Tidak Sengaja Bermain Api

Tidak Sengaja Bermain Api
Permintaan Brian


__ADS_3

Aulia mendapat kabar bahwa mulai hari ini Yudi sudah mengambil alih kepemimpinan perusahaan.


"Astaga, bagaimana aku harus mengatakan ini kepada Mama. Tidak, sebaiknya aku mengumpulkan lebih banyak bukti terlebih dahulu sebelum mengatakan ini kepada mama."


Aulia yang masih merasa kesal terhadap Daniel, berpura-pura tidak mengetahui jika Daniel sudah siap untuk berangkat ke kantor.


Daniel tentu saja tidak memikirkan tentang sikap kesal yang sedang dirasakan oleh Aulia, Daniel merasa bahwa sikap Aulia terlalu berlebihan hanya untuk hal kecil saja.


"Lihat lah, selalu saja seperti ini jika aku yang merasa marah. Dia pergi begitu saja tanpa mencoba untuk sekedar berbasa-basi merayu aku dan membuat aku tidak lagi marah," ucap Aulia saat melihat Daniel pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun terhadapnya.


Daniel sendiri merasa bahwa Aulia pasti akan tenang dengan sendirinya saat dia kembali pulang dan membawakan makanan kesukaan nya.


Di kantin, Daniel terlihat sangat lucu dan itu memancing rasa keingintahuan Ulfa tentang apa yang terjadi.


"Jangan sampai rasa kesal yang kamu bawa dari rumah berdampak pada pekerjaan yang seharusnya kamu lakukan secara profesional." Ucap Ulfah yang baru saja masuk ke dalam ruangan Daniel.


"Ya, sepanjang perjalanan aku berusaha untuk tidak memikirkan hal ini, Tapi aku tidak tahu kenapa hal ini selalu memenuhi pikiranku sehingga aku tidak bisa berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaan."


"Memangnya ada apa?" tanya Ulfa.


"Kamu tahu kan, jika aku tidak ingin membuat orang tuaku marah terhadap kesalahan sekecil apapun yang aku lakukan. Aku berusaha agar aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku paling tidak suka jika menerima kritikan pada terutama dari keluargaku sendiri."


"Daniel, apa kamu masih bertahan dengan sifat burukmu itu?"


"Apa kamu berpikir jika itu adalah sifat buruk ku?"


"Tentu saja, siapapun tidak akan bisa bertahan dengan sikap kamu itu. Lagi pula, apa salahnya mengakui kesalahan yang tidak akan bisa membuat reputasimu jatuh."


"Entahlah, aku tidak tahu."


"Daniel, kamu harus mulai belajar memperbaiki sikap kamu agar pasangan yang saat ini sedang hidup bersamamu tidak selalu kecewa atas sikapmu yang satu ini."


Daniel menyandarkan dirinya di kursi kebesaran dan memejamkan mata.


"Ya kamu benar, apalagi Aulia sekarang sedang hamil dan seharusnya aku bisa lebih mengalah padanya."


"Cobalah untuk mengesampingkan egomu demi kebahagiaan bersama."


...----------------...


Aulia sedang menerima telepon setelah memastikan bahwa mamanya tidak berada di rumah.


Mama memiliki butik setelah suaminya meninggal untuk mengisi waktu luang dan agar tidak terus teringat dengan suaminya.

__ADS_1


"Terus awasi gerak-geriknya jangan sampai kamu melewatkan apapun."


"-----"


"Ya, pastikan kamu sudah memasang CCTV rahasia di setiap sudut tanpa dia sadari."


Aulia menutup telepon setelah orang yang dipercaya memastikan bahwa semua keadaan bisa terkendali.


Aulia memutuskan untuk pergi ke ruang kerja sang Papa untuk mencari tahu lebih banyak tentang Yudi.


Aulia terus mencari namun dia tidak menemukan apapun.


"Huft, bagaimana bisa aku mempunyai banyak bukti jika aku tidak memiliki petunjuk apapun yang bisa aku dapatkan, untuk membuktikan bahwa sebenarnya Yudi bukanlah anak yatim piatu."


Saat Aulia tengah berpikir bagaimana caranya mendapatkan informasi tentang Yudi yang sebenarnya bukan anak yatim piatu, ponselnya berdering dan terlihat nama Bryan yang mengirimkan pesan kepadanya.


Aulia tersenyum saat membaca pesan yang berisi ajakan untuk bertemu dari Brian.


Aulia kemudian mengirimkan pesan agar Bryan datang ke rumahnya dan bersikap sebagai tukang paket.


Aulia kemudian segera pergi ke ruangan pemantau CCTV induk untuk mematikan CCTV sementara waktu agar tidak ada yang tahu jika orang yang menyamar sebagai tukang paket adalah Brian.


Brian awalnya menolak saat tahu bahwa alamat yang diberikan Aulia adalah deretan dari rumah-rumah Sultan.


Brian akan masuk melalui pintu belakang Mansion. Aulia sudah ada di sana untuk menunggu dan berjaga-jaga jikalau ada orang yang berhasil mengenali Brian.


"Brian?" Aulia tersenyum bahagia saat melihat orang yang sangat dia cintai berada di rumah.


"Aulia, ini adalah sebuah istana. kenapa kamu menyebut bahwa ini adalah rumah yang sederhana?"


"Karena aku tidak yakin jika aku mengatakan bahwa ini sebuah mansion dan kamu akan tetap datang ke sini."


"Aulia, kau memang selalu pandai untuk membuat aku tetap datang dalam situasi apapun." Ucap Brian sambil menarik Aulia ke dalam pelukannya.


"Kau tahu, Daniel lagi lagi selalu melimpahkan kesalahan terhadapku dan dia tidak pernah mau mengakui kesalahannya."


"Apa lagi kali ini?"


Aulia kemudian menceritakan tentang pendarahan yang sempat terjadi padanya, Daniel mengatakan kepada seluruh keluarganya bahwa itu terjadi karena Aulia terlalu memaksakan diri untuk tetap menjalani aktivitas seperti biasa.


"Aulia, maafkan aku karena memang aku juga ikut andil dalam peristiwa yang sedang kamu alami. Aku terlalu memaksakan diri sehingga saat kamu harus melayani suami, kamu merasa kelelahan dan membahayakan calon bayi kita."


"Bayi kita?" mata Aulia berpindah-pindah saat dia mendengar sendiri Bryan mengatakan bagi kita untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Ya bayi kita. Walaupun aku sudah mengikhlaskan bayi ini akan diakui sebagai anak kamu dan Daniel. Tapi tetap saja jika bayi ini adalah bayi kita berdua."


Aulia memeluk Brian.


"Terima kasih karena kamu sudah mau mengakui bayi ini."


"Sama sama, Aulia sebenarnya maksud kedatanganku ke sini untuk membicarakan sesuatu tentang bayi kita."


"Ayo kita duduk di sana." tunjuk Aulia pada kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Setelah mereka duduk..


"Aulia, kapan kita bisa memastikan bahwa bayi yang ada di dalam kandunganmu ini kembar?"


"Dua bulan lagi, kenapa?"


"Begini..." Brian kemudian menceritakan tentang dirinya yang berkonsultasi dengan dokter serta hasil yang mengatakan bahwa Sinta sangat sulit untuk memiliki keturunan.


"Aulia, jika memang benar bayi yang ada di dalam kandunganmu ini kembar. Ijinkan aku untuk membawanya satu dan merawatnya bersama dengan istriku."


"Brian jujur saja saat kamu menyebut kata istriku, ada rasa sakit di dalam hatiku. Namun, aku saja jika status hubungan kita hanya kita yang tahu."


"Aulia, aku tahu jika kamu adalah wanita yang sangat baik dan dapat memahami hati wanita lain saat mereka tidak bisa berkesempatan untuk bisa hamil seperti kamu."


"Brian...."


"Aku mohon Aulia, Sinta sudah merasa sedih sejak awal pernikahan setelah dia tahu bahwa di hatiku masih ada namamu dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun."


"Aku merasa iba saat tahu dirinya tidak bisa memberikan keturunan," imbuh Brian.


Aulia terdiam, ini adalah kali pertamanya Bryan meminta sesuatu kepadanya.


Aulia menata Bryan seolah-olah dia juga bingung dengan jawaban apa yang harus dia berikan kepada Brian.


"Brian, aku.... "


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2