Tox1d Relationsip

Tox1d Relationsip
Mimpi Buruk


__ADS_3

Pagi hari Anna bangun dengan gelisah, sepanjang malam Anna mengalami mimpi buruk, mimpi buruk yang selalu terulang dan kadang terasa seperti nyata oleh Anna.


"Gue harus telphone Chia, Khanza atau Vanny nih, Gue gak mungkin stress sepanjang hari," ucap Anna di dalam hatinya, Anna bangun dengan perlahan, Di sampingnya masih ada Daniel yang sedang tertidur.


Anna mengambil handphonenya lalu masuk dan duduk di balkon kamarnya, Anna juga sempat menutup kembali pintu balkon, Anna tidak ingin suaranya menganggu Daniel yang masih terlelap.


Teleconfren, itulah yang Anna lakukan saat ini, Anna melakukan 2 sabungan sekaligus dengan Vanny dan Chia karena saat menghubungi Khanza, Sambungan mereka tidak terhubung.


"Masih pagi, Nna." Chia tertawa saat sambungan telephone terhubung.


"Pasti hot news nih," tebak Vanny diiringi kekehan khasnya.


"Ish...gue serius guys." balas Anna dan 2 sahabat Anna berdehem.


"Ok, Ada apa Nna?" tanya Vanny kemudian.


"Mimpi itu datang lagi, Huhuhuhu gue takut," Cerita Anna dengan isak tangis yang ditahannya.


"Yang bener, Na?" tanya Chia dengan antusias.


"Iya....gue takut trus cape deh," balas Anna, Kedua sahabat Anna ingin rasanya berlari memeluk Anna saat ini, Hal yang biasa mereka lakukan saat salah seorang sahabat mereka berada dalam kondisi tidak baik-baik saja.


"Lu coba ceritain mimpi lu ini ke Daniel, Na. Dia harus tau apa yang bikin lu takut," saran Chia dan Anna menggelengkan kepalanya.


"Enggak Chi...mungkin ini cuma bunga tidur aja," tolak Anna.


"Lu ribut sama Daniel sebelum tidur?" tanya Vanny dan Anna diam.


"Anna," panggil Chia dan Vanny serempak.


"Hemh?"


"Lu ribut sama Daniel?" Vanny mengulang pertanyaannya.


"Enggak ribut sih, cuma emang ada masalah sedikit aja," jawab Anna tidak ingin menceritakan kejadian tadi malam.


"Pantes aja," keluh Chia


"Mungkin itu jadi pemicunya, Na...padahal 3 bulan ini lu gak pernah bahas soal mimpi itu," ucap Vanny kemudian dan Anna menbuang nafasnya perlahan.

__ADS_1


"Mungkin...tapi yah udahlah guys...gue udah cukup tenang dengan denger suara kalian doang," balas Anna sambil menarik nafasnya, menbangun moodnya sendiri.


"Serius udah lebih tenang?" tanya Vanny


"Iya, sayang...udah lega kok,"


" kalo lu masih takut kita ketemuan dulu, Na...sebelum gue jalan ke kantor," ajak Chia pada Anna.


"Belum perlu...Nanti gue pasti hubungi kalian kalo gue ngerasa cemas lagi,"


"Ok.."


"Ok...Janji yah,"


"Iya Van, Gue janji. Thanks yah buat pagi ini. Gue mau mandi dan masak," pamit Anna sambil tertawa kecil, Chia dan Vanny ikut tertawa kecil juga, bersyukur sahabatnya kembali baik-baik saja saat ini.


"Bye,"


"Bye,"


"Bye," dan sambungan telephone terputus, Anna berdiri dari duduknya dan merasa tenang saat melihat Daniel masih tertidur.


"Enggak rewel kan, Bi?" tanya Anna pada suster dengan suara perlahan, Anna mencium kaki mungil Putri, tidak ingin Putrinya terganggu, hari masih pagi, banyak yang harus siapkan sebagai seorang istri, Ibu dan juga perawatnya Rizki.


"Enggak kok, Bu."


Dan Anna tersenyum lalu menepuk bahu pengasuh anaknya itu.


"Saya ke dapur dulu, Saya titip Alisha, kalo dia bangun tolong bawa turun kebawah saja," Anggukan kepala dari sang suster dibalas senyum oleh Anna, Anna berjalan cepat menuruni anak tangga.


"Sarapan untuk Kak Rizki dan Mas Daniel biar saya yang siapkan," ucap Anna pada ART yang sudah berada di dapur dan itu sudah menjadi tugas tidak tertulis Anna yang dibuat Rizki untuk dirinya sedangkan untuk Daniel, memasak untuk suaminya sudah menjadi kewajibannya sebagai istri.


Para ART ini hanya mengejarkan apa yang Anna perintahkan, mereka biasanya diam saat anna memasak terlebih bila Rizki ada di dekat dapur, Rizki tidak pernah membiarkan orang lain membantu Anna dengan alasan yang Rizki miliki sendiri.


selesai sudah 45 menit waktunya Anna berada di dapur, kini Anna berlari kecil menaiki anak tangga. Anna masuk kembali ke kamarnya, Menyiapkan pakaian yang akan Daniel pakai pagi ini.


Dan tepat jam 6 pagi, Anna mulai membangunkan Daniel. "Bangun, Mas. jam 6 pagi,"


Perlahan Daniel menggerakan tubuhnya, membuka matanya dan Anna kini duduk tepat di dekatnya, Daniel meraih tangan Anna.

__ADS_1


"Maafkan saya untuk kejadian kemarin malam, Saya tidak bisa menguasi diri saya," ucap Daniel dan Anna tersenyum tipis, kata maaf dari Daniel sudah cukup untuk menghapus kejadian buruk malam tadi.


"Tolong maafkan saya," pinta Daniel lagi, Anna membalas mengusap punggung tangan Daniel.


"Iya, Mas. Anna sudah maafkan walau Anna sebenarnya takut banget kemarin malam," jawab Anna jujur dan Daniel mengusap pucuk kepala Anna, Daniel tidak ingin membahas hal ini lebih panjang karena pasti akan membuat Anna bersedih.


"Oh Iya, Na. Kamu sudah bertemu Kak Rizki pagi ini?" tanya Daniel pada Anna, Daniel bangun dari duduknya, lalu berdiri sememtara Anna masih duduk di tepi tempat tidur.


"Belum. Kak Rizki belum turun buat sarapan,"


"Ok...Nanti kita sarapan bersama, Ada yang harus saya bicarakan dengan Kak Rizki dan tolong dampingi saya," Anna mengangguk dan Daniel segera masuk ke kamar mandi.


Tepat jam 7 pagi, Anna dan Daniel sudah berada di meja makan, mereka berdua menunggu kedatangan Rizki yang belum menampakan dirinya, menunggu 5 menit dan akhirnya Rizki datang dengan kursi rodanya seorang diri.


Daniel seketika berdiri hendak membantu Rizki tapi dengan Isyarat tangannya, Rizki menolak bantuan dari Daniel.


Anna mulai mengambil piring kosong, mengisi dengan lauk lalu menyerahkannya pada Rizki dan Daniel, Rizki dan Daniel masih tetap berdiam hanya Anna yang berbicara dengan Daniel atau Anna yang berbicara dengan Rizki, kedua laki-laki ini tidak berbicara di pagi ini.


Selesai dengan acara Makan, Rizki mengucapkan terima kasih pada Anna, Anna tersenyum, Walaupun sosok Rizki ini kadang mengesalkan tapi Rizki tidak pernah lupa untuk mengucapkan Terima Kasih untuk semua bantuan yang telah dia terima dari Anna.


"Kak," Daniel kini mulai membuka percakapan dengan Rizki.


"Hemh," jawab Rizki begitu datar, wajahnya kaku, kulit putihnya terlihat lebih terang dari pada Daniel.


"Ada beberapa dokumen dan Bilyet Giro yang perlu Kakak tanda tangan," Rizki menangkat Otot alis matanya.


"Temui saya di ruang kerja," jawab Rizki begitu kaku lalu menekan tombol di kursi rodanya, kursi Roda itu menjauh dari meja makan.


"Na," Panggil Rizki sambil menoleh


"Iya, Kak. "


"Tolong buatkan saya kopi,"


"Iya, Kak. Anna antar ke ruang kerja Kakak sebentar lagi," jawab Anna Patuh.


"Dan 2 jam lagi akan ada Vendor datang, CCTV di rumah ini saya rasa kurang banyak," info Rizki begitu saja dan semakin menjauh dari ruang makan.


"Mau di pasang di mana lagi itu CCTV?" keluh Anna pada Daniel dengan suara yang pelan.

__ADS_1


"Di area dapur aja ada 6 titik kamera, belum di ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu, halamanan depan dan belakang," keluh Anna dan Daniel hanya bisa tersenyum tipis.


__ADS_2