
"Daniel, kita sama-sama mempunyai masa lalu yang tidak menyenangkan. Lebih baik kita tutup saja lembaran yang menyakitkan itu dan kita memulai kehidupan kita yang baru bersama dengan anak yang ada di dalam kandunganku ini."
"Dinda, Bagaimana bisa kamu tega membohongi aku dengan mengatakan bahwa bayi yang ada di dalam kandunganmu adalah bayi milikku?"
"Aku terpaksa melakukannya karena aku kasihan terhadap kamu yang dibohongi oleh Aulia."
"Lalu, Apa bedanya dengan kamu yang juga membohongi aku sehingga membuat rumah tanggaku dan Aulia hancur berantakan seperti ini?"
"Daniel, Apa kamu mau hidup di dalam kebohongan Aulia?"
Daniel terdiam, dia benar-benar tidak mengetahui bahwa hidupnya akan serumit ini.
Dinda mendekati Daniel dan memeluknya, mendekapnya erat seolah-olah ingin memberikan dukungan atas takdir yang terasa tidak adil bagi mereka berdua.
"Aku mencintaimu, kamu tahu bahwa tidak ada yang lebih mencintaimu dari aku. Mari bersama melupakan masa lamu. Kita pergi dari kota ini dan mulai hidup yang baru."
Keesokan harinya, Daniel mencoba untuk menemui Aulia di kantornya. Namun, Aulia sudah tidak pernah lagi datang ke kantor. Itu membuat Daniele berpikir jika Aulia sudah melahirkan.
Daniel tidak lagi peduli kepada Dinda, dia lebih fokus mencari keberadaan Aulia untuk mengetahui siapa ayah dari bayi yang dia kandung sebelumnya. Dinda sendiri tidak berusaha membujuk Daniel, dia memilih untuk memberi Daniel waktu. Mengingat dua wanita yang pernah menjadi teman hidupnya, sama sama berbohong tentang kehamilannya.
Sinta sebenarnya ingin bertemu dengan Aulia, untuk berterima kasih karena Aulia sudah mau memberikan bayi nya. Namun, Brian menolak dengan alasan mobil jemputan mereka sudah tiba.
Brian meninggalkan kota itu dengan perasaan campur aduk. Dia tahu Aulia sedih dengan perpisahan ini. Namun, Brian sudah bertekad untuk memulai kehidupan yang baru.
...----------------...
Tiga bulan berlalu.
Daniel tidak sengaja bertemu Aulia saat acara lelang yang selalu di gelar perusahaan besar setiap 3 bulan sekali.
"Aulia, kita perlu bicara."
Daniel menghampiri Aulia setelah acara lelang berakhir. Aulia menganggukkan kepala tanda dia setuju untuk berbicara dengan Daniel.
__ADS_1
Mereka memilih kafe yang letaknya tidak jauh dari gedung tempat acara lelang di buat.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Daniel.
"Daniel, aku tahu jika kamu ingin membicarakan sesuatu hal yang penting kepadaku, jadi lebih baik kita langsung mulai kepada intinya saja karena kamu tahu bahwa aku paling tidak suka berbasa-basi."
"Baiklah.." Daniel menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia mengutarakan hal yang memang sudah mengganjal di hatinya.
"Aulia, siapa ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan kamu? Apa itu alasannya ketika kamu memutuskan untuk bercerai dari aku, kamu tidak menuntut atas apa yang seharusnya aku berikan kepada kamu sesuai perjanjian pranikah kita?"
"Pertama, kamu tidak perlu tahu siapa Ayah dari bayi yang sudah aku lahirkan ke dunia ini. Karena percuma saja jika aku memberitahu kamu karena seseorang yang menjadi ayah dari bayi itu sudah pergi meninggalkan kota ini. Kedua, Aku tidak menginginkan harta yang memang seharusnya kamu berikan kepadaku karena aku merasa bahwa apa yang aku miliki sudah cukup. Kamu pasti memerlukan pemasukan yang lebih besar karena kamu akan memiliki buah hati kamu sendiri."
"Dinda tidak benar-benar mengandung anakku karena memang dia sebelumnya dinyatakan bermasalah sehingga sangat sulit untuk memiliki keturunan sendiri," ucap Daniel yang kemudian menceritakan tentang apa yang dikatakan tidak kepadanya.
"Daniel, maafkan aku karena memang sebelumnya aku telah bermain api dan tidak sengaja terbakar di dalamnya. Aku sudah belajar dari kesalahan yang aku lakukan sehingga mungkin saat kamu bercinta dengan Dinda. Itu menjadi karma untukku. Dan sepertinya memang perpisahan merupakan jalan terbaik bagi kita berdua."
"Aulia, kamu membuat aku terasa tidak memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Apa kamu tahu, aku dia nanti dua wanita dalam waktu yang berdekatan. Aku..."
"Daniel, Jika kamu terus terjebak dalam masalah ini. Kamu tidak akan pernah melangkah menuju hari di mana kebahagiaan akan datang menghampiri kamu," ucap Aulia.
Daniel tediam, dia akui Aulia memang sosok yang tegar dan mampu menemukan cara untuk memulai hidup yang baru setelah sebelumnya mengalami permasalahan atau ujian yang berat. Ingin sekali rasanya Daniel memaki-maki Aulia karena ternyata dia yang lebih dulu menghianati pernikahan mereka.
Akan tetapi semua itu tidak akan ada artinya lagi sekarang karena mereka sudah resmi bercerai. Daniel untuk pergi meninggalkan Aulia dan bersiap untuk menyambut kehidupannya yang baru.
Dinda merasa sangat bahagia karena adanya memilih untuk tetap mempertahankan pernikahannya dan akan hidup bersama dengan salah satu bayi kembar yang akan segera lahir ke dunia.
Aulia akhirnya bisa bernafas lega karena Daniel dipastikan tidak akan pernah lagi mengganggu hidupnya. Aulia tidak pernah datang ke kota di mana Brian tinggal, Dia sedang mencoba untuk melupakan segala kisah yang pernah terjadi dan fokus merawat putri kecil yang dia beri nama Nafisha.
"Biarlah rahasia tentang siapa ayah kandung Nafisha tetap tersimpan rapat-rapat. Aku yakin Daniel tidak akan pernah lagi untuk di kehidupanku dan aku akan memastikan hal itu."
...----------------...
Aulia sekarang tidak terlalu fokus mengurus perusahaan karena dia memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan buah hatinya.
__ADS_1
Daniel dan Dinda memutuskan pindah dari negara itu untuk memulai kehidupan yang baru. Walaupun Daniel masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi pada hidupnya. Tapi mereka berdua sepakat untuk mencoba melakukan pengobatan yang nantinya akan membuat mereka bisa mengetahui keturunan sendiri.
Sementara itu, Sinta yang sangat merasa bahagia karena dirinya sudah resmi mendapatkan gelar seorang ibu, walaupun bayi yang dia rawat bukanlah anak kandungnya. Tapi Sinta menikmati setiap momen yang dia lalui bersama dengan anak dan juga suaminya.
Perlahan, Brian mulai benda-benda mencintai Sinta dan menyayangi Sinta seperti suami yang menyayangi istrinya. Itu membuat Sinta semakin menyayangi bayi yang dia beri nama Hafisha.
"Terima kasih, Hafisha. Kamu membuat suamiku menyayangi aku tidak sepenuh hati dan melupakan wanita yang dulu sangat amat dia cintai. Kamu adalah jembatan untuk cinta kita berdua. Terima kasih, aku akan memberikan segenap kasih sayang kepada kamu dan memastikan bahwa kamu akan mendapatkan seluruh cinta dan kasih sayang dari kami berdua."
Sinta terus memeluk dan menciumi pipi Hafisha yang sudah tertidur lelap. Tak lama berselang, Brian datang dan langsung memeluk dan mencium Sinta.
"Menuju hidup yang baru. Semoga kebahagiaan selalu menghampiri kita," lirih Sinta dalam pelukan Brian.
...----------------...
...----------------...
End
...----------------...
...----------------...
Terima kasih karena sudah mau membaca cerita ini hingga akhir..
Mak phi-khun tunggu kehadirannya di nopel baru Mak phi-khun lainnya..
Terima kasih..
Semoga yang sudah membaca dari awal hingga akhir, rejekinya di perlancar. Amin.
Sayonara...
Ketemu lagi dengan Mak Phi-khun setelah menyelesaikan semua nopel yang masih on going...
__ADS_1
🥰🥰🙏🙏🙏💖💖💖💙💙💙