
Satu Minggu setelah kejadian itu Aulia dan Daniel benar-benar resmi bercerai
Keluarga Daniel tidak bisa berbuat apapun karena takut jika Aulia akan menuntut hak dari apa yang sudah menjadi perjanjian pra pernikahan mereka.
Sementara Daniel sendiri juga tidak bisa melakukan apapun karena Dinda memberikan kesaksian jika mereka berdua melakukan hubungan itu dengan sadar.
Palu pengadilan diketuk tanda bahwa Aulia dan Daniel kini sudah resmi bercerai.
Daniel menatap Aulia dengan tatapan tidak rela karena sebenarnya dia masih sangat mencintai Aulia daripada Dinda. Walaupun sebelumnya Daniel menyukai Dinda sejak mereka pertama kali bertemu, namun kini hanyalah ialah yang berhasil menjadi ratu di hati Daniel.
Daniel menyesali tentang perbuatannya yang sampai melakukan hubungan badan bersama dengan Dinda sehingga kini pindah harus mengandung benih darinya juga.
Daniel mendatangi tempat di mana Aulia duduk dan berlutut di hadapannya.
"Aulia, maafkan aku karena aku sudah memberikan noda pada pernikahan kita dan juga melukai hati kamu. Aku harap, walaupun hubungan kita sebagai suami istri sudah berakhir. Kamu akan tetap mau menjalin hubungan sebagai orang tua bagi anak kita kelak."
"Aku tidak yakin kamu akan selalu ada untuk menjadi orang tua dari bayi yang sedang aku kandung, mengingat sebentar lagi kamu juga akan memiliki bayi dari Dinda."
"Aulia..."
"Selamat menjalani kehidupan rumah tangga kamu yang baru bersama dengan Dinda. Aku harap, Kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan membuat Dinda menjadi janda untuk yang kedua kalinya."
Aulia kemudian memilih pergi meninggalkan Daniel dan juga Dinda tanpa mengatakan apapun. Aulia menyempatkan diri untuk mendatangi dan memberi salam dan pelukan terakhir kepada kedua orang tua Daniel.
"Aulia, maafkan atas kesalahan putra Mama yang berujung pada perceraian ini."
"Tidak apa-apa ma, mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus kita jalani dalam rumah tangga ini. Aku harap mama dan papa akan memperlakukan calon istri Daniel dengan baik seperti mama dan papa memperlakukan aku."
"Nak, Bagaimana bisa kami menerima orang yang sudah menghancurkan rumah tangga kamu?" ucap papa.
"Papa jangan lupa jika Daniel juga ikut andil dalam hal ini. Bukankah tadi Papa juga sudah melihat dan mendengarnya sendiri kesaksian dari Dinda yang mengatakan bahwa mereka melakukan itu dengan sadar dan tanpa pengaruh obat ataupun minum obat atau minuman alkohol."
__ADS_1
Mama dan papa terdiam dan hanya bisa menghela nafas panjang sambil melihat ke arah Dinda yang terlihat bergelantung menjadi lengan Daniel.
Dinda seolah-olah ingin memperlihatkan kepada Aulia bahwa dirinyalah yang menjadi pemenang dari hati Daniel.
Dasar ******, walaupun seharusnya aku berterima kasih kepada kamu karena kamulah yang membuat aku bisa bercerai dengan mudah dengan Daniel. Tapi tetap saja aku merasa jijik dengan tingkah laku kamu.
"Aulia, mama dan papa berharap setelah ini kamu masih akan tetap menganggap kami keluarga dan mengizinkan kami untuk bertemu dengan calon cucu kami," ucap Mama.
"Ya, asalkan Mama dan Papa juga memperhatikan calon cucu Mama dan Papa yang lainnya."
Aulia yang tidak ingin berlama-lama karena merasa sangat risih dengan tingkah laku Dinda yang tidak tahu malu terus saja bersikap manja padahal di ruangan itu masih banyak orang lain selain dirinya dan juga keluarga, memilih untuk segera meninggalkan ruangan persidangan.
Aulia dan mamanya memutuskan untuk pindah dari rumah itu, mengingat rumah itu terlalu banyak menyimpan kenangan terutama kenangan pahit saat mereka sedang merayakan momen bahagia.
Satu Minggu setelah Aulia dan Daniel resmi bercerai, Aulia mendapat kabar bahwa Daniel sudah menikahi Dinda dan sekarang Dinda tinggal di Mansion keluarganya.
"Aku tidak menyangka jika Daniel akan mengajak Dinda dan juga ibunya untuk tinggal bersama dengan mama dan papanya.," ucap Aulia.
Aulia sudah jarang sekali pergi ke kantor pengingat kehamilannya yang terlihat semakin besar. Aulia sengaja berada di dalam rumah dan jarang sekali keluar agar orang-orang di sekitarnya terutama sang Mama tidak curiga melihat besarnya perut Aulia yang tidak seperti biasanya.
"Brian, sebenarnya apa yang kamu lakukan sehingga kamu betul-betul tidak bisa memberi aku kabar."
Sementara itu, Brian yang mengetahui kabar bahwa Aulia dan Daniel sudah bercerai tentu saja merasa sangat khawatir.
Dia takut Aulia akan menuntut untuk dinikahi Brian dengan alasan anak yang sedang di kandung.
Brian terpaksa menonaktifkan ponselnya demi menghindari pesan yang mungkin akan dikirimkan oleh Aulia.
Brian justru sekarang menyimpan nomor telepon Anita untuk mendapatkan kapan jadwal Aulia akan memeriksakan kandungannya.
Anita sendiri merasa tidak curiga saat Brian meminta nomor ponselnya. Anita tidak tahu jika Brian sudah menikah dan memiliki seorang istri yang sekarang sedang berjuang melakukan program kehamilan.
__ADS_1
"Sinta, sebaiknya kamu terima saja anak dari suami dan juga kekasihnya." Ucap sahabat cinta yang sudah tidak tega melihat cinta harus kesakitan demi bisa mendapatkan keinginannya untuk hamil.
"Apa sekarang kamu sudah berhenti untuk mendukung ku agar aku bisa memiliki keturunan sendiri?"
"Tidak, aku hanya mengkhawatirkan kesehatan kamu. Bagaimana jika ternyata kamu bisa memberikan suami kamu anak. Namun ternyata kamu tidak bisa bertahan untuk membesarkannya? itu sama saja kamu dengan sukarela mengikhlaskan suami kamu itu bahagia bersama dengan kekasihnya."
Deg !!
Selama beberapa hari Sinta terus saja memikirkan tentang kata-kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
Hingga kemudian, cinta memutuskan untuk berhenti berusaha membuat dirinya bisa hamil ya akan mencoba untuk menerima anak dari Brian dan juga Aulia.
"Mas, apakah kamu akan benar-benar mengajak aku pergi dari kota ini setelah kita mendapatkan salah satu dari bayi kembar Aulia?" tanya Sinta setelah mereka selesai melakukan hubungan suami istri.
"Kenapa? kenapa selama beberapa hari terakhir ini kamu selalu menanyakan hal itu setiap kita selesai melakukan hubungan suami istri?" tanya Brian.
"Aku hanya takut kamu berubah pikiran setelah kamu mengetahui bahwa Aulia dan suaminya sudah resmi bercerai."
Brian bangkit dari tempat duduknya kemudian memakai kembali celananya dan mengambil minuman yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur.
"Sinta, kamu tahu bahwa aku tidak pernah main-main akan janji. Jika aku sudah berjanji akan memulai kehidupan yang baru bersama kamu dan meninggalkan kota ini. Maka aku akan melakukannya walaupun aku harus mengorbankan cinta yang memang sebenarnya sudah seharusnya aku akhiri sejak dulu."
Sinta yang merasa tersentuh dengan pengorbanan yang akan dilakukan oleh Bryan, walaupun sebenarnya memang itu bukan suatu pengorbanan melainkan sebuah keharusan yang harus dilakukan karena memang tidak selamanya bermain api itu indah, berjalan mendekati Brian dan memeluknya dari belakang.
"Aku mencintaimu, mas Brian."
Maaf, karena sampai sekarang aku masih mencintai Aulia.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...