
Daniel menepikan mobilnya kembali ketika mobil sudah keluar dari rumah, Daniel merogoh handphone dari saku kemejanya.
"Anna sudah sampai di rumah, Mam." ucap Daniel begitu sambungan telephone tersambung.
"Iya, Mama lihat dia masuk ke rumah dari dalam kamar Mama," jawab perempuan yang sudah melahirkan Daniel itu.
"Pertanyaan Mama bukan soal kedatangan Anna...," ucap Mama Riana lagi.
"Trus soal apa, Mam?" tanya Daniel dan Mama Riana berdecak dengan pertanyaan dari Putranya ini.
"Kapan kamu bisa mendapatkan tanda tangan Rizki?"
__ADS_1
"God..." keluh Daniel dengan suara kesalnya.
"Mam, Please...Kak Rizki memang cacat sekarang ini, dia lumpuh tapi dia juga gak bodoh Mam. Otaknya masih bekerja dan sangat waras,"
"Iya...Mama tahu itu, yang otaknya bekerja lambat dan tidak waras itu kamu, Kamu yang lemah dan untuk mengurus hal kecil saja kamu itu tidak mampu," maki Mama Riana dan Daniel berdecak.
"Apa perlu Mama yang bertindak sendiri?" tanya Mama Riana dan Daniel berdecak lalu mengatur nafasnya.
"Mam...Daniel mohon jangan bertindak gegabah, Daniel sayang Mama, Daniel gak mau mama terlalu berani ambil resiko," ucap Daniel meminta pengertian dari Mama nya ini, Mama Riana mendengus kesal.
"Daniel akan usahakan untuk meminta lebih pada Kak Rizki, Mama berdoa dan bersikap baik saja pada Kak Rizki," jawab Daniel dan Mama Riana langsung mematikan sambungan telephone dengan Daniel, bosan rasanya di ceramahi hal yang sama sepanjang waktu.
__ADS_1
Daniel hanya bisa memijat pelipisnya sendiri, entah harus bagaimana lagi menghadapi Mama nya yang selalu berpikiran tentang uang, uang dan uang saja.
Setelah selesai menenangkan dirinya sendiri, Daniel melajukan kembali mobil menuju kantornya. Perlu waktu lebih dari 30 menit untuk menuju ke kantor ini, Kantor yang sebenarnya milik keluarga Rizki dan saat ini dirinya berdiri disini, berdiri sebagai CEO dari salah satu perusahan Manufaktur dan Distributor yang bonafid, menggantikan posisi Rizki 2 tahun belakangan ini setelah Rizki mengalami kecelakaan mobil tunggal ruas tol dalam kota atau tepatnya saat Daniel melamar Anna malam itu.
Rizki sudah menerima butiran obat dan segelas air putih dari Anna, dengan cepat Rizki memasukan ke dalam mulutnya.
"Cuma minum obat doang, Kak. Susah banget. Kenapa harus Anna yang layanin Kakak sih?" keluh Anna di dalam hatinya.
"Saya sudah selesai minum obat, ayo segera kamu temui Anak mu, Kamu ini pergi bisa-bisanya sendiri saja, terlalu percaya menitipkan Anakmu pada orang di rumah ini," usir Rizki tanpa hati dan Anna tersenyum.
"Ok...Anna pamit yah, Kak. Nanti makan malem Kakak, Anna yang masak. Masih ada 3 jam kedepan kok, Anna sempat lah," jawab Anna lalu mengusap bahu Rizki dan melangkah meninggalkan Rizki yang juga memandangi kepergian Anna, 2 orang ART sedang sibuk merapihkan kamar Rizki yang berantakan.
__ADS_1
Pintu kamar Rizki di tutup oleh Anna dari luar, Rizki membuang kembali pandangannya ke arah halaman tanpa sedikitpun memperdulikan ART yang sibuk di kamarnya.
"Saya hanya percaya kamu di rumah ini, Na. Hanya kamu yang saya punya saat ini. Jangan pernah tinggalkan saya...apalagi kondisi saya masih sangat rapuh seperti ini," bathin Rizki dengan memukul kaki lumpuhnya.