
Menduduki jabatan CEO di usia muda, membuat aku merasa bahwa takdir begitu kejam.
Aku pikir setelah lulus kuliah, aku bisa sedikit santai dan menikmati masa muda ku.
Sayangnya tidak. Masa muda ku harus berada dalam ruang bisnis. Seolah-olah tidak ada celah bagiku untuk menikmati masa muda.
Ya, bisa dibilang aku tidak pernah merasakan seperti apa masa-masa remaja.
Itulah kenapa, aku selalu bersikap manja dan bersikap layaknya seperti anak kecil kepada suamiku, Daniel.
Daniel sendiri tidak mempermasalahkan sikap manjaku itu, dia justru semakin memanjakan aku dan melimpahkan seluruh kasih sayangnya kepadamu.
Terlahir menjadi anak orang kaya dan tidak memiliki saudara satupun, membuat aku harus merelakan bahwa beban keluarga ada pada diriku.
Jujur saja, terkadang aku lelah dengan jabatan yang melekat pada diriku. Aku dan Daniel yang selalu saja sibuk pada siang hari, membuat hubungan kami terasa hampa.
Aku dengan usiaku yang masih bisa dibilang muda, Tentu saja aku ingin seperti pasangan muda pada umumnya. Yang sering menghabiskan waktu berdua.
Aku dan Daniel jarang sekali bisa menghabiskan waktu siang berdua kecuali itu adalah hari-hari penting seperti hari ulang tahun pernikahan.
Jadi, di sela-sela kesibukanku aku menyempatkan diri untuk menjadi orang biasa. Berbaur dengan masyarakat sekitar, hingga tidak ada yang menyadari bahwa aku adalah seorang CEO yang di perusahaan terbesar di kota itu.
Dari kebiasaan inilah aku tidak sengaja bermain api dengan seseorang..
Kejadian itu bermula saat aku pergi sendiri untuk mencari makan siang, dan berhenti di sebuah kedai yang cukup ramai.
Aku memutuskan untuk berhenti di sana dan memesan satu porsi makanan yang paling laris di kedai itu.
"Permisi mbak, boleh saya duduk di sini? kebetulan semua meja sudah terisi. Hanya meja ini saja yang baru terisi oleh satu orang."
Aulia melihat ke sekelilingnya, memang benar. Hari itu sangat ramai sehingga nyaris tidak ada kursi kosong.
"Baiklah.." Ucap Aulia.
"Terima kasih." Ucap Pria itu sambil tersenyum.
"Mbak sendiri atau..."
"Aku sendiri.." Ucap Aulia yang langsung memotong pembicaraan dari pria itu
"Kerja dimana?, mbak baru ya disini?" Tanya pria itu lagi.
"Kenapa?"
"Ya, soalnya aku baru pertama kali melihat mbak."
__ADS_1
"Jadi, apa kamu semacam alat pendeteksi wajah seseorang?" Kekeh Aulia.
"Haha, tidak. Kebetulan aku adalah pelanggan nomor satu kedai ini, jadi secara tidak sengaja aku mengenali orang yang sering datang dan makan ke sini."
"Wow..."
"Ya, Aku bekerja jarak 1 km dari sini. Kebetulan ini adalah kali pertamanya aku mencari makan siang keluar. Karena biasanya aku makan siang di kantin kantor." Ucap Aulia.
"Begitu.."
"Iya, kalau kamu? sepertinya kamu menduduki jabatan yang cukup tinggi." Ucap Aulia saat dia melihat tag nama pada pria itu.
"Tidak juga, aku hanya manajer di perusahaan properti PT Sinar Pelangi."
"Oh ya. Siapa nama mu? kebetulan aku punya teman di sana."
"Brian. Namaku Brian. Brian Prakoso."
...----------------...
Aku tidak mengerti apa yang menarik dari pria yang bernama Brian itu. Tapi, pria itu sukses membuatku ketagihan ingin terus bertemu dengannya.
Bagiku, dia adalah tipe pria yang menyenangkan. Tidak seperti Daniel yang menurutku membosankan.
Ya, walaupun kita terlihat romantis saat kita bersama di dalam rumah. Tapi bagiku, keromantisan itu bukan saja ditunjukkan ketika kita berada di dalam rumah. Aku sering mengutarakan keinginanku untuk makan siang di luar bersama, namun Daniel selalu menolak dengan alasan bahwa makan siang di luar hanya membuang-buang waktu saja.
Entah bagaimana, tapi aku dan Brian semakin dekat. Aku jadi lebih sering menghabiskan jam istirahatku untuk makan siang bersama dengan Brian dan sesekali kita jalan-jalan berdua.
Hingga malam itu, saat pesta halloween. Dimana malam itu Daniel tidak bisa pulang karena penerbangan ditutup sementara akibat cuaca yang tidak memungkinkan untuk lepas landas, membuat aku bisa pergi dengan leluasa.
Aku bertemu dengan Brian saat aku tengah membeli kostum untuk ikut merayakan Halloween.
"Aulia.."
"Brian?"
"Sedang apa?"
"Ya, kamu tahu ini adalah tahun pertamaku ikut terjun dan merayakan Halloween. Jadi Aku ingin memiliki kostum yang terbaik." Ucap Aulia.
"Hmm, Bagaimana kalau kamu ikut ke rumahku saja, Aku memiliki beberapa koleksi kostum Halloween."
"Ohya?"
"Ya, karena memang beberapa dari kostum itu adalah rancanganku."
__ADS_1
"What?"
Aku tidak percaya, aku baru percaya setelah aku datang ke rumahnya dan melihat memang ada ruangan khusus di mana ruangan itu penuh sekali dengan desain-desain baju. Ternyata Brian merupakan seorang desainer, hanya saja dia takut terjun ke dalam dunia itu mengingat banyak sekali persaingan desainer di kota.
"Jadi kamu mendesain sendiri dan menjualnya kepada desainer lain?" Tanya Aulia.
"Ya, kira kira seperti itu."
Brian mulai mencari kostum Halloween yang cocok untuk Aulia.
"Hmm, seperti nya ini cocok." Ucap Brian.
Setelah Aulia berganti pakaian, Brian mengajak Aulia untuk bergabung dan menikmati malam itu.
Daniel yang sebelumnya sudah mengabarkan bahwa dia tidak bisa menghubunginya karena ponselnya lowbat, membuat aku bisa dengan bebas mematikan ponsel juga dan menikmati hari itu sebagai wanita yang belum mempunyai pasangan.
Sayangnya, aku terlalu menikmati waktu Halloween bersama dengan Brian hingga larut malam.
Hujan deras justru membuat Aulia semakin bahagia, dia merasa bahwa malam ini semesta benar-benar merestuinya untuk menikmati waktu muda yang tidak pernah dia dapatkan.
Brian menarikku yang sedang menikmati hujan dan mengajakku berteduh di sebuah toko yang sudah tutup.
"aku melihatmu seperti melihat seorang wanita yang baru saja keluar menikmati indahnya malam." Ucap Brian.
"Ya, memang aku tidak pernah menikmati malam seindah malam ini. Terima kasih Brian, kamu sudah membuat malamku begitu bahagia." Ucap Aulia.
Brian tersenyum, aku merasa seperti ada ribuan kupu-kupu saat wajahku dan wajahnya berpandangan.
Kami berdua seperti tersihir satu sama lain, aku seperti tidak menolak saat Brian mendekatkan bibirnya kepadaku.
Itu adalah malam indah untukku, ya mungkin terlalu indah hingga saat aku sampai di rumah Brian untuk berganti pakaian. Brian mengulang ciuman yang sempat terjadi hingga tanpa sadar kami melakukannya.
"Aulia, aku mencintaimu. Sejak pertama bertemu denganmu aku tidak bisa menghilangkan bayang-bayangmu."
Aku tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja Brian katakan. Dan entah memiliki keberanian dari mana, aku juga mengatakan hal yang sama kepadanya.
"Brian, aku juga mengagumimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu."
Brian tersenyum, kemudian dia mulai mendekatkan kembali wajahnya dan mengulang ciuman itu.
Kami bercinta. Di ruangan desain milik Brian. Hingga saat fajar, aku menemukan diriku nyaman berada dalam pelukan Brian.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
.