
Emma mencari keberadaan Daniel di taman tapi dia tidak menemukan keberadaannya. Dia sudah berputar-putar, mencari dengan teliti tapi keberadaan Daniel tetap tidak ada. Dia bahkan bertanya pada orang-orang yang ada di sekitar taman sambil menunjukkan foto Daniel tapi tidak ada yang melihatnya.
Rasa takut Emma rasakan, dia mulai panik dan semakin takut. Yang dia takutkan Daniel dibawa pergi oleh Aston. Dia curiga demikian karena Aston sudah mengancam dirinya. Semua ini salahnya, sekarang Daniel benar-benar menjadi korban atas kesalahan yang dia lakukan. Tak menemukan Daniel di taman tidak membuatnya menyerah. Emma kembali ke ruangan Daniel untuk mencari perawat yang melihat pria yang membawa Daniel. Selain Aston, tidak ada lagi orang yang dia curigai karena Aston tahu di mana Daniel sedang menjalani perawatan.
"Suster, Daniel dibawa oleh siapa?" tanya Emma begitu masuk ke dalam ruangan.
"Seorang pria," jawab sang suster karena dia juga tidak kenal dan tidak pernah melihat orang yang mengajak Daniel.
"Siapa pria itu, suster? Apa dia mengajak Daniel dengan paksa?"
"Wah, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Pria itu datang lalu membujuk Daniel untuk ikut. Aku sempat mencegah tapi dia berkata hanya ingin membawa Daniel bermain di taman jadi aku tidak curiga sama sekali. Kenapa, Nona? Apa Daniel tidak ada di taman?"
"Tidak ada, dia tidak ada di mana pun!" Emma semakin panik, firasatnya sungguh buruk. Dia benar-benar takut, takut Daniel dibawa oleh Aston seperti yang dia pikirkan.
"Tolong katakan padaku, Suster. Seperti apa ciri-ciri dari pria itu?"
"Rambutnya hitam," Sang suster mulai mengingat, "Wajahnya tampan walau sedikit menakutkan. Tubuhnya oh Tuhan, dia pria idamanku!" pikirannya justru melayang entah ke mana.
"Aku serius, suster!" teriak Emma yang sedari tadi mulai panik.
"Maaf, aku jadi terbawa suasana tapi memang seperti itu ciri-cirinya dan ini kali pertama aku melihat pria itu."
Emma mulai berpikir, siapa? Aston juga berambut hitam. dia juga tidak jelek dan badannya juga kekar. Aston juga belum pernah datang meski dia tahu jadi siapa? Dia jadi pusing gara-gara penjelasan sang suster yang tidak jelas. Dari pada menerka, lebih baik dia kembali mencari Daniel. Mungkin saja Daniel bermain di tempat lain jadi dia harus mencarinya terlebih dahulu. Dengan perasaan cemas, Emma mulai mencari. Tidak peduli berapa puluh lantai rumah sakit itu, yang pasti dia harus menemukan keberadaan Daniel.
Setiap lantai dia telusuri, meski lelah tak dia hiraukan. Foto Daniel pun ditunjukkan pada setiap orang yang dia temui tapi tidak ada satu pun yang melihat keberadaan Daniel. Atap gedung pun sudah dia datangi namun Daniel pun tidak ada di sana.
__ADS_1
"Daniel!" Emma berteriak memanggil putranya sambil berlari. Di mana? Di mana Daniel saat ini? Dia juga kembali ke dalam ruangan tapi tidak ada. Emma mencari dari atas sampai ke bawah, namun tidak dia temukan. Satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi adalah security yang berjaga di depan pintu, dia takut putranya sudah dibawa pergi tanpa ada yang bisa mencegah.
"Sir, apa kau melihat anak ini?" tanya Emma pada security yang berjaga, foto Daniel pun dia tunjukkan.
"Oh, seorang pria mengajaknya pergi beberapa jam yang lalu."
"Apa? Kenapa bisa?" sudah dia duga, putranya pasti dibawa pergi tapi siapa?
"Ada apa, Nyonya? Apa ada masalah?"
"Sir, aku ingin melihat rekaman cctv. Aku takut ini penculikan!" pinta Emma.
"Apa?" security itu terkejut dan bergerak cepat. Beberapa rekan dipanggil, Emma pun dibawa ke ruangan di mana dia bisa melihat rekaman cctv. Rasa takut semakin melanda. Semoga bukan Aston, semoga saja bukan Aston. Dia berharap demikian karena dia tahu akan terjadi sesuatu yang buruk jika Daniel dibawa oleh Aston.
"Nyonya, pria itu yang membawanya. Apa kau kenal?"
"Aku kenal, dia ayahnya. Maaf aku merepotkan. Aku hanya takut putraku diculik," ucap Emma. Dia benar-benar lega tapi dari mana Kendrick tahu keberadaan Daniel dan kenapa pria itu membawanya? Setelah satu kecemasan pergi, muncul kecemasan yang lainnya.
Emma pergi setelah mengucapkan kata terima kasih. Dia kembali ke dalam ruangan untuk menunggu Daniel kembali. Dia pikir Kendrick hanya membawa Daniel pergi jalan-jalan, sebab itu dia akan menunggu. Beberapa jam telah berlalu, Emma mulai gelisah karena Daniel belum juga diantar kembali. Dia kembali merasa cemas, dia tidak tahu apa niat Kendrick membawa Daniel pergi. Tidak ada kabar sama sekali, rasa cemas yang dia rasakan bisa membunuhnya. Seharusnya Daniel memberikan nomor ponselnya pada Kendrick agar Kendrick dapat menghubunginya tapi kenapa tidak ada kabar?
Satu jam, dua jam bahkan sudah malam pun Daniel tidak juga kembali. Dia tahu ada yang salah, dia takut Kendrick sudah tahu kebenarannya lalu merebut Daniel darinya. Hanya itu saja yang dia pikirkan tapi kenapa harus mengambil Daniel secara diam-diam? Tidak tahu harus mencari Kendrick di mana karena dia tidak tahu apa pun tentang pria itu membuat Emma tidak punya pilihan selain pulang ke rumah kakeknya untuk mencari tahu di mana Kendrick tinggal. Walau mereka tidak mau memberi tahu, dia sangat berharap mendapatkan nomor ponselnya.
Hari sudah gelap saat Emma datang, Kimberly sudah mau tidur begitu juga dengan kakeknya. Tamu tak diundang yang mendadak datang tentu saja membuat Kimberly kesal tapi dia mengira Emma datang untuk mengambil barang-barang miliknya. Fedrick yang kecewa tentu saja tidak mau keluar untuk menemui Emma. Lagi pula dia sudah memutuskan tali kekeluargaan dengan Emma sebab itu, dia meminta Kimberly yang keluar untuk menemui Emma
"Bukankah kakek sudah mengatakan padamu jika barang-barangmu akan ada yang mengantarnya? Sepertinya kau sungguh tidak sabar!" cibir Kimberly.
__ADS_1
"Aku datang bukan untuk mengambil barang!" sudah lelah dan frustasi, kini dia harus menghadapi Kimberly dengan emosi.
"Jika bukan, jangan katakan kau ingin memohon pada Kakek lalu berlutut di bawah kakinya," Kimberly masih saja mencibir.
"Jangan basa basi, Kimberly. Aku lelah dengan banyaknya masalah yang terjadi!"
"Itu semua ulahmu sendiri!" sahut Kimberly.
"Baiklah, memang aku yang salah. Sejak awal aku yang salah. Sekarang katakan padaku, di mana rumah Kendrick?" tanya Emma.
"Apa?" Kimberly terkejut, untuk apa Emma mencari tahu rumah Kendrick.
"Untuk apa kau mencari tahu rumahnya, apa kau ingin mencarinya untuk meminta bantuannya karena kau sudah tidak ada jalan lagi?"
"Ya, aku sudah tidak ada jalan lagi sebab itu katakan padaku di mana rumah Kendrick!" teriak Emma. Kimberly justru tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Emma. Sungguh memalukan tapi jangan harap dia akan mengatakannya.
"Jawab, Kimberly!"
"Tidak. Meskipun kau memohon dan berlutut di bawah kakiku, aku tidak akan menjawab di mana Kendrick berada. Jika kau memang butuh bantuannya, cari dia sendiri dengan kemampuanmu!"
"Kimberly, aku tidak pernah berbuat salah padamu tapi kenapa kau begitu membenci aku?" sungguh dia tidak mengerti apa yang terjadi di antara mereka berdua.
"Aku memang benci denganmu, Emma. Dari dulu aku sudah sangat membenci dirimu!" setelah berkata demikian, Kimberly masuk ke dalam dan mengunci pintu agar Emma tidak bisa masuk.
"Tunggu, Kimberly. Katakan padaku di mana Kendrick berada!" Emma masih berteriak memohon tapi Kimberly tidak peduli. Emma terus berteriak, berharap kakeknya keluar namun si-sia. Yang dia dapatkan bukan bantuan melainkan barang-barangnya yang dilemparkan oleh Kimberly dari lantai dua.
__ADS_1
"Bawa itu semua dan jangan kembali lagi!" teriak Kimberly.
"Kimberly, bantu aku satu kali ini saja!" teriak Emma. Kimberly masuk ke dalam sambil tertawa. Rasakan, Emma memang pantas diusir. Sekarang dia sangat ingin lihat Emma tidur di jalan dan dia yakin Emma tidak mungkin bisa menemukan keberadaan Kendrick karena dia tidak mungkin ingat di rumah Kendrick.