Tox1d Relationsip

Tox1d Relationsip
Senyum Tipis


__ADS_3

Dengan rasa malas, setelah menaiki anak tangga, langkah kaki Anna berbelok Arah ke sisi kiri rumah ini, Harusnya Anna melangkah ke sisi kanan di rumah berlantai 2 di rumah ini karena letak kamarnya itu ada di sayap kanan tetapi karna "Kewajibannya," Anna harus berjalan menuju kamar Kakak Iparnya.


Dengan ragu-ragu Anna kini berdiri di depan pintu kamar seorang laki-laki yang bukan suaminya, Yah...hanya kamar Kakak Iparnya.


5 detik Anna berdiri di depan pintu kamar, masih berpikir apakah akan masuk ke kamar ini atau tidak.


"Gue bukan perawatnya Kak Rizki," ucap Anna didalam hatinya, tubuhnya memutar balik dan hendak melangkah meninggalkan kamar ini tapi belum sempat Anna melangkahkan kakinya, suara barang jatuh terdengar dari dalam kamar, Anna secara otomatis membuka pintu handle kamar.


"Kak Rizki," Panggil Anna sambil terus berjalan masuk ke kamar yang besar bernuansa hitam dan putih ini.


Seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi roda hanya bisa tersenyum tipis sedangkan Anna sudah begitu kesal melihat keadaan kamar Kakak iparnya ini, pecahan beling dari gelas dan bingkai figura berserakan di lantai.


"Kenapa lagi sih, Kak?" tanya Anna sambil terus mendekat Rizki di kursi rodanya, berjalan dengan hati-hati agar kakinya tidak mengenai pecahan beling tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kamu kembali?" tanya Rizki pada Anna, wajah Rizki kini terlihat kesal dan marah padahal tadi saat pertama kali mengetahui Anna yang membuka pintu kamarnya, terpancar senyum tipis yang Anna dapatkan walau akhirnya senyum itu di koreksi oleh Rizki.


"Kakak kenapa?"


"Kenapa harus pake acara lempar barang-barang begini?" tanya Anna, Rizki terdiam tidak menjawab pertanyaan Anna dan masih dengan wajah kesalnya Rizki kini menekan tombol di kursi roda otomatisnya, bergerak meninggalkan Anna, dengus nafas kesal Anna di dengar oleh Rizki yang kini sedang menuju balkon kamarnya.


Dengan menekan egonya, Anna menarik perlahan nafasnya, mengontrol rasa kesalnya sendiri dan berjalan mendekati Rizki yang kini berada di balkon kamar.


"Maaf, Anna tadi pergi gak pamit dulu," ucap Anna, berdiri di tepi pagar tembok dan melihat pepohonan tinggi yang menjadi pemandangannya saat ini.


"Kak Rizki belum minum obat siang, Nanti Kakak susah sembuhnya," jawab Anna dengan suara yang datar.


"Saya tidak perlu belas kasihan,"

__ADS_1


"Pergilah lagi, dapatkan cintamu diluar sana," ucap Rizki dan Anna tersenyum tipis, entah harus bagaimama mengartikan kalimat kakak iparnya ini, tapi yang pasti ada nada beraroma cemburu yang bisa Anna dengar dari kalimat tadi.


"Rumah ini jadi rumah Anna kedua setelah Anna menikah dengan Mas Daniel, Anna akan tetap tinggal disini selama Anna masih menjadi istrinya Mas Daniel," jawab Anna dengan penuh percaya diri.


"Ini rumah saya, Semua yang Daniel punya itu punya saya dan saya berhak mengusir siapa saja yang mau," jawab Rizki dengan Angkuhnya dan Anna tersenyum.


"Mungkin yang Kak Rizki bilang tadi benar tapi Anna gak peduli Kak, Anna dan Alisha ada di rumah ini karena Mas Daniel," jawab Anna masih dengan nada datarnya dan Rizki tersenyum tipis atau mungkin tepatnya mencibir jawaban Anna tadi.


"Trus Kak Rizki mau minum obat gak? Anna baru balik kak, Anna belum ketemu Alisha," tanya Anna tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Kakak iparnya ini.


"Kamu belum temui anak mu?" Rizki malah bertanya balik pada Anna.


"Belum...begitu datang Anna langsung ke Kakak," jawab Anna dan Rizki berdecak.

__ADS_1


"Tolong ambil obat saya di laci meja, panggil pelayan untuk merapihkan kamar saya setelah itu kamu boleh pergi," perintah Rizki dan Anna menggangukan kepalanya, siap untuk menjalakan perintah dari pemilik rumah besar ini.


__ADS_2