
Bumi, Desember 2019
Jalanan terasa jauh, setiap langkah yang ku lalui juga terasa sangat berat, kakiku melangkah perlahan dengan setiap langkah yang sangat menyakitkan
'Beruntung aku bisa menutupi lukanya dengan cepat, sekarang yang terpenting aku harus sampai ke sana dulu'
Di sepanjang jalan, setiap melalui orang aku merasa seperti mereka semua terus menatap ke arahku namun aku tak ada waktu untuk memikirkan alasan mereka menatapku tujuanku sekarang lebih penting dari pada diriku sendiri
'Ahh... aku rasa aku sudah tak sanggup lagi berjalan, sebaiknya aku memanggil taksi saja'
setelah berhenti berjalan, aku terus melihat ke kiri dan kanan jalan, berharap ada taksi yang bisa aku panggil
setelah tak berapa lama aku melihat taksi dan langsung saja aku mengangkat tanganku searah dengan bahuku dan sedikit melambaikannya untuk memberikan isyarat kepada supir taksi tersebut
supir taksi yang melihatku langsung berhenti tepat di depanku, aku langsung membuka pintu bagian belakang dan masuk begitu saja
'Aahhh, rasanya sangat enak ketika duduk'
kakiku yang terlalu lelah sekarang terasa sangat nyaman karena setelah sekian lama berjalan akhirnya bisa beristirahat
"Tujuannya mau kemana kak?"
"Aku mau ke-"
'Ehh, aku mau kemana?'
'Sebenarnya aku mau kemana? apa yang sedang kulakukan?'
'Siapa aku sebenarnya?'
"Bukankah kau selalu begitu, bertindak sendiri tanpa memikirkan akibatnya"
Tanpa sadar sekarang aku tiba-tiba berada di tempat yang sangat gelap sampai-sampai aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa
"Sudah kubilang untuk mengikuti perintahku saja"
"Suara ini... Ahhh--" Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit
"Kenapa?, kau seharusnya ikut bersamaku?"
"Berhentilah"
"Kau punya hati yang indah"
"Berhentilah"
"Kau tidak akan pernah bisa berubah"
"Berhentilah"
"Kau tau berapa banyak orang yang harus dikorbankan untuk impian ini?!"
"Berhentilah"
"Aku kan sudah berjanji, untuk menolongmu"
"Berhentilah"
__ADS_1
"Tindakanmu ini sia-sia, menyerahlah"
"berhentilah"
"Kau selalu nekat, tapi kami kami akan selalu mengikutimu, kapten"
"Berhentilah"
"Ini semua terjadi karena pilihanmu"
"Berhentilah"
"Kapten, kau adalah harapan kami, kau adalah cahaya kami, kami akan selalu ada bersamamu"
"Berhentilah!"
"Pada akhirnya hanya tersisa kau sendirian... lagi"
"Kumohon...... berhentilah!!"
Seiring dengan suara-suara yang kudengar kepalaku terasa semakin sakit, rasanya seperti di tusuk-tusuk, setiap suara aku merasakan kepalaku di tusuk dengan jarum-jarum tajam yang menembus sampai ke tengkorak kepalaku
"Kakak, dunia ini sepertinya tidak cocok untukmu, aku harap kakak mendapatkan kebahagiaan di duniamu yang selanjutnya"
Rasa sakit di kepalaku yang membuatku terasa hampir mati tiba-tiba saja hilang dan dari kejauhan aku melihat cahaya yang semakin terang dan semakin terang sampai ketika cahaya itu menerangi semua tempat gelap ini
Dan ketika cahaya itu sampai kepadaku terasa kehangatan yang terasa sangat nyaman dan menenangkan
"Kakak" seiring dengan suara itu aku merasa seolah ada telapak tangan yang menyentuh pipiku
'Rasanya seperti aku mengenali kehangatan ini, entah di mana dan kapan namun aku rasa aku pernah merasakan ini sebelumnya'
'Aku rasa.. tidur sebentar tak masalah'.
.
Shava, 22 Agustus 810 Tahun Pembebasan
Shava merupakan sebuah dunia yang dikelilingi oleh 3 bulan, tempat terhamparnya daratan yang indah dan hijau serta lautan biru yang luas namun itu hanya sebagiannya saja karena di seberang benua hanya ada daratan tandus tanpa kehidupan sama sekali tanpa air atau apapun, hanya daratan.
Hutan besar Edha merupakan hutan suci yang sangat luas, Hutan Edha yang di anggap tempat suci sendiri tidak bisa di masuki oleh sembarang orang, hanya orang-orang yang mendapatkan izin dari sang Kaisar kekaisaran Chlaisteins yang dapat memasuki hutan suci tersebut
Hutan besar Edha di jaga oleh prajurit kekaisaran di setiap sudutnya agar benar-benar memastikan bahwa tidak ada yang berani mencoba masuk tanpa izin
Di dalam Hutan besar Edha ada sebuah gua yang sangat dalam di sana ada beberapa ekor tikus yang sedang menggigit tangan seorang anak yang terbaring tak sadarkan diri, entah apa yang terjadi pada anak itu namun sekarang dia berada di sana, seperti bangkai yang akan di makan oleh binatang, dia memiliki pakaian yang bagus walaupun kotor sepertinya karena terjatuh namun dapat dilihat dari pakaiannya setidaknya dia seorang bangsawan
Di dalam Hutan Besar Edha, 1 menit sebelumnya
Terlihat dari luar gua ada dua orang wanita cantik yang sedang berjalan ke arah gua tersebut, mereka memakai pakaian yang agak aneh karena hanya terpaku pada satu warna dan seolah mengeluarkan cahaya yang lumayan terang
Satu memakai pakaian berwarna biru muda dengan tubuh yang langsing dan kulit putih serta rambut pendek berwarna biru muda juga terlihat sangat menawan untuknya, yang satunya sedikit lebih tinggi darinya dia memakai pakaian berwarna kuning yang sedikit lebih terbuka dibanding orang disampingnya, pakaian itu memperlihatkan lekukan tubuh coklatnya yang indah dengan sangat sempurna di tambah dengan rambut pirang panjang yang bergelombang miliknya
Wanita itu terus menatapi temannya yang berada disampingnya tersebut dengan tatapan yang agak aneh dan sedikit menakutkan
“Kau tau Iris aku tak akan segan-segan menenggelamkan seluruh tubuhmu kalau kau mencoba menyerangku lagi dengan kekuatan spiritmu seperti terakhir kali"
Mereka berdua adalah Spirit yang tinggal di dalam hutan besar Edha yang sekaligus menjaga kesucian hutan besar Edha dari para monster
__ADS_1
“Hee.. Kenapa? kau sangat tidak asik sekali Elen, padahal kakakmu yang cantik ini ingin me-nga-ja-ri-mu loh”
Sambil menggoda Elen, Iris mendekatkan wajahnya dan membisikan beberapa kata kepadanya, wajah Elen terlihat memerah dan Iris menyadari triknya itu berhasil
“Haaahhh, sayang sekali Elen kau tidak tau senangnya memiliki seorang laki-laki”
Elen semakin memerah namun kali ini dia terlihat sangat marah, seperti luapan emosinya akan meledak dan membanjiri seluruh hutan, namun tak sepertinya tak ada yang akan terjadi karena dia lebih memilih untuk mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas beberapa kali
“Aku menolak untuk berkontrak dengan seseorang yang lebih lemah dariku”
“karena prinsipmu itu kau tidak memiliki pengalaman apapun Elen, kau harusnya sadar bahwa tidak mungkin ada pemanggil yang dapat menandingi kekuatan spirit, karena itulah kita dipanggil untuk membantu mereka”
“tetap saja----”
Mereka berdua yang tadinya sangat santai tiba-tiba menjadi tegang seolah ada sesuatu yang membuat mereka sangat waspada, mereka terlihat merinding dengan apa yang mereka rasakan, jika mereka bisa pastinya mereka sudah berkeringat sampai membahasi seluruh tubuh mereka
Seolah bahaya menghantam mereka dengan sangat kuat, membuat tubuh mereka kaku tidak bisa bergerak, bahkan jika mereka bisa mereka tak akan bergerak karena mereka merasa mereka akan mati dalam sekejap jika mereka mencoba untuk bergerak
Mereka terdiam selama beberapa detik sampai tiba-tiba keluar cahaya dari tubuh mereka berdua, cahaya tersebut merupakan sihir pasif dari seorang Spirit yang dapat menghilangkan semua efek buruk yang mereka terima
"Aura yang sangat mengerikan, bahkan membuat sihir pasif kita hanya dapat bereaksi beberapa detik kemudian"
“Sepertinya aura yang mengeluarkan tekanan itu muncul dari gua itu” Kata Iris sambil menunjuk ke arah sebuah gua yang berada tak jauh di depan mereka
“Ya aku juga yakin tentang itu, aku akan memeriksanya dan kau akan melaporkan hal ini kepada ratu”
“Apa kau gila? Kita berdua harus kembali terlebih dahulu” Iris menantang keputusan Elen dengan wajah yang agak panik dan ketakutan
Wajar saja jika dia merasa seperti itu, Aura yang mengeluarkan tekanan yang sangat kuat pasti datang dari makhluk yang sangat berbahaya karena Aura sendiri tidak dapat di palsukan
“Tidak, makhluk yang mengeluarkan aura tersebut ada di sini, di hutan ini, kalau dia tiba-tiba berpindah dan menyerang hutan bagaimana? Aku harus menghentikannya sekarang, dan kau memiliki elemen petir sehingga kau dapat bergerak dengan cepat jadi masuk akal kalau aku yang harus menahannya dan kau harus menyampaikan ini kepada ratu”
Elen menjawab dengan jawaban yang masuk akal namun sebenarnya dia juga ketakutan bahkan lebih ketakutan dari pada Iris karena dia memilki sense yang lebih kuat dibanding Iris, rasa takutnya itu sampai-sampai membuat tangannya sendiri tak berhenti gemetaran, namun rasa takut itu tak mengurangi tekadnya untuk melindungi Hutan besar Edha
“Tapi aku kakakmu, aku tak ingin kehilangan adikku, aku takut kalau terjadi sesuatu kepadamu”
“Tenang saja aku kuat dan kau yang paling tau hal itu, aku pasti akan bertahan, aku juga memiliki elemen air dengan area serangan yang luas dan juga kuat, selain itu aku dapat menyembunyikan diriku di dalam air tak perlu khawatir aku pasti dapat bertahan sampai kau kembali”
“Baiklah aku mengandalkanmu, berjanjilah kau akan tetap hidup sampai aku kembali”
“Baiklah, aku berjanji”
Setelah itu mereka berpisah, Iris dengan cepat melaju ke arah kediaman para spirit sedangkan Elen dengan gemetar melanjutkan langkahnya walaupun sudah tidak ada aura tersebut dia masih bisa merasakan ketakutan yang mengalir di seluruh tubuhnya
'Sialan aku bahkan masih takut sampai sekarang'
Elen bergumam namun dengan berhati-hati dia terus melanjutkan langkah kakinya sampai akhirnya dia berada di depan gua, dia merasakan hawa mencekam ketika melihat ke dalam padahal dia sudah sering memasuki gua ini namun ini pertama kalinya dia merasakan hal tersebut
“Ya sepertinya pemilik aura tersebut ada disini”
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Elen berjalan masuk memasuki gua yang gelap dan dalam tapi tentu saja itu tak berpengaruh kepadanya karna salah satu kemampuan dari mata spirit adalah "Night Vision" yang membuat mereka dapat melihat dalam gelap, setelah beberapa lama berjalan dia tak menemukan apapun yang dia lihat hanyalah beberapa mayat tikus dan binatang kecil lain
“Sepertinya mereka mati setelah ketakutan akibat tekanan dari aura yang muncul tadi”
Elen melanjutkan perjalanannya yang sudah cukup dalam dia terus masuk namun tak melihat apa-apa sampai pada akhirnya dia melihat sesuatu di kejauhan
“Apa itu?”
__ADS_1
Elen langsung mendekati sesuatu yang dia lihat itu, Elen terus mendekat dengan hati-hati setelah sangat dekat dia terkejut karena itu adalah seorang manusia dan lebih lagi dia hanyalah seorang anak-anak
'Hah? Manusia'