
Sebelum pergi ke gereja untuk melangsungkan pernikahannya dengan Aston. Emma menemani putranya terlebih dahulu karena dia harus menyuapi putranya makan dan menggantikan pakaian Daniel. Sebentar lagi Daniel akan pergi menjalani terapinya. Kebetulan, karena dia pun akan pergi tidak lama lagi jadi saat Daniel menjalani terapi. Dia akan menikah tapi apakah dia sudah melakukan hal yang benar? Mendadak Emma jadi memikirkannya dan merasa bersalah pada putranya.
Dia belum mendengar pendapat Daniel jika dia menikah nanti. Bukankah yang paling penting adalah Daniel? Dia melakukan semua itu untuk putranya tapi bagaimana jika Daniel marah saat tahu dia menikah secara diam-diam? Yang dia nikahi adalah orang yang tidak disukai oleh Daniel. Bagaimana jika Daniel membencinya karena hal itu? Dia tidak boleh lupa, Daniel adalah segalanya baginya dan dia tidak boleh melupakan hal itu.
Emma jadi bimbang, pernikahannya sudah tinggal menunggu jam saja tapi dia belum mengatakan pada putranya akan pernikahannya dengan Aston. Dia pun tidak boleh lupa jika dia dan Daniel sudah berjanji akan saling berbagi saat ada masalah tapi dia yang mengingkari janji mereka terlebih dahulu.
"Mommy, apa Mommy sedang sakit?" tanya putranya karena Emma diam saja akibat terlalu banyak berpikir.
"Tidak, Sayang. Apa Daniel menginginkan sesuatu?"
"Mommy, Daniel ingin bicara dengan Mommy," Daniel memegangi tangan ibunya dan menatapnya dengan tatapan sayu.
"Yes, apa ada yang hendak Daniel sampaikan pada Mommy?"
"Mommy, Daniel tidak butuh Daddy," ucap putranya.
"Apa maksudmu?"
"Mom, bukankah kita sudah berjanji akan selalu berdua?" Daniel memeluk ibunya dan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan membuat Emma bingung. Apa Daniel mendengar apa yang dia bicarakan pada kakeknya kemarin?
"Kenapa kau berkata demikian?" tanya Emma, dia ingin tahu kenapa tiba-tiba berkata seperti itu padahal putranya selalu ingin bertemu dengan ayahnya tapi kenapa hari ini berkata demikian?
"Mommy, kenapa harus menikah? Apa perempuan dan laki-laki harus menikah?"
"Tidak juga, tidak semuanya harus menikah. Kenapa bertanya demikian? Bukankah selama ini Daniel ingin memiliki seorang Daddy?"
"Daniel sangat ingin memiliki Daddy, Mommy. Sangat ingin tapi Daniel tidak mau memiliki Daddy yang tidak menyukai Daniel. Jika tidak semua pria dan wanita harus menikah lalu kenapa Mommy harus menikah?"
"Kau mendengar percakapan Mommy dan Kakek buyut, bukan?"
"Tidak, Daniel tidak mendengar apa pun," dustanya padahal dia mendengar dengan jelas karena saat dia kembali, teriakan Kimberly terdengar dari luar. Daniel meminta sang perawat untuk tidak membawanya masuk karena dia ingin mendengar. Sepertinya ibunya lupa jika dia anak yang cerdas.
__ADS_1
"Jika tidak, kenapa kau berbicara seperti ini? Pasti ada alasannya, bukan?"
"Tidak, bukankah waktu itu Mommy sudah mengatakan pada Daniel jika Mommy akan menikah dengan Uncle jahat? Sekarang Daniel ingin membahasnya dengan Mommy."
"Baiklah," Emma mengangkat Daniel dan mendudukkannya ke atas pangkuannya. Sekarang saatnya mendengarkan keinginan putranya dan sekarang dia pun harus mendengarkan pendapat putranya akan pernikahannya yang sebentar lagi terjadi. Jangan sampai menyesal karena tidak mendengarkan pendapat putranya.
"Sekarang katakan pada Mommy apa yang hendak Daniel sampaikan pada Mommy. Mommy akan mendengarkannya."
"Terima kasih, Mommy. Sekarang Daniel ingin tahu, kenapa Mommy mau menikah dengan Uncle jahat?"
"Baiklah, sepertinya kau tidak menyukai Aston sehingga kau memanggilnya seperti itu."
"Daniel memang tidak suka, dia jahat tapi kenapa Mommy masih mau menikah dengannya?"
"Daniel, Mommy juga tidak mau tapi Mommy terpaksa. Semua untuk dirimu agar kau bisa dirawat sampai sembuh, Itu syarat yang diberikan oleh kakek buyut. Dia akan membiayai pengobatan Daniel asalkan Mommy mau menikah dengan Aston. Mommy sudah mengatakannya pada Daniel, bukan? Mommy akan melakukan apa pun untuk Daniel jadi Mommy harus melakukan hal ini."
"Jika begitu, Daniel tidak mau sembuh!" ucap putranya.
"Jika demi Daniel, Mommy harus menikah dengan Uncle jahat lebih baik Daniel tidak sembuh. Kita pulang ke New York saja, Mommy. Tidak apa-apa Daniel tidak di obati."
"Apa? Kenapa kau berkata demikian?"
"Daniel tidak mau Mommy berkorban seperti ini. Jika demi Daniel Mommy harus menikah dengan Uncle jahat lebih baik kita kembali ke New York saja. Kita hidup berdua lagi seperti dulu."
"Tapi kau harus diobati, Sayang. Bagaimana Mommy bisa diam saja sedangkan kau harus berjuang dengan penyakitmu?" Emma memeluk putranya, kesedihan memenuhi hati. Bagaimana bisa dia berdiam diri melihat putranya yang masih kecil berjuang melawan penyakitnya?
"Tidak apa-apa, Mommy. Berjanjilah pada Daniel jika Mommy tidak akan menikah dengan Uncle jahat," pinta putranya.
Emma diam, tak menjawab. Bagaimana sekarang? Dia sudah harus menikah dengan Aston beberapa jam lagi tapi Daniel justru meminta hal itu padanya. Dia tahu masih ada cara lain untuk biaya pengobatan Daniel tapi dia takut dengan risikonya. Sekarang dia jadi berada di dalam dilema, yang mana pun yang akan dia pilih nanti, semua memiliki risiko yang berbeda.
"Berjanjilah pada Daniel jika Mommy tidak akan menikah dengan Uncle Aston," pinta Daniel merengek.
__ADS_1
"Tapi Mommy melakukan hal ini untukmu, Daniel."
"Daniel tidak mau, dari pada memiliki Daddy seperti Uncle Aston lebih baik Daniel tidak sembuh sama sekali!"
"Jangan berkata seperti itu, Mommy harus melakukannya."
"Jika begitu, Daniel akan pulang ke New York seorang diri!"
"Apa? Jangan!"
"Daniel tidak mau memiliki Daddy jahat. Daniel juga tidak mau tinggal dengan Daddy jahat. Jika Mommy masih menikah, maka Daniel akan pergi!" ancam putranya.
"Baiklah, baik. Jangan mengancam dan jangan berkata demikian," dia tahu itu bukan ancaman semata. Jangan sampai putranya pergi gara-gara dia menikah dengan Aston.
"Daniel tidak mau jika sampai Mommy harus menikah."
"Baiklah, Mommy tidak akan menikah."
"Benarkah? Mommy berjanji?" Daniel mendongak, menatap ibunya dengan tatapan mata berbinar.
"Yes, Mommy tidak akan menikah. Mommy akan mencari cara lain agar Daniel tetap mendapatkan perawatan."
"Mommy tidak akan menikah dengan Uncle jahat, bukan?" tanya Daniel memastikan.
"Demi Daniel, Mommy tidak akan menikah dengannya. Mommy tidak mau Daniel tidak bahagia jadi Mommy akan menolaknya."
"Terima kasih, Mommy. Daniel tahu Mommy sayang pada Daniel dan Daniel juga sangat menyayangi Mommy!" Daniel kembali memeluk ibunya dan tersenyum secara diam-diam. Misi berhasil, dia tahu ibunya tidak akan tega dan memang Emma tidak tega. Dia tidak mau Daniel tidak bahagia meski dia bisa sembuh. Dia akan membatalkan pernikahannya dengan Aston meski dia tahu kakeknya akan kecewa dan marah padanya. Tidak saja kakeknya, Aston pasti juga akan marah tapi demi kebahagiaan Daniel, dia rela dibenci oleh kakeknya lagi dan mungkin saja kakeknya akan mengakhiri hubungan mereka. Dia pun tahu setelah dia menolak, kakeknya tidak akan membiayai rumah sakit lagi dan ini akan menjadi problem baru baginya.
"Daniel sangat menyayangi Mommy," ucap Daniel, anak itu paling pandai mengambil hati ibunya.
Emma tersenyum, dia tahu pilihannya tidak mungkin salah karena dia tidak mau Daniel tidak bahagia dengan pernikahannya dengan Aston apalagi saat itu sikap Aston tidak menyenangkan pada Daniel ketika dia tidak ada. Jangan sampai Daniel tertekan dan tidak bahagia memiliki ayah yang dia benci. Aston pun bisa kembali mengancam putranya setelah mereka menikah. Padahal dia pikir semua sudah selesai dengan menyetujui permintaan kakeknya tapi ternyata, masalah baru justru menanti. Sebentar lagi dia akan menolak menikah dengan Aston sesuai dengan keinginan Daniel dan dia tahu, masalah baru yang berat akan dia hadapi dan semoga saja dia sanggup melewatinya.
__ADS_1