
Di dekat pantai
Yoona : “Rumah nenek dimananya?”
Nenek itu melihat sekitar mencari-cari rumahnya. Akhirnya, ia menunjuk sebuah rumah gubuk, “Itu rumah nenek.”
Sesampainya di rumah nenek, “Terima kasih kalian berdua sudah mengantarkan nenek. Kalian anak yang baik. Nenek ada sedikit makanan untuk kalian. Kalian makan dulu ya...” ujar nenek. Yoona dan Hyeri langsung menolak, “Gak usah, nek…”
Yoona : “Kami udah makan kok tadi. Jadi, masih kenyang hehe.”
Hyeri lalu melihat sekeliling rumah nenek yang sepi, “Nenek tinggal sendiri disini?”
Nenek : “Iya, udah belasan tahun nenek tinggal sendiri disini.”
Yoona dan Hyeri berdecak kagum, “Woah…”
Hyeri : “Kalo boleh tau, keluarga nenek pada kemana, seperti suami dan anak gitu?”
Nenek : “Suami nenek udah meninggal ketika kami masih muda. Dan anak-anak pada pindah ke Seoul untuk bekerja dan berumah tangga disana…”
Yoona : “Tapi mereka masih suka kesini kan jenguk nenek?”
Nenek : “Tentu saja. Kalo cucu-cucuku libur sekolah, mereka bermain kesini…”
Yoona dan Hyeri mengangguk mengerti.
Yoona : “Apa gak ada orang jahat di sekitar sini?”
__ADS_1
Nenek tersenyum, “Tenang saja, tempat ini aman.”
Hyeri : “Kalo gitu, kami permisi dulu mau pulang.”
Yoona : “Iya, kami pulang dulu, nek.”
Cuaca yang awalnya panas, berubah menjadi mendung ketika Hyeri dan Yoona keluar dari rumah itu. Tiba-tiba nenek memanggil mereka lagi dan menghampiri, “Tunggu sebentar, siapa nama kalian?”
Yoona dan Hyeri pun memperkenalkan diri. Sang nenek mendekat lalu memegang pipi kiri Yoona, “Yoona, wajah dan hatimu benar-benar cantik. Tetaplah seperti ini dan jangan menghindari orang yang selama ini menjagamu karna nasibmu akan baik jika bersamanya.” “Orang yang menjagaku? Siapa?” tanya Yoona heran. Nenek itu tidak menjawab pertanyaan Yoona melainkan hanya tersenyum memandanginya.
Hyeri : “Nenek, bisa meramal?”
Mata nenek berpaling memandang Hyeri serta memegang tangan Hyeri dan berkata, “Ada kegelapan disekitarmu.” Hyeri terkejut, “Kegelapan? Apa nasibku akan buruk?” tanyanya penasaran. Nenek itu menggeleng, “Tidak, jangan khawatir. Seseorang akan datang menerangimu...”
Yoona : “Jadi maksudnya, ada cinta segitiga gitu?”
Nenek : “Meskipun kamu memilihnya tapi takdirmu bukan disitu.”
Hyeri : “Jadi maksud nenek, aku akan bersama orang yang memancarkan kegelapan?!”
Nenek : “Nasibmu memang kurang beruntung. Tapi… nenek punya sesuatu untukmu.”
Sang nenek lalu mengeluarkan sebuah benda yang ditutupi kain merah berbentuk seperti kantung teh celup dengan sebuah aksara mandarin diatasnya dari kantong bajunya. Ia memberikannya pada Hyeri. Hyeri menerimanya, “Apa ini?”
Nenek : “Ini adalah jimat keberuntungan. Bawalah jimat ini kemanapun kamu pergi. Maka keberuntungan akan datang padamu.”
Hyeri lalu memperhatikan jimat itu. TES! Setetes air hujan tiba-tiba jatuh dari langit membasahi jimat yang berada ditangannya. Seketika Yoona melihat ke langit, “Hah, gerimis! Kalo gitu, kami pulang dulu, nek. Ayo, Hyeri!” Yoona lalu menarik tangan Hyeri dan berlari. Sedangkan, sang nenek hanya tersenyum memandangi punggung mereka yang semakin menjauh.
__ADS_1
Yoona dan Hyeri berlari dengan cepat menuju halte bus terdekat sekalian berteduh. Tidak membutuhkan waktu lama, bus pun datang. Mereka segera menaikinya untuk pulang ke hotel tempat Yoona menginap.
Di kamar hotel Yoona
Yoona menjatuhkan dirinya di sofa, “Fiuh, kita sampai tepat waktu. Bajumu gak kebasahan kan?”
Hyeri ikut duduk di sofa satunya, “Enggak. Cuma basah dikit, nanti juga kering.”
Hyeri : “Keluargamu pada kemana?”
Yoona : “Sepertinya mereka masih jalan-jalan. Kakakku yang mengajak mama dan papaku.”
Hyeri kemudian memperhatikan lagi jimat itu.
Hyeri Prov
Apa perkataan nenek itu benar? Apa jimat ini bisa membawakan keberuntungan?
Author Prov
Rupanya Yoona melihat yang dilakukan Hyeri, “Udahlah, jangan dipikirkan. Turuti saja apa kata nenek itu, bawa aja jimat itu setiap hari.”
Hyeri : “Iya, percaya gak percaya sih…”
Hyeri lalu memasukkan jimat itu kedalam tas nya.
Yoona : “Oh iya Hyeri, menurutmu kira-kira siapa ya orang yang dimaksud nenek? Aku benar benar penasaran.”
__ADS_1
Hyeri mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu. Yoona pun mengerutkan keningnya berpikir dan mengingat pria-pria yang sedang mendekatinya saat ini.