
"Brian, pokoknya aku tidak ingin menggugurkan bayi ini. Apa kamu tahu betapa bahagianya aku saat dokter mengatakan bahwa aku hamil." Ucap Aulia dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu, tapi hasil tes ini menyatakan bahwa suami kamu mandul dan tidak mungkin kamu akan mengatakan kamu sedang hamil. Suami kamu pasti akan curiga."
"Apa kamu takut jika suamiku tahu tentang perselingkuhan kita?"
"Aulia, kamu memang benar-benar sudah gila."
"Haha, ya. Aku memang sudah gila. Aku gila karena kamu, Brian." Ucap Aulia.
Brian terlihat memejamkan mata sambil menghembuskan nafas.
Bagaimana tidak, dia benar-benar dalam dilema yang sangat besar.
Brian sebenarnya juga tidak ingin jika harus menggugurkan bayi itu, tapi apalagi yang bisa dia lakukan untuk tetap menjaga keluarganya aman.
Aku berurusan dengan keluarga sultan. Lirih Brian.
"Aulia, siapa saja yang sudah mengetahui tentang kehamilan mu ini?" Tanya Brian.
"Tentu saja dokter."
"Tidak, maksud anggota keluarga yang lain?"
"Tentu saja belum ada yang mengetahui. Aku sama saja menggali kuburan ku sendiri jika aku memberi tahu mereka sekarang." Ucap Aulia.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Brian.
"Kita menikah saja,. bagaimana?" Ucap Aulia dengan mata berbinar-binar.
Astaga, wajah itu adalah wajah yang sangat aku rindukan. Seandainya saja kita tidak bertemu di tempat umum. Mungkin aku sudah memakan wajah itu.
"Brian?" Panggil Aulia.
"Ya?"
"Kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak merindukan aku?" Kali ini Aulia memasang wajah cemberut.
Ah tidak...
Brian tidak tahan lagi, dia segera menarik Aulia masuk ke dalam toilet dan mencium nya.
"Aulia, tidakkah kamu tahu betapa tersiksanya aku selama beberapa hari ini. Aku mencoba untuk melupakanmu dan mengakhiri hubungan ini. Tapi kenapa sangat berat."
"Itu karena semesta sudah merestui kita. Jadi bagaimana? apa kamu mau menikahi aku?"
"Apa kamu sudah gila? kamu akan memiliki dua suami?"
"Tidak masalah. Yang penting aku akan selalu bisa bersama mu." Ucap Aulia.
Brian kemudian mengajak Aulia untuk keluar dari toilet setelah dia sedikit mencicipi rasa bibir Aulia.
"Aulia, lebih baik gugurkan saja kandungan itu. Atau, katakan saja jika itu adalah bayi kalian." Ucap Brian setelah mereka kembali duduk di meja makan.
"Brian, apa kamu tidak bermaksud untuk merajut kembali hubungan yang telah terjadi diantara kita?"
__ADS_1
" Aulia, aku..." Brian terlihat kebingungan untuk mencari alasan yang tepat. Hingga kemudian mata nya tidak sengaja melihat Sinta.
"Aku akan menikah, Aulia."
"Kau pasti bercanda." Ucap Aulia.
"Tidak, Aku serius dengan perkataanku. Tidak mungkin kita tetap menjalani hubungan ini. Jadi, anggap saja bahwa bayi itu adalah bayi kamu dan suami kamu."
"Tidak, kamu pasti berbohong kan?"
Brian tidak mempunyai pilihan lain selain bangkit dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Sinta.
"Sinta?"
"Mas Brian?"
Sinta terkejut karena tiba-tiba berjalan langsung menarik tangannya dan membawanya menuju meja, di mana Aulia masih ada di sana.
"Aulia, perkenalkan dia adalah wanita yang akan menjadi istriku."
Deg !!
Sinta langsung memandang wajah Brian, saat Aulia mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Brian. Saat itulah, Brian langsung mencium bibir Sinta.
"Brian, hentikan." Ucap Aulia.
"Aulia, jika aku tidak melakukan itu, kamu tidak akan percaya jika aku dan Sinta akan segera menikah."
Aulia terdiam. Memang benar, Aulia menunggu saat Brian mendaratkan ciuman nya pada bibir Sinta.
"Aku mengenal wanita ini, dia adalah wanita yang selalu datang ke rumahmu dan membantu ibu kamu untuk menjaga toko bunga. Aku yakin jika kalian tidak akan benar-benar menikah." Ucap Aulia.
"Aku akan segera mengirimkan kartu undangan nya kepada mu" Ucap Brian.
Aulia terlihat berkaca-kaca sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Brian dan Sinta.
Sepeninggalan Aulia, Brian terlihat lemas dan menjatuhkan diri pada kursi.
Sinta tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, dia memegangi bibir yang barusan di ***** oleh Brian.
Sinta memutuskan untuk pergi dari hadapan Brian, memberikan waktu agar Brian bisa memikirkan tentang apa yang baru saja dia katakan.
"Sekarang, tidak ada pilihan lain bagiku selain melamar Sinta secepatnya. Aku harus bisa membuat Aulia mengerti, jika kasta kita tidak sama dan kita tidak akan pernah bisa bersama."
Brian segera pergi setelah membayar tagihannya, dan langsung menuju rumah Sinta.
Sementara Aulia kembali dengan wajah yang cemberut.
"Ada apa?" tanya Yudi.
"Tidak ada."
"Yakin?"
"Sudah pergi sana." Ucap Aulia.
__ADS_1
"Dih, sensi amat. Lagi datang bulan ya?"Ketus Yudi.
"Tahu ah."
Yudi kemudian pergi meninggalkan Aulia seorang diri. Yudi merasa bahwa akhir akhir ini ada sesuatu yang berbeda dari Aulia.
Menurut data yang berhasil dia kumpulkan, ternyata benar kita selama ini Aulia lebih sering mencuri waktu senggang saat berada di kantor untuk keluar.
Yudi juga merasa harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Aulia dan juga Daniel.
"Aku harus segera mencari tahu, Dan semoga saja mereka tidak sedang menyembunyikan sebuah rahasia yang besar."
Saat Aulia pernah kecewa karena Brian yang memilih untuk menggugurkan kandungan ini, dan tidak ingin menjalin ikatan pernikahan dengannya. Aulia dikejutkan dengan kedatangan Anita
"Aulia, aku harus dengar penjelasannya dari sekarang juga." Ucap Anita setelah dia memasuki ruangan Aulia dan mengunci pintu serta mengaktifkan mode kedap suara.
Aulia menghela nafas panjang, kemudian dia menceritakan awal mula pertemuannya dengan Brian. Hingga ada calon janin di dalam perut nya.
Aulia juga menceritakan tentang dia yang mengajak Brian untuk menikah.
"Aulia, aku rasa kamu memang benar-benar sudah gila. Kamu wanita, masak iya kamu akan memiliki dua suami?"
"Ya terus, masalahnya dimana?" Tanya Aulia.
"Anita, kamu harus membantuku untuk memutuskan jalan mana yang harus aku ambil."
"Brian memberi aku dua pilihan, menggugurkan kandungan ini atau mengatakan bahwa bayi ini adalah milik aku dan Daniel."
"Apa kamu sudah siap jika memang kamu akan menggugurkan kandungan ini?"
"Tentu saja tidak, tidakkah kamu tahu jika aku sudah menunggu momen ini selama 5 tahun. Momen ini harus musnah adalah aku mengetahui bahwa ternyata Daniel memiliki masalah pada kesuburannya." Ucap Aulia sambil tertunduk sedih.
Anita tiba-tiba merasa iba kepada sahabatnya itu, hati-hati demikian. Anita juga menyayangkan Aulia yang coba-coba bermain api, sehingga kini dia terbakar api tersebut.
"Begini saja, Bagaimana jika kamu mengatakan yang sebenarnya kepada keluargamu?"
"Apa kamu gila?, mereka akan mencincang ku jika aku tahu aku hamil dari pria yang tidak jelas asal-usulnya."
"Jika kamu takut kamu akan dicincang oleh keluargamu? kenapa kamu tidak takut saat kamu melakukan pertama kali dengannya?"
"Tidak, kamu pasti sudah melakukannya berulang kali dengannya. Karena tidak mungkin dalam sekali kencan saja bisa langsung membuat kamu hamil."
"Hehe.."
Aulia tersenyum manis..
"Habis rasanya enak."
Dieng...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1