertuju pada titik lemah lawan seperti kaki, tangan, jantung. bertujuan untun membuat lawan terjatuh atau kehilangan keseimbangan).
“Ayo kita akhiri ini,” ucapku sambil berlari kearahnya.
“Tunggu! menjauh dari dia sekarang juga!” teriak sosok itu.
Wing....
sebuah serangan laser yang membelah tanah dan semakin dekat kearahku. Saat itu kupikir sekali lagi aku akan mati tetapi.
Clinggggg… boom….
ledakan yang sangat besar terjadi dan selintas terlihat seseorang menahannya, saat itu aku terdiam bagaikan patung.
“Ck… ck… ck… kamu kurang pengalaman dan terlalu gegabah menerjang musuh tanpa persiapan, kuharap saat kita bertemu lagi kamu tidak akan seceroboh ini lagi,” ucapnya.
Dia mengatakan itu dengan wajah tenang padahal dia sedang menangkis serangan terakhir dari Nakama S+ rank. Meskipun begitu dia berhasil menangkisnya.
Boom....
Serangan itu berhasil ditahan dan membuat keadaan sekitar penuh dengan asap.
Dibalik asap itu terlihat sosok yang berjalan pinjang mengarah padaku.
“Ini adalah batasanku ya,” ucapnya
sambil berusaha berjalan kearahku dan memegang pundakku.
“Kali ini kau harus bisa melindungi dirimu sendiri dan orang lain. Oh iya aku belum mengatakan siapa diriku sebenarnya. Aku adalah kamu dan namaku adalah, Arya. Aku adalah dirimu sebelum kamu kehilangan ingatan, jadi mulai sekarang kamu harus menjadi kuat dan melindungi mereka dengan tanganmu yang memegang pedang ini sendiri. Maaf, padahal kita baru saja bertemu dan aku langsung mengucapkan perpisahan seperti ini. Kalau begitu, sampai jumpa Arya,” ucapnya tersenyum
Dia tiba-tiba bersinar dan menghilang sekeping demi sekeping, disaat terakhir aku memeluknya sambil menangis dan perlahan-lahan dia menghilang tak tersisa.
Saat itu aku membulatkan tekadku kemudian mengambil pedangku.
“Beraninya kau merenggut teman-temanku kali ini aku akan mengakhirimu,” ucapku.
“Aliran pedang tujuh, tebasan angin,”.
KAMAITACHI
Roarghhhhh….
Teriak Nakama itu, kemudian tubuhnya terbelah menjadi dua dan terjatuh ketanah dengan suara dentuman yang sangat keras.
Boom....
“Aku berhasil menebasnya,” ucapku tersenyum.
Selain Nakama itu terjatuh aku pun ikut terjatuh setelahnya.
__ADS_1
Bruk....
“Dengan begini aku sudah berhasilkan?” tanyaku dalam hati.
Mataku buram seluruh tubuhku rasanya mati rasa nafasku terasa sesak.
"Apakah ini akhir dari diriku?" tanyaku dalam hati.
Setelah itu aku kehilangan kesadaran. Tak lama kemudian setelah aku kehilangan kesadaran.
“Komandan kami menemukan seseorang lagi, dia mirip dengan adik komandan,” ucap seseorang.
“Tidak dia memang Arya! Arya! Arya! bertahanlah!” teriak seorang wanita.
*********************************************
“Sejak saat itu, kamu berada di rumah sakit selama sebulan ya,” ucap sosok itu.
“Yah.. jadi ada apa?” tanyaku sinis.
“Ck.. ck… kepribadianmu juga berubah, baiklah akan ada Nakama yang muncul bertingkat sama seperti waktu itu,” ucap sosok itu.
"........." aku diam mendengarkan.
“Hanya kamu yang bisa mengalahkannya atau kamu akan kehilangan seseorang lagi, yosh... aku sudah mengatakannya sekarang tinggal kamu yang menentukan, Kazekaki Arya,”ucap sosok itu.
Sringgg….
Cahaya matahari yang masuk ke kamarku membuatku terbangun.
Aku membuka mata.
"Mimpi kah?" tanyaku dalam hati
“Kenapa harus aku?” tanyaku penasaran.
Setelah itu aku bergegas mandi dan mengganti bajuku dan pergi menuju dapur untuk sarapan.
Tetapi karena perkataanya aku sedikit tidak tenang dan khawatir.
“Arya, ada apa?” tanya seseorang.
“Ah, tidak apa-pa kok ”ucapku.
Yang memanggilku saat ini bernama
Kazekaki Ria dia adalah kakak perempuanku satu-satunya. Dia kelas tiga disekolahku dia juga yang menemukanku saat itu, meskipun begitu dia adalah komandan dari pasukan T. Army Nakama sekaligus pewaris dari perusahaan itu. Kak Ria berparas cantik dengan bola mata biru dan rambut birunya sebening lautan itulah yang membuatnya jadi primadona disekolah.
“Jadi Nakama yang mucul akan berstatus apa, Arya?” tanya kak Ria.
“S+ rank,” balasku.
“Wah tebakanmu benar lagi, tapi kali ini yang menanganinya Artifaction berperingkat A,” ucap kak Ria.
“Ughuk... ughuk....” saat mendengar perkataan kak Ria membuatku tersedak, setelah itu aku bergegas minum.
“Arya kamu tidak apa-apa kan?” tanya
kak Ria
“Eh, tidak apa-apa kok, kak Ria.” balasku.
“Jadi nama seorang Artifaction itu?” tanyaku.
“Sakurane Ayana” balas kak Ria.
Brakkk….
Aku memukul meja makan dengan sangat keras.
“Arya, ada apa?” tanya kak Ria
"Kapan nakama itu muncul?” tanyaku dengan wajah khawatir.
“1 jam dari sekarang,” balas kak Ria
Aku berlari menuju kamar dengan tergesa -gesa.
“Arya tunggu, ada apa?” tanya kak Ria sekali lagi.
Aku tidak menghiraukannya dan terus berlari kekamar dan membongkar lemariku.
“Harusnya ada disini, ahh.. ketemu,” ucapku.
Aku langsung berlari keluar.
“Eh Arya, kamu mau kemana membawa
pedang itu?” tanya kak Ria.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, sampai jumpa kak Ria," balasku.
Aku bergegas berlari menuju sekolah karena kemunculan Nakama itu di prediksi akan muncul didekat sana.
“Tunggu aku, Ayana”ucapku sambil
berlari.
__ADS_1