
Setelah berbicara dengan putranya, Emma termenung dengan banyak pikiran. Dia sudah memutuskan untuk tidak menikah dengan Aston, itu berarti kakeknya tidak akan membiayai perawatan Daniel lagi. Selain pada Kendrick, ke mana lagi dia harus meminta bantuan. Dia berniat mencari perkerjaan tapi karena pernikahannya dengan Aston membuatnya ragu. Uang tidak ada, sekarang dia berada di dalam dilema karena meminta bantuan Kendrick pun tidaklah mudah. Mungkin pria itu akan membantu, tapi dia takut untuk berkata jujur.
Daniel sudah dibawa untuk menjalani terapi, sedangkan Emma sedang bersiap untuk pergi menemui kakeknya dan Aston yang sudah pasti ada Kimberly. Dia bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Kimberly nanti yang sudah pasti akan memanasi hati kakeknya.
Emma menghela napas, biarlah. Apa yang akan terjadi biarlah terjadi. Lagi pula sejak awal dia yang salah jadi dia akan menerima risikonya. Mau dibenci oleh kakeknya atau mau dibenci oleh Kendrick dia tidak peduli asalkan Daniel bahagia dan penyakitnya bisa sembuh. Emma segera pergi tanpa rasa curiga, dia harus menyelesaikan masalah yang dia timbulkan. Memang dia sumber masalah dan dia tahu itu.
Kimberly dan kakeknya sudah pergi ke gereja di mana Aston sudah menunggu. Gaun pengantin yang mereka beli untuk Emma dibawa oleh Kimberly. Sejak pagi, Kimberly tampak bahagia. Yeah, ini adalah hari bahagianya karena hari ini Emma akan menikah dengan Aston lalu pergi ke tempat yang jauh dengan Aston. Dengan begini Emma tidak akan lagi bisa mengganggunya dengan Kendrick yang sudah pasti akan menjadi miliknya sebentar lagi. Dengan begini dialah yang menjadi pemenangnya.
Sifat buruk Kimberly semakin menjadi saja karena tidak ada yang menasehati dirinya lagi. Sifat iri yang dia miliki semakin tumbuh subur serta sifat sombongnya. Karena itulah Kimberly jarang memiliki teman sejak dulu karena sifat menyebalkannya itu. Seharusnya dia mendapat bimbingan dari seorang psikologi tapi sejak dulu ibunya selalu membantu Kimberly mennyembunyikan sifat buruknya.
"Mana Emma? Kenapa dia belum juga datang?" begitu tiba tentu yang dia cari adalah bintangnya karena dia takut Emma melarikan diri dari pernikahan itu.
"Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah dia kakakmu?" ucap Aston.
"Cih, awas saja jika sampai dia lari!" Kimberly mendengus, hari ini kebahagiaannya tidak boleh ada yang menghancurkannya.
"Hubungi kakakmu, Kimberly. Jangan hanya bisa marah saja!" ucap kakeknya.
"Aku tidak punya nomor ponselnya kakek."
"Kau ini adiknya, bagaimana bisa tidak punya nomor ponselnya?"
"Untuk apa aku menyimpannya, tidak penting!"
"Pakai ponselku dan segera hubungi dia!" ponsel diberikan, entah apa yang dipikirkan Kimberly sampai nomor ponsel kakaknya sendiri tidak dia simpan. Kimberly segera menghubungi Emma sesuai dengan permintaan kakeknya meski sesungguhnya dia malas.
"Di mana kau? Kenapa tidak datang?"
__ADS_1
"Aku sudah mau sampai," jawab Emma.
"Cepat, awas jika kau melarikan diri!" ancam Kimberly.
Emma menghela napas, dia tidak akan lari tapi dia akan menolak pernikahan itu. Dia harus siap menerima amarah kakeknya dan dia pun sudah pasrah. Semua jadi kacau gara-gara dirinya. Seandainya sejak awal dia patuh pada perintah kakeknya, dia rasa tidak akan jadi kacau seperti ini tapi jika dia patuh, apakah Daniel akan hadir dalam hidupnya? Belum tentu dia mendapatkan Daniel jika dia patuh tapi jika mengingat pria yang harus dia nikahi adalah pria yang dia jebak, Daniel sudah pasti hadir.
Kesalahannya adalah, dia tidak mencari tahu tapi dia memang tidak mau menikah waktu itu. Mau dia tahu atau tidak pria yang akan dia nikahi, dia rasa dia akan melakukan hal yang sama. Emma sudah tiba di rumah sakit, siap tidak siap dia harus siap. Aston sangat senang saat dia datang, begitu juga Kimberly.
"Kenapa kau begitu lama? Cepat pakai gaunnya," Kimberly menghampiri kakaknya untuk memberikan gaun pengantin.
"Maaf, aku tidak bisa!" ucap Emma seraya melangkah mundur. Kakeknya terkejut saat Emma berkata demikian begitu juga Aston dan Kimberly.
"Apa maksud perkataanmu, Emma?" tanya kakeknya.
"Maaf kakek, lagi-lagi aku mengecewakan kakek karena aku tidak mau menikah dengannya!"
"Aku tidak menginginkan semua ini. Sejak awal aku sudah mengatakannya jika aku tidak mau menikah. Aku memiliki kehidupanku sendiri tapi kenapa Kakek selalu memaksa aku!"
"Kakek melakukan hal ini untuk kebaikanmu!" teriak kakeknya marah.
"Kebaikan seperti apa, kakek? Kenapa selalu aku, kenapa kakek tidak pernah meminta Kimberly menikah? Apa aku kurang bahagia? Aku hidup dengan bahagia tapi kenapa selalu aku?!" teriak Emma pula.
"Itu karena aku sudah berjanji dengan sahabat baikku untuk menikahkan cucu pertama kami setelah dewasa!"
"Seharusnya kakek mempertemukan aku dengan Kendrick terlebih dahulu agar kami saling mengenal sebelum kakek mengatakan pernikahan yang harus kami jalani tapi apa? Kekek langsung meminta aku untuk menikah sehingga membuat aku takut dan kakek tidak mau berbicara baik-baik denganku!" saat mendengar perkataan Emma, Aston yang sedari tadi sudah kesal karena Emma tidak mau menikah dengannya semakin kesal saja bahkan emosi sudah menguasai hatinya. Jadi pria yang akan menikah dengan Emma adalah Kendrick Maxton, pria yang selalu bersama dengan putra Emma? Sesungguhnya lelucon macam apa ini? Kenapa dia merasa dipermainkan oleh keluarga ini?
"Apa pun alasanmu, Emma. Kau harus menikah dengan Aston!" Kimberly melemparkan gaun pengantin ke arah Emma. Sudah dia duga, Emma pasti akan membuat ulah.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau saja yang menikah dengannya?" teriak Emma tapi pada saat itu, sang kakek yang sudah sangat marah memberikan sebuah tamparan keras di wajahnya. Emma terkejut, begitu juga Kimberly tapi dia terlihat sangat puas. Emma memegangi pipinya, dia tidak akan melawan karena dia tahu jika dia yang salah.
"Beraninya kau Emma, beraninya kau mempermalukan aku untuk yang kedua kali?" kakeknya benar-benar marah kali ini, dia benar-benar marah pada cucunya yang lagi-lagi telah membuatnya malu.
"Maafkan aku, kakek. Kakek selalu memberikan aku syarat yang berat hanya karena aku butuh bantuan. Kenapa? Apa kakek tidak menganggap keberadaan Daniel? Apa kakek tidak mau mengakui dirinya? Kakek boleh marah padaku tapi Daniel tidak bersalah sama sekali namun kakek justru meminta aku untuk menikah dengannya yang tidak bisa menerima Daniel. kenapa harus seperti ini, kakek?"
"Wow, dari mana kau tahu aku tidak bisa menerima Daniel?" tanya Aston yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
"Aku tahu, Aston. Kau mengancam Daniel saat aku tidak ada dan aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak bisa menerima putraku!"
Aston mengepalkan kedua tangan, sungguh anak sial. Ternyata anak itu yang membuat Emma tidak mau menikah dengannya. Padahal tinggal sedikit lagi. Dia sungguh tidak terima penghinaan ini.
"Sayang sekali, semua jadi gagal oleh anak tengik itu!" ucap Aston.
"Jangan menyebut putraku dengan sebutan seperti itu!" ucap Emma kesal.
"Jadi apa, hah? Kau menolak aku karena perkataan anak itu!"
"Dia putraku, wajar jika aku mendengarkan perkataannya lalu apanya yang salah?"
"Kau sungguh mempermalukan aku, Emma. Penghinaan ini, aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!" ucap Aston.
Emma meneguk ludah, sial. Masalah baru kembali datang. Semua melihatnya dengan tatapan penuh kebencian, Aston benar-benar malu atas kejadian itu. Tidak seharusnya Emma menolaknya di saat mereka sudah akan menikah. Semua gara-gara putranya dan anak itu tidak akan luput. Dia pasti akan membalas, membalas penghinaan dan rasa malu yang Emma berikan.
"Tunggu saja, aku akan membalasmu nanti!" ucap Aston saat melangkah melewati Emma.
"Tunggu, Aston!" kakek Emma mengejar Aston. Dia sungguh malu dan lagi-lagi gara-gara Emma. Dia benar-benar kecewa dengan Emma dan dia akan membuat perhitungan nanti dengan cucunya yang kurang ajar itu. Dia sungguh tidak menduga, Emma akan mempermalukan dirinya lagi.
__ADS_1