
Aku tidak mengerti menyangka, pertemuan tidak sengaja dengan seorang wanita yang bernama Aulia akan membuatku merasakan getaran cinta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Entah siapa yang memulainya, kami begitu dekat satu sama lain sehingga kami merasa saling ketergantungan.
Ada sesak di dalam dada, saat satu hari saja tidak bertatap muka. Hingga saat malam Halloween itu menjadi malam yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku dan Aulia melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kami lakukan tanpa ikatan pernikahan.
Pagi harinya, setelah malam terindah di dalam hidupku. Aku tidak menemukan keberadaan Aulia. Aku berpikir dia marah karena aku sudah sangat lancang memintanya untuk tidur bersama denganku.
Bahkan aku dan Aulia tidak saling bertemu dan berhubungan selama beberapa minggu.
Aku mencoba untuk mencari informasi tentang keberadaan Aulia dan di mana kantor tempat dia bekerja. Sayangnya aku tidak menemukan informasi yang berkaitan tentang Aulia.
Hingga kemudian aku bertemu dengannya di sebuah kedai makan tempat di mana kita dulu pertama kali bertemu.
Aulia ternyata baru saja pulang dari luar negeri karena memang ada urusan yang mendadak dan harus segera dia selesaikan.
Aku sangat bahagia, karena aku pikir Aulia marah kepadaku tapi ternyata tidak.
Sejak saat itulah kami sering melakukan apa yang tidak seharusnya kami lakukan.
Aulia bahkan cukup dekat dengan ibuku karena memang aku sering membawanya berkunjung ke rumah.
Beberapa hari terakhir, aku baru mengetahui jika ternyata Aulia adalah CEO muda yang memimpin perusahaan terbesar di kotaku.
Aku sangat kecewa, karena Aulia menyembunyikan identitasnya. Terutama tentang statusnya yang sudah memiliki seorang suami.
"Aku tahu Brian, tidak seharusnya aku berbohong tentang statusku. Tapi kamu tidak bisa menyalahkan aku karena memang sejak awal kamu tidak pernah bertanya tentang status ku." Ucap Aulia yang membuatku terdiam.
Memang benar, sejak awal pertemuanku dengannya. Aku tidak pernah bertanya tentang siapa dia dan tidak pernah mencoba untuk mencari tahu dari mana Aulia berasal.
"Brian, aku memang sudah memiliki suami. Rumah tangga ku, bisa dibilang sangat harmonis karena kami tidak pernah terlibat dalam sebuah pertengkaran. Hanya saja, aku tidak menemukan kebahagiaan di dalam diriku sendiri. Aku menemukan kebahagiaan yang aku inginkan bersama denganmu." Ucap Aulia saat itu.
Ah, dengan tatapan dari mata cantik itu, bagaimana bisa aku terlalu marah kepadanya.
Aku pun segera menghampirinya, memeluk dan mencium Aulia.
Ini semakin membuat kisah cintaku menjadi rumit.
Aku sangat mencintai Aulia, tapi aku sadar kemungkinannya sangat kecil untukku bisa memiliki Aulia seutuhnya.
Di sisi lain, ada Sinta. Orang yang selalu datang dan membantu ibuku mengurus toko bunga miliknya.
__ADS_1
Sinta bukanlah tipe wanita yang pemalu, Sinta tidak segan-segan menyatakan secara langsung perasaannya kepadaku. Hanya saja, aku tidak bisa membalas perasaannya karena hatiku begitu pada Aulia.
...----------------...
"Mas, Aku tahu kamu sedang menjalin hubungan yang tidak seharusnya kamu jalani dengan seorang wanita yang sudah memiliki suami." Ucap Sinta saat aku sedang menggantikan ibu menjaga toko bunga miliknya.
"Sinta..."
"Mas, tidak seharusnya perselingkuhan itu akan terus berada dalam titik kebahagiaan. Ada kalanya perselingkuhan itu akan menjadi sebuah kesedihan yang membuat kita merasa menyesal."
"Entahlah, Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Aku begitu mencintainya. Aku dan dia seolah-olah sudah terikat satu sama lain dan kami tidak bisa untuk mengakhiri hubungan ini."
"Ini hanya saran dariku, saran sebagai seorang teman. Bukan Aku mengatakan ini karena aku berharap bisa mendapatkan hatimu dan melihatmu menerima cintaku. Aku mengatakan ini karena takut hal yang buruk menimpa kehidupan Mas dan ibu."
"Apa maksud kamu?"
"Lebih baik segera akhiri hubungan mas dengan Aulia. Sebelum Ibu berharap sesuatu yang lebih dari ini."
Sinta tidak henti-hentinya terus memberikan aku nasehat tentang buruknya hubungan terlarang yang sedang aku jalani bersama dengan Aulia.
Awalnya aku mengira itu adalah trik Sinta untuk membuat aku bisa berpaling dari Aulia dan berganti menatapnya dengan penuh cinta.
Namun, seiring berjalannya waktu. Aku juga sering melihat kebersamaan Aulia bersama dengan suaminya. Membuat ku membenarkan apa yang selalu dikatakan oleh Sinta.
"Aulia, aku merasa hubungan kita hanya sampai di sini saja."
"Apa maksud kamu, Brian?"
"Aulia, aku tidak bisa terus seperti ini walaupun aku sangat mencintaimu. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku ini."
Setelah mengatakan itu aku segera pergi meninggalkan Aulia, entah apa yang dia pikirkan. Karena saat aku berbalik dia sudah tidak ada di tempat di mana dia berdiri sebelumnya.
Hari hari yang aku lalui tanpa kehadiran Aulia maupun kabar darinya. Membuatku merasa kehilangan semangat untuk hidup.
Ibu sekarang jadi lebih sering menanyakan tentang kehadiran Aulia.
Aku yang baru saja mendapatkan kenaikan jabatan, dari manajer menjadi wakil ketua, membuat aku memiliki kesibukan sehingga aku perlahan mulai melupakan Aulia.
Aku yang sudah bertekad untuk melupakan Aulia dan mulai membuka hati bagi Sinta, sepertinya tidak mendapatkan restu dari semesta.
Tepat saat aku sedang keluar untuk makan siang, aku bertemu dengan Aulia.
"Brian, aku hamil."
__ADS_1
Aku yang saat itu sedang menikmati makan tentu saja terkejut dan hampir saja tersedak sendok saat Aulia mengatakan bahwa dirinya hamil.
Aulia memberikan hasil tes pemeriksaan yang memang menunjukkan bahwa dia hamil.
"jika kau tahu bahwa kamu hamil, kenapa kamu datang padaku? bukannya datang kepada suamimu?"
"Karena bayi yang ada di dalam kandunganku adalah bayi kamu."
"Jangan bercanda, Aulia."
Aku melihat Aulia menelan nafas panjang sebelum akhirnya dia memberikan aku satu berkas lagi yang berisi tentang hasil pemeriksaan kesuburan dari suaminya.
"Suamiku di vonis mandul dan tidak mungkin seorang laki-laki yang mandul bisa membuatku hamil."
Aku merasa bingung, aku berulang kali menatap wajah Aulia dan memandangi dua berkas yang ada di tangan ku.
"Gugurkan saja." Ucapku kemudian.
"Apa kamu sudah gila. Sudah 5 tahun aku menantikan kehamilan ini, dan sekarang kamu minta aku untuk menggugurkannya?"
"Lalu apa ya kamu harapkan? apa kamu berharap aku akan bertanggung jawab atas kehamilan?"
Aulia terdiam, entah apa yang dia rasakan. Yang jelas, saat itu aku merasa bahagia sekaligus merasa ketakutan.
Aku bahagia karena ternyata ada buah cinta ku dan Aulia yang kini tengah bersarang di dalam tubuh Aulia.
Aku juga merasa takut jika hal ini justru membawa dampak yang buruk terhadap keluargaku, seperti yang selalu cinta katakan.
"Brian, tentu saja kamu bisa bertanggung jawab dengan menikahi aku."
"Apa kamu sudah gila?"
"Tidak, aku tidak gila. Aku hanya mengatakan apa yang selalu ingin aku katakan."
Aku benar-benar yakin jika Aulia sudah menjadi gila.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1