
"apa maksudnya?? apa dia tau kalo gue bukan Lea ? terus gue harus jawab apaa"Lea membatin dengan panik.
"maksud ayah apa?"tanya Erick yang belum mengerti dengan arah pembicaraan ayahnya.
"siapa kamu?"tanya Hendra keukeh mengabaikan pertanyaan Erick.
Lea diam mematung, bingung harus menjawab apa tapi jika dia diam terus kemungkinan kecurigaan Hendra bertambah.
"maksud ayah gimana?, aku bukan Lea gitu jelas-jelas yg dihadapan ayah itu Lea, ini Lea"jawab Lea berbohong, tapi hatinya tidak sejalan dengan otaknya, dia bimbang antara jujur atau berbohong.
Hendra terdiam dengan lesu, apakah tadi mimpi hanyalah hayalannya atau memang itu petunjuk.
"ayah mungkin ayah berhalusinasi, didepan ayah ini Lea, Azalea Caroline anak ayah"terang Erick sepertinya dia mengora ayahnya berhalusinasi setelah bangun melewati kritisnya.
"ya m-munhgkinn ayah berhalusianasiasi"lirihnya dia be bahwa kakinya tidak bisa bergerak
"kemarilah" Hendra mengangkat satu tangannya dengan lemah, Lea melirik ke Erick, Erick mengangguk Lea mendekati Hendra dengan perlahan dia menggapai tangan Hendra yang mengulur kepadanya, dengan lembut Hendra menarik Lea kepelukannya, dia mengusap-usap rambut Lea dengan penuh kelembutan, matanya memanas terasa kabur hatinya penuh dengan penyesalan yang mendalam teringat perkataan Jeslyn yang mengatakan dirinya tidak becus menjadi seorang Ayah.
"m-maap-kan Ayah nak, maaf..., maaf"lirih Hendra dengan terbata-bata Lea menikmati pelukan dari Ayah Lea itu, Ayah Lea itu hampir membuat dirinya jantungnya.
"aku memaapkan Ayah, cepet sembuh agar bisa menyusun kenangan yang telah terlupakan"ucap Lea, mulai saat ini Lea akan berperan sebagai Lea asli, dia akan membuat ayah Lea percaya bahwa dirinya itu Lea, mungkin terlihat egois tapi apalah daya?, memberitahu semuanya malah membuat keadaan semakin rumit lagi dan terlebih apakah mereka akan percaya tentang tranmigrasi?, jadi oleh karena itu dia akan menentukan waktu yang pas untuk memberitahu semuanya fakta jika dirinya bukan Lea.
Aesyen iri melihat kehangatan Lea dan ayahnya, dia merasa tersingkirkan sebagai anak kesayangan tuan Hendra, tidak terasa air mata meleleh dipipinya yang mulus, dia kangen dengan pelukan hangat dari ayahnya itu.
Erick yang paham dengan perasaan Aesyen segera menarik tangannya untuk dibawa keluar.
__ADS_1
"bang mau bawa Syena kemana?"tanyanya dengan suara yang serak.
Erick tidak menjawabnya melainkan terus menariknya.
"abang ngapain bawa Syena kesini?"tanya Aesyen Heran pasalnya Erick membawa dirinnya ke taman rumah sakit.
"duduk!"titahnya, Aesyen duduk dibangku yang sudah disediakan.
tanpa aba-aba tiba-tiba Erick memeluk Aesyen, hingga membuat Aesyen tersentak kaget dengan pelukan abangnya.
"abang kenapa sih?"tanya Aesyen heran dengan tingkah Erick.
"jangan nangis, Ayah gak akan pernah melupakan kamu ataupun abang, Ayah hanya ingin berlaku adil terhadap anak-anaknya, Aesyen udah dari dulu mendapatkan kasih sayang dari Ayah sama Bunda sedangkan Lea baru kali ini wajar jika Ayah memberi perhatian yang penuh kepada Lea"jelas Erick sembari mengusap rambut Aesyen.
"hiks kenapa abang bicara aneh sii"ucap Aesyen dengan terisak, hatinya tersebtuh dengan perlakuan lembut abangnya baru kali ini dia mendengar suara lembut dan pelukan penuh kasih dari Abangnya, Erick selalu bersikap seadanya dia sayang tapi cuek.
"hiks tapi Ayah kenapa harus sayang sama Lea sekarang kenapa hiks gak dulu barengan jadi Syena gak cemburu huhuhu"ucap Aesyen dengan tersedu-sedu, Erick menggaruk rambutnya yang tidak gatal bagaimana mau menjelaskannya.
"abang juga gak tau sekarang kita balik kesana lagi takut dicariin, Ayok!"ucap Erick menarik tangan Aesyen.
Aesyen mengekor dibelakang Erick sembari merenungkan ucapan Erick, didalam benaknya terpikir untuk meminta maaf pada Lea, dan berusaha menerima semuanya dengan ikhlas.
kriett".
"permisi ayah"ucap Erick pada Hendra yang sedang disuapi oleh Lea, Lea dan Hendra menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"kalian habis darimana?"tanya Lea sembari membersihkan mulut Ayahnya dengan tissue.
"K-kalian d-ari man-na?"tanya Hendra masih dengan lemah.
"kami dari taman ayah, bagaimana ayah udah enakan?"tanya Erick mendekati ayahnya yang masih terbaring lemah diikuti oleh Aesyen.
Hendra mengangguk lemah, lalu matanya melirik Aesyen dibelakang Erick yang terlihat menunduk.
"Syena..."panggilnya lirih, Aesyen spontan mendongkak.
"k-kamu gak k-kangen ayah nak,?"ucap Hendra, Aesyen mengangguk dengan sendu matanya memerah menahan lelehan air yang siap meluncur.
"k-kemarilah nak,"
Aesyen maju perlahan, seperti Lea Aesyen memegang tangan Hendra, bedanya Aesyen tidak ditarik kepelukannya.
"gimana kabar kamu sayang?"tanya Hendra tanpa suara.
"hiks, baik a-aku baik Ayahhh huhu"Aesyen memeluk ayahnya dengan erat dia menangis terisak dipelukan ayahnya.
"maafin Syena Ayahhh, Syena nyesel udah benci sama ayah maafin Syenaa huhu"isakan Aesyen membuat Lea dan Erick ikut menangis haru.
.
.
__ADS_1
.
bersambung.