
"Terima kasih, Daniel. Karena kamu sudah mengajak aku untuk terlibat dalam bisnis yang sangat besar seperti ini," ucap Ulfa setelah mereka baru saja memenangkan bisnis yang sangat besar.
"Bukankah itu sudah menjadi tugasmu. Karena sekarang kamu menjabat sebagai Orang yang bertanggung jawab untuk kemenangan kita saat melakukan bisnis seperti ini," ucap Daniel sambil tersenyum.
"Ya, Aku hanya tidak menyangka jika aku yang baru bergabung di perusahaan kamu, sudah kamu berikan tanggung jawab yang sangat besar."
"Itu Karena aku tahu bahwa kamu memiliki potensi yang sangat bagus untuk kemajuan perusahaan ini."
"Ayo, kita rayakan kemenangan ini." Ucap Daniel sambil mengeluarkan tangan kepada Ulfa.
Ulfa menyambut uluran tangan itu dengan penuh kebahagiaan. Mereka kemudian merayakan kemenangan itu dengan makan di salah satu restoran. Seluruh karyawan yang ikut serta juga merayakan keberhasilan perusahaan.
Di sela sela kebahagiaan itu, Daniel menyempatkan diri untuk menghubungi Aulia dan memberitahukan kabar membahagiakan ini.
"Selamat ya sayang, semoga setelah ini kamu akan segera kembali," ucap Aulia melalui sambungan telepon.
"Ya, Aku akan segera kembali begitu urusanku di sini selesai. Apa kamu sudah merindukan aku?"
"Tidak, aku hanya merindukan suasana di kantor. Di sini sangat membosankan, aku sudah tidak tahan lagi untuk terlalu lama berada di rumah. Lagipula aku sudah berkonsultasi kepada Anita. Anita memastikan bahwa kandunganku baik-baik saja dan aku bisa melakukan aktivitas seperti biasa," suara Aulia terdengar berat. Mungkin karena Aulia tidak terbiasa berada di rumah sepanjang hari.
Aulia yang biasanya memiliki segudang kesibukan di setiap harinya, harus berada di rumah dan tidak boleh melakukan apapun. Jelas saja itu membuat nya merasa jenuh.
"Baik lah, karena aku sedang dalam suasana hati yang baik. Juga Aku sedang merayakan keberhasilan perusahaanku, aku mengizinkan kamu untuk melakukan aktivitas seperti biasa."
"Benarkah?" suara Aulia kini terlihat bersemangat dan begitu bahagia.
"Tentu saja, aku juga tahu jika wanita hamil tidak boleh terlalu stress, mereka harus selalu bahagia agar janin yang ada di perutnya tumbuh dengan sempurna."
"Kau memang yang terbaik," puji Aulia.
"Aulia, aku akan mengizinkan kamu untuk melakukan aktivitas seperti biasa dengan catatan jika kamu merasa lelah, kamu harus segera beristirahat dan jangan memaksakan diri."
"Tentu."
"Baiklah, kalau begitu segera tutup teleponnya sebelum aku berubah..... pikiran," goda Daniel.
Benar saja, sambungan telepon sudah ditutup oleh Aulia bahkan sebelum Daniel menyelesaikan kata terakhirnya.
Daniel hanya tersenyum sambil memikirkan Aulia yang mulai berjalan untuk berganti pakaian.
Ulfa yang melihat kegembiraan di wajah Daniel, tiba-tiba merasakan sesuatu di dalam hatinya.
Daniel, masih ada kesempatan untukku mendapatkan kebahagiaan bersama denganmu. Tidak masalah walaupun aku tidak akan pernah menjadi bagian dari hidup, tapi setidaknya aku ada dan memiliki tempat di hatimu.
Daniel meletakkan ponselnya, sebelum dia kembali ke meja tempat di mana beberapa karyawannya sedang menikmati makanan yang sudah disediakan.
__ADS_1
Daniel lalu menghampiri Ulfa yang terlihat duduk sendiri dan berpisah dari meja ya memang sudah dipesan khusus untuk merayakan kemenangan perusahaan.
"Ulfa, kenapa kamu duduk di sini sendiri? apa kamu sudah memikirkan sesuatu?" tanya Daniel.
"Tidak, hanya merasa masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi pada rumah tanggaku."
"Aku tidak menyangka jika janji yang pernah diucapkan kepadaku, dia tidak pernah mengingatnya setengah mengetahui jika aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan."
"Kenapa kamu masih mengingat tentang hal itu?" tanya Daniel sambil meminum minuman yang baru saja diberikan oleh karyawan nya.
"Entah lah, Aku merasa bahwa ada sesuatu yang menahanku untuk melangkah dan merasakan kebebasan yang baru saja aku dapatkan."
"Ulfa, Bagaimana bisa kamu membuat bab selanjutnya dan melangkah ke depan, jika kamu masih terus mengulang bab sebelumnya dan berhenti di tempat di mana kamu berada."
"Itulah masalah nya, aku seperti terjebak dan aku tidak bisa melangkah maju. Aku hanya bisa melakukan gerakan memutar dan terus membaca episode-episode sebelumnya."
"Kamu harus belajar untuk melepaskan apa yang tidak ditakdirkan untukmu. Percayalah, satu kebahagiaan hilang maka akan tumbuh seribu kebahagiaan lainnya."
Daniel tersenyum sambil memegang tangan Ulfa.
Daniel, walaupun dulu aku sering menyakitimu dengan mengabaikan perasaanmu. Kini aku menyadari bahwa aku tidak akan pernah menemukan pria setulus dirimu lagi.
...----------------...
Ada hujan badai di negara tempat di mana Daniel sedang melakukan kunjungan bisnis. Itu membuat jadwal kepulangan mereka harus diundur beberapa hari.
Aulia tidak mempermasalahkan hal itu, lagi pulang lagi Aulia dan Daniel. Hal seperti ini sudah sering terjadi.
Aulia boleh melakukan aktivitas seperti biasa. Aulia mulai merasa jika Yudi menunjukkan gerak-gerik yang selalu mencurigakan.
Seringkali Aulia melihat Yudi sedang menelpon dengan seseorang yang misterius, hingga beberapa permasalahan yang sering terjadi akhir-akhir di dalam perusahaan.
Aulia memutuskan untuk mengirim mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi Yudi.
Walaupun Aulia menyayangi Yudi seperti dia menyayangi saudaranya sendiri. Aulia harus tetap waspada mengingat, Yudi adalah orang luar yang tidak sengaja diangkat menjadi keluarga oleh almarhum Ayah Aulia.
"Brian...!"
Aulia tiba-tiba memikirkan Brian saat dia mengelus perutnya.
"Sayang, sepertinya Papa kamu sedang menikmati bulan madu. Dia bahkan tidak menghubungi Mama hingga satu pekan. Seperti nya, kita memang harus mulai belajar hidup tanpa kehadiran papa," ucap Aulia.
"Ya, sepertinya memang sudah waktunya aku mengakhiri ini semua. Tidak baik terlalu lama bermain api."
Aulia menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian mulai menghapus folder yang berisi tentang foto-foto kebersamaannya dengan Brian.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Saya pengantar makanan.."
"Masuk." Ucap Aulia yang masih fokus menghapus beberapa foto dirinya dan Brian.
"Letakan saja di sana," ucap Aulia.
Aulia kemudian merasa heran karena pria pengantar makanan itu hanya berdiri sambil membelakanginya.
"Hei, apa kamu tidak mendengar dengan apa yang baru saja aku katakan?"
"Tidak, karena yang bisa aku dengar adalah suara rindu."
"Brian?" Aulia terkejut saat melihat pria yang menyamar sebagai pengantar makanan itu adalah Brian.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Aulia sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Brian.
"Aulia, aku merindukanmu."
Aulia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Cih, Bukankah kamu sudah bersenang-senang bersama dengan istrimu? untuk apa kamu datang ke sini dan mengatakan jika kamu merindukan aku. Memangnya kamu pikir aku akan percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan?"
"Ya, aku tahu bahwa kamu tidak akan percaya dengan ucapanku. Asal kamu tahu saja, selama satu pekan ini yang ada dalam bayanganku hanyalah dirimu."
"Aku melakukan tugasku sebagai seorang suami, tapi aku tidak bisa melihat wajah lain selain dirimu."
"Aulia, aku merindukanmu. aku sudah tidak tahan lagi dengan rindu ini."
Aulia tersenyum dan langsung memeluk Brian.
Selanjutnya, kalian pasti tahu apa yang terjadi pada dua kekasih yang sudah sangat merindu.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1