
Daniel pulang larut malam, hal biasa saja untuk Anna tentunya, Daniel memang sering menghabiskan waktunya di kantor apalagi saat menjelang week end.
Tapi ada yang berbeda dengan Daniel malam ini, Daniel biasanya mengucapkan kata maaf bila dirinya terlambat pulang pada Anna, Anna berusaha untuk tidak mempermasalahakan hal ini, di tengah malam ini, Anna masih saja siap untuk melayani kebutuhan Daniel dari mulai persiapan untuk Daniel mandi sampai menghangatkan makanan untuk makan malam yang pastinya terlambat.
"Kamu dari mana sih, Na?" tanya Daniel pada Anna.
"Dapur, Mas. Mas Daniel mau makan kan?" jawab Anna, Daniel terlihat kesal dengan jawaban Anna.
"Saya sudah makan tadi. Lain kali tanya dulu saya mau makan atau tidak, Saya panggil-panggil kamu dari tadi," balas Daniel dan Anna menarik nafasnya dalam-dalam, Anna sadar diri, Anna pergi ke lantai 1 tanpa ijin pada suaminya.
"Mas Daniel ada apa, baju Mas Daniel kan sudah Anna siapkan," jawab Anna ragu-ragu, Anna memang tidak pintar bicara di depan Daniel, beda sekali saat Anna bersama sahabat-sahabatnya, Anna benar-benar bisa mengekpresikan dirinya seperti apa.
"Baju...Baju ini sudah saya pakai." jawab Daniel sambil duduk di kursi coklatnya.
"Lalu?" bathin Anna bertanya.
__ADS_1
"Kak Rizki sudah tanda tangan surat pengajuan saya tadi?" tanya Daniel dan menangkat bahu nya.
"Enggak,"
"Rizki....Rizki, pantesan aja Mama selalu kesel sama dia, saya sendiri saja sudah tidak bisa menahan rasa kesal saya," maki Daniel dan Anna mengkerutkan dahinya, untung saja Daniel tidak sedanf menatapnya kali ini.
"Besok pagi...Saya ke Kantor, kamu ingatkan saya tentang surat itu," perintah Daniel.
"Besok Sabtu, Mas," balas Anna dan Daniel berdecak.
"Mulai besok setiap Sabtu atau minggu saya kerja..setiap hari saya kerja, saya sudah seperti robot saja," Daniel berkata dengan kesal, Anna merasa tidak enak hati dengan perkataan Daniel ini.
"Jangan pernah telphone saya saat saya kerja, Saya kerja untuk kalian, kalian harus paham soal itu," balas Daniel lalu Daniel berdiri dan berjalan menuju tempat tidur, Daniel membaringkan dirinya sendiri tanpa mengajak Anna untuk beristirahat, Anna hanya menarik nafasnya lalu mematikan lampu ruangan kamar agar Daniel bisa beristirahat di malam ini.
"Mas Daniel terlalu banyak kerjaan di kantornya,"
__ADS_1
"Gue gak boleh manja lagi,"
"Gue gak boleh telphone atau Chat Mas Daniel seperti tadi...Itu ganggu konsentrasi nya dia," ucap Anna di dalam hatinya.
*******
Di rumah Vanny, malam ini Vanny sedang ribut dengan suaminya Ferdi, Yah...Vanny terganggu dengan chat masuk ke handphone suaminya di malam ini.
"Marah lu gak beralasan," bantah Ferdi, harusnya mereka sudah tidur malam ini, tapi gara-gara notive Chat masuk ke handphone Ferdi 10 menit yang lalu akhirnya mereka gagal untuk beristirahat.
"Gak beralasan gimana...Lu selalu aja standby di hubungi temen cewek itu, gak kenal waktu banget," balas Vanny dengan kesal, Vanny kini beranjak dari tempat tidurnya, rasa kantuknya hilang begitu saja, Vanny duduk di meja kursi kosmetiknya, di rapihkan ikatan rambut yang tadi sudah dia relai.
"Namanya juga orang kerja, dia tanya kerjaan kok," balas Ferdi lalu mengambil kaos yang tadi dia lepas sebelum tidur.
"Yang kerja bukan cuma lu doang, gue juga kerja....Tapi gue bisa kondisiin semua orang-orang di kantor sebelum gue balik gawe," balas Vanny dengan kesal.
__ADS_1
"Yah bedalah...lu kan pinter, lu kan pinter dalam segala hal, lu bisa manage anak buah dengan baik...beda sama gue yang IPK nya aja pas-pasan, dapet gawe aja boleh dapet susah, boleh dapet gue yang nyari," balas Ferdi membandingkan dirinya dengan Vanny dan Vanny berdecak.
"Kalo lu kan...perusahaan yang nyari lu, jadi kita beda lah," balas Ferdi lagi dan Vanny kembali berdecak...tapi yang dikatakan oleh Ferdi itu benar semua tapi Vanny tidak suka bila Ferdi berkata seperti tadi seolah perkataannya itu sinis dan tidak tulus.