
Ulfa terbangun dan mendapati Daniel sedang tidur di sofa. Di dalam kamarnya.
"Apa semalam dia tidur di sini dan menemani aku?" lirih Ulfa.
Ulfa kemudian berjalan mendekati Daniel, Ulfa tersenyum sambil memandangi wajah Daniel.
Cup
Ulfa memberanikan diri mencium pipi Daniel.
"Daniel, maafkan aku jika semalam aku bersikap memaksakan diri. Aku mungkin hanya merindukan kasih sayangnya sebelumnya selalu aku dapatkan dari suami ku." lirih Ulfa.
Ulfa kemudian memilih untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Daniel terbangun, dia yang tidak biasa tidur di sofa tentu saja merasakan sakit di seluruh badannya.
Daniel tidak sadar jika dia bukan berada di kamarnya sendiri, melainkan berada di kamar Ulfa.
Tatanan kamar hotel yang sama tentu saja membuat Daniel yang merasakan sakit disekujur tubuhnya, tidak menyadari jika dirinya berada di kamar Ulfa.
Dengan santai, Daniel membuka seluruh pakaiannya dan hanya meninggalkan celana pendek sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Daniel berjalan dengan mata terpejam dan berusaha meraih gagang pintu kamar mandi.
Setelah berhasil membuka pintu kamar mandi, Daniel dengan setengah mengantuk berjalan menuju bak mandi dan langsung masuk ke dalamnya.
Ulfa yang sedang berendam tentu saja terkejut saat mendapati Daniel ikut masuk ke dalam bak mandi yang sama.
"Hmm, nyaman sekali." lirih Daniel.
"Daniel.."
"Hmm.."
"Buka matamu." Ucap Ulfa sambil berusaha meraih handuk dan siap berdiri sebelum diambil membuka mata.
Daniel membuka mata, dia terkejut melihat Ulfa yang baru saja selesai menutupi tubuhnya dengan menggunakan handuk.
"Ulfa, apa yang kamu lakukan di dalam kamar mandiku?" tanya Daniel.
"Helo, seharusnya itu adalah pertanyaan yang akan aku tanyakan kepada kamu. Kenapa kamu tidur di kamarku dan masuk ke dalam kamar mandiku, serta langsung menceburkan diri di bak mandi ini?"
"Apa?"
Daniel melihat sekeliling kamar mandi itu, kemudian dirinya mulai menyadari jika itu bukanlah kamar mandi tempat di mana dia tidur di salah satu kamar hotel.
Daniel memejamkan mata dan tersenyum.
"Hehe, maafkan aku."
"Sekarang, apa kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi?" tanya Ulfa.
"Ya, semalam kamu mengigau dan sedikit menangis dalam tidur. Aku jadi tidak tega untuk meninggalkan kamu seorang diri. Jadi aku memutuskan untuk tidur dan menemani kamu. Aku takut jika dalam tidur kamu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan."
"Haha, Daniel, Daniel. Aku memang merasa sedih karena aku harus berpisah dengan orang yang aku cintai. Tapi bukan berarti Aku akan melakukan hal-hal yang merugikan diriku sendiri dan membuat khawatir kedua orang tuaku."
__ADS_1
"Bagus lah."
"Jadi sekarang, bisakah kamu keluar dari kamar mandiku. Karena aku ingin melanjutkan ritual mandi yang sempat tertunda karena kamu."
Daniel sedikit melongo karena melihat Ulfa yang hanya mengenakan handuk lilit di tubuhnya.
Daniel memilih untuk segera keluar dari sana setelah dia mengambil handuk yang berada di sebelah kiri.
Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian, saat Daniel sudah mengemudi pakaiannya dan hendak keluar dari kamar itu.
Daniel berbalik arah dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Aa...."
Ulfa tentu saja berteriak saat melihat Daniel kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Daniel, sebenarnya mau kamu apa sih? kenapa kamu kembali masuk ke dalam kamar mandi?"
"Hehe, aku melupakan celana favorit ku." ucap Daniel sambil berjalan dan mengambil boxer yang terjatuh tepat di depan bak mandi.
Daniel memejamkan mata agar dia tidak melihat tubuh Ulfa, ya walaupun sebenarnya dia sudah melihat sekilas.
Ulfa hanya tersenyum melihat Daniel yang berusaha menggapai pintu kamar mandi dengan mata tertutup.
...----------------...
Di villa..
Aulia terbangun dan mendapati bahwa dirinya sudah sendiri.
Aulia bangkit dari tempat tidurnya dan dia melihat beberapa cemilan sudah tertata rapi di meja beserta dengan sebuah kertas kecil.
...Aku menyiapkan ini...
... untuk kamu dan calon bayi kita. ...
...Maaf, aku harus segera pergi,...
... agar Sinta tidak curiga....
...Aku mencintaimu, Brian....
Aulia tersenyum sambil duduk dan mulai menghabiskan makanan serta minuman yang dibuat khusus untuknya.
Aulia membuka ponsel dan dia sedikit terkejut melihat data yang dia terima mengenai Yudi.
Aulia segera melakukan panggilan terhadap orang yang dia tugaskan untuk mencari sesuatu mengenai Yudi.
"Apa kamu yakin dengan data-data yang kamu dapatkan?"
"----"
"Apa kamu yakin jika data-data mengenai abangku itu sudah benar?"
"----"
__ADS_1
"Baiklah, Aku akan segera sampai di kantor dalam satu jam."
Aulia memutuskan untuk secara bersiap, baju kantor sudah tertata rapi di meja.
Aulia tersenyum saat mengetahui bahwa pakaian kantornya juga sudah disiapkan oleh Brian.
Aulia menemukan catatan yang sama di atas baju kerja nya.
Aulia mengambil ponsel dan dia tidak menemukan satu pesan pun dari Daniel.
"Hmm, sepertinya dia memang bersenang-senang sehingga lupa untuk memberikan kabar terhadap aku."
Aulia memutuskan untuk segera pergi ke kantor setelah dirinya siap.
Di kantor, Aulia segera meneliti tentang berkah yang dia temukan mengenai Yudi.
"Aulia..."
Aulia segera menyembunyikan berkas itu setelah mengetahui Yudi masuk ke dalam ruangan nya.
"Abang, bisakah jika kamu datang tidak mengejutkan aku? kenapa kamu selalu datang secara tiba-tiba seperti hantu saja?"
"Aulia, kenapa semalam kamu tidak pulang ke rumah?"
"Oh, semalam aku tidur di villa. Aku merasa bosan jika aku harus tidur sendirian di dalam kamar. Itu membuat aku semakin merindukan Daniel."
"Lain kali, hubungi aku agar aku bisa mengirimkan orang untuk menemani kamu."
"Baiklah, terima kasih."
"Ini, aku membawakan kamu sedikit cemilan dan juga susu. Ingat, sekarang kamu ada nyawa yang harus kamu. Pastikan dia mendapatkan nutrisi yang baik." Ucap Yudi sambil tersenyum.
"Terima kasih."
Yudi kemudian pergi setelah mendapatkan panggilan telepon. Aulia semakin curiga dengan tingkah laku Yudi akhir-akhir ini.
"Semoga saja bang Yudi benar-benar tidak berniat untuk melakukan itu. Jika itu benar-benar dilakukan, almarhum papa pasti akan sangat kecewa."
"Aku harus mencari tahu kebenarannya tentang ini."
Aulia kemudian memilih untuk segera keluar dari ruangan nya dan menemui mata-mata yang sudah dia pekerjakan untuk mengawasi setiap gerak-gerik Yudi.
Yudi Setiawan.
Menurut data yang diterima oleh Aulia. Yudi adalah anak salah satu pengusaha sukses di kota itu. Pengusaha yang merupakan musuh perusahaan Aulia sejak dulu.
Hal ini tentu saja membuat Alia terkejut karena sebelumnya Yudi diketahui hanya seorang yatim piatu dan tidak memiliki siapapun.
Karena kegigihan dan kerja kerasnya lah yang membuat ayah Aulia mengangkat judi sebagai anak dan mempercayakan perusahaan kepada Yudi.
Kini, Aulia harus ekstra hati-hati dan mulai menyelidiki Yudi.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...