
Daniel memilih untuk tidak pulang karena dia masih merasa kecewa dengan Aulia yang tidak bisa memahami dirinya.
Ulfa sudah merubah sedikit sudut pandang Daniel terhadap Aulia.
"Aku tahu, ini memang sifat alamiah kamu. Seharusnya sebagai seorang istri yang baik, Aulia bisa mengerti dan tidak pernah lagi protes saat kamu sedang dalam mode seperti ini."
Daniel yang sedang merasa bimbang tentu saja memikirkan masukan yang diucapkan oleh Ulfa.
Aulia sendiri tidak mencemaskan saat Daniel tidak kunjung pulang setelah jam menunjukkan hampir tengah malam.
Daniel pulang setelah Aulia sudah memasuki dunia mimpi. Dipandanginya wajah wanita yang sudah mendampinginya selama 5 tahun itu.
"Aulia, semoga setelah ini kamu akan mengerti bahwa inilah sifat alami yang tidak bisa aku hilangkan. Lagipula, kamu tidak akan pernah merasa rugi apapun dengan sifatku yang satu ini."
Daniel mencium sekilas kening Aulia sebelum dia memutuskan untuk beristirahat.
Pagi harinya...
"Aku ingin ke kantor," ucap Aulia saat dia melihat Daniel baru saja keluar dari kamar mandi."
"Aulia..."
"Daniel, Aku adalah wanita yang terbiasa dengan pekerjaan ini. Lagipula kamu tahu jika yang menyebabkan aku mengalami pendarahan ringan bukanlah karena aku terlalu lelah bekerja."
"Huft, baiklah itu terserah kamu selama kamu bisa menemukan alasan untuk meminta izin dari kedua orang tua kita."
Aulia segera bangkit dari tempat duduknya dan keluar kamar untuk menuju kamar Mama.
Aulia kembali dengan senyuman mengambang di pipinya dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor.
Daniel yang penasaran dengan apa yang baru saja dibicarakan oleh Aulia dan mama, memilih untuk segera turun dan menemui Ibu mertuanya.
Daniel melihat ibu mertuanya sudah duduk di meja makan dan menunggu untuk melakukan sarapan bersama.
"Ma.."
"Daniel?"
"Ma, Bagaimana cara Aulia membujuk Mama agar Mama mengizinkan Aulia untuk kembali bekerja?"
"Daniel, Bukankah kamu adalah suami Aulia. Seharusnya kamu sudah mengenal bagaimana cara Aulia membujuk seseorang agar keinginannya bisa tercapai."
Daniel menggaruk-garuk kentutnya yang sebenarnya tidak gatal. Entah kenapa, sejak pertemuannya dengan Ulfa, Daniel mulai tidak bisa berpikir dengan jelas tentang apa-apa saja yang mungkin bisa dilakukan Aulia untuk tetap mendapatkan keinginannya."
"Aulia sudah menunjukkan bahwa pendarahan yang terjadi bukan karena dia selalu lelah bekerja. Tidak ada alasan bagi Mama untuk melarang Aulia bekerja dan memintanya untuk beristirahat secara total."
__ADS_1
Daniel tidak melanjutkan pertanyaan yang ingin dia lontarkan saat mendengar suara langkah kaki dari Aulia.
Aulia terlihat bersemangat karena akhirnya dia bisa kembali bekerja. Aulia senang karena Yudi tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bisa mengambil alih perusahaannya.
Daniel dan Aulia ini sudah dalam perjalanan menuju kantor setelah mereka selesai sarapan.
"Aulia.."
"Ya?"
"Aku harus keluar kota lagi."
"Aku tahu."
Daniel menghela nafas panjang karena merasa bahwa inilah kali pertamanya percakapan mereka terasa garing.
"Aulia, Aku harap permasalahan ini tidak akan meninggalkan rasa kecewa yang berkelanjutan. Kamu tahu aku tidak bisa jika harus bersikap seperti ini terus."
"Terkadang, permasalahan tersebut memicu rasa kecewa dari salah satu atau kedua belah pihak. Bahkan, rasa kecewa itu pun dapat mendalam dan tak terlupakan."
"Aulia, Aku harap sebagai istri kamu bisa mengerti tentang kekurangan dari diriku dan menjadikan kelebihan yang kamu miliki untuk menutupi kekuranganku."
"Kadang-kadang, orang-orang tidak bisa mengerti perasaanmu sampai mereka sendiri mengalami hal yang sama,"ucap Daniel sambil tetap fokus pada jalanan.
"Sangat menyakitkan ketika orang yang membuatmu merasa istimewa kemarin, ternyata membuatmu merasa sangat tidak diinginkan hari ini," ucap Aulia yang langsung membuat Daniel terdiam.
Yudi benar-benar terkejut saat melihat Aulia datang.
"Kenapa Aulia bisa ada di sini? baru aku saja menikmati kedudukan yang selalu aku impikan. Dia sudah kembali." Gerutu Yudi.
Yudi mau tidak mau keluar dari ruangannya untuk menyambut kedatangan Aulia.
"Aulia, apakah keadaanmu sudah membaik? kenapa kamu memaksakan untuk pergi ke kantor jika keadaan kamu tidak benar-benar sehat?"
"Terima kasih karena sudah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap aku. Aku baik-baik saja dan seperti yang Abang lihat bahwa aku sudah siap untuk memimpin perusahaan ini."
Aulia tersenyum sambil berlalu meninggalkan Yudi untuk berjalan menuju ruangannya.
Aulia bisa membaca rasa kesal yang tersirat di wajah Yudi, Aulia terus berjalan dengan diikuti Yudi yang berjalan di belakangnya hingga mereka sampai di ruangan Aulia.
Yudi mulai berbasa-basi mengenai pekerjaan apa yang harus dilanjutkan Aulia setelah Aulia kembali masuk kerja.
"Ada proyek yang harus kamu selesaikan dan itu berada di luar kota."
"Bagaimana kita banyak menggantikan aku untuk pergi ke luar?"
__ADS_1
"Baiklah, aku juga tidak ingin membahayakan calon keponakanku."
...----------------...
Beberapa minggu berlalu, Daniel pergi ke luar kota tanpa berpamitan kepada Aulia.
Sepertinya percakapan terakhir yang mereka lakukan di dalam mobil membuat rasa kecewa yang mendalam di hati Daniel.
Dia bahkan merasa bahwa Aulia tidak pernah memahami dirinya sebagai seorang suami, untuk membuat Daniel memilih untuk pergi tanpa memberitahu Aulia.
Aulia sendiri tidak terlalu menyesali tindakan Daniel. Ya, sejak kehamilan ini Aulia mulai cuek dan tidak lagi berusaha membujuk Daniel.
"Aku sudah memiliki alasan untuk aku tetap berbahagia tanpa harus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak aku sukai," lirih Aulia.
Anita menghubungi Aulia untuk mengingatkan bahwa ini adalah jadwal kontrol Aulia untuk memeriksakan kehamilannya.
Aulia menghubungi Bryan dan meminta Brian untuk bertemu dengannya di rumah sakit.
Brian awalnya takut untuk bertemu dengan Anita, tapi setelah Aulia mengatakan bahwa Anita adalah orang yang dapat dipercaya. Brian akhirnya mau menemani Aulia untuk masuk ke dalam ruangan.
Anita mulai melakukan prosedur yang harus dilakukan dalam memeriksa kehamilan pasien.
"Aulia, sepertinya memang benar kamu akan memiliki bayi kembar." Ucap Anita sambil terus menggerakkan alat USG di perut Aulia.
"Lihat, walaupun belum terbentuk sempurna tapi bakal janin sudah terlihat dan ini ada dua"
Aulia melihat ke arah Brian yang tengah tersenyum pernah kebahagiaan.
Brian, apakah rasa bahagiamu itu karena sebentar lagi kita akan memiliki seorang bayi kembar. Atau kamu bahagia karena setelah ini kamu bisa memberikan kebahagiaan kepada Sinta.
Brian mengajak Aulia untuk menikmati makanan dan mengikuti apapun yang diinginkan oleh Aulia.
Aulia memilih untuk menikmati setiap perlakuan lembut yang ditunjukkan oleh Brian.
"Aulia, tolong rahasiakan tentang kehamilan kembarmu ini kepada suami dan juga keluarga mu. Jadi, saat mereka lahir dan aku mengambil salah satu dari mereka, tidak akan ada yang mencurigainya."
"Brian, Bagaimana jika ternyata hasil USG itu salah dan bayi yang ada di dalam kandungan ku hanya satu?"
"Aulia, Aku percaya dengan hasil USG yang baru saja kita lihat. Kita akan memiliki bayi kembar."
Dan itu artinya aku harus rela memberikan satu bayi ini untuk dirawat olehmu dan juga Sinta?
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...