
Bertemu dengan Anita, justru membuat kepalaku terasa semakin ingin pecah saja.
Bayangkan, Anita memintaku untuk mengakui semua kesalahanku di depan keluarga besar.
Dia pasti sudah gila. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakui jika bayi ini adalah bayiku dan bayi Daniel
Ah, Daniel. maafkan aku yang sudah membohongimu. Tapi semua ini aku lakukan demi kebaikan kita semua.
Brian, tunggu saja. Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi milik wanita lain, karena kamu adalah milikku.
"Anita, bisakah kamu membuat surat keterangan palsu yang mengatakan bahwa hasil tes kesuburan Daniel baik baik saja?"
"Aulia, apa kamu sedang mencoba untuk merusak reputasi ku sebagai dokter?"
"Tidak, Aku hanya bertanya."
"Aulia, semakin kamu berbohong untuk menutupi kebenaran yang tidak seharusnya kamu tutupi. Kamu akan melahirkan banyak kebohongan lain, dan itu pasti akan melibatkan banyak." Ucap Anita.
"Daniel pasti akan merasa sangat terluka ketika dia mengetahui bahwa sebenarnya kamu sudah membohonginya Dengan mengatakan baik yang ada di dalam kandunganmu adalah miliknya."
"Anita, rahasia akan tetap menjadi rahasia selama kita menyimpannya di dalam hati."
"Aulia...."
"Aku mohon, aku berjanji. Aku tidak akan melibatkanmu dalam hal ini. Aku akan memastikan bahwa namamu akan bersih dan tidak akan masuk dalam lingkaran kebohongan yang akan aku buat."
"Atau begini saja, Aku akan segera memberitahukan kepada keluargaku bahwa aku hamil. Sehingga Daniel akan melupakan tentang hasil pemeriksaan nya."
"Bagaimana jika ternyata Daniel masih ingin mengetahui tentang hasil pemeriksaannya, untuk mendapatkan keyakinan yang penuh?"
"Aku harap kamu bisa membantu ku." Ucap Aulia dengan mata berkaca-kaca.
"Huft...."
Aku tersenyum penuh kebahagiaan saat mengetahui bahwa Anita setuju untuk membuatkan surat hasil pemeriksaan palsu untuk Daniel.
Sekarang, aku hanya harus membuat bahwa, aku baru mengetahui jika aku hamil.
...----------------...
Setelah selesai melakukan beberapa urusan di perusahaan cabang, aku memutuskan untuk pergi ke kantor Daniel untuk memulai strategi pengamanan posisiku dan Brian.
Setelah aku memastikan bahwa hubungan pernikahanku dan Daniel baik baik saja, Aku akan segera mencari keberadaan Bryan dan memastikan bahwa dia tidak akan benar-benar menikah dengan Shinta.
Seperti biasa, saat aku datang dan masuk ke dalam ruangan suamiku. Aku melihat dia masih sibuk di meja kerjanya.
Aku tersenyum dan langsung menghampirinya serta duduk di pangkuannya.
"Sayang, kenapa kamu masih saja sibuk dengan pekerjaan. Apa kamu lupa jika aku meminta kamu untuk menghabiskan waktu bersama denganku malam nanti?" Ucapku dengan nada manja.
__ADS_1
Nada yang selalu disukai oleh Daniel. Aku sendiri tidak tahu, kenapa setiap dekat dengannya aku selalu ingin bersikap manja layaknya seorang anak kecil yang bersikap manja kepada ayahnya.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf karena jujur saja aku melupakan tentang janji yang pernah aku katakan kepadamu."
Aku langsung turun dari pangkuan Daniel, dan berjalan menuju sofa dengan memasang cemberut.
Aku melihat Daniel tersenyum sambil menutup laptopnya sebelum dia berjalan ke arahku.
Ini sudah menjadi bayanganku, dan ini akan selalu terjadi ketika aku memasang wajah cemberut.
Daniel menghampiriku dan langsung menghujaniku dengan ciuman.
"Maafkan aku, apa kamu ingin memulai menghabiskan waktu berdua denganku?" Tanya nya dengan nada mesra.
"Tentu saja."
Daniel memelukku dan langsung ngajakku untuk keluar dari kantor.
Aku dan Daniel mulai menghabiskan sisa waktu hari itu dengan berjalan-jalan dan menonton bioskop.
Daniel sebenarnya adalah pria yang sangat perhatian, entah apa kurangnya dia sehingga aku merasa bahwa 5 tahun pernikahan kami. Aku seperti tidak menemukan kebahagiaan yang aku harapkan.
Aku juga tidak mengerti kenapa aku menemukan kebahagiaan itu saat bersama dengan Brian.
Oh Brian, dia benar-benar sudah mencabik-cabik hatiku, dia sudah merampas segalanya dariku dan sekarang dia mengatakan ingin menikahi wanita lain.
Malam harinya...
Kami pulang setelah jarum jam menunjukkan pukul 11.00 malam.
Aku berencana untuk bertingkah seolah-olah aku kelelahan hingga kemudian aku pingsan, agar aku bisa mengatakan jika sebenarnya aku sudah hamil.
Namun rupanya, kali ini semesta sedang mendukung langkah yang akan aku ambil.
Tepat saat aku akan menaiki tangga, kepalaku terasa berat. Pandangan ku kabur, mungkin ini efek karena aku terlalu lelah selama seharian ini.
"Aulia, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Daniel.
Ya, setidaknya itulah yang aku dengar sebelum pandanganku benar-benar hilang.
Pagi harinya..
Sinar matahari menyilaukan pandanganku dan membuat aku membuka mata.
Aku melihat Daniel sudah duduk di sampingku dengan senyum kebahagiaan. Aku juga melihat beberapa bunga ada di tempat tidurku.
"Apa ini?" Tanya ku.
"Sayang, kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku?"
__ADS_1
"Mengatakan apa?" Tanya ku yang masih loading karena aku baru saja membuka mata.
Kesadaran ku masih belum pulih sepenuhnya sehingga aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan Daniel.
"Sayang, kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku jika kamu hamil?"
"Apa? Aku hamil?"
Daniel kemudian menceritakan jika Daniel segera menghubungi dokter keluarga ketika mengetahui aku pingsan.
Dokter itu tersenyum saat memeriksa aku, dan mengumumkan kepada keluarga bahwa saat itu aku sudah hamil. Usia kehamilanku memasuki bulan kedua.
Daniel merasa sangat bahagia dan langsung memberitahukan kepada kedua orang tuanya.
Daniel lalu mengajakku untuk keluar dari kamar, di mana saat aku keluar aku disambut oleh keluarga besar dengan sambutan seolah-olah aku sedang memenangkan sesuatu yang sangat besar.
Ucapan selamat bergantian datang dari mama dan juga mama mertuaku. Rupanya dua keluarga sedang merayakan berita tentang kehamilanku.
Wajah mereka semua terlihat bahagia, terutama Daniel.
Aku yang awalnya merasa bahwa apa yang aku rencanakan sudah berhasil, tiba tiba merasa bahwa aku adalah penjahat yang sesungguhnya.
Aku melihat keluargaku yang begitu bahagia, dan merasa bahwa aku sudah memberikan kebahagiaan yang semu bagi mereka.
Ah tidak, mereka akan tetap berbahagia seperti ini asalkan aku bisa terus menjaga rahasia ini dalam hidupku.
Aku memutuskan untuk bergabung bersama dengan keluargaku yang tengah berbahagia atas kabar kehamilan ini.
Pandangan ku tidak sengaja menangkap sosok kakak angkat, yang terlihat tidak ikut menikmati pesta yang dibuat oleh keluargaku.
"Ah iya, aku harus terus mengawasi gerak-geriknya. Aku tahu, kakak sedang mengawasi aku dan mencurigai telah terjadi sesuatu antara diriku. Aku harus lebih berhati-hati saat aku akan menemui Brian mulai sekarang." Lirih ku.
Hari itu, Mama dan Mama mertua memintaku untuk beristirahat selama satu minggu dan tidak mengizinkan aku untuk pergi ke manapun
Ah, itu membuatku tidak mempunyai kesempatan bertemu dengan Brian.
Brian, semoga saja kamu belum benar-benar menikahi Sinta
Ya, setidaknya itulah doa yang setiap hari aku panjatkan kepada Tuhan. Hingga, sebuah surat undangan pernikahan Brian dan Sinta benar-benar berada di tanganku.
Brian....
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1