
"Kalo kamu gak inget, aku akan mengingatkanmu." ujar L sambil mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Suzy.
Woohyun yang kebetulan sedang lewat di depan ruang musik melihat mereka berdua. Matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia lalu berteriak, "L Kim! Bae Su Ji!"
Sontak L menghentikan perbuatannya dan menoleh ke arah Woohyun. Begitu pun Suzy yang terkejut melihat Woohyun, “Woohyun…”
“Jadi ini perbuatan kalian dibelakangku?! Aku hampir gak percaya dengan apa yang kulihat barusan! L, aku udah menganggapmu seperti adikku sendiri tapi kenapa kamu merebut pacarku?! Dan kamu Suzy, kenapa berselingkuh dengan dia?! Kalian berdua menjijikkan!” marah Woohyun. Setelah mengatakan itu, ia pun pergi. “Woohyun…” panggil Suzy dengan suara gemetar. Suzy kemudian menatap marah pada L, “Ini semua gara-gara kamu. Asal kamu tau, kita gak pernah berciuman di bar!”
Suzy langsung lari meninggalkan L dan pergi mengejar Woohyun.
L jadi merasa bersalah. Ia mencengkram rambutnya, “Arrghhh… Bodoh!” ocehnya.
L Prov
Kalo bukan dia, lalu waktu itu siapa yang kucium? Seingatku cewek itu adalah Suzy… Arrghhh! Ini semua gara-gara mabuk!
Author Prov
Di depan gedung Woolem Entertainment
__ADS_1
Suzy berlari mengejar Woohyun sambil berteriak, “Woohyun, jangan pergi! Dengarkan penjelasanku dulu!” Woohyun menghentikan langkahnya. “Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semua yang kulihat sudah jelas. Mulai sekarang gak ada lagi hubungan diantara kita dan jangan mencariku lagi.” ujar Woohyun tanpa menoleh ke arah Suzy. Woohyun kemudian pergi meninggalkan Suzy yang mulai menangis.
Wang Hye Ri POV
Sore hari di jalan, aku berjalan dengan lemas sambil mengingat kembali perkataan CEO dan senior Choi. Aku benar-benar bingung dan kalut kenapa flashdisk itu bisa hilang. Aku sangat ingat bahwa aku menaruhnya di tas sepanjang malam. Bahkan ketika berangkat kerja, aku tidak membuka tasku. Salahku, kenapa aku tidak memeriksa sebelumnya sebelum berangkat kerja. Pikiranku menjadi tidak karuan dan hatiku sedih membayangkan diriku akan benar-benar dipecat. Aku harus bilang apa ke mama jika sampai itu terjadi? Aku memandang langit yang mendung seolah-olah langit juga mendukung suasana hatiku saat ini. Semua orang pada masuk kerumahnya karena sepertinya hujan akan turun, meninggalkanku sendirian di jalan sempit ini.
Benar saja, gerimis mulai turun seiring dengan air mataku yang menetes dari pelupuk mataku. Tanpa kusadari, air mataku dalan sekejap sudah membanjiri pipiku. Aku menangis sesenggukan ketika hujan mulai turun lebat membasahi tubuhku.
Tiba-tiba seorang pria berdiri disampingku, memayungiku menggunakan payung hitamnya. Aku menghentikan tangisku dan menoleh ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku memperlihatkan lesung pipinya dikedua sisi. Aku terkejut ketika melihat pria itu mirip dengan seseorang yang kukenal. Kulihat pria itu dengan saksama. Apa aku salah lihat? Atau aku sedang bermimpi? Pria itu terlihat seperti L hanya saja ada sedikit perbedaan pada penampilannya. Setidaknya, ia tidak berpakaian serba hitam. Ia memakai kaos putih dengan jaket kain hitam diluarnya, celana jeans hitam pekat, dan sepatu kets putih bercorak hitam. Wajahnya juga terlihat lebih ramah dan tidak ada eyeliner dimatanya seperti L. Aku mengucek-ngucek mataku apa benar aku melihat L. Aku pun menutup mata sejenak lalu membukanya kembali. Ternyata penglihatanku benar, dia memang L.
Pria itu menatapku dengan bingung seraya bertanya, “Rumahmu dimana?”
“Disana.” jawabku sambil menunjuk ke arah rumahku yang memang dekat dari jalan ini.
Aku mengangguk pelan. Dalam perjalanan, aku terus meliriknya. Pikiranku merasa dia adalah L, tapi hatiku merasa dia bukan L. Bicaranya juga sopan, tidak seperti L. Apa mungkin dia bukan L? Mungkin saja wajahnya hanya kebetulan mirip.
“Kenapa kamu terus memandangiku? Ada yang salah dengan wajahku?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menjadi salah tingkah. Kuseka air hujan yang ikut membasahi pipiku tadi.
__ADS_1
“Enggak. Hanya… kamu mirip dengan seseorang yang kukenal…” jawabku.
“Bukankah kita memang saling mengenal?” tanyanya lagi.
Aku sontak terkejut, “Kamu L?”
Pria itu hanya tersenyum memandangku.
Aku bertanya sekali lagi, “Kamu beneran L? Kenapa… kamu beda banget? Penampilanmu…”
Ia tetap tidak menjawab pertanyaanku dan lagi-lagi hanya tersenyum.
Kami berjalan kembali. Tidak terasa kami sudah sampai dirumahku bersamaan hujan yang juga sudah berhenti. Ia kemudian meletakkan payung hitamnya di teras rumahku. “Kalo gitu, aku pergi dulu…” pamitnya padaku. Aku mengangguk sambil berucap, “Hati-hati.”
Aku pun juga ingin segera masuk kerumah, tubuhku sudah kedinginan karena hujan tadi.
Tapi langkahku terhenti ketika melihat payung hitamnya yang masih tergeletak di teras rumahku.
Aku segera pergi ke jalan sambil membawa payung itu bermaksud untuk mengembalikannya.
__ADS_1
Namun, pria itu sudah tidak terlihat lagi.