Tox1d Relationsip

Tox1d Relationsip
Menghindar


__ADS_3

Vanny membersihkan dirinya dengan cepat bahkan Vanny sempat menghubungi Khanza untuk menjemput dirinya, Yah....Sabahat mereka memang selalu bisa diandalkan.


Tanpa merias wajahnya Vanny keluar dari kamarnya, Ibu mertuanya masih saja membahas acara untuk esok hari dan Ferdi mengkerutkan dahinya saat Vanny kembali menghampiri lengkap dengan tas hitam nya.


"Kemana?"


"Acha udah mau jemput," jawab Vanny, Acha itu nama sayang nya Khanza. Ferdi seketika berdiri dan Vanny masuk kedalam pelukannya, Yah...Vanny memang sedang kesal pada Ferdi tapi Semua orang bisa menilai dan melihat bagaimana Vanny mencintai Ferdi.


"Yah udah...Nanti malem gue jemput," balas Ferdi dan Vanny menerima ciuman dari Ferdi di keningnya.


Vanny berpamitan pada Ibu Mertua juga adik iparnya dan suara klakson mobil Khanza sudah terdengar saat ini.


"Ati-ati, Cha. Lu berdua langsung ke kantor kan?" tanya Ferdi, Ferdi sudah membukakan pintu mobil untuk Vanny dan saat ini berdiri di dekat Khanza yang duduk di belakang stir mobilnya.


"Gue ke Mall dulu bentar, Anna, Arif sama Chia udah nunggu disana," jawab Khanza dengan tertawa kecil.


"Kok gue gak diajak?" tanya Ferdi, ini mungkin jadi acara sahabat-sahabatnya minggu ini.


"Udah gue chat dari 1 jam yang lalu, lu sok online tapi dipanggilin diem doang," jawab Khanza dan Ferdi membuang nafasnya kasar.


"Ada nyokap juga sih, masa iya gue pergi," keluh Ferdi dan Vanny tersenyum.


"Udah ..kita yah," pamit Khanza dan Vanny, Ferdi mengangkat ibu jarinya lalu mobil bergerak perlahan dan bergerak cepat saat Vanny menepuk bahu Khanza.


"Lu kenapa Van?" tanya Khanza sambil tertawa, Vanny terkesan ingin cepat-cepat pergi dari Ferdi.

__ADS_1


"Ada Mama Mertua, Cha...pusing gue," jawab Vanny jujur dan Khanza tertawa.


"Mertua lu surga lu, Van," canda Khanza dan Vanny menggerutu.


"Sial lu, lu belom ngerasain aja gimana punya mertua yang punya sense of belonging nya gede banget ke anak lakinya," keluh Vanny dan Khanza terus tertawa, keluhan ini bukan sekali saja di dengar dari Vanny tapi sudah ribuan kali masalah ini di keluhkan oleh Vanny pada dirinya.


"Yah jangan sampe lah gue ngerasain hal buruk model lu," jawab Khanza, Tidak ada seorang pun yang ingin merasakan nikmatnya memiliki Mertua seperti itu.


"Hooh, cukup gue doang," jawab Vanny dengan tersenyum tipis, suaranya menjadi rendah dan Khanza menepuk bahu sahabatnya.


"Gak perlu baper...Gue becanda doang,"


"Iya tau lu becanda doang...tapi Chi, makin kesini gue makin sering menghindar dari Mama, gue takut salah di gue dan gue gak mau ribut-ribut lah, Cha." Vanny berkata sambil menyadarkan kepalanya di kaca jendela, seolah dirinya itu berada di posisi yang lemah.


"Lu sarapan apa? Kok tiba-tiba bijak banget bahasa lu?"


"Anjirrrrr gue emang bijak dari dulu, lu aja yang selalu gak dengerin ocehan gue cuma karna gue kawin," jawab Khanza dan keduanya akhirnya tertawa-tawa, Lepas dari mood buruk dan persoalan kecil tapi selalu berulang dan terulang kembali.


15 menit kemudian mobil Khanza sudah masuk ke Area parkir mall, mereka akan bertemu dengan sahabat mereka yang lain.


Dan akhirnya Vanny, Khanza sudah bertemu dengan Ardi, Chia, Arif dan Anna. Anna dan Arif tidak lagi duduk di kedai kopi karyawan tapi sekarang mereka berlima sudah duduk di teras food court mall ini.


"Dalam rangka gue berhasil jual produk asuransi gue yang paling mahal," jawab Chia sambil tertawa, Khanza baru saja bertanya pada promotor di pertemuan mereka kali ini, mereka semua hanya karyawan, keuangan mereka terbatas tidak seperti anak-anak sultan, para sosialita, Para istri CEO atau pun direktur.


"Luar biasa," puji Vanny, bangga atas keberhasilannya Chia.

__ADS_1


"Berkah nya silaturahmi," balas Chia lagi sambil tertawa kecil, Anna pun ikut tertawa sementara 4 sahabat yang lain menunggu cerita selanjutnya dari Chia.


"Awas lu suka sama Si Rizki, Chi," ucap Ardi pada Chia, Chia sudah selesai menceritakan tentang penjualan polis asuransi tersebut.


"Kak Rizki itu ganteng loh sebenernya," ucap Khanza pada semua orang.


"Emang ganteng," jawab Vanny dan Anna tertawa kecil, Arif senang sekali melihat tawa Anna seperti ini, tadi sebelum Chia datang Bersama Ardi, Anna lebih banyak diam, seolah menghindar dari beberapa pertanyaan yang berikan oleh dirinya.


Jam 1 siang setelah makan siang, setelah puas mereka saling bercerita dan tertawa kini semua orang melanjutkan aktifitasnya masing-masing, pertemuan 8 orang yang bersahabat tanpa kehadiran Ferdi kali ini masih bisa di katakan seru walaupun pasti ada yang kurang karena personel mereka yang tidak lengkap.


Anna kembali ke rumah, kembali pada rutinitasnya lagi sebagai Ibu juga Istri dari laki-laki bernama Daniel.


Malam hari sudah datang, Anna sudah menemani Alisha tertidur dan kini menitipkan Alisha pada pengasuhnya.


Menutup pintu kamar Alisha dengan perlahan kini Anna kembali masuk ke dalam kamarnya.


Kini Anna duduk di kursi balkon kamarnya, Anna memainkan handphonennya, bertukar pesan dengan sahabatnya kembali dan menunggu sedikit kabar dari Daniel, tapi Daniel adalah Daniel, Daniel tidak memberikan kabarnya sama sekali untuk Anna.


Saat sedang sendiri seperti ini kadang Anna berpikir hidup ini tidak adil, bagaimana Anna tidak berpikiran seperti ini, Saat Daniel melamarnya waktu itu, Anna sedang di posisi terbaiknya di kantor tempat Anna bekerja, belum lagi saat itu juga Anna masih menjalani hubungan dengan Arif tapi karena permintaan dari keluarganya Anna, Anna harus menerima lamaran dari laki-laki yang datang begitu saja datang ke hidupnya, Anna juga diminta untuk memutuskan hubungannya dengan Arif.


Dan yang paling membuat Anna berada di posisi terendahnya itu saat Anna di minta berhenti bekerja oleh Daniel, Daniel yang meminta Anna untuk melepaskan pekerjaan yang menjadi impian Anna saat masih kuliah dulu, Daniel ingin Anna merawat rumah tangga mereka dengan baik dan keputusan Anna berhenti kerja itu di sesalkan oleh sahabat-sahabat Anna.


Anna kadang merasa iri dengan 2 Adik perempuannya yang lain, mereka bebas menentukan dengan siapa mereka ingin menjalani hubungan, mereka bebas memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri sedangkan Anna dari usia sekitar 6 tahun dimana Anna sudah bisa mengingat semua kisahnya, Anna selalu di tuntut menjadi contoh kakak yang baik, Anna di perlakukan layaknya sebuah boneka percobaan dan kadang diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri.


Dan disaat Anna tumbuh menjadi besar, Anna menemukan satu persatu orang yang bisa menerima nya dengan baik, menerima dirinya apa adanya dan Anna bebas mengekspresikan dirinya sendiri tanpa perlu merasa tidak enak hati sedikit pun...satu persatu orang itu kini menjadi sahabat Anna, sahabat yang selalu ada dan berusaha setia satu sama lainnya.

__ADS_1


__ADS_2