
Anna pikir siang ini akan menjadi siang miliknya tapi ternyata salah. Makan siang yang di janjikan Daniel tadi pagi tidak seindah yang Anna pikirkan.
Hanya 10 menit dari kedatangan Anna, 10 menit Anna berdua dengan Daniel, tiba-tiba saja Mama Riana dan Laura datang ke meja ini. Mereka ikut bergabung begitu saja dan Anna hanya bisa meremas tangannya sendiri, ini tidak ada di rencana Anna maupun Daniel, belum lagi saat pertama Laura dan bertemu langsung dengan Daniel, Laura mencium dan memeluk Daniel di depan matanya.
"Mana uang buat Mama, Niel?" tanya Mama Riana, Mama Riana dengan seenaknya meminum minuman yang harusnya menjadi milik Anna.
"Udah Daniel transfer, Mam. Mama kan tadi sudah jawab Ok," jawab Daniel, Daniel tidak enak hati harus membahas mengenai uang di depan Laura juga Anna istrinya.
"Kamu bilang mau minta lebih ke anak sialan itu?"
"Mam...Please," bentak Daniel, 1 sikap tidak hormat Daniel tunjukan di depan 3 wanita sekaligus, Anna hanya menundukkan kepalanya, hal ini bukan pertama kali dia lihat dan Laura hampir tidak perduli, Laura hanya memandangi indahnya wajah laki-laki yang selama ini dia cintai.
Daniel menarik nafasnya perlahan karena Mama Riana sudah bersiap untuk memakinya juga tapi Mama Riana kini mengatur emosinya, harga dirinya sebagai wanita terhormat akan jatuh bila dia memaki Daniel di depan umum.
"Uang belanja bulanan mana?" tanya Mama Riana pada Daniel.
"Daniel sudah transfer ke Anna sesuai perintah Kak Rizki," jawab Daniel apa adanya.
"What?"
"Kamu sudah tidak waras, Niel?"
"Kamu sarapan apa sih, kok semakin aneh saja cara berpikir kamu itu!" seketika emosinya yang berhasil di redamnya kini mencuat kembali, Mama Riana kesal bukan main.
"Itu perintah Kak Rizki, Mam. Daniel harus kerjakan," balas Daniel, Daniel benar-benar merasa bodoh di depan Anna dan Laura saat ini.
Dan senyum licik Mama Riana kini mengembang.
"Tapi ide Anak sialan itu boleh juga, Kamu sudah melakukan hal yang benar, Niel," ucap Mama Riana dan Daniel mengkerutkan dahinya, sedikit aneh dengan perkataan Mama Riana tadi tapi Daniel tetaplah Daniel, Daniel selalu akan berpikiran baik pada Ibunya.
__ADS_1
"Ayo kita pesan makanan, Na," tiba-tiba saja Mama Riana menjadi baik pada Anna, Mama Riana bahkan memanggil waiter, Anna tersenyum tipis, apa sedrastis ini perubahan mood Ibu Mertuanya, pikir Anna di dalam hatinya.
Waiters datang menerima pesanan yang cukup banyak dari Mama Riana, Daniel tersenyum sambil mengusap punggung Anna, Daniel ingin Anna mengetahui bahwa Mama Riana tidak seburuk yang dipikirkan oleh Anna tentang pembicaraan mereka tadi.
Laura yang melihat Daniel bersikap manis pada Anna kini memulai aksinya dengan mencari perhatian Daniel sang mantan kekasih, Laura mulai bertanya tentang kegiatan Daniel, bercerita masa lalu mereka berdua yang manis dan menguasai pembicaraan diantara Daniel, Anna dan juga Mama Riana, Anna hanya bisa tersenyum tipis-tipis sambil sesekali menikmati minumannya, Anna tidak diberikan kesempatan oleh Laura dan Mama Riana untuk bicara.
Sampai akhirnya tenggorakan Anna tersedak makanan, Ucapan Mama Riana membuat makanan yang sedang di kunyah oleh Anna tersedak di tenggorokkannya.
"Semoga kisah cinta kalian bisa terukir kembali yah, Mama harap moment itu cepat datang,"
"Mam...Itu hanya masa lalu, Daniel sudah menikah dengan Anna," Daniel langsung melayangkan protesnya, Daniel juga membantu Anna meringankan sedakan di mulutnya, segelas air putih Daniel berikan untuk Anna.
"Yah enggak masalah dong kalo Mama berharap," balas Mama Riana tidak ingin kalah bicara dengan Daniel dan Laura meng_iya_kan ucapan Mama Riana tersebut.
"Kamu baik-baik aja, Na?" tanya Daniel pada Anna, wajah Anna terlihat merah saat ini.
"Laura...Please, saya sudah menikah dan saya harap kamu mengerti itu, semua cerita yang kamu ceritakan itu hanya masa lalu kita," ucap Daniel untuk Laura, Laura terkekeh sambil mengusap lengan Daniel.
"Cinta kita belum selesai, Niel." balas Laura berbisik dan begitu licik sekali pada Daniel dan Daniel menggelengkan kepalanya perlahan apalagi saat tangan Laura mengusap paha Daniel dari bawah meja yang tertutup dan Daniel terselamatkan dari sikap Laura dengan handphonenya yang berdering, Daniel merapihkan duduknya, Daniel menjawab panggilan telephone tersebut dan mengakhiri panggilan tersebut dengan cepat.
"Anna, saya harus kembali ke Kantor, Kamu saya antar pulang yah,"
"Mama gimana, Niel?" belum sempat Anna menjawab, Mama Riana sudah memotong percakapan Daniel.
"Mama bukannya bawa mobil?" jawab Daniel.
"Anna juga bawa mobil," jawab Mama Riana lagi, Mama Riana tidak ingin Daniel dan Anna pergi bersama, Daniel itu anaknya, Miliknya sampai kapan pun juga.
"Anna bisa pulang sendiri, Mas,"
__ADS_1
"Bagus, Kita berdua tidak ada yang diantar Daniel," jawab Mama Riana puas dengan jawaban Anna.
"Tapi kamu antar Laura yah, Niel. Tadi Laura bareng Mama, Mama cape kalo harus anterin Laura ke rumahnya dulu," perintah Mama Riana dan Anna hanya bisa menelan salivanya, Anna tidak bodoh, Anna paham maksud perintah Mama Riana pada Daniel apalagi saat ini Laura sudah bersiap-siap padahal Daniel belum mengatakan setuju dengan perintah Mama Riana.
"Daniel," panggil Mama Riana saat Daniel sedang binggung saat ini.
"Na, Kamu gak keberatan kan kalo saya antar Laura?" tanya Daniel pada Anna, Anna tersenyum tipis sambil mengusap lengan Daniel.
"Iya, Mas."
"Terima kasih, Na." ucap Daniel sambil mengusap pucuk kepala Anna, Daniel langsung berdiri begitu juga dengan Laura, Mama Riana memang bisa di andalkan.
"kita habiskan makanan ini dulu, Na." Mama Riana menahan tangan Anna saat Anna hendak berdiri.
Daniel yang tidak paham maksud Mama Riana dan urusannya kantor yang sudah menunggunya kini harus pergi meninggalkan Anna dan Mama Riana berdua di resto ini.
Laura melambaikan tangannya pada Anna, dia berhasil membawa Daniel pergi dan Anna hanya bisa melihat suami dan mantan pacar dari suaminya itu pergi menjauh meninggalkan meja makan, Makan siang yang dibayangkan indah tapi benar-benar tidak indah untuk Anna.
"Uang belanja bulanan kamu transfer ke Mama, Na," pinta Mama Riana saat mereka kini berdua, Mama Riana masih lahap makan sedangkan Anna sudah sangat tidak berselera.
"Kamu gak denger Mama ngomong apa, Na?"
"Denger, Mam...tapi nanti gimana kita belanjanya?" tanya Anna pada Mama Riana, Anna bertanya mengenai teknis belanja untuk kebutuhan di rumah mereka.
"Gampang, Pokoknya sekarang kamu transfer dulu ke Mama, Besok kita belanja bulanan," jawab Mama Riana begitu enteng.
"Ayo, Na. Mbangking. Kamu tunggu apa lagi?, keluarga kamu saja sudah dapat uang jatahnya," ucap Mama Riana tanpa hati dan Anna menarik nafasnya berat, benar-benar hutang budi yang begitu besar bila membahas mengenai uang bulanan untuk Mamanya ini.
Dengan segera Anna mengambil handphonennya, Anna melakukan Mbangking untuk Mertuanya sesuai dengan nomimal yang Daniel transfer tadi.
__ADS_1