
Kota Leonidas, 10 Februari 825
"Dahulu kala ketika alam semesta masih berupa kehampaan tidak ada apapun di dalamnya, perasaan kesepian di dalam alam semesta akhirnya mewujudkan dirinya menjadi suatu sosok kehidupan pertama yang bernama The Darke---"
Belum selesai pengemis itu berbicara dia langsung terdiam setelah melihat Aldrich memberikannya dua koin emas ke dalam topinya, dengan wajah terkejut dia langsung memeriksa dua koin emas dari dalam topinya itu dan langsung memegang kedua koin itu erat-erat
"Gunakanlah uang itu dengan baik, setidaknya bapak bisa menyewa penginapan dan memulai suatu usaha kecil dengan itu"
Karena pria itu adalah seorang pengemis maka sudah jelas kalau dia tidak memiliki rumah dan harus hidup dan tidur di jalanan, dan dengan dua koin emas itu setidaknya dia bisa hidup hampir sebulan dengan menyewa penginapan karena biaya penginapan adalah 4 koin tembaga, dengan sekaligus biaya makan untuk 2x sehari
Jika dia bisa menggunakan uang itu dengan benar setidaknya dia bisa membeli beberapa perlengkapan menengah yang melindunginya jika dia ingin bekerja sebagai petualang
Tugas utama petualang memanglah memburu dan membunuh monster namun bukan berarti tidak ada tugas lain yang bisa dilakukan, petualang kelas terbawah biasanya sering menerima misi untuk sekedar mencari tanaman obat, setidaknya uangnya cukup untuk dia membayar penginapannya
Setelah menerima uang dari Aldrich pengemis itu langsung pergi dari tempat itu, dia berlari sambil memegang erat dua koin emas itu dengan kedua tangannya. Sementara Aldrich dan Irene duduk di kursi panjang yang ada di sana
Irene masih larut dalam pikirannya sendiri, dan Aldrich terus memperhatikan Irene, biasanya Irene akan sadar kalau dirinya sedang dilihat oleh Aldrich namun kali ini dia benar-benar hanyut dalam pikirannya sendiri
Selema beberapa menit mereka hanya diam-diaman saja, banyak orang yang berjalan dan melihat terkadang melihat ke arah mereka, sampai akhirnya Aldrich sudah memutuskan untuk berbicara
"Irene, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Namun Irene benar-benar tidak menjawab jadi Aldrich menyentuh lengan baju Irene sambil sedikit menariknya
"Irene"
Seketika Irene tersadar dari lamunannya, Dia langsung menjadi gugup dan gelagapan
"I-iya"
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Irene hanya menunduk diam, dia tidak berani mengatakan apapun kepada Aldrich namun dia juga tidak berani untuk berbohong jadi dia hanya menunduk saja
__ADS_1
"Kau tau aku sendiri bukanlah seseorang yang bisa melakukan segalanya namun jika ada yang bisa aku lakukan untukmu maka aku siap melakukannya"
Setelah mendengar perkataan Aldrich, pikiran Irene mulai luluh dia ingin berbicara namun masih ada sesuatu yang mengganggunya, sehingga sikapnya saat ini seperti orang risih, Aldrich yang menyadari ini langsung melanjutkan perkataannya
"Tak masalah jika kamu tidak ingin membicarakannya sekarang, katakanlah ketika kamu merasa kamu siap untuk mengatakannya, aku siap mendengarkannya"
Setelah mendengar perkataan Aldrich, Irene mulai merasa kalau dia harus mengatakan apa yang saat ini mengganggu pikirannya, dia memegang pakaian Aldrich dan dengan tetap menundukkan wajahnya dia mulai mencoba untuk berbicara
"A-Aku tak merasa pantas menjadi tuanganmu, ketika wakil master menara menyebutkan kehebatanmu aku merasa... Aku sangat tidak pantas untuk bisa bersamamu... Na-namun aku ingin bersamamu, aku takut berpisah.... A-Aku takut jika kamu tidak membutuhkanku"
Aldrich sendiri lumayan terkejut bukan karena apa yang dikatakan Irene tapi dengan keadaan Irene yang bisa mengatakan perasaannya dengan jelas kepada Aldrich meski dalam keadaan gugup dan takut
'Aku sudah menduga kalau Irene bisa menjadi sedikit lebih terbuka namun apa yang disampaikannya lebih dari perkiraanku, apakah ini berasal dari perasaan ketakutannya itu sehingga dia mengeluarkan segalanya...'
Setelah mengatakan itu Irene mulai menangis, Aldrich mengambil sapu tangannya dan menghapus air mata Irene dengan itu, dia memegang pipi Irene sambil mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu
"Kamu tidak perlu menjadi hebat untuk menjadi bisa terus bersamaku karena aku menyukai kamu yang seperti ini"
"Wow sungguh perkataan yang luar biasa, hanya dengan beberapa kata-kata kau bisa memanipulasi pikiran seseorang"
Suara orang itu berasal dari belakang Aldrich dan ketika mendengarnya Aldrich terkejut karena dia tidak merasakan keberadaan siapapun di belakangnya, dan seketika dia tersadar Irene dan segala hal yang berada di sekitarnya terhenti, bahkan di ujung jalan dia melihat ada seorang anak kecil yang hampir terjatuh sedang melayang di udara
Dia tidak bisa menggerakkan seluruh anggota badannya hanya mata dan mulutnya saja yang dapat dia gerakkan. Pemilik suara itu berjalan ke arah Aldrich, dari sudut matanya Aldrich melihat wujud pengemis tadi
"Kau?"
"Bukan, aku bukanlah orang ini, aku hanya meminjam tubuhnya sebentar"
"Lalu siapa kau?"
"Aku...hmmm.. Entahlah, aku mendapat banyak nama seperti The One, Absolute Being, The Creator, The Brightest Light, Absolute Ruler, Balance Keeper dan beberapa nama lain namun jika menyesuaikan dengan manusia,... mereka sering menyebutku sebagai..... "God (Tuhan)", kau bisa memanggilku Light"
"God? lalu apa perlu apa seorang Absolute mendatangiku?"
__ADS_1
"Aku kemari untuk menyerahkan sesuatu yang aku ambil darimu, karena sebentar lagi kau akan memerlukannya"
Light lalu mengulurkan tangan kirinya ke dada Aldrich, sebuah cahaya terang muncul dari sana dan setelah selesai dia menarik kembali tangannya dan berjalan meninggalkan Aldrich
"Tunggu! Tunggu sebentar"
"Hmm... ada apa?"
"Jika kau adalah God, maka kau pasti tau apa sebenarnya aku ini?"
"Tentu saja aku tau, karena akulah yang menciptakanmu meski kau tidak berasal dari kekuatanku, kau adalah makhluk istimewa satu-satu keberadaan di alam semesta dengan keistimewaan"
Ketika mendengar perkataan Light, Aldrich langsung marah dia menggertakkan giginya
"Apanya yang istimewa, semua ini adalah kutukan, apa kau tau seberapa banyak rasa sakit yang aku alami karena ini?! Hah?! apa kau tau?!"
"Tentu saja aku tau karena aku selalu mengawasimu"
Aldrich terdiam meski dikendalikan oleh amarahnya, dia masih bisa merasakan kata-kata Light yang terasa kesedihan luar biasa di dalamnya
"Namun kamu harus melanjutkannya hingga suatu hari nanti kamu menyadari segalanya, kalau begitu sampai jumpa"
Setelah itu semuanya kembali normal, waktu kembali berjalan dan semuanya kembali seperti keadaan semula, Aldrich menunduk dan melihat telapak tangannya
"Tuan apa anda baik-baik saja?"
Tiba-tiba Reina muncul di depan Aldrich, saking memikirkan apa yang sedang terjadi Aldrich sampai tidak menyadari lagi kalau Reina sudah berada di depannya, sementara Irene yang masih tersipu malu karena kata-kata Aldrich tadi masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya, dia juga terkejut ketika Reina muncul di depannya
"Ya, ya aku tidak apa-apa"
"Kalau begitu mari kita pulang"
"Iya, mari kita pulang"
__ADS_1