
Brukk!
"ahh pegel bangett"ucap Lea sembari meregangkan tangannya keatas.
"waktunya Mandi and makan, nanti aja deh beresin belanjaan mah"
40 menit kemudian.
"uhh segarnyaa"
"masih heran deh gue kenapa ibu ada disini, gue itu masuk kedunia lain apa gimana si ihh, tau ah pusing"Lea membuka kulkas di memasukan buah-buahan dan bahan bahan dapur.
"beres!"
tring, tring.
suara dering telepon Lea,
''bang Erick"
"Halo, kenapa?"
[Lea! gawatt Ayah kritis, dokter bilang semalam Ayah kejang-kejang, napasnya juga gak beraturan] suara Erick disebrang sana terdengar panik.
"apa! sekarang gimana?"tanya Lea ikutan panik.
[Ayah kritis Leaa, abang udah bilang Ayah kritis, sekarang abang sama Aesyen mau ke rumah sakit, kamu mau ikut??]
"mau ikut, tapi...si Aesyen-
[tenang Aesyen gak bakalan ngamuk, gue udah bilang sama Aesyen kalo mau ikut jangan bikin ulah] potong Erick.
"yaudah lo jemput gue!, gue mau ganti baju dulu" ucap Lea dia menutup telepon setelah mendapat persetujuan dari Erick.
"aish, kenapa bisa kaya gini"
Lea memakai pakaian yang simple dia terburu-buru hingga kakinya tidak sengaja tersandung pintu keluar.
Brukk
Lea terjatuh dengan posisi tengkurap, uhh bayangkan rasanya bagaimana tersandung barang yang keras, seperti kasur atau meja, kaki Lea terasa berdenyut-denyut.
"arhh! sakitt.....huuh huhh, sakitt, sialan lo pintu!"sentak Lea pada benda yang tidak hidup dan bersalah itu.
Lea berdiri dan mengambil tas slempang yang terjatuh akibat Lea tersandung pintu keluar.
Lea berjalan dengan pincang, puntu keluar dari Apartment terasa jauh.
Huhh,Lea bernapas lega, sekarang Lea sudah turun dari Lift dia menunggu Erick di lobby.
Mobil.
"kok lama ya, apa gue terlalu cepat, ish pengen duduk sakitt"rengek Lea pada dirinya sendiri, setelah 20 menitan terlihat mobil sport yang melaju ke arah Lea, mobil itu berhenti tepat di samping Lea.
Erick kelur dari mobilnya.
"haii, udah nunggu lama?"tanya Erick sembari membuka pintu jok belakang, untuk Lea duduk.
"gak kok, baru setengah jam man"jawab Lea, lalu masuk ke mobil dan duduk dengan anteng.
brakk.
baru saja duduk, Lea merasa hawa dimobil menjadi panas karena tatapan permusuhan dari Aesyen, Lea memutar bola matanya malas.
"dasar bocah!"gumam Lea, rupanya Aesyen mendengarnya,. dia melotot kepada Lea.
__ADS_1
"siapa yang lo sebut bocah hah!?"
"kok sewot sii, ngerasa ya kalo bocah?, padahal gue ngeliat tuh bocah, bukan lo"sinis Lea dengan menahan tawa.
Aesyen geram,
"Lo-
"Syena stop! kamu bilang gak bakalan bikin ulah"potong Erick yang baru masuk, dia jengah dengan perdebatan beradik kakak itu, dengan menunduk Aesyen meminta maap.
"kalo mau melanggar janji, silahkan keluar, abang gak mau bawa orang tukang ingkar janji!"ucap Erick dingin, bukan apa-apa dia beesikap dingin pasalnya Aesyen sangat susah untuk di beri tahu, Aesyen mendengus sebal.
"iya-iya, Syena tutup nih mulutnya, rapatt"ketus Aesyen sembari menirukan gerakan mengunci mulut.
Erick tidak menjawab lagi dia fokus mengemudikan mobilnya, Lea tertawa didalam hati melihat wajah murung Aesyen.
"makanya jangan bikin ulah sama Azalea"batin Lea tertawa.
mereka bertiga telah sampai. dirumah sakit tempat Hendra dirawat.
"permisi! saya Erick ingin bertemu dengan dokter Ahmed"ucap Erick pada Resepsionis rumah sakit.
"baik, atas nama siapa?"
"saya Erick wali pasien Tn, Hendra Wijaya"jawab Erick, dua Resepsionis itu melongo mendengar nama Wijaya disebut.
"apa sebelumnya sudah membuat janji?"
Erick menganguk.
"baik tunggu sebentar"
Resepsionis itu terlihat menelpon seseorang.
Erick melangkah kemvali keruanggan VIP dimana Hendra dirawat, diikuti oleh adik-adiknya.
"permisi!"ucap Erick pada perawat ketika sampai diruang rawat inap Hendra.
"ah anda Tuan Erick, dokter telah menunggu Anda didalam kebetulan tadi tuan Hendra mengalami kejang lagi"
"Apa!! lalu bagaimana sekarang keadaannya?"tanya Erick panik, suster tersenyum.
"pak Hendra sudah melewati masa kritisnya, jika tidak ada yabg ditanyakan lagi saya permisi"pamit suster.
"bang, gak masuk?"
"iya, ayok masuk"
Erick membuka pintu ruang tersebut.
"ehmm, bagaimana kondisi Ayah saya dokter?"tanya Erick tanpa berbasa-basi meski sudah tau dari suster tadi, tapi Erick ingin lebih pasti lagi.
"puji syukur terhadap tuhan yang maha Esa, tuan Hendra telah berhasil melewati masa kritisnya, tinggal menunggu untuk tuan hendra membuka matanya"jawab dokter Ahmed dengan tersenyum.
Aesyen tertegun melihat keadaan Ayahnya, dia menyesal karena sempat membencinya, dia mengira Ayahnya berubah dan lebih sayang terhadap Lea, divesarkan dengan kasih sayang yang penuh membuat Aesyen cemburu karena Ayahnya lebih perhatian kepada Lea, terlebih lagi saat itu Hendra bersikap seolah-olah dia hanya mempunyai dua anak Erick dan dirinya.
"terimakasih atas jasamu dokter"Erick tersenyum lega begitupun dengan Lea.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
"dimana ini?"tanya seorang pria paruh baya, disekelilingnya ada taman yang indah kupu-kupu berkeliaran dimana-mana.
__ADS_1
orang itu adalah tak lain Hendra Wijaya.
"kau senang sayang bisa disini bersama Bundamu?"
"emm, aku sangaaattt senang Bunda, akhirnya aku bisa hidup dengan tenang"
mereka berdua tertawa bahagia.
"suara siapa itu?"tanya Hendra, samar-samar dia mendengar suara gelak tawa, dia mengikuti suara itu hingga dia melihat dua wanita yang dia rindukan.
"Jeslyn, Lea...."panggilnya lirih.
"Bundaa lihat bukankah itu Ayah"ucap Lea dengan polos wajahnya terlihat berseri.
wanita yang disebut namanya Jeslyn itu menoleh kearah Hendra dia tersenyum tipis, sorot matanya terlihat memendam kekecewaan yang mendalam.
"ayok kita kesana bunda"
mereka berdua menghampiri Hendra, Hendra menatap wajah Jeslyn dengan penuh kerinduan.
"ayah apakah ayah akan ikut kami berdua?"
"tidak sayang Ayahmu akan tetap didunianya, Tuhan belum mengizinkannya untuk tinggal disini, biarkan kita bahagia disini berdua sayang tanpa ada yang mengganggu"ucap Jeslyn lembut, wajah penuh keibuan itu sungguh Hendra sangat merindukannya.
"apa maksudnya? kamu akan membawa Lea kemana?"tanya Hendra, jeslyn tersenyum.
"aku akan membawanya ke surga yang indah, aku akan membahagiakannya sudah cukup dia menderita selama bertahun-tahun, aku sebagai ibunya sungguh merasa sakit melihat penderitaan Lea, Aku sungguh kecewa terhadapmu Hendra, kau tidak becus menjaga buah hati kita, aku sungguh kecewa!!"
Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya dia menangis tersedu-sedu.
"maapkan aku sayang, tolong jangan bawa Lea aku akan membahagiakannya, beri aku kesempatan"mohon Hendra, cahaya terang menderang menghisap mereka berdua, Hendra berteriakk memanggil mereka berdua.
"Ayah!! panggil dokterr Aesyenn! panggil dokter!"titah Erick, Aesyen segera berlari keluar mencari dokter.
"Ayah kenapa??"tanya Lea yang baru masuk, tadi ia keluar untuk membeli makanan.
"gak tau Lea, Ayah tiba-tiba kejang lagi dia juga menangis, lihat bajunya basah penuh dengan air matanya"ucap Erick terdengar panik.
Lea mendekati Ayahnya, dia memegang tangan Hendra.
"Ayah bangun ini Lea, Lea udah maapin segala kesalahan Ayah, cepet bangun yahh"panggil Lea dengan mengusap-usap tangan Ayahnya sesekali menciumnya.
"AYAHH!ayah bangun!"teriak Erick heboh, Lea mendongkak melihat kearaah Ayahnya.
"Lea..."lirihnya.
"iya ayah, ini Lea ini Lea"ucap Lea tersenyum.
Hendra melepaskan genggaman tangan Lea.
"si-siapa kamu? dimana anak saya Lea?"ucap Hendra tiba-tiba, dengan terbata-bata karena masih lemas.
degg.
"m-maksud ayah?"
.
.
bersambung.
...haii guys gimana kabarnya, kasih dukungan dong buat cerita Author,dengan cara like, komen, dan Vote teman-teman,...
Terima kasih.
__ADS_1