Tidak Sengaja Bermain Api

Tidak Sengaja Bermain Api
POV Daniel


__ADS_3

Seseorang yang memutuskan untuk berumah tangga, pasti mendambakan kehadiran seorang anak. Begitu juga dengan aku. Namun bagaimana jika aku divonis mandul?


Mandul...


Itu menjadi momok dalam beberapa hari terakhir sebelum aku memutuskan untuk mengajak Aulia berkonsultasi ke dokter yang memeriksakan kesuburan kami berdua.


Lima tahun pernikahan, Aulia belum menunjukkan tanda-tanda bahwa akan ada kehidupan baru di dalam dirinya.


Itu membuat jiwa ke laki-lakianku merasa ragu terhadap kualitas yang aku miliki. Di tambah, aku sering membahas tentang kesuburan bersama dengan rekan-rekan pria ku yang lain.


"Jangan takut untuk memeriksakan diri ke dokter." Ucap rekan kerja ku bernama Diki.


"Benar, apapun hasil dari dokter. Aku harap hasilnya akan sesuai dengan harapan kalian berdua." Imbuh Joni.


"Aku hanya takut jika ternyata antara Aku dan Aulia, yang mandul adalah aku." Ucapku.


"Bersabarlah. Tak perlu emosi. Terimalah apa adanya . Pada saat seperti itu, tak selayaknya jika kamu marah-marah atau menyudutkan diri kamu sendiri."


"Bener, kalau memang kamu mandul. Kamu perlu besarkan dan kuatkan hati."


"Aku tahu, tapi bagaimana caraku berhadapan dengan Aulia ketika hasil pemeriksaanku benar-benar di luar harapan?" Ucapku.


"Bicara dengan penuh kelembutan. Vonis mandul itu sangat menyakitkan, tapi aku yakin dokter pasti akan memberikan solusi yang terbaik untuk kalian berdua yang emang benar-benar ingin berikhtiar mendapatkan anak."


"Aku setuju dengan Diki. Lebih baik sekarang kalian memeriksakan diri kalian sebelum memutuskan langkahnya akan kalian ambil." Ucap Joni.


Berbekal dari semangat para teman-temanku itulah, aku akhirnya meminta Aulia untuk mencarikan jadwal kami berkonsultasi dengan dokter.


Saat aku memasuki ruangan dan dokter mulai memeriksa tentang kondisi ku. Aku menangkap ekspresi yang terkejut dari dokter itu.


Aku sudah menikah bahwa selama ini masalah ada pada diriku.


Dokter kemudian memberikanku beberapa resep yang harus aku tebus dan minum secara rutin sebelum melakukan pemeriksaan untuk yang kedua kalinya.


Minggu berikutnya, aku memutuskan untuk memeriksakan diri sendiri karena aku merasa bahwa hasil pemeriksaan dari Aulia baik-baik saja


Di saat aku dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan tes kesuburanku, sekaligus merasa bahagia karena aku mengetahui jika Aulia hamil. Apalagi, dokter yang memeriksa keadaan Aulia mengatakan jika istriku itu sudah hamil dan kehamilannya berjalan dua bulan.


Aku sangat bahagia, karena ternyata Tuhan menjawab doa-doa aku. Aku tidak lagi mempermasalahkan hasil pemeriksaan itu. Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk datang ke rumah sakit dan mengambil hasil pemeriksaanku.


Aku merasa sangat bahagia sehingga keesokan harinya, aku membagikan bonus kepada seluruh karyawanku.

__ADS_1


"Aulia, terima kasih karena sudah menjadikanku sebagai calon ayah."


"Sayang, Bukankah ini memang sudah menjadi impian dari kita berdua?"


"Benar, hanya saja aku harus berterima kasih kepadamu karena dari awal kamulah yang mengatakan kepadaku agar kita bersabar. Dan sekarang Tuhan sudah menjawab doa-doa kita dan menghadiahi rasa sabar kita dengan kehamilan mu ini." Ucapku yang terus-menerus memberikan kecupan mesra pada Aulia.


Satu Minggu...


Aku memutuskan bahwa dalam satu minggu ini aku dan Aulia tidak akan pergi kemanapun.


Aku dan Aulia memutuskan untuk berada di rumah, beristirahat dan menikmati kabar bahagia yang sedang datang dalam rumah tangga kami di tahun kelima.


Aku begitu menikmati momen kebersamaanku dan Aulia, Aulia juga terlihat semakin manja, itu membuatku merasa bahwa aku perlu melimpahkan seluruh kasih sayangku kepadamu.


"Sayang, aku sangat bahagia."


"Sayang, kamu sudah mengucapkan kata itu lebih dari 1000 kali dalam beberapa hari."


"Entahlah, Aku merasa bahwa aku perlu selalu mengucapkannya setiap kali aku melihatmu."


Aku kembali memeluk istriku dengan penuh cinta dan kebahagiaan.


Tuhan, semoga rumah tanggaku akan selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan dan dijauhkan dengan hal yang tidak aku inginkan.


...----------------...


Aku bergegas mendatanginya untuk mencari tahu apa yang membuatnya terkejut setelah membaca paket yang dia terima.


"Sayang, ada apa? kenapa wajahmu terlihat tegang saat kamu menerima surat ini?" ucapku.


Aulia kemudian menyerahkan surat yang berisi undangan pernikahan Brian dan Sinta.


"Brian? siapa dia?"


"Dia adalah desainer pribadi ku. Apa kamu ingat jika aku pernah mengatakan bahwa aku menemukan seorang desainer yang tidak ingin namanya dikenal oleh publik, tapi hasil desainnya bahkan terpajang di butik-butik besar dan ternama?"


"Ya aku ingat, lantas kenapa kamu terkejut saat menerima undangan pernikahan ini?"


"Ya, aku terkejut karena selama ini aku mengetahui jika dia tidak menyukai wanita. Saat aku menerima surat undangan yang berisikan namanya, Tentu saja aku terkejut dan bertanya-tanya apakah benar Brian ini adalah Brian yang sama yang menjadi desainer pribadi ku."


"Hahaha, Aulia, Aulia, Kamu itu lucu sekali, memangnya kenapa jika dia menikah. Bukankah dia juga seorang laki-laki, aku rasa seorang laki-laki normal pastilah ingin menikah dan menikmati surga dunia."

__ADS_1


Aulia hanya tersenyum, aku lalu mengajaknya masuk untuk beristirahat. Aku tidak ingin Aulia merasa kelelahan.


Ya walaupun tindakanku cukup dikatakan berlebihan, setidaknya inilah bentuk cinta dan perhatianku kepadanya.


Bunyi ponsel yang terus-menerus berdering menandakan bahwa ada masalah yang terjadi di Perusahaan.


Mau tidak mau akhirnya aku harus meninggalkan Aulia sendiri, karena aku harus mengurus masalah yang terjadi di perusahaan.


Sesampainya di perusahaan, aku terkejut saat mendapati sosok yang amat aku kenal.


Rupanya, ponselku yang terus berdering itu karena ulahnya.


"Ulfa?"


Aku benar-benar terkejut melihat Ulfa, cinta pertamaku saat aku duduk di bangku SMA. Sekarang berada tepat di hadapan ku.


"Wah, Aku tidak menyangka jika kamu benar-benar memimpin perusahaan ini dengan baik. Maaf, karena aku harus menggunakan telepon kantor untuk menghubungimu. Aku tidak mau istrimu merasa curiga."


"Ulfa, ada urusan apa kamu datang ke sini? bukankah kamu sudah menetap di Negara A?" Tanyaku sambil mempersilahkan Ulfa untuk duduk setelah aku menelpon OB untuk membawakan dua minuman dan beberapa cemilan.


"Aku sudah selesai dengan kontrak ku sebagai seorang model, aku juga sudah bosan berada di A jadi aku memutuskan untuk kembali ke sini. Sayang nya, aku tidak memiliki teman di sini. Jadi aku memutuskan untuk mendatangimu."


"Kenapa aku tidak yakin dengan alasanmu kembali ke sini?"


Untuk sesaat aku melihat Ulfa terdiam sebelum akhirnya dia bangkit dari tempat duduknya dan menatap padatnya ibukota dari jendela ruangan ku.


"Kamu bener, aku kembali bukan karena aku merasa bosan berada di A. Tapi aku dan keluargaku diusir dari sana."


"Kenapa?"


"Aku menikahi pria berkebangsaan A. Dan apa kamu tahu, jika seorang wanita tidak dapat memberikan keturunan sebagai pewaris keluarga pria. Wanita itu dianggap aib dan harus diusir dari sana."


"Jadi?"


"Ya, aku dan keluargaku diusir yang tidak diperbolehkan lagi tinggal di negara A."


Deg !!


Ya Tuhan Ulfa. Berat sekali ujian yang sedang kamu alami. Seandainya saja dulu kamu mau menerima lamaran ku. Mungkin sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri yang bahagia.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2