
Aston sangat marah karena dia merasa sedang dipermainkan oleh Emma dan yang lainnya. Tidak seharusnya Emma menolak dirinya dan ini adalah kesalahan besar yang Emma lakukan. Dia tidak akan membiarkan hal ini, dia pasti akan membuat perhitungan nantinya.
Fedrick yang marah dan kecewa pada Emma pun kembali. Dia sudah berusaha membujuk Aston namun gagal. Aston pergi dengan amarah yang meledak-ledak, semua gara-gara Emma. Kimberly yang berusaha membujuk Aston pun gagal oleh sebab itu, mereka hanya bisa kembali dan melampiaskan amarah mereka pada Emma.
Emma tidak lari, dia memang ingin menyelesaikan semuanya hari itu juga. Dia tahu kakeknya sudah pasti marah dan dia rasa satu pukulan yang baru saja dia dapatkan tidaklah cukup. Emma diam, saat kakeknya masuk ke dalam. Dia pikir hanya kakeknya saja yang kembali. Dia berpikir itu lebih baik karena dia lebih bisa leluasa berbicara dengan kakeknya namun Kimberly yang masuk kemudian, membuatnya tidak senang.
Kimberly mengambil paper bag berisi gaun pengantin yang ada di atas lantai lalu melemparkannya ke arah Emma sambil berteriak dengan kerasnya.
"Kau benar-benar pembawa masalah!"
Kali ini Emma menghindar, dia tidak sudi dimarahi oleh Kimberly karena Kimberly tidak ada hubungannya sama sekali. Selama ini dia diam, sudah terlanjur maka dia akan melawan.
"Kenapa kau melempar aku?" teriak Emma.
"Kau benar-benar membuat malu. Kau lihat, kakek. Kau lihat?! Sudah aku katakan dia pasti akan mengecewakan dirimu lagi!" Kimberly benar-benar kesal, padahal ini adalah hari bahagianya karena Emma sudah pasti pergi. Dia sudah sangat yakin meski ada rasa curiga tapi kenapa semua jadi kacau seperti ini? Sekarang rasa bencinya semakin menjadi.
"Diam kau Kimberly, semua ini tidak ada urusannya denganmu!" Emma melotot ke arah adiknya. Sejak awal memang tidak ada hubungan dengan Kimberly. Jika tidak ada Kimberly dia bisa berbicara dengan kakeknya tapi Kimberly selalu ikut campur dan memperburuk keadaan.
"Kau yang diam, Emma!" sang kakak akhirnya membuka suara.
"Kau yang diam. Dua kali, Emma? Apa sebenarnya maumu? Kau sudah setuju akan menikah dengan Aston, tapi kenapa hari ini kau menolaknya? Kenapa?"
"Aku mengira kakek mengenalkan aku dengan seorang pria yang baik. Aku bersedia karena aku mengira dia bisa menerima putraku tapi apa? Bukannya mengambil hati Daniel, dia justru mengancam Daniel. Apa itu berbuatan benar?"
"Putramu saja yang kurang ajar!" ucap Kimberly.
__ADS_1
"Jangan bawa-bawa putraku, Kimberly. Dia hanya anak yang menginginkan kebahagiaan!"
"Cih, itulah sebabnya harus mendidik anak dengan baik."
"Apa maksudmu? Apa kau mengira aku tidak mendidiknya dengan baik?"
"Hanya kau seorang diri, bagaimana kau bisa mendidik putramu dengan baik? Oh, aku luap," Kimberly bersedekap dada dan memperlihatkan ekspresi angkuh sebelum dia mengucapkan penghinaannya lagi, "Aku lupa jika dia adalah anak yang tidak memiliki ayah. Dia hanyalah anak ha?" sebelum Kimberly selesai mengucapkan perkataannya, Emma memberikan satu tamparan di wajahnya. Kimberly berteriak, namun lagi-lagi satu tamparan mendarat di pipinya yang lain.
"Kurang ajar, beraninya kau memukul aku?" teriak Kimberly tidak terima.
"Selama ini aku memang ingin memukul mulutmu yang kurang ajar itu. Apa kau tidak diajarkan sopan santun? Hanya ada penghinaan dan sumpah serapah saja yang kau ucapkan. Apa kau kira perkataanmu itu pantas kau ucapkan? Sekali lagi kau menghina putraku, aku tidak akan segan untuk memukul mulutmu!" Emma sudah habis kesabaran. Selama ini dia bersabar karena dia tidak mau menambah masalah, tapi ini cukup sudah. Hinaan untuk dirinya akan dia telan mentah-mentah tapi dia tidak akan tinggal diam jika ada yang menghina putranya Karena Daniel tidak bersalah.
"Kakek, dia memukul aku kakek!" Kimberly mendekati kakeknya untuk meminta pertolongan.
"Kenapa kakek jadi memarahi aku?" tanya Kimberly.
"Diam, apa kau tidak mendengar?"
Kimberly menunduk, namun dia sangat kesal karena dia jadi dimarahi oleh kakeknya. Emma benar-benar kurang ajar. Semoga saja ingatannya tidak pernah kembali lagi, dia sangat berharap hal itu terjadi.
"Emma, aku sungguh tidak bisa berkata-kata lagi terhadap dirimu. Kau cucu pertamaku tapi kau sungguh mengecewakan aku. Berkali-kali kau mengecewakan aku dan aku rasa kau akan mengecewakan aku lagi dan lagi jadi pergilah, kita tidak ada hubungan apa pun lagi!" ini puncak dari rasa kecewanya dan dia tidak mau peduli lagi. Emma terkejut begitu juga Kimberly tapi dia tersenyum secara diam-diam.
"Apa maksud kakek?" tanya Emma.
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Sekarang kita tidak memiliki hubungan keluarga lagi. Aku benar-benar kecewa padamu. Terserah kau mau melakukan apa di luar sana, aku akan menutup mata. Aku akan membayar biaya rumah sakit terakhir putramu tapi setelah itu tidak lagi. Jangan pernah menampakkan batang hidungmu di depan mataku jadi pergilah. Sekalipun aku mati, kau tidak boleh datang melihat mayatku!"
__ADS_1
"Apa?" Emma kembali terkejut mendengar perkataan kakeknya. Jadi dia benar-benar dibuang sekarang? Tapi bukankah itu adalah risiko dari apa yang dia lakukan selama ini?
"Aku minta maaf, Kakek," Emma menunduk, air matanya mengalir.
"Jangan dimaafkan, Kakek. Dia akan kembali membuat kakek kecewa. Sekarang sebaiknya kita pergi, jangan terlalu lama bersama dengan orang yang selalu membuat kakek kecewa," ajak Kimberly.
"Jangan perlakukan aku seperti ini, Kakek. Aku memang salah, maafkan aku!" pinta Emma yang sudah melangkah mendekati kakeknya namun tatapan tajam yang diberikan oleh kakeknya membuat Emma menghentikan langkahnya.
"Sudah aku katakan padamu, mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan lagi jadi jangan memanggil aku kakek. Akan ada yang mengantar semua barangmu dan barang putramu, jangan menginjakkan kaki ke rumah lagi!" setelah mengatakan itu, Fedrick yang kecewa pergi diikuti oleh Kimberly yang tersenyum puas.
Emma memperhatikan kepergian kakeknya sambil menangis, dia tidak mengejar lagi karena dia tahu diri. Itu adalah risikonya, risiko yang harus dia tanggung karena telah mengecewakan kakeknya. Tidak saja mengecewakan kakeknya, dia juga sudah menipu Kendrick. Julukan apa yang pantas dia dapatkan? Satu kesalahan yang dia lakukan, justru berujung fatal dan Daniel menjadi korban atas kesalahannya. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
Menebalkan muka lalu pergi mencari Kendrick dan mengatakan semuanya untuk meminta bantuan ataukah kembali ke New York seperti yang Daniel inginkan tapi dia harus mengorbankan kehidupan Daniel karena dia tahu, dia tidak akan mampu membiayai pengobatan Daniel.
Emma menghapus air mata, tidak peduli. Mau menebalkan muka atau apa pun, dia harus mencari Kendrick dan mengatakan semunya tapi dia harus mencari di mana? Oh, dia ingat. Sepertinya Daniel tahu nomor teleponnya. Demi Daniel, semua risiko harus dia ambil karena dia tahu jika dia berkata jujur, tidak saja Kendrick yang akan kecewa tapi Daniel juga akan Kecewa dan yang paling buruk, dia akan dibenci oleh putranya.
Biarlah, sekarang apa pun risikonya akan dia hadapi. Dibenci oleh Daniel pun tidak apa-apa karena dia tahu, Daniel akan mendapatkan perawatan yang terbaik juga mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik jika bersama dengan ayahnya. Emma segera pergi, kembali ke rumah sakit. Dia akan meminta nomor ponsel Kendrick dari Daniel. Dia tahu Daniel sudah selesai menjalani terapi tapi ketika dia kembali, Emma mendapatkan ruangan Daniel sedang dibereskan oleh seoarang perawat.
"Di mana Daniel?" tanyanya.
"Oh, dia diajak pergi oleh seorang pria," jawab perawat itu.
"Apa? Ke mana?"
"Ke taman." tanpa membuang waktu, Emma berlari pergi untuk mencari Daniel di taman. Siapa yang membawa Daniel? Tidak, jangan katakan Aston yang membawanya akibat dendam. Semoga saja tebakannya salah, semoga saja.
__ADS_1