
Anna menahan diri untuk tidak langsung bertanya pada Daniel tentang chat dari Ibu Mertuanya ini. Dan 10 menit kemudian Daniel sudah keluar dari kamar mandi, Anna berdiri lalu menghampiri Daniel yang juga berjalan mendekat ke Arah Anna, Anna membantu Daniel mengeringkan sisa air di tubuhnya.
"Terima kasih, Na. Ayo tidur," Ajak Daniel pada Anna. Anna pun menurut, kini mereka berdua sudah terbaring di tempat tidur, 1 tangan Daniel memeluk bahu Anna, harusnya Anna merasa nyaman tidur sepertinya tapi rasa ingin tahunya begitu besar, Anna menarik nafasnya pelan lalu mulai menyusun kalimat yang akan dia ucapkan pada Daniel.
"Mas Daniel,"
"Hemh,"
"Maaf, Tadi Anna gak sengaja baca chat di Handphone Mas Daniel, Mama..." ucap Anna terpotong.
"Damn," tiba-tiba Daniel berkata kasar dan mendorong tubuh Anna untuk menjauh dari tubuhnya, Anna terkejut luar biasa dengan reaksi Daniel ini.
__ADS_1
Daniel langsung bangkit dari tidurnya lalu mencari handhonenya, Anna masih dalam keadaan terkejut dan diam ditempat, setelah membaca chat masuk dari Mamanya, Daniel segera menghampiri Anna.
"Jangan pernah ikut campur tentang Mama, Kamu memang istri saya tapi Mama adalah hidup saya," ucap Daniel sambil mengcekal leher Anna, benar-benar hal diluar dugaan Anna, pertanyaan tadi bisa membuat Daniel marah seperti ini.
"Sekali lagi saya ingatkan...Jangan usik Mama saya," ancam Daniel dengan wajah marahnya, Anna menanggukan kepalanya perlahan dilehernya masih ada tangan besar Daniel yang siap mencekiknya saat ini.
"Bagus, kamu perlu catat itu baik-baik," ucap Daniel lalu menarik tangannya dengan kasar dari leher Anna, Daniel membuang nafasnya kasar lalu duduk di tepi tempat tidur, hanya bisa menyesal karena telah berhasil membuat Anna ketakutan seperti sekarang ini.
Daniel membalikan tubuhnya, memperhatikan kondisi Anna yang masih diam, pucat dan masih dihantui rasa takut dan kaget, Daniel menarik nafasnya lalu mengusap pucuk kepala Anna.
Dibalkon kamar seorang diri, Daniel membakar rokok putihnya, Berdiri sambil menatap langit gelap tanpa bintang malam ini.
__ADS_1
"Hidup ini begitu rumit, kenapa Mam. Kenapa harus saya yang berada di posisi seperti ini?"
"Kenapa Mama tidak membiarkan saya menikah dengan Laura, Kenapa Mama memaksa saya menikahi Anna,"
Daniel membuang kasar asap rokok dari mulutnya, hatinya juga kesal dan gelisah.
"Sekarang saya mulai bisa menerima Anna sebagai istri saya, saya sedang belajar mencintainya,"
"Saya sedang berusaha untuk memenuhi semua tuntunan Mama, Saya lakukan semua untuk Mama...dan itu hal berat untuk saya, Mam." bathin Daniel berteriak dan Kembali di hisapnya asap rokok dengan kasar, Daniel mengelengkan kepalanya berkali-kali, secara hidup ini tidak berpihak padanya.
Dan di sisi sayap balkon kamar sebelah kiri, Rizki duduk di kursi rodanya, melihat dan memperhatikan apa yang di kerjakan oleh Daniel saat ini, hanya senyum tipis di satu sudut bibirnya yang bisa menvisualisasikan apa yang Rizki rasakan dan pikirkan saat ini.
__ADS_1
"Kamu tidak pernah menjadi laki-laki baik selama ibu mu masih hidup, Dia akan selalu menjadi pemicu dari semua kelicikan dan kejahatan yang kamu kerjakan,"
"Saya akan melindungi diri saya lebih baik lagi, saya pastikan kejadian buruk tidak akan terjadi lagi pada diri saya," ucap Rizki lalu menutup tirai besar dan Daniel hilang dari padangannya.