
Beberapa bulan berlalu, Aulia cukup senang walaupun Brian hanya menemuinya di saat mereka melakukan kontrol terhadap kedua bayi mereka.
"Brian, Aku tahu kamu sedang sibuk menjalani posisi baru. Aku tahu waktumu pasti lebih banyak tersita dengan pekerjaan, tapi apakah tidak sedikitpun kamu bisa mendoakan waktu untukku? untuk bayi kita?" tanya Aulia saat Brian mengajak Aulia untuk makan siang.
"Maafkan aku, Aulia. Sebenarnya aku sangat ingin mengajak kamu untuk bertemu dan menghabiskan waktu berdua seperti sebelumnya, hanya saja aku tidak sengaja mendengar rahasia bahwa mantan suami kamu sedang mengirim mata-mata untuk mengintai aktivitas yang sedang kamu lakukan."
"Kenapa?"
"Sepertinya dia tidak terima tas perceraian yang terjadi pada pernikahan kalian, terutama saat kamu sedang hamil. Daniel merasa ada sesuatu yang tidak beres karena kamu tidak mencoba untuk mempertahankan pernikahan demi bayi yang ada di dalam kandungan kamu."
Aulia menghela nafas panjang karena memang sebelumnya Aulia sudah mengetahui tentang hal ini dari orang-orang yang dia perintahkan untuk memantau Daniel.
"Brian, Apa kamu tidak merindukan aku? tidakkah kamu ingin mendengar setiap gerakan dan juga detak jantung bayi kita?" tanya Aulia.
"Aulia, bukankah tadi kita sudah mendengar detak jantung dari bayi kita? setiap bulan selama beberapa hari terakhir ini aku selalu menyempatkan diri untuk mengantar kamu melakukan kontrol kehamilan dan bertemu dengan buah hati kita."
"Brian, Aku merindukan kamu. Apa kamu tidak merindukan aku?"
Aulia, seandainya saja kamu tahu bahwa aku sangat merindukan kamu. Tapi sekarang aku rasa adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungan kita sebelum pernikahanku dan Sinta juga berakhir seperti pernikahan kamu dan Daniel. Walaupun aku tahu bahwa berakhirnya pernikahan kamu dan Daniel bukan karena hubungan terlarang yang kita lakukan, tapi Aku tidak ingin menyakiti hati wanita yang sekarang sudah menjadi istriku. Maafkan aku, Aulia.
"Aulia, maaf karena aku terkesan selalu menolak saat kamu mengajak aku untuk menghabiskan waktu bersama. Hanya saja, aku yang masih belum genap 1 tahun menjabat menjadi manajer di salah satu perusahaan cabang milik Daniel. Membuat aku tidak bisa leluasa menggunakan kekuasaanku untuk kepentingan pribadi."
Aulia tersenyum kecut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Brian.
"Jika memang kamu tidak bisa dengan leluasa menggunakan jabatan kamu yang menjadi manajer di salah satu perusahaan cabang milik Daniel, maka silakan saja ajukan pengunduran diri kamu."
"Aulia..."
"Ajukan surat pengunduran diri kamu kepada Daniel dan aku akan menjadikan kamu CEO di perusahaan baru yang akan segera diresmikan dalam 2 minggu ini."
Brian menatap Aulia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Apa kamu bercanda?"
__ADS_1
"Tidak, untuk apa aku bercanda kepada seseorang yang sudah sangat aku rindukan? tidakkah kamu tahu selama beberapa bulan ini aku menahan kerinduan?" tanya Aulia.
"Ajukan surat pengunduran diri kamu, Aku akan segera merekomendasikan kami untuk menjadi kepala perusahaan dari perusahaan cabangku yang baru. Memang letaknya sedikit jauh dari kota ini, tapi bukankah itu lebih baik sehingga kita bisa bertemu kapanpun kita inginkan?"
Sepertinya semesta memang sedang berpihak pada hubungan aku dan Aulia, disaat aku sudah mencoba untuk memutuskan hubungan terlarang antara aku dan Aulia. Ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk tetap mempertahankannya.
"Bagaimana? apakah kamu bersedia mengundurkan diri dari perusahaan Daniel dan bekerja untukku?" tanya Aulia.
"Apa itu akan menjadi sebuah hutang Budi yang mengharuskan aku untuk selalu berada di sisimu dan menutupi setiap keinginan kamu?"
"Brian, dalam cinta tidak ada hutang budi dan harus menuruti setiap keinginan dari pasangan. Jika memang kamu masih sibuk dengan dunia kamu sendiri, Aku akan sabar menanti asalkan kamu mengingat bahwa ada diriku yang akan selalu merindukan kamu."
"Aulia, seandainya saja aku belum menjadi suami dari Sinta. Mungkin aku sudah bersiap untuk melamar kamu setelah bayi ini lahir."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak menikah secara diam-diam saja? jadi kita akan melakukan hubungan itu dengan halal dan tidak lagi secara sembunyi-sembunyi?"
"Aulia, kamu memang benar-benar membuat aku bimbang."
"Aulia, kamu tidak sedang mencoba untuk membicarakan agar kita bisa hidup bertiga kan?" tanya Brian.
"Bicarakan hal ini dengan istri kamu, Jika dia tidak kebesaran menerima aku di tengah-tengah kehidupan rumah tangga kamu, maka aku akan memastikan bahwa aku tidak akan mengganggu dan merusak hubungan kamu dan Sinta. Tapi, jika memang Shinta menolak kehadiran aku diantara pernikahan kamu, Aku tidak akan pernah memaksa dan aku akan mencoba untuk melupakan impianku yang ingin hidup dan menjalani bahtera rumah tangga bersama dengan kamu."
Aulia terlihat mengeluarkan uang dan meletakkannya di bawah piring sebelum dia mengambil tasnya dan pergi dari hadapan Brian.
"Kenapa? Kenapa aku selalu saja dilema setiap kali hatiku sudah memantapkan diri untuk berpisah dengan kamu, Aulia."
Brian menatap nanar kepergian Aulia, sebenarnya Bryan juga merasakan kerinduan yang sangat mendalam di dalam hatinya. Hanya saja, keinginannya untuk setia dan menghormati pernikahannya dengan Sinta, membuat Bryan berusaha mati-matian menahan diri dan perasaannya kepada Aulia.
...----------------...
Brian sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya, mengingat hanya tinggal hitungan minggu saja Aulia akan melahirkan secara sesar. Brian sudah mengatakan kepada Sinta agar mereka bersiap-siap untuk pindah ke bagian kota yang lain. Tapi Brian tidak mengatakan jika dia akan bekerja kepada Aulia.
Aulia sangat senang karena Bryan menerima tawarannya untuk bekerja sebagai CEO di perusahaan cabang yang baru saja diresmikan.
__ADS_1
Brian menemui Aulia di villa tempat di mana dulu mereka sering bertemu untuk menyerahkan dokumen yang diminta Aulia untuk menjadikan Brian sebagai CEO.
"Aku mengatur perjalanan kamu dan memfasilitasi kamu dengan rumah dan mobil, orang suruhanku akan menjemput kamu beberapa saat setelah aku melahirkan bayi ini."
"Aulia, Kenapa kamu terlihat sedih?"
"Kenapa? Bukankah itu seharusnya pertanyaan bodoh yang tidak kamu tanyakan kepada aku."
Brian terdiam, dia sebenarnya tahu apa yang membuat Aulia bersedih. Itu, karena Bryan masih belum kembali membicarakan hal mengenai Aulia yang siap untuk menjadi istri kedua dan berada di tengah-tengah dirinya dan juga Sinta.
"Maafkan aku, Aulia. Aku terlalu sibuk mengurus surat pengunduran diriku sehingga aku tidak sempat berbicara kepada Sinta."
"Tidak apa apa, tidak usah dibicarakan karena aku juga wanita. Aku tahu apa yang akan Sinta rasakan ketika dia mengetahui bahwa aku akan berada diantara kalian."
"Aulia..."
"Brian, aku tahu bahwa aku sangat mencintai kamu dan menginginkan kamu. Tapi Aku tidak akan menggunakan kekuasaan yang aku demi bisa mengedepankan kepentingan pribadi ku. Walaupun aku bisa membuat kita hidup bersama, tapi aku tidak akan melakukannya karena itu pasti tidak akan pernah membuat kita bahagia."
"Aulia..."
"Pulanglah, Sinta pasti sudah menunggu mu."
"Kamu tidak ingin menawarkan aku untuk tinggal selama semalam di sini?" tanya Brian.
"Tidak, pulanglah."
Brian pulang dan meninggalkan Aulia dengan sejuta pertanyaan. Kenapa?
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1