
Samuel yang juga melihat semua hadiah itu pun menjadi penasaran dengan identitas Damon karena dia bahkan bisa memberikan rumah mewah yang seharga ratusan miliar, dia lalu mengajak Eve untuk berbicara berdua saja
"Eve katakan pada ayah, sebenarnya siapa pria itu". tanya Samuel
" dia penguasa kota".
Samuel membulatkan kedua mata nya karena terkejut dengan jawaban Eve, padahal dia sudah memperingati Eve untuk sebisa mungkin jangan terlibat dengan orang-orang di kota D, tapi ini dia malah terlibat langsung dengan penguasanya
"apa yang kau lakukan, kenapa kau bisa sampai berurusan dengan seseorang seperti dia". ucap Samuel sambil memijit pelipis nya
" sebenarnya kami sudah berteman sejak masih kecil".
Samuel menatap Eve bingung "apa maksudnya". kata Samuel
"apa ayah ingat anak laki-laki yang selalu menemani ku bermain saat masih kecil". tanya Eve
Samuel terdiam seperti sedang mengingat sesuatu" ah apa dia anak yang selalu menempel pada mu itu". ucap Samuel dan di balas anggukan oleh Eve
"tapi bukan kah dia terlihat sangat berbeda". tanya Samuel
" tidak, dia sama saja masihlah bocah cengeng yang selalu menempel pada ku". ucap Eve dengan wajah datar nya
Samuel terkekeh, dia tidak habis pikir jika laki-laki yang sering di ceritakan oleh Eve dulu sekarang menjadi orang yang luar biasa dia bahkan sampai merasakan ketakutan dengan aura nya, namun seperti nya itu tidak berlaku dengan Eve
"aku lihat dia sungguh-sungguh mencintai mu jadi bagaimana dengan mu, apa kau juga mencintai nya". tanya Samuel
" aku tidak tahu, aku memang menyukai nya tapi untuk cinta kurasa tidak". jawab Eve
itu memang benar Eve menyukai Damon karena menganggap jika Damon itu berbeda dengan orang lain, dia tidak pernah memikirkan masalah cinta karena dia berpikir jika dia tidak membutuhkan itu
dia punya kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri dia juga punya banyak uang untuk membeli apa pun yang dia inginkan, jadi kenapa dia harus membutuhkan seorang laki-laki di samping nya
"ayah tahu kau tidak peduli dengan hubungan romantis seperti itu tapi sekarang dia sudah menjadi tunangan dan akan menjadi suami mu di masa depan, kau harus belajar untuk mencintai nya". ucap Samuel sambil menepuk bahu Eve
" aku tahu ayah, aku akan belajar untuk mencintai nya juga".
"bagus, itu baru benar putri ku". ucap Samuel sambil tersenyum
malam harinya, mereka di undang oleh keluarga Damon untuk makan malam bersama, semua orang sudah bersiap kecuali Eve
" dimana Eve, kenapa dia belum kelihatan". ucap Samuel sambil memutar kepala nya mencari keberadaan Eve
"sepertinya dia masih bersiap, aku akan pergi untuk memanggilnya". ucap Lyora, dia lalu menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Eve
" sayang apa kau sudah siap". seru Lyora, namun dia tidak mendengar jawaban dari Eve akhirnya dia pun mengetuk pintu kamar Eve
tok,
tok,,
__ADS_1
tidak lama setelah itu, pintu pun terbuka dan menampilkan Eve yang terlihat cantik dengan gaun warna birunya, rambut panjang nya dia ikat sedikit ke belakang dan memakaikan pita di belakang nya
"sayang kau sangat cantik". ucap Lyora sambil tersenyum ke arah Eve
" benarkah ". ucap Eve
" benar, ibu yakin kekasih mu itu pasti tidak akan mengenali mu". ucap Lyora sambil memegang tangan Eve
"ayo pergi, ayah dan adik mu sudah menunggu di bawah". ucap Lyora
Eve mengangguk, dia lalu berjalan bersama Lyora dengan tangan yang bergandengan
****
Eve dan keluarga nya memasuki sebuah restoran yang sangat mewah namun di sana tidak terlihat satu pun pengunjung
" sepertinya dia menyewa seluruh tempat ini". ucap Samuel
"benar". jawab Lyora sambil mengangguk
setelah itu mereka lalu menuju sebuah meja yang di sana sudah ada Damon dan keluarganya
ibu Damon yang pertama kali menyadari kedatangan mereka pun langsung berdiri dan menyambut mereka
" baik terimakasih, bagaimana dengan mu". ucap Lyora
"aku juga baik baik saja". ucap ibu Damon sambil melepaskan pelukan nya dia lalu melihat ke arah Eve
" ya ampun apa ini tunangan nya Damon, kau cantik sekali siapa nama mu". ucap ibu Damon heboh sambil mengusap pipi Eve
"Terima kasih nama saya Evelyn tante". ucap Eve sambil tersenyum
" ko tante, mamah dong". ucap nya cemberut
"ha ha iya mah". ucap Eve sambil tertawa canggung
" ayo duduk". katanya
ibu Damon bernama Gracella Velishia Alexius dia adalah seorang ibu rumah tangga yang berumur 35 tahunan meskipun begitu dia masih terlihat sangat cantik
sedangkan ayahnya bernama Reynal Afkara Alexis dia adalah seorang pengusaha sukses yang berusia 45 tahunan dia terlihat sangat berwibawa dan sangat tampan meskipun usianya tidak lagi muda
Damon yang awalnya sibuk dengan gadget pun mengangkat kepalanya saat tahu jika Eve sudah datang, dia lalu tiba-tiba mendadak menjadi blank saat melihat penampilan Eve yang menurut nya terlihat berbeda, bahkan saat Eve duduk di samping nya pun dia tidak sadar dan masih setia dengan wajah bodoh nya
Eve yang melihat Damon terbengong pun menyunggingkan bibirnya, dia lalu mendekat ke arah Damon dan membisikan sesuatu pada nya
"jangan lupa bernafas". kata Eve dia lalu meniup sedikit wajah Damon
__ADS_1
Damon yang merasakan hembusan angin di wajahnya pun mengedip ngedipkan matanya dia lalu tersenyum dan mengambil tangan Eve
" maaf aku terpesona dengan kecantikan mu malam ini sampai membuat ku lupa caranya bernafas". kata Damon sambil menciumi kedua tangan Eve lalu mengecup sebentar bibir Eve
Eve mengernyitkan dahinya tidak suka dia lalu buru buru menarik tangan nya dari Damon dan mendorong nya menjauh, padahal dia hanya berniat untuk menjahili nya saja tapi tidak menyangka jika Damon akan bersikap tidak tahu malu seperti itu
di sisi lain Chio, dia menatap Eve dengan tatapan rumit nya dia juga menyaksikan interaksi antara Eve dan Damon dan entah kenapa itu membuat nya tidak nyaman
"apa yang kau lihat". ucap Damon ketika melihat Chio yang terus saja menatap Eve
Chio memalingkan wajahnya ke samping lalu pura-pura meminum minumannya
Damon membuka jas nya lalu memakaikan nya pada Eve"kenapa kau memakai baju seperti ini, itu membuat seseorang bisa melihat tubuh indah mu ini ". kata Damon
" bodoh, bukankah kau yang memberikan baju ini pada ku". ucap Eve dengan nada sedikit kesal
"apa iyah". jawab Damon dengan wajah polosnya
bibir Eve berkedut dia sangat meragukan jika Damon benar-benar mencintainya saat ini, dia lalu mengabaikan Damon dan memilih untuk bermain dengan ponselnya saja
sementara itu di tempat lain..
di sebuah tempat lebih tepatnya markas geng The Lion, Nanda dan teman-temannya berkumpul di tempat khusus untuk mereka
mereka berkumpul sembari main game yang memang sengaja di sediakan di sana untuk mereka mainkan ketika sedang kumpul bersama, namun berbeda dengan Nanda dia memisahkan diri dengan teman nya
Nanda membaringkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang ada di sana, dia tidak memperdulikan suara berisik dari teman nya dan tetap setia menatap langit langit ruangan tersebut
Gibran yang melihat Nanda sedang galau pun berjalan mendekati nya
" Lo masih mikirin Evelyn ". ucap Gibran sambil duduk di depan Nanda
Nanda hanya sedikit melirik Gibran lalu berdehem sebagai jawaban
" apa gak sebaiknya lo lupain dia aja".
Nanda yang mendengar ucapan Gibran pun mengerutkan dahinya tidak suka
"tidak bisa lo tahu kan ini pertama kalinya gue suka sama seseorang, gue gak mungkin lepasin dia gitu aja". kata Nanda
" tapi lo juga liat kan cowok yang kemarin sama dia, gue rasa dia bukan orang sembarangan ". kata Gibran memperingati
" gue gak peduli". jawab Nanda acuh
Gibran menghela nafas nya, dia tahu Nanda akan merespon nya seperti itu karena dia juga paham seberapa keras kepala nya Nanda itu
"terserah gue cuma ngingetin lo doang". ucap Gibran setelah itu dia lalu meninggalkan Nanda dan kembali bergabung dengan yang lain nya
" selamat berpuasa...
__ADS_1