Tidak Sengaja Bermain Api

Tidak Sengaja Bermain Api
Maaf, aku mencintai nya!


__ADS_3

Daniel benar-benar merasa iba dengan apa yang menimpa Ulfa, Daniel memutuskan untuk mengajak Ulfa berkeliling agar rasa sedih di dalam hatinya bisa hilang.


Ulfa mulai terbawa suasana hingga perlahan dia mulai meninggalkan rasa sedih dan berganti dengan kebahagiaan.


"Daniel, harus dengan cara apa lagi Aku berterima kasih kepadamu. Kamu selalu tahu bagaimana cara untuk membuat aku merasa bahagia dan melupakan segala kesedihanku."


"Ulfa, kamu tahu bahwa dari dulu aku sudah mencintai kamu, cinta ini tidak akan pernah hilang hanya karena aku sudah memiliki suami dan kamu sudah memiliki kehidupan kamu sendiri."


"Cinta ini, akan selalu ada di hatiku. Kamu hanya harus melupakan kesedihan dan bangkit untuk meraih kebahagiaan. Itulah yang harus kamu lakukan untuk membalas segala kebaikan yang telah aku lakukan kepada mu."


"Beberapa orang akan mencintai apa adanya, sementara yang lain memakai topeng yang kamu kenakan. Terima kasih karena masih mencintaiku bahkan ketika aku melepas topengku," ucap Ulfa.


"Berjanjilah bahwa mulai malam ini kamu tidak akan pernah lagi mengungkit tentang kesedihan yang kamu rasakan, Aku akan terus berada di sampingmu hingga kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan."


"Bagaimana jika ternyata aku hanya menemukan kebahagiaan itu saat aku bersamamu?" Ulfa menatap lekat ke arah Daniel.


"Bilangan tahun yang kita lalui bersama, mengajariku satu hal. Bahwa tak ada yang lebih baik dan lebih tulus, selain dirimu," imbuh Ulfa.


"Yang tulus dan lebih baik dari aku memang hanya tinggal aku saja. Tapi bukan berarti kamu menganggap bahwa pria yang bisa memberikan kamu kebahagiaan hanya tinggal diriku. Kamu hanya perlu lebih jauh melihat ke depan agar kamu bisa menentukan arah mana yang akan kamu ambil."


"Jalan kita sudah berbeda Ulfa, walaupun jujur aku masih sangat mencintaimu, dan cinta itu masih tetap rapi di tempat di mana aku menyimpannya dalam ruang di hatiku."


"Bisakah aku pergi ke mana pun kamu pergi? Bisakah kita selalu sedekat ini selamanya?"


"Ulfa..."


"Aku mencintaimu, Daniel. Aku siap memberikan kebahagiaan walaupun aku tidak akan pernah bisa memilikimu."


Daniel menatap Ulfa, dia tidak menyangka jika Ulfa akan mengatakan itu kepadanya.


"Ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak mengatakannya dengan santai. Aku mengatakannya untuk mengingatkanmu bahwa kamu adalah segalanya bagiku, dan hal terbaik yang pernah terjadi padaku dalam hidup."


"Ulfa, kamu tahu jika apa yang kamu inginkan tidak akan pernah terjadi dalam kehidupan ini." Ucap Daniel sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin terhipnotis dengan tatapan Ulfa.


Jujur saja, berdua dengan Ulfa membuat rasa cinta yang berada di dalam hati Daniel untuk Ulfa, kembali membara dan terasa sangat menggebu-gebu.


"Aku selalu dipenuhi dengan rasa suka cita dan kedamaian yang mendalam setiap kali memikirkan fakta bahwa kita akan bisa menghabiskan sisa hidup kita dalam pelukan satu sama lain."


"Ulfa..."


"Daniel, kita tidak memerlukan ikatan yang diakui oleh semua orang untuk bisa saling melengkapi satu sama lain. Seperti ini saja, aku juga sudah merasa sangat bahagia."


"Satu-satunya hal yang saya benar-benar kuyakin dalam hidup ini adalah kenyataan bahwa cinta kita akan berbunga selamanya."


Ulfa mendekati Daniel dan memegang kedua pipinya. Ulfa memberanikan diri untuk menyambar bibir Daniel.


Untuk sesaat, Daniel menikmati itu hingga saat Ulfa akan memperdalam apa yang sedang mereka lakukan, Daniel tersadar.


"Maaf Ulfa, Aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya dan aku tidak ingin menghianati janji suci yang pernah aku dan dia ucapkan."


Hening....

__ADS_1


Untuk sesaat tidak ada dari keduanya yang berbicara. Dinginnya angin malam membuat Ulfa yang hanya menggunakan dress, merasakan kedinginan.


"Lebih baik sekarang kita kembali ke hotel untuk beristirahat. Aku melihatmu sudah sangat kedinginan." Ucap Daniel sambil melepas jasnya dan memberikannya kepada Ulfa.


"Ya, kamu benar. Sebaiknya kita segera pulang sebelum angin malam ini membuat tubuhku membeku."


Kedua segera menstop taksi dan memberikan alamat tempat di mana mereka menginap di salah satu hotel yang ada di negara itu.


"Aku merasa sangat kedinginan, bolehkah jika aku meminjam bahumu?" tanya Ulfa.


"Tentu.."


Daniel tersenyum sambil membuka tangannya, Ulfa dengan senyuman mulai tidur di dada Daniel.


Saat taksi sudah berhenti tepat di lobby hotel, Daniel mendapati bahwa Ulfa tertidur.


Daniel mengira bahwa Ulfa terlalu lelah, sehingga memutuskan menggendong Ulfa hingga sampai ke kamar.


Walaupun Daniel sedikit kesulitan membuka pintu kamar sambil menggendong Ulfa, tapi dengan keahlian yang dia miliki karena dia selalu menggendong Aulia. Membuat Daniel berhasil membuka pintu dan merebahkan tubuh Ulfa di atas tempat tidur.


"Jangan pergi, Aku berjanji akan membuat diriku bisa mengandung buah hatimu," Ucap Ulfa saat Daniel baru saja selesai menyelimuti dirinya dan akan pergi dari sana.


"Ulfa ..."


"Hiks.. hiks, bukankah kita berjanji untuk selalu berdua di saat suka dan duka? bukankah kita berjanji untuk selalu bersama."


Daniel merasa sangat terluka melihat wanita yang dulu amat dia cintai menjadi seperti ini.


Aku memang masih mencintai kamu, bahkan hati kecil ku juga sangat menginginkan untuk bisa menghabiskan waktu bersama dengan kamu. Tapi maaf, aku mencintai nya. Aku lebih mencintai istri ku. Aulia.


Daniel...


Seandainya kamu tahu jika istri yang kamu cintai, sekarang sedang bermalam di sebuah villa yang ada di pesisir pantai.


"Aulia, apa calon bayi ini baik-baik saja?"


"Kenapa?"


"Kita melakukannya terlalu sering?"


"Anggap saja ini adalah yang terakhir. Kamu harus fokus pada Sinta agar hubungan ini tetap bisa terus berjaga," ucap Aulia.


"Kapan kamu akan melakukan pemeriksaan?"


"Kenapa?"


"Aku ingin melihat nya. Melihat calon bayi kita."


Aulia merasa terharu, akhirnya Brian mau mengakui bayi yang ada dalam kandungannya sebagai bayinya.


"Minggu depan."

__ADS_1


"Jika suami kamu tidak bisa menemanimu untuk memeriksakan dia, cepat hubungi aku"


"Baiklah."


Brian mengecup kening Aulia.


"Brian.."


"Ya sayang?"


"Apa kamu tidak keberatan jika identitas bayi ini akan memakai nama Daniel?"


"Tentu saja tidak, selama hubungan kita tetap terjaga. Aku juga akan bisa terus bertemu dengan bayi kita."


Aulia sangat bahagia, dia memeluk Brian dengan erat.


"Aku mencintaimu, Brian"


"Aku lebih mencintaimu."


"Brian, bagaimana kamu bisa pergi dari Sinta?"


"Aku sudah mengirimkan sesuatu yang akan membuatnya bahagia."


...


Di sisi lain, Sinta mulai kebingungan mencari keberadaan Brian.


Sinta terus mencoba menghubungi ponsel Brian, namun ponselnya tidak aktif.


Hingga suara ketukan pintu, membuat Sinta merasa bahagia. Namun kebahagiaan itu sirna ketika melihat yang datang adalah pegawai hotel.


Pegawai itu memberikan bunga dan catatan, serta beberapa kotak dan paper bag.


Istriku...


Aku sengaja pergi untuk memberikan kamu hadiah istimewa..


Aku akan segera kembali di saat yang tidak pernah kamu duga..


Aku harap, kamu akan siap untuk begadang selama sisa waktu kita menginap di hotel.


Sinta tersenyum sambil membuka kotak yang berisi kalung berlian dan beberapa baju dinas malam.


"Aku akan menunggumu..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2