Tidak Sengaja Bermain Api

Tidak Sengaja Bermain Api
Ternyata Yudi


__ADS_3

Daniel yang baru saja kembali, memutuskan untuk langsung ke kantor Aulia untuk memberikan kejutan.


Rasa rindu karena Daniel baru bisa pulang seminggu setelah nya, membuatnya tidak bisa menunggu Aulia di rumah.


Total 2 minggu Daniel meninggalkan Aulia. Wajar saja jika rindu sudah sangat menggebu-gebu di dalam hatinya.


Dengan perlahan Daniel memasuki ruangan Aulia. Dia tersenyum sekaligus bahagia saat melihat Aulia masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Udah sore masih ngantor aja."


Aulia yang sedang fokus menyelesaikan pekerjaan nya, terkejut saat mendengar suara yang tidak asing di telinga nya.


"Daniel..?"


Aulia segera menutup laptopnya dan hendak berlari.


"Hei ingat, kamu sedang membawa bayi."


"Ups, maaf."


Aulia akhirnya hanya diam di tempat dan menunggu Daniel menghampirinya. Keduanya saling berpelukan.


"Aku merindukanmu, kamu pasti sangat bersenang-senang di sana," ucap Aulia.


"Yaa sedikit, tapi kamu tahu jika aku tidak akan pernah merasa bahagia sebelum aku memelukmu seperti ini," ucap Daniel.


"Bagaimana jika kita melanjutkan pelukan ini di kamar?" bisik Aulia.


"Kamu memang sangat nakal." Ucap Daniel sambil tersenyum dan menggendong Aulia menuju kamar yang ada di ruangan itu.


Dua insan yang sempat terpisah selama beberapa hari itu, melampiaskan rasa rindu dengan bermandikan keringat.


Sementara itu, di sisi lain...


Brak !!


Seseorang. Tepatnya pria yang sedang duduk di kursi roda, sedang menggebrak meja sebagai tanda rasa kesalnya.


"Ini sudah hampir 10 tahun tapi kamu belum berhasil juga mengambil alih perusahaan itu."


"Maafkan aku, Papa. sangat sulit untuk menjatuhkan Aulia. Aku sedang berusaha mencari kesalahannya agar rumah tangganya bisa retak. Keretakan rumah tangga Aulia dan Daniel akan menjadi jalan terbaik untuk aku bisa mengambil alih perusahaan."


"Hah, kenapa kamu selalu memberikan alasan aku seperti itu. Pernikahan yang baru seumur jagung, seharusnya bisa dengan mudah kamu memasukkan sesuatu sehingga keretakan di dalam rumah tangga mereka bisa segera terjadi."


"Aku sudah melakukan nya, Papa hanya perlu menunggu agar rencana yang sudah aku tata dengan rapi berjalan dengan lancar."


"Aku sempat mencium ada yang tidak beres dengan Aulia. Namun, saat aku menempatkan orang untuk memata-matanya. Orang tersebut tidak mendapatkan informasi apapun yang mencurigakan dari Aulia."


"Itu membuatku berpikir jika Aulia memang bersih dan dia tidak pernah bermain apapun di belakang."

__ADS_1


"Jika memang Aulia sangat sulit untuk dihancurkan secara langsung, kenapa kamu tidak menghancurkan dari pihak yang lain?"


"Itulah yang sedang aku lakukan. Papa tenang saja. Aku pasti akan bisa untuk mengambil alih perusahaan itu."


Pria yang duduk di kursi roda. Adalah Danang, papa dari Yudi.


Danang menyimpan dendam terhadap keluarga Aulia. Bukan keluarga, tepatnya kepada perusahaan Aulia.


Perusahaan yang dulu dipimpin oleh almarhum Ayah Aulia, selalu memenangkan Thunder dan persaingan bisnis di manapun. Itu membuat tingkat kebencian dari Danang semakin tinggi.


Dia berulang kali mencoba untuk menghancurkan bisnis yang sedang berkembang dengan pesat yang bisa jadi menjadi perusahaan terbesar di negara itu, namun percobaannya selalu gagal.


Itulah kenapa, dia memutuskan untuk memasukkan Yudi ke dalam lingkaran keluarga Aulia, agar kelak Yudi bisa membuat bisnis keluarga Aulia hancur.


Yudi mendorong sang ayah dan memintanya untuk beristirahat di dalam kamar.


Yudi sering mengunjungi sang ayah akhir-akhir ini, karena Yudi yang masih belum bisa mengambil alih perusahaan milik keluarga Aulia.


Yudi terlihat mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Bagaimana? sudah sejauh mana pekerjaan kamu?"


"-----"


"Bagus, lakukan segala cara untuk memikat hatinya."


Yudi melihat ke arah jam tangannya Dan dia memutuskan untuk kembali ke perusahaan.


Daniel terkejut karena melihat cairan merah tiba-tiba keluar dan membasahi kaki Aulia.


Dengan cepat, Daniel menggunakan pakaiannya dan menutupi tubuh Aulia sebelum menghubungi Anita.


Anita yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju kantor Aulia, segera mempercepat laju mobilnya agar dia segera sampai begitu mendengar kabar bahwa Aulia mengeluarkan cairan berwarna merah.


Anita yang baru saja sampai, memutuskan untuk segera naik kereta dan masuk ke dalam ruangan.


Daniel terlihat panik dan langsung meminta Anita untuk memeriksa Aulia.


"Apa yang terjadi?" tanya Anita sambil mulai membuka peralatan yang biasa digunakan untuk memeriksa seseorang.


"Aku tidak tahu, kami hanya melakukan beberapa ronde..."


Anita yang akan mulai memeriksa Aulia, langsung berhenti dan memberikan tatapan tajam Daniel.


"Daniel, seharusnya kamu berkonsultasi dengan dokter jika kamu ingin melakukannya di saat Aulia hamil pada trimester pertama."


"Apakah bahaya?"


"Sangat berbahaya, hal itu juga bisa menyebabkan keguguran."

__ADS_1


"Astaga, apa yang harus aku lakukan?"


"Kondisi Aulia sekarang cukup lemah, lebih baik sekarang kita membawanya ke rumah sakit agar Aulia segera mendapatkan pertolongan yang lebih baik."


Daniel segera menggendong tubuh Aulia setelah Anita membenarkan selimut yang menutupi Aulia.


Daniel dan Anita memutuskan untuk membawa Aulia melalui pintu rahasia sehingga tidak ada karyawan yang mengetahui jika Aulia sudah meninggalkan ruangannya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Daniel terus memandangi wajah Aulia dengan penuh rasa sesal. Daniel bermain cukup ganas tadi, mungkin itu adalah efek rindu terhadap Aulia yang biasanya selalu manja setiap malam.


Daniel lupa jika Aulia sedang hamil, ketidaktahuan Daniel tentang ini semakin membuatnya merasa bersalah.


Di rumah sakit, Aulia segera mendapat perawatan. Beruntung Aulia hanya mengalami pendarahan ringan, sehingga bayinya masih bisa diselamatkan.


"Sayang, cepatlah sadar. Maafkan aku yang tidak mendengarkan permintaanmu untuk berhenti ketika kita baru melakukan satu ronde." Lirih Daniel.


Daniel mengingat betul permintaan Aulia yang memintanya berhenti karena merasa perutnya sakit. Namun Daniel yang sudah sangat merindukan Aulia memilih untuk melepaskan rindu dengan bermain lebih lama.


Brian dan Sinta juga sedang berada di rumah sakit itu untuk melakukan konsultasi dengan dokter perihal sakit yang diderita Sinta, sehingga membuatnya sangat sulit untuk mendapatkan anak.


Brian yang saat itu izin ke kamar mandi, terkejut saat melihat Daniel juga ada di rumah sakit itu.


Karena penasaran, Brian mengikuti Daniel dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aulia terbaring lemah.


"Suster, bolehkah saya mengetahui tentang apa yang terjadi dengan pasien?" tanya Brian saat seorang suster baru saja keluar dari ruangan Aulia.


"Saya adalah saudara dari suami pasien. Saya hanya ingin tahu kondisinya terlebih dahulu agar saya tidak mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan saudara saya." ucap Brian saat melihat wajah suster itu sepertinya enggan untuk memberikan informasi mengenai Aulia.


"Pasien mengalami pendarahan ringan."


"Apa pendarahan?"


"Benar, kondisinya baik-baik saja. Pasien hanya butuh istirahat."


Brian kembali ke ruangan tempat di mana Sinta masih berkonsultasi, dan mulai menanyakan perihal pendarahan yang terjadi pada kehamilan pertama.


Sama seperti Daniel, Bryan yang mendengarkan penjelasan dokter langsung merasa bersalah.


Bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu pria juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Daniel. Terlalu memaksakan kehendak kepada Aulia.


Aulia, maafkan aku. Semoga kamu segera pulih.


Mungkin itulah sebait kalimat yang diucapkan oleh Daniel dan Brian.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2